Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
"Papa Revan?" Azka berjalan mendekati Revan. Dia penasaran dengan wanita yang bersama Revan itu.
"Papa, sama siapa?" tanya Azka yang membuat Revan terkejut.
"Azka, kamu ada di sini? Sama siapa?" Kemudian Revan menatap Tomi yang ada di belakang Azka. "Tomi, apa kabar?" Revan seperti mengalihkan pembicaraan dan justru berdiri lalu menjabat tangan Tomi.
"Pak Revan, saya permisi dulu ya." Wanita itu berpamitan dan buru-buru pergi dari tempat itu.
Azka melipat kedua tangannya. Dia curiga dengan kedekatan Revan dan wanita itu. Semakin maraknya pelakor di zaman sekarang, Azka tidak mau Airin menjadi korban kekejaman pelakor.
"Papa, dia siapa?" tanya Azka lagi karena pertanyaannya belum dijawab.
"Staff di kantor."
"Staff di kantor? Kenapa makan di kafe?" Azka semakin curiga dengan Revan. Apa memang Revan biasa makan diluar bersama staff kantornya dan hanya berdua?
"Iya, kebetulan kita ada meeting di luar," kata Revan. Dia kini berjalan di samping Tomi keluar dari kafe sambil mengobrol.
"Sepertinya harus aku selidiki. Ada yang aneh," gumam Azka. Kemudian dia berjalan di belakang Papanya.
"Azka kamu bawa motor?" tanya Revan.
Azka menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa. Aku bawa motor sendiri."
Azka kini menaiki motornya. Saat dia melihat Revan, ada aura hitam yang mengikuti Revan.
"Kenapa ada aura hitam di belakang Revan? Apa ada hantu yang mengikutinya?" gumam Azka dalam hatinya. Dia kini memakai helmnya. Menunggu Revan melajukan mobil, baru dia mengikuti di belakangnya. "Aku harus mengawasi Revan."
...***...
"Ezra, apa kamu membenci Ayah kandung kamu?" tanya Emil saat sarapan pagi hari itu. Setelah kejadian kemarin, ibu dan anak itu tidak banyak bicara. Mereka menenggelami perasaannya masing-masing.
"Iya. Ayah tidak bertanggung jawab dan pergi meninggalkan Mama. Apa Mama masih mencintai Ayah dan ingin kembali dengannya?" tanya Ezra. Dia kini menatap mamanya yang telah menghabiskan sarapan pagi itu.
"Sebenarnya ini bukan kesalahan Ayah kamu. Mama yang tidak ingin impian Ayah kamu hancur, karena Mama benar-benar tahu bagaimana Ayah kamu berjuang sampai di tahap itu. Mama ...." Emil menghentikan perkataannya karena dadanya terasa sesak mengingat masa lalunya.
"Tapi kata Mama kedua orang tua Ayah tidak setuju dengan Mama."
"Iya." Air mata itu akhirnya menetes di pipi Emil. "Kedua orang tua Mas Tomi tidak menginginkan kamu dan menyuruh Mama untuk menggugurkan kandungan Mama. Mama hanya mengiyakannya, setelah itu Mama pergi jauh. Untunglah nenek kamu bisa menerima kondisi Mama waktu itu."
Ezra mendekat dan memeluk Mamanya. "Selama ini Mama memilih merawatku seorang diri karena masih mengharapkan Ayah datang? Mama selalu menolak setiap pria yang mendekati Mama."
Emil tak menjawabnya karena dia memang masih sangat mencintai Tomi sampai detik itu.
"Mama, kita lihat dulu seberapa besar perjuangan Ayah. Kalau memang Mama masih mencintai Ayah, aku akan berusaha berdamai dengan keadaan. Bagi aku, yang paling penting adalah kebahagiaan Mama."
Emil semakin mengeratkan pelukan putranya. "Terima kasih sayang. Kamu memang sangat pengertian sama Mama. Jadi anak yang baik ya. Jangan pernah meniru jejak Mama yang salah. Jika kamu mencintai seseorang, cintai dia dengan tulus. Jaga dia dan jangan kamu rusak hanya karena nafsu sesaat."
Ezra menganggukkan kepalanya. Dia kini melepas pelukan Mamanya dan menghapus air mata di pipi Mamanya. "Mama jangan menangis lagi, karena aku ikut sakit setiap kali melihat Mama menangis."
Emil menganggukkan kepalanya. Dia kini tersenyum menatap putranya yang telah beranjak dewasa. "Oiya, teman kamu yang datang ke sini kemarin itu namanya siapa?"
"Azka. Dia kapten basket tim baru di sekolah."
"Jadi, karena dia, kamu menyerah?"
Ezra menggelengkan kepalanya. "Bukan. Aku sudah malas dengan teman satu timku."
"Ada hubungan apa Azka sama Mas Tomi?"
Ezra menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu. Sepertinya mereka sahabat lama."
"Sahabat lama bagaimana? Sahabat orang tuanya mungkin."
Ezra menggelengkan kepalanya lagi. Dia kini bersandar dan melipat kedua tangannya. "Entah mengapa terkadang aku bisa melihat makhluk lain di dekat Azka. Dulu saat Azka jadi satu tim denganku, kadang makhluk itu merasuki Azka dan Azka menjadi sangat hebat. Sejak kecelakaan yang dialami Azka, dia berubah total. Aku yakin jiwa yang ada di dalam tubuh Azka sekarang adalah sosok yang menemani dia selama ini."
Emil mengernyitkan dahinya mendengar cerita putranya itu. "Kamu bisa melihat hantu?"
Ezra menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Hanya terkadang saja aku bisa melihat Azka senior."
"Azka senior?"
"Aku sempat mencari semua artikel tentang Ayah dan aku menemukan sebuah artikel yang membahas tentang Azka. Azka adalah kapten basket tim Ayah. Dia hebat dan menjadi kapten basket timnas Indonesia. Tapi dia mengalami kecelakaan sebelum bertanding di Spanyol. Saat aku melihat wajahnya, benar-benar sama dengan bayangan yang pernah aku lihat di dekat Azka, dan kebetulan sekali nama mereka memang sama."
Emil tersenyum dan mengusap kepala Ezra. "Kamu kebanyakan nonton anime."
"Ya udahlah, kalau Mama gak percaya. Aku berangkat dulu, Ma." Ezra mencium punggung tangan Mamanya lalu keluar dari rumah sambil memakai tasnya.
Dia menghidupkan motornya di depan rumah tapi mesin motor butut itu tak juga hidup. "Aduh, udah siang. Motor pakai mogok segala. Harusnya udah gue selesaikan kemarin, tapi karena badmood gak jadi gue cek."
"Ezra, motornya mogok?" tanya Emil yang melihat putranya justru berjongkok di dekat motor.
"Iya, Ma."
"Kamu naik ojek saja."
Ezra menegakkan dirinya. Saat akan keluar dari teras rumahnya, dia berpapasan dengan Tomi.
"Sudah mau berangkat? Aku terlambat." Tomi membawa sebungkus besar makanan dari restoran cepat saji ternama. Dia memberikan itu pada Emil. "Kenapa motornya? Ayo, aku antar."
Ezra hanya menatap Tomi lalu menggelengkan kepalanya. Dia berjalan meninggalkan Tomi ke depan gang dan berniat mencari tukang ojek di sana. Tapi ternyata tukang ojek itu tidak ada.
"Ayo, aku antar ke sekolah. Nanti kamu terlambat."
Ezra masih terdiam dan berpikir. Akhirnya dia menganggukkan kepalannya.
Tomi tersenyum bahagia. Kemudian dia membuka pintu mobilnya untuk Ezra. Akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk mengambil hati putranya.
💞💞💞
Like dan komen ya...
🤭