Kaileya telah susah payah bangkit dari keterpurukan masa lalu, kini berhasil membangun kariernya. Namun, sekarang dia dihadapkan dengan pilihan sulit. Dirinya harus memilih antara karier atau buah hati karena atas desakan agensinya.
Bagaimana caranya ia harus bisa memilih antara dua pilihan yang begitu sulit?
Ditengah perjuangan melawan semua tantangan. Justin Killer seorang laki-laki dari masa lalu yang kehadirannya tak pernah diinginkan, kini kembali ke dalam hidupnya. Dia mencoba masuk untuk menjadi bagian di antara Kaileya dan kedua anaknya.
Lantas, langkah apa yang harus Kaileya ambil? Apakah dia akan meninggalkan kariernya? Ataukah dia akan meninggalkan buah hatinya demi mempertahankan karier?
Lalu, apakah kehadiran Justin akan diterima kembali oleh Kaileya atau malah sebaliknya?
Tolong Dibaca Setiap Bab Baru Update, ya!
Jangan ditabung. Don't be silent readers 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sisakata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Detik berganti menit dan menit terus berganti dengan jam. Hari berlalu sangat cepat dan hati ini adalah hari di mana Kaileya pertama kali melihat wujud malaikat kecilnya. Benar, hari ini adalah hari lahir si kembar, jika mengenang masa lalu yang kelam, akan terasa sakit bagi Kaileya. Bagaimana usaha Kaileya seorang diri dalam memperjuangkan kehidupan anak-anaknya. Namun, kini kesakitan dan kelelahan masa lalu terbayar dengan hadirnya kembali sang pujaan hati, kini ditambah lagi dengan ia yang sudah berbaikan dengan kedua mertuanya.
Sesuai perkataan Kaileya tempo hari, jika mereka akan melaksanakan perayaan untuk Liam dan Lyka di kediaman utama keluarga Killer.
Sekarang di sinilah mereka semua di dalam ruang tamu yang sudah dihias sedemikian rupa oleh penata dekorasi yang dipantau penuh oleh Atika serta suaminya. Semua personil keluarga sudah duduk di tempat masing-masing sebelum kedua anak itu menyanyikan lagu pemotongan kue ulang tahunnya.
“Wah … bagus banget, Nenek,” puji Liam dan Lyka berdecak kagum melihat indahnya dekorasi dengan warna biru dan merah muda yang mendominasi.
“Gimana, Kakak sama Adek suka gak?” tanya Atika kembali. Ia sangat senang bisa berinteraksi dengan cucunya sendiri.
Si kembar kembali mengangguk mantap sebagai jawaban. Kedua anak itu berlari menuju Kaileya dan mencium pipi mommy-nya dengan raut bahagia.
“Makasih, Mommy, ulang tahun ini Kakak dan Adek jadi punya Daddy, Nenek, dan Kakek.” Liam dan Lyka berucap tulus pada mommy hebatnya. “Kakak dan Adek sayang sekali dengan Mommy.”
Pasalnya sepanjang hidup mereka yang batu berjalan lima tahun ini, kebahagiaan mereka hanya berasal dari Kaileya seorang. Namun, sekarang wanita hebat yang tak lain mommy-nya itu telah memberikan banyak kebahagiaan di tahun kelima mereka hadir ke dunia.
“Sama-sama, Sayang. Mommy, juga sayang sama kalian.” Kaileya memeluk dan mencium puncak kepala kedua malaikat kecilnya. “Udah, sekarang ke sana potong kuenya sama Kakek dan Nenek.”
Si kembar mengangguk patuh dan kembali pada posisi kue ulang tahun keduanya, yang berada di dekat Atika dan Arif.
“Ayo, nyanyi sama-sama,” pinta Lyka dengan begitu menggemaskan mengajak semua yang ada di sana untuk ikut bernyanyi lagu ulang tahun bersama mereka.
Kaileya, Justin dan pasangan Atika dan Arif tentu saja akan mengikuti permintaan kedua anak tersebut. Mereka sama-sama menyanyikan lagu untuk merayakan hari lahirnya dua malaikat yang menjadi pemersatu antara keluarga mereka.
Nyanyian selesai dan senyuman bahagia tak pernah luntur dari kedua bibir si kembar. Keduanya memotong kue dengan dibantu oleh Atika, kali ini Kaileya tidak ikut andil karena ia membiarkan anaknya bersama nenek yang selama ini belum pernah dijumpainya.
“Kue pertama untuk siapa, Kak?” bisik Lyka pada kakaknya Liam.
“Kita kasih untuk mommy aja, karena kalau gak ada mommy kita gak akan bisa bertemu daddy dan kakek nenek.” Liam memberitahukan kembarannya.
Lyka mengangguk paham. “Kue pertama kita kasih untuk … Mommy dulu.”
Kaileya tersenyum melihat tingkah anaknya. Begitu pula dengan yang kain ikut terkekeh geli dengan tingkah menggemaskan anak tersebut. Bagi mereka wajar saja jika anak itu memberikan untuk Kaileya potongan pertama, karena selama ini wanita itulah yang paling berjasa bagi si kembar.
Liam dan Lyka membawa satu potong kue untuk mommy tercintanya. Keduanya bergantian menyuapi wanita yang tak pernah lelah bekerja untuk mereka berdua.
Kaileya selesai dan berlanjut kepada Justin dan kemudian dilanjutkan oleh kakek dan nenek yang di suap oleh si kembar.
Hari ini akan Liam dan Lyka ingat, ternyata punya keluarga yang lengkap sangat-sangat menyenangkan dan ini juga merupakan impian semua anak. Keduanya memiliki mommy yang hebat, sehingga mereka dipertemukan dengan keluarga yang sesungguhnya.
***
Hari semakin menjelang sore dan guratan jingga sudah hampir memperlihatkan wujudnya. Sekarang adalah waktunya Kaileya dan Justin serta si kembar akan pulang. Namun, Kaileya dan Justin sedikit terhalang akan izin untuk membawa pulang anak mereka. Dikarenakan kedua anak tersebut ditahan oleh Atika—neneknya.
“Udahlah, Nak, biarkan si kembar di sini sama kami,” ujar Atika sambil menatap si kembar.
“Tapi mereka harus sekolah, Ma.” Justin kembali membantah mamanya yang ingin menahan agar si kembar tidak ikut pulang.
“Gapapa, atuh, diliburkan aja dulu selama dua hari.” Atika kembali memberi negosiasi pada putranya.
“Gak bisa dong, Ma.”
“Bisa, kalau gak bisa, ya, udah biar Papa beli aja itu sekolahnya.” Atika kembali mengangkat suara sambil melihat suaminya.
Arif hanya tersenyum mendengar celotehan istrinya.
Lain halnya dengan Justin yang terdiam tak berkutik, terkadang ucapan mamanya di luar nalar. Ia memilih diam dan tak menjawab, ia pasrah mungkin mamanya memang sangat ingin bersama dengan cucu-cucunya.
“Kakak, Adek, kalian sama Nenek di sini, gapapa, kan?” tanya Justin berjongkok di depan anaknya.
“Em, gak papa, Daddy. Kita mau rasa tinggal sama Nenek, soalnya kata teman-teman di sekolah tinggal sama, Nenek enak. Jadi, Adek sama Kakak mau coba,” ucap Liam mewakili adiknya dengan logatnya yang begitu polos.
Kaileya tersenyum mendengar anaknya bicara. Kemudian ia juga ikut mensejajarkan tingginya dengan si kembar.
“Berarti kalau Mommy sama Daddy tinggal pulang, beneran gapapa, kan?” Kaileya mengusap kepala kedua anaknya.
“Em, iya, Mom, tidak apa-apa. Nanti Kakak dan Adek di sini sama Nenek dan Kakek.” Lyka kembali menjawab mommy-nya.
“Yasudah, kalau begitu Mommy dan Daddy pulang sekarang, ya, Sayang. Soalnya Mommy belum ada libur, Sayang.” Kaileya memberi pengertian pada si kembar.
Si kembar dengan cepat mengangguk paham. Kedua anak itu sudah terbiasa ditinggalkan oleh Kaileya yang pergi bekerja. Namun, tetap saja kasih sayang Kaileya untuk anaknya tidak pernah ia biarkan terasa kurang.
“Ma, Pa, kita pamit pulang kalau begitu,” Justin dan Kaileya pamit pada kedua orang tuanya.
“Iya, hati-hati di jalan. Si kembar aman,kok, sama kami,” ujar Atika tersenyum melihat si kembar yang berdiri menanti kepulangan orang tuanya.
“Hati-hati, ya, di jalan.” Arif ikut menyahuti anak dan menantunya.
Kaileya dan Justin mengangguk dan tersenyum. Kaileya dan Justin bergerak menunggu mobilnya, tetapi perhatian Kaileya kembali berpusat pada kedua anaknya.
“Sayang, Mommy, pulang, ya. Dengar semua yang dibilang Nenek, ya,” pesan Kaileya berat meninggalkan anaknya. Bukan, bukan karena ia ragu pada Atika, hanya saja ini pertama kalinya ia membiarkan si kembar tidur di selain rumahnya.
“Siap, Mommy, kita anak baik, iya, kan, Kakak?” seru Lyka bertanya pada kakak laki-lakinya.
“Iya, Mommy, kami anak baik. Mommy hati-hati, Kakak sayang, Mommy.” Liam bergerak maju mencium pipi Kaileya dan diikuti oleh Lyka setelahnya.
Dengan berat hati Kaileya berjalan memasuki mobil yang sebentar lagi akan memisahkan dirinya dan anaknya.
***
Malam hari tiba, terhitung baru satu jam yang lalu Kaileya dan Justin tiba di rumahnya. Kini rasa-rasanya kedua pasangan suami istri itu seperti pasutri baru karena tidak ada anak di antara mereka.
Setelah membersihkan diri keduanya menuju dapur untuk segera makan malam, karena malam ini keduanya akan berencana tidur cepat, karena keduanya besok harus kembali bekerja.
Setelah selesai dengan acara makan malam, kedua langsung menuju kamar tanpa ada duduk bersantai di ruang keluarga dulu seperti biasanya. Lagi pula malam ini tidak ada si kembar, jadi tidak ada yang perlu di quality time.
“Sayang, besok kamu ada ke agensi?” tanya Justin menatap istrinya yang baru selesai berbicara dengan seseorang melalui ponsel.
“Ah, ini batu aja Mira bilang, kalau jadwal aku dipindahin ke model lain, jadinya aku gak harus ke agensi besok.” Kaileya menyimpan ponselnya di nakas dan kembali membenarkan letak posisi tidurnya agar ia nyaman. “Kenapa nanya? Kamu gak ada masuk kantor juga?”
“Ada, tapi gak usah masuk ajalah,” ujar Justin ikut merebahkan tubuhnya di sisi Kaileya.
“Lah, kenapa gitu? Gak boleh malas meskipun kamu bosnya.” Kaileya mengingatkan suaminya sambil menyisir lembut rambut Justin dengan jemari lentiknya.
“Gapapa malas sehari, karena malam ini sampai besok pagi kita gak tidur sayang,” ucap Justin dengan suara seraknya.
Dalam sekali gerakan, kini tubuh ideal Kaileya sudah terkungkung di bawah kuasa seorang Justin Killer.
“Kamu mau apa?” Kaileya mulai was-was ketika Justin mencium rahang kecil milik istrinya.
“Ayolah, Sayang, nahan lima tahun itu gak mudah. Aku tahan sampai aku bertemu lagi denganmu dan hari inilah waktunya Sayang, karena anak-anak gak ada di rumah.” Justin kembali berbicara dengan suaranya yang dikelabui hasrat akan wanita yang berada di bawahnya.
“Tapi … ahhh …!”