Pinky, gadis rusuh dan ceplas-ceplos, tergila-gila pada Dev Jaycolin meski cintanya selalu ditolak. Suatu kejadian menghancurkan hati Pinky, membuatnya menyerah dan menjauh.
Tanpa disadari, Dev diam-diam menyukai Pinky, tapi rahasia kelam yang menghubungkan keluarga mereka menjadi penghalang. Pinky juga harus menghadapi perselingkuhan ayahnya dan anak dari hubungan gelap tersebut, membuat hubungannya dengan keluarga semakin rumit.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah konflik keluarga dan rahasia yang belum terungkap? Cinta Gadis Rusuh & Konglomerat adalah kisah penuh emosi, perjuangan, dan cinta yang diuji oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Pinky, hentikan!" bentak Mark, mencoba menguasai situasi yang mulai memanas.
Namun, Pinky tak peduli. Ia menatap ayahnya tajam, memegang pecahan botol di tangannya. "Seharga $2000 aku hancurkan. Apakah sakit hati? Harga minuman yang kau sediakan mencapai $40.000. Apakah kau tahu, uang sebanyak itu bisa membiayai operasi, rawat inap, dan pengobatan lainnya?" ucap Pinky, suaranya bergetar antara marah dan putus asa. Kata-katanya membuat Mark terdiam, bibirnya terbuka seakan ingin membantah, tapi tak ada suara yang keluar.
Pinky melangkah lebih dekat ke arah ayahnya, matanya penuh dengan air mata yang tak tertahan lagi. "Harga sewa gedung ini sekitar $15.000, belum termasuk dekorasi dan makanan lainnya. Makan malam per orang setidaknya $200. Sedangkan yang hadir di sini lebih kurang tiga puluh tamu. Untuk dekorasi, biayanya bisa mencapai $9.000. Setelah dihitung semua, ini lebih dari cukup untuk biaya operasi Mama dan pengobatan lainnya. Tapi... kau mengatakan tidak ada uang!" suaranya kini meninggi, membuat semua tamu di ruangan itu terdiam dan menatap mereka.
Pinky melempar uang dolar ke arah Mark, membuat beberapa tamu menahan napas karena kaget. "Kau memberiku beberapa dolar untuk makan, seolah aku ini pengemis! Apakah di matamu aku serendah itu? Bahkan, aku pernah berlutut dan memohon padamu di malam yang dingin dan hujan deras agar kau mau meluluhkan hati demi Mama. Tapi apa yang kudapatkan? Hanya uang recehanmu!"
Air matanya mulai mengalir deras, tapi itu tak menghentikannya. Pinky menatap ayahnya dengan kebencian yang tak bisa ia sembunyikan. "Papan bunga ini aku beli dengan uangmu, jadi aku menggunakan uangmu dengan baik. Tapi seorang pria yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya, apakah pantas diberi kesempatan untuk kerja sama?" katanya, kali ini menoleh ke arah para tamu yang mulai berbisik-bisik.
Mark hanya bisa menunduk, kedua tangannya mengepal. Suasana semakin tegang saat Pinky kembali berbicara.
"Mamaku yang kini berbaring sekarat di rumah sakit adalah wanita yang menikah denganmu dua puluh lima tahun lalu. Tapi karena Sania, kau meninggalkan kami! Bahkan kau sengaja tidak ingin menceraikan Mama. Pria seperti ini, apakah layak hidup di atas angin?" ujar Pinky dengan suara penuh luka.
"Cukup!" bentak Mark, wajahnya memerah menahan malu.
Mark mencoba meredakan situasi. "Maaf semuanya. Semua ini hanya kesalahpahaman. Tidak seperti yang dia katakan. Kami hanya bertengkar, dan apa yang dia katakan semua itu tidak benar," jelas Mark, berusaha membela dirinya meski nadanya mulai goyah.
Namun, Pinky tak terpengaruh. Ia mengambil botol minuman lain dari meja dan melemparkannya ke lantai di dekat kaki ayahnya. Krattt! Suara kaca pecah kembali menggema. Para tamu terperangah, sementara Mark mundur perlahan, menghindari amukan putrinya.
"Tidak benar?" ejek Pinky dengan tawa sarkastis. "Apakah kau berusaha membuat semua orang percaya padamu? Untuk apa kau sukses kalau tidak bertanggung jawab?" Ia mengambil botol lain, kali ini menghampiri ayahnya dengan tatapan menusuk.
"Kau sakit hati ketika minuman ini aku hancurkan. Tapi kau tidak sakit hati melihat nyawa Mama yang kini hanya di ujung tanduk," ucap Pinky dengan nada rendah tapi penuh amarah. Ia berdiri tepat di depan Mark, membuat ayahnya memundurkan langkah, tampak waspada dengan putrinya yang penuh emosi.
"Tidak sadar diri, tidak tahu malu! Selama hidupmu, kau hanya bergantung pada selingkuhanmu!" bentak Pinky, melempar botol itu hingga pecah berserakan di lantai, menyebarkan pecahan kaca di sekitarnya.
Mark, yang kini terpojok, mencoba mencari jalan keluar. "Pinky, jangan membuat keributan lagi. Aku akan memberimu uang. Dan tolong pergilah!" katanya sambil mengeluarkan lembaran dolar dari sakunya, mengacungkannya dengan gugup.
Pinky menatap uang itu dengan jijik. "Uang ini tidak cukup untuk beli obat Mama! Lebih baik kau simpan untuk dirimu sendiri," jawab Pinky dengan ketus. Ia berbalik, meninggalkan Mark yang berdiri terdiam, wajahnya merah padam di tengah sorot mata para tamu yang penuh penilaian.
---Pinky menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, matanya tajam menatap salah satu botol wine yang tergeletak di meja. Nafasnya memburu, telapak tangannya mengepal seakan menahan ledakan emosi yang mendidih di dalam dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia meraih botol itu dengan gerakan kasar.
“Ini semua salahmu!” gumamnya pelan, namun penuh kemarahan, sebelum melayangkan botol tersebut dengan kekuatan penuh ke arah ayahnya.
Mark, yang sedari tadi terpaku di tempat, tersentak kaget ketika botol itu meluncur deras ke arahnya. Dengan refleks cepat, ia menunduk, membuat botol tersebut meleset dan menghantam tembok di belakangnya. Suara pecahan kaca bergema di ruangan, serpihan kecil beterbangan, seolah menggambarkan betapa kacaunya hubungan mereka saat itu.
Mark menegakkan tubuhnya perlahan, wajahnya pucat pasi. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena nyaris terkena botol, tapi juga karena kemarahan Pinky yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu berdiri di sana, tangannya gemetar, mata basah oleh air mata yang tak mampu lagi ditahannya.
“Mark Parkers,” suara Pinky terdengar tegas, meski bergetar, “kalau Mama meninggal, aku tidak akan melepaskanmu! Aku akan mengajakmu pergi menyusulnya!”
Kata-kata itu menusuk seperti belati, meninggalkan keheningan mencekam di ruangan. Pinky tidak menunggu balasan. Ia berbalik dengan gerakan tegas, air matanya mengalir semakin deras. Langkah-langkahnya berat, namun penuh tekad, meninggalkan ayahnya yang masih mematung di tempat.
Dev, yang sedari tadi menyaksikan semua itu tanpa suara, memperhatikan kepergian gadis itu dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Air mata Pinky, penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan, membekas di pikirannya. Dalam diam, ia mengeluarkan ponselnya, jarinya bergerak cepat mengetik pesan.
“Cari tahu di mana ibu Pinky dirawat!" perintah Dev kepada Jastice, rekannya yang berada di luar gedung. Pesan singkat itu dikirimkan tanpa keraguan sedikit pun.
Pinky berjalan dengan langkah gontai, meninggalkan keramaian di belakangnya. Tubuhnya mulai terasa lemah, terpaan angin dingin dan hujan yang deras di saat ia berlutut di luar tempat tinggal ayahnya benar-benar menguras tenaganya. Jaket tipis yang ia kenakan tak mampu menghalau rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Napasnya pendek-pendek, matanya mulai buram, tetapi ia tetap memaksa dirinya melangkah.
Di tengah jalan yang sepi itu, lampu sorotan mobil tiba-tiba menyinari tubuhnya yang rapuh. Cahaya terang tersebut membuat bayangan tubuhnya terpantul di aspal yang basah. Pinky berhenti sejenak, mencoba menahan diri agar tidak jatuh. Namun, tubuhnya yang sudah lemah tak lagi bisa diajak kompromi. Lututnya melemas, pandangannya gelap, dan tubuhnya akhirnya ambruk ke jalan.
Bunyi rem mendadak terdengar di belakangnya. Mobil yang tadi menyorot jalan berhenti tidak jauh dari tempatnya terjatuh. Seorang pria keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya penuh kekhawatiran. Itu adalah Dev, yang langsung berlari menghampiri tubuh Pinky yang tergeletak.
“Pinky! Pinky!” serunya panik, lututnya berlutut di samping gadis itu. Dengan hati-hati, ia memeriksa kondisi Pinky. Kulitnya dingin, wajahnya pucat, dan tubuhnya basah kuyup oleh hujan.
Tanpa berpikir panjang, Dev mengangkat tubuh Pinky ke dalam pelukannya." Tatapannya penuh tekad saat ia membawanya ke mobil
akhirnya pinky ama Dev bersatu