Edam Bhalendra mempunyai misi— menaklukkan pacar kecil yang di paksa menjadi pacarnya.
"Saya juga ingin menyentuh, Merzi." Katanya kala nona kecil yang menjadi kekasihnya terus menciumi lehernya.
"Ebha tahu jika Merzi tidak suka di sentuh." - Marjeta Ziti Oldrich si punya love language, yaitu : PHYSICAL TOUCH.
Dan itulah misi Ebha, sapaan semua orang padanya.
Misi menggenggam, mengelus, mencium, dan apapun itu yang berhubungan dengan keinginan menyentuh Merzi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadisin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Rasa Kesetrum
“Huwek!”
“....”
Hampir saja Ebha menjatuhkan Merzi yang masih dalam dekapannya. Tepat ketika dia membuka pintu kamar hotel, Merzi muntah tanpa dia duga sebelumnya.
“Ebha, Merzi ingin muntah.” Ucap Merzi lemah.
“Anda sudah muntah, Nona, bukan ingin.” Balas Ebha tanpa minat.
Sekarang kaos dan sweater Ebha kotor. Setelah meletakkan Merzi diatas kasur, selanjutnya lelaki itu mengambil tisu dan mengelap wajah Merzi yang terdapat sisa muntahan.
Ebha buka sweater dari tubuh Merzi dan menyisakan gaun malam kurang bahan ditubuh mungil gadis itu.
Lelaki itu mengurus Merzi dengan sabar dan telaten.
Sedangkan Merzi sudah lemas dan membiarkan Ebha melakukan apapun pada tubuhnya. Tapi ketika Ebha mendorongnya pelan untuk berbaring dia menolak dan membawa bobotnya pada Ebha.
“Tidak.” Ebha menahan pundak Merzi dan itu membuat gadis itu tak suka. “Kaos saya kotor. Saya sudah meminta untuk membawakan ganti kesini. Kamu berbaringlah dulu.”
Kepala Merzi menggeleng pelan. “Merzi ingin memeluk Ebha.”
“Kaos saya kotor, Marjeta.”
“Buka saja. Apa susahnya?”
Ebha heran Merzi masih saja bertenaga untuk menolak dan kini gadis itu bergerak untuk membuka kaosnya. Ebha membiarkan saja.
“Tidak bisakah Ebha membukanya sendiri?” Keluh Merzi karena tangannya begitu lemas dan dia tak kuat untuk menarik kaos Ebha dari tubuh lelaki itu.
“Saya harus membukanya?”
“Iya, Ebha, iya. Buka. Cepatlah sedikit. Kepala Merzi berat.”
Niat ingin mengerjai Merzi tapi dia tidak tega. “Inilah akibatnya jika kamu minum.” Ceramahnya sambil menarik kepala Merzi ke dadanya.
Merzi mendekat lagi. Pipinya dia gesek pada dada keras Ebha. Begitu hangat dan nyaman. Aroma maskulin Ebha juga menjadi candu baginya.
“Merzi ingin susu stroberi.”
“Sudah saya pesankan juga. Susu stroberi dan jahe.” Ebha tentu ingat apa yang Merzi perlukan ketika terakhir kali gadis itu mabuk.
“Uhh ... jangan itu, Ebha. Merzi tidak ingin meminum jahe. Jangan campurkan susu Merzi dengan jahe.”
Kan, gadis itu masih sanggup menolak.
“Tidak di campur.”
“Hmm.” Balas Merzi bergumam. “Kepala Merzi sakit. Disini.” Merzi menyentuh kepala belakangnya.
Tanpa kata Ebha memijat pelan kepala gadis itu. Memberi tekanan yang menenangkan.
Beberapa saat mereka diam dengan isi pikiran masing-masing. Hingga Merzi bersuara.
“Ebha.”
“Ya?”
Merzi tak langsung menyahut. Gadis itu tertawa kecil. Membawa tubuh untuk menempel pada Ebha lebih rapat. Naik ke atas paha lelaki itu. Keinginan hati yang ingin bersentuhan dengan kulit Ebha tak bisa di tolak.
“Kamu tertawa?”
“Iya.”
“Apa yang kamu tertawakan? Kamu masih mabuk? Masih ingin muntah?”
Merzi tertawa lagi. “Tidak Ebha.”
“Katakan pada saya jika kamu ingin muntah lagi.”
Merzi mengangguk. “Ebha.”
“Ada apa?”
“Ternyata Lulu juga berpacaran dengan bodyguard-nya. Bagaimana menurut Ebha?”
Yang ditanya tak langsung menjawab. Mungkin sedang menyusun kata. “Tidak ada.” Jawabnya kemudian.
Bibir Merzi mengerucut mendengar dua kata itu terlontar. Memang tidak seru bergosip dengan laki-laki.
Dia cubit pelan roti sobek Ebha. “Ebha tidak asyik! Huh!” Kesalnya.
Tidak ada rasa sakit akibat cubitan Merzi itu, dia malah merasa geli seakan-akan Merzi menggelitiknya. “Saya memang tidak asyik. Tapi kamu menyukai itu, bukan?”
“Tidak. Siapa yang akan suka pada orang yang tidak asyik?”
“Oh, jadi kamu tidak suka pada saya? Begitu, hm?” Tangan Ebha merambat menyentuh punggung Merzi.
Jangan lupakan bahwa baju kurang bahan itu masih melekat pada tubuh sang nona muda.
Tawa Merzi semakin keras. Mungkin tenaganya perlahan kembali.
Mengangkat kepalanya, Merzi menjawab, “tidak.”
Dugh!
“Hey!”
Merzi kaget karena Ebha mendorong tubuhnya dan membuatnya terbaring. Lelaki itu berada diatasnya.
Biarpun sempat protes karena gerakan Ebha yang tiba-tiba, Merzi tetap mempertahankan tangannya di leher Ebha.
“Karena kamu tidak suka, maka saya akan membuat kamu kembali suka pada saya, Nona.”
Habislah sudah.
Iya. Merzi akan habis di tangan Ebha.
Tenaga yang tadinya mulai terkumpul kini perlahan surut ketika Ebha mulai mengendus lehernya. Bukan hanya mengendus tapi juga mengecup cuping belakangnya.
Percayalah, kecupan di belakang telinga itu membuat panas dingin. Dan Ebha suka sekali melakukannya.
Karena lelaki itu tau Merzi akan menurut padanya akibat kecupan itu.
“Saya juga ingin menghukum kamu, Nona Nakal.” Ebha menjauhkan kepalanya untuk melihat Merzi. Dia jepit dagu kecil Merzi agar menatap dirinya.
Tatapan gadis itu berubah sayu dengan mulut terbuka kecil. “Merzi tidak melakukan kesalahan apapun, Ebha.”
Kemudian Merzi merasa tubuh tersengat listrik ketika ujung telunjuk Ebha menyentuh batas gaun tanpa lengannya di atas dadanya. “Ebha.” Suaranya bagai cicitan burung pipit.
“Kesalahan kamu adalah gaun ini, Marjeta. Menipu saya dengan ini.” Ebha menyentuh aksen bunga mawar timbul yang menjalar sepanjang tali yang melilit di leher Merzi. “Dan itu harus di hukum.”
Merzi diam. Jemari lentiknya perlahan menyentuh wajah Ebha. Baiklah, mari mainkan permainan hukum-menghukum ala Ebha. “Kalau begitu hukuman apa yang akan Ebha berikan?”
Alis Ebha terangkat sebelah. Dia menyeringai. “Merobek benda ini, mungkin? Atau kamu ingin menyarankan hukuman lain untuk diri kamu sendiri? Katakan. Saya bisa mempertimbangkannya.”
Set!
Merzi menarik leher Ebha mendekat dan mengecup sedetik bibir lelaki itu.
“Yakin ingin merobek gaun ini?”
Tatapan Ebha jatuh pada bibir Merzi. Benda itu berkilau dengan warna merah muda yang menggoda. Ini akibat Merzi yang mencium bibirnya, dia kehilangan fokus. “Kenapa tidak yakin?”
“Merzi tak mengenakan apapun dibalik gaun ini, Ebha.”
Mendengar itu Ebha sontak melihat gaun malam Merzi. Menelisik dari atas ke bawah lalu kembali menampilkan senyum licik. Tidak ada salahnya memberi pelajaran pada Merzi sesekali, bukan?
“Lalu?” Ebha menarik tali hiasan dari gaun itu. Menariknya hingga lepas dan menggenggamnya.
Dia tidak peduli berapapun harga gaun malam itu.
Biarpun saat ini keduanya sedang roleplay dalam hatinya Ebha masih memendam kesal pada Merzi.
Potongan gaun itu benar-benar rendah. Tak berguna dan tak menutupi apapun dari tubuh Merzi–kekasihnya.
Awalnya Merzi terkesiap. Tapi kemudian gadis itu tersenyum. Dia bisa menangkap bahwa Ebha memang sedang marah padanya. Dan dia punya cara tersendiri untuk membuat amarah dan kesal itu lenyap.
Dibawah kukungan Ebha, Merzi membalik tubuhnya menjadi tengkurap. Dia menoleh ke belakang. “Resletingnya ada disini, Ebha.”
Bagai kucing yang mendapat ikan asin, Ebha membawa tangannya untuk menyentuh punggung Merzi. Mengusap lembutnya pundak gadis itu. Lalu menyeret tangannya hingga ke pinggang Merzi, berhenti disana.
Gaun ketat itu membentuk pinggang ramping nan kecil milik si nona muda Oldrich. Ebha memberi remasan kecil namun memabukkan.
Bola mata Merzi naik ke atas merasakan hangatnya tangan Ebha. Dia meresapi sentuhan lelaki itu. Alih-alih menolak, dia malah menikmati.
“Jadi kamu tidak keberatan jika saya merusak gaun ini?” Ebha menarik garis lurus sepanjang resleting gaun Merzi.
Mendengar Ebha berkata demikian, Merzi mengambil tali bajunya yang tergelatak di samping tubuhnya. “Ebha sudah merusaknya duluan.” Ujarnya memperlihatkan tali itu pada Ebha.
Ebha terkekeh. “Kamu benar.” Dia merendahkan tubuhnya hingga sedikit menimpa Merzi.
Rambut putih sang nona sekaligus kekasihnya itu dia sampirkan ke samping. Perlahan dia dekatkan wajahnya pada tengkuk gadis itu.
Lagi-lagi Merzi merasa tersengat, kali ini sengatannya lebih tinggi dari yang pertama tadi. Bulu kuduknya sampai berdiri.
Ebha mendaratkan bibirnya diatas kulit Merzi. Mengecupi punggung gadis itu yang terbuka. Menghirup wangi lembut yang keluar dari tubuh seputih badai salju yang sedang turun di luar sana.
“Jangan pernah mencoba untuk mengibuli saya lagi, Marjeta. Kamu tidak akan sanggup menghadapi saya kelak.”
“Ebha mengancam saya?”
“Anggaplah seperti itu.”
“Sshh ....” Merzi mendesis merasakan jilatan Ebha di cupingnya lalu lelaki itu menggigitnya pelan.
Sungguh, siapapun tidak akan sanggup di posisinya ini. Pantas saja Lulu begitu terlihat menikmati sentuhan intim bersama bodyguard-nya itu. Ternyata memang membuat adrenalin terpacu ingin sesuatu yang lebih.
“Ebha ....” Merzi menarik tangan Ebha agar mendekat padanya. Dia masih telungkup dan Ebha masih berada di atas punggungnya.
Merzi putar kepalanya ke samping dan langsung meraih wajah Ebha kemudian mencium bibir lelaki itu. Bibir tebal yang sedari tadi dia tunggu untuk mencium bibirnya terlebih dahulu tapi tak kunjung terjadi.
Memang. Dia memang tak ingin Ebha melalukannya duluan sebelum dia yang memulai. Tapi malam ini terasa berbeda. Jiwa lain dalam dirinya berubah tiba-tiba.
Ciuman dengan saling membelakangi itu memang menyulitkan tapi diantara keduanya tak ada yang ingin mengalah untuk berhenti. Seakan kewarasan mereka sudah terenggut.
Bahkan, saking tidak warasnya, Ebha benar-benar menurunkan resleting gaun setengah jadi milik Merzi.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini.