NovelToon NovelToon
Hidup Bebas Di Dunia Lain

Hidup Bebas Di Dunia Lain

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Harem / Transmigrasi / Light Novel / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Thenawa09

Saya Punya Novel Baru nih guys. Jangan Lupa Buat Mampir baca ya. Ceritanya tentang cowo cool yang jatuh cinta pada seorang cewe disekolahnya.

Sinopsis :
Karena kelelahan bekerja, Nathan meninggal dan tereinkarnasi ke dunia lain. Di Kehidupannya yang baru ini Nathan memutuskan untuk menjalani hidup yang bebas akan tetapi untuk mewujudkan itu Nathan harus menghadapi berbagai halangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thenawa09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: BELAJAR DENGAN CARA KERAS

Kegagalan misi di ruang bawah tanah yang kosong bagai tamparan keras bagi seluruh Ksatria Ssatria Sihir Aethelgard, tetapi tidak ada yang merasakannya lebih dalam daripada Nathan. Dia berdiri di sana, di ruang ritual yang seharusnya menjadi tempat pertarungan terbesarnya, hanya untuk menemukan ketiadaan. Bukan hanya segelnya yang hilang, tetapi juga rasa tujuan yang jelas. Selama ini, dia memiliki sasaran yang pasti: pergi ke bawah, perbaiki segel. Sekarang, sasarannya menguap, digantikan oleh kabut ketidakpastian yang lebih menakutkan daripada ancaman yang dikenal.

Beberapa hari pasca kegagalan, markas besar terasa seperti rumah duka. Suara langkah kaki terdengar sayup, obrolan dilakukan dengan berbisik, dan beban yang tak terlihat menindih pundak setiap orang. Nathan menghabiskan waktunya di perpustakaan markas, menyisir setiap naskah kuno tentang segel dimensi, Pencerap, dan sihir primordial. Hasilnya nihil. Pengetahuan tentang makhluk antar-dimensi itu sangat terbatas, dan catatan tentang kekuatannya sendiri bahkan lebih sedikit.

Ely berusaha menghiburnya. "Kita akan menemukan jalannya, Nathan. Seperti sebelumnya."

Tapi kali ini, kata-katanya terasa hampa. Nathan mengangguk, tapi hatinya tidak ikut. Dia merasa seperti sebuah senjata yang diasah dengan tajam, hanya untuk menemukan bahwa perangnya telah dipindahkan tanpa sepengatahuan dirinya.

Kekecewaan dan rasa tidak berdaya itu akhirnya menemukan salurannya dalam bentuk yang tidak terduga: amarah.

Itu terjadi di lapangan latihan. Seorang ksatria senior dari Divisi 3, yang masih meragukan kemampuan Nathan yang "istimewa" dan menyalahkannya secara halus atas kegagalan misi, menantangnya untuk duel persahabatan. Maksudnya mungkin hanya untuk melepaskan stres, tapi bagi Nathan, itu adalah katalis.

Duel dimulai. Nathan, dengan kekuatan Primordialnya, seharusnya bisa mengalahkan ksatria itu dengan mudah. Tapi hari itu, kekuatannya terasa liar dan tidak terkendali. Alih-alih fokus, pikirannya dipenuhi oleh gambaran ruang kosong, ejekan tak terucap dari para kapten lain, dan rasa frustrasinya sendiri. Setiap serangannya brutal dan berlebihan, penuh dengan kekuatan tetapi tanpa presisi.

"Kendalikan dirimu, Nightshade!" teriak ksatria itu, terdesak oleh gelombang kegelapan yang kasar dan tidak terarah.

Teriakan itu justru memicu lebih banyak amarah. Nathan mendorong lebih keras. Energi gelap menggelegak di sekelilingnya, membentuk pusaran kecil yang menyedot cahaya dan suara. Dia tidak lagi mencoba untuk menang; dia mencoba untuk menghancurkan, untuk membuktikan sesuatu—pada dirinya sendiri, pada semua orang—bahwa dia masih kuat, masih relevan.

Dia tidak menyadari bahwa serangannya mulai melukai ksatria itu, bukan secara fisik, tetapi secara spiritual. Ksatria itu terhuyung-huyung, wajahnya pucat, matanya kehilangan cahaya sementara, seolah-olah sebagian energi hidupnya tersedot.

"NAthan! HENTIKAN!"

Suara Ely yang panik, diikuti oleh semburan energi cahaya yang kuat, memisahkan mereka berdua. Nathan terlempar ke belakang, jatuh di atas tanah. Pusaran kegelapan itu menghilang, meninggalkan keheningan yang mencekam di lapangan latihan. Semua orang memandangnya dengan ekspresi campur aduk: terkejut, takut, dan khawatir.

Dia melihat ke arah ksatria senior itu, yang sedang ditopang oleh rekannya, terlihat lemah dan linglung. Nathan baru menyadari apa yang hampir dia lakukan. Dia hampir saja melukai/bahkan mungkin membunuh rekan sendiri karena tidak bisa mengendalikan emosinya.

Rasa malu dan ngeri membanjiri dirinya. Dia melarikan diri dari lapangan latihan, meninggalkan Ely yang memandangnya dengan sedih.

Malam itu, Nathan dihadang oleh Lord Valerius di koridor asrama. Wajah Panglima Besar itu dingin dan tak terbaca.

"Berjalan-jalan," perintah Valerius singkat, tanpa memberi Nathan pilihan.

Mereka berjalan menyusuri taman istana yang sepi. Cahaya bulan menyinari jalan setapak, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah mencerminkan pikiran gelap Nathan.

"Kekuatanmu bukanlah mainan, Nathan," ucap Valerius akhirnya, suaranya rendah namun penuh wibawa. "Ia adalah cermin dari jiwamu. Hari ini, yang kau lihat di cermin itu adalah amarah dan kekecewaan yang tak terkendali. Itu berbahaya. Bagi dirimu, dan bagi semua orang di sekitarmu."

"Aku tahu," jawab Nathan, suaranya parau. "Aku... aku tidak bisa mengendalikannya. Setelah semua yang terjadi... rasanya seperti ada sesuatu yang ingin keluar."

"Itu karena kau mencoba mengurungnya," kata Valerius. "Kau memperlakukan kekuatan Primordial-mu seperti penjara yang harus dikunci, atau binatang buas yang harus dirantai. Kau takut padanya. Dan ketakutanmu itulah yang membuatnya memberontak."

Nathan terdiam. Itu benar. Sejak awal, kekuatan ini selalu terasa seperti kutukan, sesuatu yang asing yang melekat padanya. Dia tidak pernah benar-benar menerimanya.

"Pencerap," lanjut Valerius, "adalah makhluk yang memakan energi. Mereka tertarik pada kekacauan dan emosi negatif karena itu adalah 'makanan' yang paling mudah didapat. Amarahmu, frustrasimu, ketakutanmu—semua itu adalah umpan yang sempurna bagi mereka. Jika kau tidak belajar menguasai dirimu, maka dalam pertempuran nanti, kau bukan hanya tidak berguna; kau adalah ancaman. Kau bisa menarik mereka langsung ke arah kita, atau bahkan secara tidak sengaja memperkuat mereka."

Perkataan Valerius seperti disiram air dingin. Nathan tidak pernah memikirkan itu. Kekuatannya bisa menjadi magnet bagi musuh yang mereka coba hindari.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Nathan, putus asa.

"Kau harus berhenti melawan dirimu sendiri," jawab Valerius. "Kau bukan hanya Nathan, anak desa dari Kari. Kau juga bukan hanya wadah bagi kekuatan kuno ini. Kau adalah keduanya. Terimalah bahwa kegelapan ini adalah bagian dari dirimu, sama seperti Ely dengan cahayanya. Belajarlah untuk memahami alirannya, bukan memaksanya. Hanya dengan begitu kau bisa menjadi pengendali, bukan dikendalikan."

Valerius kemudian memberinya sebuah buku kecil yang kulitnya sudah usang. "Ini adalah jurnal pribadi saya dari masa muda, ketika saya pertama kali menemukan warisan sihir keluarga saya yang gelap. Mungkin kau bisa menemukan sesuatu yang berguna di dalamnya. Tetapi ingat, jalannya akan berbeda untuk setiap orang."

Pertemuan itu berakhir. Nathan kembali ke kamarnya dengan pikiran yang berputar-putar. Dia membuka jurnal Valerius. Tulisan di dalamnya bukan tentang mantra atau ritual, tetapi tentang perjalanan batin. Tentang perjuangan seorang pria muda yang takut dengan kekuatannya sendiri, yang belajar—perlahan dan dengan banyak kesalahan—untuk tidak takut pada bayangannya sendiri.

Sementara Nathan berjuang dengan demonnya sendiri, Ely menghadapi tantangan yang berbeda. Sebagai satu-satunya perwakilan Ras Iblis yang terang-terangan di markas Ksatria Sihir, tekanan pada dirinya sangat besar. Setiap pandangan curiga, setiap bisikan yang terhenti saat dia lewat, mengingatkannya bahwa perdamaian masih rapuh. Keberhasilan misi mereka—dan keselamatan kerajaan—bergantung tidak hanya pada kekuatan mereka, tetapi juga pada kemampuan mereka untuk menjadi jembatan.

Dia menghabiskan waktunya di perpustakaan yang sama, tetapi fokusnya berbeda. Dia mempelajari sejarah hubungan manusia dan Ras Iblis, mencari akar dari prasangka dan ketakutan. Dia juga secara aktif terlibat dengan para ksatria baru, menawarkan bantuan dan nasihat, membuktikan dengan tindakan bahwa rasnya bukanlah ancaman.

Suatu sore, dia mendapati seorang ksatria muda dari Divisi 5, Maya, sedang kesulitan mengendalikan sihir penyembuhan dasar untuk menyembuhkan luka latihan di tangannya. Sihir cahaya Maya terhuyung-huyung dan tidak stabil.

"Boleh aku coba?" tanya Ely dengan sopan.

Maya, yang sedikit gugup, menganggak. Ely mengambil tangan Maya. Daripada langsung menyembuhkan, dia membiarkan sihir cahayanya yang lembut menyelimuti luka itu, menunjukkan pada Maya bagaimana "merasakan" aliran energi yang terganggu dan menenangkannya dengan sentuhan yang halus.

"Ini tentang harmoni," bisik Ely. "Bukan memaksa. Seperti menenangkan anak kecil yang menangis."

Maya memperhatikan dengan saksama, dan saat dia mencoba lagi, sihirnya bekerja dengan lebih baik. Senyum merekah di wajahnya. "Terima kasih, Ely!"

Kabar tentang kesabaran dan keahlian Ely mulai menyebar. Perlahan-lahan, tapi pasti, dinding prasangka mulai retak. Dia membuktikan bahwa kemampuan uniknya—kemampuan untuk memanipulasi beberapa elemen dengan cara yang tidak bisa dilakukan manusia—bisa digunakan untuk membantu, bukan menghancurkan.

Beberapa hari setelah insiden duel, Jonas mendatangi Nathan di kamarnya.

"Dengar, kita semua kesal karena misi itu gagal," kata Jonas, duduk di samping Nathan. "Tapi meratapi kegagalan tidak akan membawa kita ke mana-mana. Divisi 6 punya tugas baru. Intelijen Rylan menemukan aktivitas mencurigakan di bekas wilayah Shadow Wolf. Sekelompok orang—mungkin sisa-sisa pendukung Morvan atau sesuatu yang lain—telah mengunjungi beberapa reruntuhan kuno di sana. Mereka tidak menjarah, mereka... mempelajari sesuatu."

Nathan mengangkat kepalanya. Ini adalah petunjuk pertama sejak ruang kosong.

"Apa rencananya?"

"Kita akan melakukan penyelidikan. Tim kecil. Kau, aku, Ely, dan mungkin Lio dari Divisi 2 untuk urusan membuka kunci dan perangkap." Jonas berdiri. "Tapi aku butuh kau dalam kondisi terbaik, Nathan. Bukan sebagai bom waktu. Kita butuh matamu, inderamu, dan kepalamu yang dingin. Bisa kupercayai itu?"

Tatapan Jonas penuh dengan keyakinan yang tulus. Itu adalah kepercayaan yang tidak diragukan, persis seperti yang Nathan butuhkan.

"Bisa," jawab Nathan, dengan keyakinan yang lebih besar dari yang dia rasakan. "Aku tidak akan mengecewakanmu."

Jonas tersenyum. "Bagus. Bersiaplah. Kita berangkat besok pagi."

Malam itu, Nathan dan Ely berbicara di atap markas. Nathan menceritakan percakapannya dengan Valerius dan apa yang dia baca di jurnal itu.

"Kau tahu," kata Ely, memandangi bintang-bintang. "Mungkin ini bukan tentang menjadi kuat atau lemah. Mungkin ini tentang menjadi utuh. Kau menerima kegelapanmu, aku menerima warisanku sebagai penghubung. Kita belajar untuk tidak melawan siapa diri kita sebenarnya."

Nathan memandang Ely. Di bawah cahaya bulan, wajah Ely tampak tenang dan penuh penerimaan. Dia adalah penopangnya, pengingatnya akan kebaikan dan harapan. Dan untuk pertama kalinya, Nathan merasa bahwa kekuatannya yang gelap bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan darinya, tetapi sesuatu yang bisa mereka hadapi bersama.

"Terima kasih," ucap Nathan, menggenggam tangan Ely. "Karena selalu ada di sini."

"Selamanya," jawab Ely, menggenggamnya kembali.

Keesokan harinya, tim kecil yang terdiri dari Jonas, Nathan, Ely, dan Lio—seorang pria kurus dengan jari-jari yang lincah dan mata yang selalu memperhatikan detail—berangkat menuju bekas wilayah Shadow Wolf. Perjalanan memakan waktu dua hari dengan kuda. Suasana di antara mereka fokus, dipenuhi dengan antisipasi.

Mereka tiba di sebuah reruntuhan bangunan kuno yang tersembunyi di dalam hutan lebat. Strukturnya sudah setengah runtuh, ditutupi lumut dan akar-akar pohon. Menurut peta Rylan, inilah tempat aktivitas mencurigakan itu terjadi.

Lio, dengan keahliannya, dengan cepat menemukan dan menonaktifkan beberapa perangkap primitif di pintu masuk. "Ini bukan sihir tingkat tinggi, tapi cukup mematikan untuk orang yang tidak waspada," bisiknya.

Mereka memasuki ruangan bawah tanah yang gelap. Dengan bantuan lampu kristal, mereka melihat bahwa ruangan ini penuh dengan ukiran-ukiran dinding yang sudah aus, menggambarkan pertempuran kuno antara manusia dan makhluk-makhluk yang mirip dengan deskripsi Pencerap—wujud bayangan dengan mulut yang menganga dan mata kosong.

"Lihat," seru Nathan, mendekati salah satu ukiran. "Ini... ini menunjukkan seseorang—mungkin seorang pahlawan—menggunakan kekuatan seperti bola energi untuk mengurung mereka." Bola energi itu diukir dengan detail yang rumit, dengan pola yang mengingatkannya pada perasaannya sendiri tentang kekuatan Primordial.

Mereka menjelajah lebih dalam, menemukan sebuah ruang altar. Di tengah ruangan, ada sebuah baskom batu kuno. Dan di dalam baskom itu, mereka menemukan sisa-sisa ritual baru-baru ini: lilin yang sudah habis terbakar, daun-daun aneh yang sudah layu, dan yang paling penting, sisa-sisa bubuk kristal hitam yang memancarkan energi korosif yang samar—sama seperti jejak yang ditinggalkan oleh Pencerap.

"Ada yang sedang mencoba berkomunikasi dengan mereka," gumam Ely, wajahnya pucat. "Atau... mempelajari caranya."

Tiba-tiba, Nathan merasakan getaran aneh. Dia menoleh ke sudut ruangan yang gelap. "Seseorang ada di sini."

Dari balik bayangan, sebuah suara terdengar, kasar dan terdistorsi. "Akhirnya... yang terpilih datang sendiri."

Sosok bertudung hitam melangkah keluar. Dia tidak seperti sisa-sisa Shadow Wolf; jubahnya lebih sederhana, tapi aura kegelapan di sekelilingnya terasa lebih berbahaya dan... akrab. Seperti versi busuk dari kekuatannya sendiri.

"Kau pikir kau bisa menguasai apa yang bukan milikmu?" sambar sosok itu, mengacungkan sebuah pisau ritual yang terbuat dari batu hitam. "Kekuatan para Pencerap adalah untuk mereka yang berani mengambilnya! Bukan untuk anak kecil yang takut pada bayangannya sendiri!"

Sosok itu menerjang, bukan ke arah Nathan, tetapi ke arah Ely, seolah tahu di mana titik lemah Nathan berada.

Semuanya terjadi dalam sepersekian detik. Amarah dan ketakutan Nathan berkecamuk. Dia bisa merasakan kegelapan dalam dirinya bergelegak, ingin meledak, ingin menghancurkan ancaman terhadap Ely.

Tapi kali ini, dia ingat kata-kata Valerius. Dia ingat rasa malu setelah duel. Dia menarik napas dalam-dalam. Alih-alih melawan gelombang itu, dia membiarkannya mengalir. Dia menerima kehadirannya, rasa takutnya, amarahnya, dan tekadnya untuk melindungi. Dia tidak memaksanya keluar, tetapi mengarahkannya.

Dengan gerakan yang lebih halus dari yang dia kira bisa lakukan, dia mengangkat tangannya. Sebuah perisai energi gelap yang padat dan berkilauan terbentuk di depan Ely, menahan serangan pisau batu itu. Tidak ada ledakan, tidak ada kekacauan. Hanya sebuah benteng yang kokoh dan tenang.

Sosok itu terkejut, matanya melebar di balik hood-nya. "Tidak mungkin... kau belajar?"

Nathan tidak menjawab. Dengan fokus yang baru ditemukannya, dia merasakan aliran energi di dalam sosok itu. Itu kacau, penuh dengan kebencian dan kerakusan, seperti karikatur dari kekuatannya sendiri. Dia mendorong perisainya, tidak dengan kekuatan kasar, tetapi dengan kehendak yang terkendali. Energi gelapnya menyentuh energi sosok itu, dan untuk sesaat, dia bisa merasakan pikirannya—sebuah kumpulan rasa sakit, ambisi buta, dan pemujaan pada kekuatan Pencerap.

"Kau yang tidak bisa mengendalikan apa pun," balas Nathan, suaranya rendah namun penuh wibawa. "Kau hanya membiarkan dirimu dimakan."

Dia memberikan dorongan energi yang terfokus. Sosok itu terlempar ke belakang, menjerit kesakitan bukan karena luka fisik, tetapi karena sentuhan kegelapan Nathan yang murni dan terkendali telah mengganggu koneksinya yang tidak murni dengan energi Pencerap.

Jonas dan Lio langsung bergerak, melumpuhkan dan mengikat sosok itu.

Nathan berdiri di tempatnya, terengah-engah. Tidak ada kelelahan yang menghancurkan seperti saat duel, tidak ada rasa bersalah yang melumpuhkan. Hanya ada rasa tenang dan keyakinan yang baru. Dia melihat ke tangannya, lalu ke Ely, yang memandangnya dengan bangga dan lega.

Dia tidak sepenuhnya mengerti kekuatannya. Dia belum memenangkan perang melawan dirinya sendiri. Tapi untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa dia bisa menjadi pengendali. Dia baru saja lulus dari pelajaran pertamanya dengan cara yang keras, dan dia tahu akan ada lebih banyak pelajaran yang datang.

Mereka membawa tawanan mereka dan artefak yang mereka temukan kembali ke markas. Misi ini mungkin tidak menemukan segel yang hilang, tetapi mereka menemukan sesuatu yang mungkin lebih penting: sebuah sekte pemuja Pencerap yang aktif, dan bukti bahwa seseorang—atau sesuatu—sedang mengajari manusia bagaimana memanfaatkan kekuatan berbahaya itu.

Perburuan masih jauh dari selesai. Tapi sekarang, Nathan merasa lebih siap. Dia telah melihat sekilas musuh yang sebenarnya—bukan hanya Pencerap, tetapi juga kegelapan dalam hati manusia yang tertarik pada kekuatan mereka. Dan yang terpenting, dia mulai belajar bagaimana berdiri di tepi jurang kekuatannya sendiri tanpa terjatuh.

Perjalanan untuk memahami dirinya sendiri baru saja dimulai, dan itu akan menjadi pertarungan terberat yang pernah dia hadapi.

1
ラマSkuy
apakah Nathan ini akan mempunyai kekuatan yang over power 🤔🤔
Thenawa: Untuk kedepannya iya kak
total 1 replies
ラマSkuy
sangat bagus kak alur ceritanya saat aku baca sampai bab ini, cuma memang masih ada sedikit typo sih tapi untuk keseluruhan alur bagus banget dan juga kata kata yang di pakai mudah dipahami para pembaca.
Semangat terus kak 💪
Thenawa: Terima kasih banyak kaks🙏🙏🙏
total 1 replies
ラマSkuy
wah awal awal tanpa diketahui langsung punya skill tranformasi jadi Beast hanya gara" menelan sedikit darah dari monster serigala tersebut keren kak, di tunggu kelanjutannya hehehe
Thenawa: Siapp kakss nantikan kelanjutannya ya kak🙏🙏
total 1 replies
Adrian Koto
waw pindah ke isekai dapet skill transformasi dengan minum sedikit darah. gimana nanti kalo minum darah perawan? 🤔
Thenawa: Yaa transformasi jadi perawan bang wkwkw
total 1 replies
kokonoe
lanjot
kokonoe
naice
kokonoe
nice
Thenawa
💪
kokonoe
Lanjut thor
Thenawa
mantap
ian gomes
Bagus banget ceritanya, aku udah nggak sabar nunggu bab selanjutnya!
Thenawa: Thank's
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!