Mauren Putri Khadijah gadis bercadar berusia 21 tahun ia menolong seorang lelaki yang terluka akibat kecelakaan.
Kesucian Mauren direnggut secara paksa oleh lelaki yang tidak dikenalinya bahkan rupanya sekalipun ia tidak mengetahuinya.
Ia terperosok kedalam lubang hitam paling dasar membuat ia menjadi wanita yang lebih pendiam.
"Hiks hikss,, Ya Allah aku wanita kotor, kehormatan ku direnggut secara paksa, cadar yang ku pertahankan selama ini telah ternodai."
Bahkan ia hamil diluar nikah? Apakah Mauren bisa menerima keadaannya dengan ikhlas? Apakah ia mengetahui Ayah dari bayi yang dikandungnya?
***
Dilarang plagiat karya, CCTV 24 JAM mode on.
Ingat! Allah maha mengetahui setiap apa yang dilakukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baiti Jannati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
*Masih Flasback*
Ardi yang begitu panik mendengar teriakan putri nya, putri nya meminta pertolongan. Ia bahkan mendengar teriakan kawanan anak nya itu.
Zahra di sampingnya menangis sesegukkan, ia begitu khawatir mendengar musibah yang di alami anaknya itu.
Ia pun bergegas memanggil pengawal dan menelpon polisi. Ia tidak ingin anak nya itu sampai kenapa-kenapa.
Mauren adalah buah hati nya yang paling ia sayangi, walau kadang Mauren membantah orang tua nya. Anak nya itu begitu susah di atur, istri nya bahkan kewalahan melihat sikap anak nya seperti itu apa lagi pakaian anak nya yang kurang bahan.
Zahra selalu menegur Mauren tetapi Mauren hanya menganggap Zahra omong kosong.
"Nggak gaul mah pakai gamis., Kecantikan Mauren nanti tertutupi dengan baju kebesaran begitu."
"Nak, cantik itu dari hati bukan cuman wajah. Kamu anak terlindungi dari tatapan lapar lawan jenis mu. Dengarkan apa yang mama katakan."
"Tidak mah, Mauren suka berpakaian begini. Mauren terlihat cantik, dan seksi. Apa kata orang kalau Mauren berpakaian seperti itu. Mereka tidak ingin berteman dengan Mauren." teriak Mauren pada mama nya.
Zahra selalu memperingati anak nya itu, kata-kata yang diucapkan Zahra selalu Mauren hiraukan, selalu berteriak kalau Mauren tidak suka pakaiannya di atur mama nya itu.
"Pah, selamatkan Mauren.." isak tangis Zahra. Ardi ia memeluk istri nya menenangkan, walau ia pun begitu khawatir ia harus tenang karena ia adalah kepala rumah tangga, pemimpin di rumah nya.
"Doakan ya sayang, semoga aku bisa membawa anak kita pulang." Ardi mengecup kening istri nta itu sebelum ia pergi bergegas menyusul anak nya itu.
Alamat yang di katakan Mauren sudah ia temukan, apa lagi Ardi sengaja meletakkan alat pelacak di ponsel Mauren.
Ia bisa melihat ponsel Mauren bergerak agak jauh dari lokasi yang di beritahukan Mauren.
Beberapa saat ia berhenti di tempat lokasi itu, ia melihat mobil teman Mauren sudah rusak dengan kaca yang pecah berserakan.
Ia mendengar teriakan wanita agak jauh dari lokasi tersebut, ia dan pengawal serta polisi berjalan ke asal suara itu.
Ia memperhatikan titik GPS yang masih hidup di ponsel Mauren ia melihat titik itu, ia pun bergegas berlari ia yakin itu suara anaknya.
Ia berhenti di depan rumah kosong itu, polisi melarang ia masuk.
"Pak, tunggu sebentar lagi."
"Bagaimana bisa saya menunggu. Anak saya di dalam ia dalam bahaya!"
"Dengarkan Pak, keamanan korban adalah yang terpenting."
Ardi hanya menghela napas, ia sudah tidak sabar ingin menerobos masuk ke dalam.
Ia mendengar jelas teriakan anak nya itu.
"Sialan kau!"
PLAK!!
PLAK!!
PLAK!!
"Aaaaa....."
Ardi mengepalkan tangannya sungguh ia tidak sanggup menahan emosi yang sudah memuncak.
BRAK!!
Ardi menendang pintu itu, mereka masuk ke dalam. Polisi menyiagakan senjata mereka.
"Kurang ajar, kalian mengganggu kesenangan kami.."
"BR*NGSEK!!"
Ardi bahkan mengambil pistol pengawal nya itu.
Ia melihat dengan mata kepala nya sendiri, bagaimana keadaan kawanan anak nya yang tergeletak tanpa pakaian dengan luka lebam dan tanda gigitan nyamuk itu.
Anak nya menangis sesegukan terlihat begitu ketakutan, ia melihat bagaimana Mauren begitu berantakan. Dengan pipi lebam bekas tamparan, sudut bibir berdarah dengan pakaian nya yang sudah robek di bagian bahu nya.
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
Emosi Ardi tambah memuncak mata nya menyorot tajam, ia membidik para lelaki bejat itu dengan mengeluarkan 4 peluru.
Kaki, tangan, paha, dan bahu masing-masing di terima mereka. Mereka langsung di ringkuk polisi dan di jobloskan kepenjara.
Ardi melepaskan jas yang di gunakannya itu, ia menyelimuti tubuh Mauren. Sungguh anaknya begitu malang.
Tangis Mauren berhenti, tapi tidak ada kata yang keluar dari bibir nya itu.
Mauren melihat kawanannya yang di bantu pengawal papa nya itu, mereka di selimuti dengan jaket.
Sorot mata kosong menatap kedua kawannya itu, ia terdiam.
Mereka pun langsung di larikan ke rumah sakit, orang tua Siska dan Rere pun sudah menunggu di lobi. Karena di perjalanan salah satu pengawal menghubungi mereka.
Beberapa saat mereka pun sampai, Rere langsung di masukkan ke ruang operasi karena kepala nya dibenturkan ke dinding menyebabkan pendarahan di otak nya.
Siska kehilangan banyak darah bukan cuman hidung, pelipis, bibir tetapi organ int*m nya mengalami pendarahan akibat kebrutalan para lelaki yang sudah meringkus di jejuri besi.
Ardi, dan kedua orang tua kawan anak nya itu pun bertemu. Ardi menjelaskan dengan detail, terlihat mereka begitu marah pada penjahat itu.
Mauren ia hanya terdiam dalam ruangan setelah ia di obati dan di gantikan pakaiannya. Ia seperti manekin tanpa berucap sepatah kata pun. Ia memejamkan mata nya.
Tapi kejadian yang di alami nya terbayang di pikirannya, ia berteriak histeris. Ruangan yang awal nya rapi sudah berantakan.
"Jangan mendekat."
"Pergi."
"Jangan sakiti kami."
"Hiks..hiks.."
Ardi yang mendengar teriakan itu pun bergegas menuju ruangan anak nya itu, ia melihat dokter menyuntikkan obat penenang, Mauren berangsur tenang sebelum kegelapan menemuinya.
Zahra sampai di depan ruang anak nya itu, ia masuk dan melihat perawat membersihkan ruangan yang berantakan.
"Pah bagaimana keadaan Mauren?"
Ardi terdiam tidak menjawab pertanyaan istri nya itu. Ia menyuruh dokter itu pun menjelaskan pada istri nya itu.
"Nona Mauren, mengalami gangguan Psikis. Ia harus konsultasi dengan Psikiater takut hal yang tidak di inginkan akan terjadi,"
"Kalau bisa Nona Mauren harus selalu di jaga 24 jam, ia akan berteriak histeris jika mengingat hal buruk yang di alami nya."
Zahra menangis terisak, anak nya akan menggila kalau ia mengingat masalah itu.
Keesokan hari nya kabar duka pun sampai di telinga Mauren, ia mendengar Siska kawannya itu ia telah meninggal sedangkan Rere mengalami koma.
Air mata Mauren terjatuh di sudut mata nya. Ia dengan kasar menarik infus di tangannya itu. Ia berlari keluar tanpa mengenakan sandal.
Pengawal pun mengikuti kemana Mauren berlari, Ardi dan Zahra mereka melayat ke pemakaman Siska.
Pengawal itu pun berhasil menyusul, ia menghadang nona nya itu.
Ia pun menawarkan tumpangan kepada Mauren, sebab ia tahu kalau Mauren mendengarkan pembicaraannya dengan pengawal satu nya.
Mauren tanpa bicara langsung mengikuti langkah pengawal itu, mereka pergi menuju pemakaman Siska.
Setelah sampai di pemakaman, Mauren berlari ia melihat orang tua Siska, Rere, dan orang tua nya ada di sana.
Ia pun bersimpuh di depan makam Siksa, ia menangis berteriak.
"Jangan tinggalkan aku."
"Jangan pergi."
Mereka terkejut melihat Mauren berada di sana, mereka sengaja tidak memberitahukan keadaan Siska tapi mengapa Mauren bisa mengetahui hal ini.
Mauren yang berteriak itu pun begitu lemas ia kehilangan kesadarannya.
***
Beberapa hari kemudian, Mauren masih berteriak histeris kadang ia menangis, kadang ia terdiam, kadang ia menghancurkan isi kamar nya itu.
Apalagi ia mendengar Rere, ia juga meninggal karena Rere seperti menolak untuk sembuh. Sungguh ia tidak terima dengan keadaan kedua kawannya.
"Jangan pergi."
"Jangan.. Huhuhu..."
Zahra yang mendengar anak nya kumat lagi, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar nya.
Zahra langsung memeluk anaknya itu, air matanya pun terjatuh ia begitu sedih melihat anak nya tak kunjung sembuh.
"Sayang kamu harus kuat, Nak."
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati., jadi kamu harus bisa menerima nya, sayang."
Dering ponsel Zahra yang melantunkan shalawat itu pun menenangkan Mauren, Mauren menutup mata nya dalam pelukan mama nya itu.
Mauren menahan tangan mama nya yang ingin mematikan ponsel nya itu, ia menggeleng.
"Mah, bantu Mauren..!"
"Bantu apa sayang?"
"Mauren ingin berhijrah, Mauren merasakan ketenangan setelah mendengar dering ponsel Mama.!"
Zahra tersenyum, ia sungguh bahagia mendengar penuturan anak nya itu.
Mauren pun berlahan berubah dari yang suka semena-mena, kasar dan suka membantah perkataan orang tua nya jadi sosok lemah lembut, ramah serta menjadi orang yang begitu sabar.
Ia pun mulai berpakaian tertutup seperti bergamis dan berhijab, setelah ia merasakan kenyamanan ia pun mulai menggunakan cadar.
Ia menutupi wajah nya, karena wajah nya itu yang terkadang mengundang syahwat lawan jenis nya.
Perubahan yang di tampilkan Mauren pun membuat kedua orang tua nya begitu senang.
*Flasback Off*
***
Makna Hijrah dalam Hadis Nabi Muhammad Saw:
Dari Sahabat Umar bin Khaththab ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai ke mana dia hijrah.’” (HR. Bukhari & Muslim).
Ibnu Daqiq al-‘Id menjelaskan dalam kitab Ihkamu al-Ahkam bahwa memang dalam hadis di atas Nabi tidak menyebutkan tujuan-tujuan duniawi lainnya melainkan hanya menyebutkan wanita. Akan tetapi keumuman hadis ini ditujukan untuk setiap orang yang hijrahnya hanya berniatkan untuk urusan duniawi maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya.
Perlu diketahui esensi hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang secara syar’i. Berubah dari tidak baik menjadi baik. Merubah perangai kurang baik menjadi baik. Bukan hanya tampilan luar tapi juga penampilan dalam. Jika hijrah hanya sebatas mengikuti tren tanpa menghayati esensi hijrah itu sendiri maka tentu hijrah yang dilakukan hasilnya sesuai apa yang diniatkan. Wallahu’alam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc*