Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kena patil.
Sentuhan pertama, ciuman pertama itu bukan lagi berdasarkan amarah dan keraguan, apa yang terjadi adalah ungkapan rasa sayang yang tertahan lama, ada rasa takut kehilangan yang nyaris melumpuhkan.
Kini Bang Hernando melepas kegelisahan. Ia istri kecilnya dengan lembut namun mendalam seakan menyapu sisa tangis dan kemarahan di bibir Phia. Ia ingin mengatakan semua hal yang tak sempat terucap lewat sentuhan.
Phia yang tadi berontak seketika lemah. Tangan yang terus memukul dada suaminya itu kini beralih meremas kerah seragamnya, menariknya mendekat seolah tak ingin Bang Hernando pergi. Semua rasa sakit, malu, dan ragu perlahan terkikis, digantikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, rasa di lindungi sepenuhnya, tanpa syarat, tanpa merasa di hakimi.
Malam gelap gulita, semua terjadi begitu saja, tak ada lagi janji pada pihak lain, tak ada lagi dinding sebagai pembatas harga diri. Bang Hernando yang selama ini dikenal kaku, tegas, dan tak pernah menampakkan kelemahan, kini tunduk sepenuhnya di hadapan gadis kecilnya.
"Bolehkah Abang melakukannya sekarang??" Bisik Bang Hernando di telinga Phia.
"Kenapa tidak di rumah??"
"Di manapun Abang, asal kamu mengijinkan." Jawab Bang Hernando, suaranya mulai tercekat parau. "Boleh atau tidak??"
Phia serasa terkunci, tapi setiap perlakuan Bang Hernando membuatnya luluh. Meskipun sudah menjadi suaminya, Bang Hernando tetap mengutamakan dirinya dan selalu berusaha membuatnya nyaman.
Mendapat lampu hijau dari sang istri, Bang Hernando bergerak dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian, seolah menyentuh benda paling berharga yang bisa hancur berantakan jika salah menggenggam. Setiap sentuhannya lembut tanpa menyakiti seberapa pun hasrat prianya nyaris membuat hilang akal, namun tetap jiwa maskulin dan jantannya seorang Hernand tak lenyap begitu saja.
Bang Hernando beralih posisi, ada suara lirih, bisikan 'kecil' penuh permohonan bahwa di hari ini, ia menginginkan seorang bayi kecil. Bang Hernando mengecup kening Phia dengan lembut. "Abang minta anak. Ikhlas atau tidak, sayang?"
"Ikhlas, Bang."
:
Letnan Hernando memang seorang prajurit yang tak pernah takut menghadapi hujan peluru, suaranya saja mampu membungkam keributan dari seberang barak, tatapannya tajam menusuk hingga membuat nyali lawan menjadi ciut. Kini pria ini tunduk sepenuhnya di hadapan satu wanita. Di pelukan Phia, semua garang, semua sikap keras, sikap kaku dan dingin, luntur begitu saja tanpa jejak.
Hanya di hadapan Phia, seberapapun garangnya ia di medan perang, sekuat apa pun ia menahan rasa sakit di tubuhnya, semua itu tak berdaya di hadapan sentuhan lembut sang istri.
Detik-detik berikutnya, dekapan erat itu seiring dengan genggaman Bang Hernando. Ia menatap wajah Phia, merasakan tubuh sang istri bereaksi seperti biasa, hingga akhirnya ia 'menumpahkan' segala kerinduan yang selama ini di tahannya kuat.
"Sudah??" Tanya Bang Hernando lembut, ia tidak ingin egois.
Phia belum menjawab. Seakan paham, Bang Hernando kembali menyentuh Phia.
:
"Selamat malam..!!" Seorang petugas piket jaga kesatrian memberhentikan mobil Bang Hernando karena lampu dalam mobil tidak di nyalakan.
"Ini saya. Istri saya sedang tidur."
"Siap, ijin............"
Belum sampai petugas piket jaga kesatrian melanjutkan ucapannya, Bang Hernando menginjak pedal gas. Ia tidak ingin siapapun melihat istrinya.
Sesampainya di depan rumah, Bang Hernando membuka pintu mobil, pria itu hanya memakai kaos loreng dan celana pendek tanpa alas kaki, tubuhnya nampak basah penuh keringat. Saat itu ada Bang Jan yang entah darimana.
"Laahh.. Basah begitu, Her?? Tenggelam apa bagaimana??" Sapanya.
"Sambil nyelam, makan bini." Jawab Bang Hernando santai.
"Alah ngawur, yo wes tak balik ke mess.. Aku sudah kelaparan." Pamitnya, ia menganggap sikap dingin sahabatnya bagai angin lalu. Memang begitu normalnya watak seorang Hernando.
Setelah Bang Jan pergi, Bang Hernando mengangkat tubuh Phia masuk ke dalam rumah.
Dari kejauhan Bang Jan melirik dari kaca spion. "Si Hernan ngangkat karung?? Waahh.. Bener dapet ikan, tuh."
:
Phia dan Bang Hernando saling menatap. Jemari Bang Hernando membelai lembut rambut istri kecilnya.
"Terima kasih, kamu sudah ikhlas memberikannya untuk Abang."
"Harusnya Phia yang berterima kasih, Abang sudah ikhlas menerima Phia. Semoga setelah ini, Abang bisa sayang sama Phia" Jawab Phia pelan penuh harap.
"Apa maksudnya?? Apa selama ini Abang tidak sayang??" Tanya Bang Hernando. Ia sungguh heran. Di saat ia mencurahkan seluruh hati dan perhatiannya namun Phia tidak merasakannya.
"Karena yang ada di pikiran Abang hanya Bang Riegan." Kata Phia.
"Macam mana pikirmu itu, dek??? Nafas putus sambung Abang buatin anak masih saja nggak percaya??" Ucap Bang Hernando dengan nada khasnya.
Phia terdiam tapi ia menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Sikap malu-malu itu membuat Bang Hernando merasa gemas. "Mana mungkin Abang tak sayang, hanya kau saja yang mampu taklukkan hati Abang. Tak mungkin pula Abang tak cinta, cuma Phia yang bisa buat Abang meriang."
"Abaang iihhh.." Phia semakin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Tapi enak kan, kena patil Abang??? Perjaka juga Abang lihai, dek." Goda Bang Hernando nakal.
"Abaaaaaaang..!!!!!!!"
.
.
.
.
juosss tenan mba