🍂 Mencintaimu bagaikan bunga liar.
Terinjak tapi tetap bertahan.
Terbawa angin, namun tetap merindu.
Akarku tidak kuat, mahkotaku tidaklah cantik.
Namun kala hujan yang aku cintai menangis merindukanku.
🍂Kala itulah aku rela mati, hanya demi memeluk hujan.
Setiap kata yang dituliskan Edward dalam buku jurnalnya. Pria yang hanya mencintai satu orang sepanjang hidupnya.
----------
Warning!
🍀Novel ini bertema isekai (masuk ke dalam dunia novel)
🍀Buatan seorang amatir yang setelah sekian tahun iseng menulis, belum ahli juga.
🍀Mempunyai banyak kekurangan, jadi maklumi saja.
🍀Novel ini mengandung gula berlebih, bawang berlebih, terkadang menbuat tensi naik. Tidak aman bagi para jomblo dan pemilik penyakit tertentu.
🍀Copy paste tewas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Noda
Seperti biasanya tidak memiliki teman membuat dirinya terisolir. Berjalan menapaki tangga darurat, mencari area yang tenang. Memakan roti sembari membaca buku. Siswi tercerdas di kelasnya? Itulah Rachel.
Hingga suara misterius di dengarnya. Melangkah naik, ingin mengetahui sumber suara tidak wajar. Namun, langkahnya terhenti, dirinya berbalik dengan cepat.
Cartier berada di sana dengan seorang siswi, bernama Ferly. Berciuman? Benar-benar saling berciuman, murid dan guru memiliki hubungan kasih. Ini gila! Dirinya harus menutup mulut jika tidak ingin ada masalah.
Berlari dengan cepat hingga buku miliknya tidak sengaja di tinggalkan. Berusaha membuat suara seminimal mungkin, kala menutup pintu tangga darurat.
Tapi satu hal yang tidak disadarinya, suara pintu yang terbuat dari besi didengar oleh Cartier."Sebentar!" Ucapnya pada Ferly, yang hendak membuka ikat pinggang Cartier.
Pria itu melangkah menuruni tangga dengan cepat. Namun langkahnya terhenti kala menemukan buku tentang sistem pernapasan manusia. Buku yang kemudian dibukanya, buku perpustakaan yang memiliki kartu peminjam. Rachel Snowden, nama terakhir yang terdapat dalam daftar itu.
*
Sedangkan Rachel yang tadinya tenang kini kembali gelisah. Menelan ludahnya berkali-kali, seorang guru memiliki hubungan dengan siswa. Mengingat-ingat informasi tentang Cartier, anak bungsu dari keluarga berada, orang tuanya pemilik rumah sakit, kakaknya memiliki perusahaan kelas menengah, dapat dikatakan Cartier merupakan guru idaman beberapa siswi.
Tidak apa-apa! Sekaya apapun asalkan bukan keluarga Russell, nama Snowden dapat mengatasinya. Tapi jujur saja dirinya benar-benar merasa tegang saat ini. Memergoki hal yang seharusnya tidak dilihatnya.
Tapi tunggu dulu! Rachel menelan ludahnya kasar. Dirinya sudah bertahun-tahun menyelidiki para guru di sekolah ini. Namun, tidak ada yang memiliki hubungan khusus dengan siswi.
Hanya Cartier yang memilikinya. Apa dia adalah korban Edward? Seseorang yang dipenggal? Pembunuhan rapi tanpa satupun bukti yang tersisa?
Rachel menelan ludahnya kasar, makan bagaikan marmut. Suara beberapa orang yang lewat terdengar. Alira dan beberapa temannya, mungkin sudah bagaikan menbuat kelompok perkumpulan gadis-gadis cantik di tempat ini.
Wanita yang selalu tampil sempurna dengan jam tangan bermerek, handphone keluaran terbaru, serta aksesoris yang dipastikan bernilai tinggi. Anak sultan sejak lahir memang berbeda bukan?
"Hai, namamu Rachel bukan?" Alira tersenyum menghentikan langkahnya.
Dengan cepat Rachel mengangguk, pada akhirnya dirinya memiliki kesempatan berteman dengan pemeran utama wanita. Alira yang diperebutkan oleh Alfred Russell dan Edward Snowden."Iya! Namaku Rachel!"
"Alira! Kenapa menyapanya? Kamu tidak tahu ya? Dia itu sudah seperti lintah penggoda, berlumpur yang melekat pada pangeran salju!" Geram Shisuko, siswi keturunan Jepang.
"Tidak apa-apa, dia terlihat tidak memiliki teman. Mau menjadi temanku?" Tanya Alira, menbuat Rachel semakin terpesona. Dari banyak siswa di tempat ini tidak pernah ada yang ingin bergaul dengannya.
"Aku mau!" Jawab Rachel cepat.
"Calon nyonya Snowden! Aku siap melayanimu..." Batinnya, sebagai pelayan yang setia.
"Alira! Dia itu kotoran di lumpur! Kamu tau apa yang dilakukannya? Kami hanya menyiramnya, tapi dia malah mengadu pada Edward. Pada akhirnya Edward datang ke ruangan penyiaran sekolah, mengancam akan merobek wajah orang yang menyiram Rachel jika kejadiannya berulang lagi." Ucap Pricilla.
"Jadi kalian yang menyiramku saat sedang konsentrasi mengeluarkan---" Rachel menghela napas kasar. Benar-benar mengingat kejadian itu.
"Itu tidak penting! Yang jelas kami tidak setuju! Selama kamu masih menempel pada pangeran salju kesayangan kami!" Tegas Pricilla.
"Benar! Jika itu Alira yang baik hati mungkin kami akan mendukung!" Shizuko menambahi.
"Yang terpenting kita, aku percaya Rachel sebenarnya orang baik. Benar kan Rachel?" tanya Alira, dengan cepat Rachel mengangguk.
Takdir kematian Edward akan dicegahnya. Membuat Alira jatuh cinta pada Edward adalah tujuannya.
Namun.
Seseorang menarik tangannya. Merangkul bahunya."Kalian ingin mati?" tanyanya.
"Bu...bukan begitu aku hanya ingin berteman dengan Rachel." Ucap Alira cepat.
"Berteman? Atau menjauhkan ku dengannya. Dengar baik-baik, adikku tidak boleh memiliki teman. Terutama kalian..." Kalimat penuh tekanan yang membuat siapapun merinding. Masih merangkul Rachel hendak pergi.
"Edward berhenti! Ini mungkin takdirmu!" Bisik Rachel, tidak ingin Edward menyesal dan bunuh diri di kemudian hari.
"Edward, aku hanya ingin berteman dengan adikmu." Ucap Alira penuh senyuman cerah.
Benar-benar tokoh protagonis yang mempesona bukan? Kebaikan hati yang tidak tanggung-tanggung.
"Adik di atas kertas. Menurutmu di masa depan dia adalah adikku?" kalimat ambigu dari Edward memaksa Rachel untuk segera pergi.
"Tentu saja bukan adik! Setelah berumur 18 tahun aku akan dikeluarkan dari kartu keluarga, kemudian menjadi pelayan setiamu hingga tua nanti. Atau... mungkin aku akan menjadi dokter pribadi keluarga Snowden?" Batin Rachel tersenyum menahan kekesalannya.
*
Ketiga wanita itu terdiam, senyuman tetap terlihat di bibir Alira, namun anehnya jemari tangannya mengepal.
"Alira kamu tidak apa-apa?" tanya Shizuko.
"Edward memang sulit didekati. Tapi perlahan dia akan luluh. Kamu cantik dan baik, seandainya lintah berlumpur pengganggu itu tidak ada." Pricilla menepuk pundak Alira.
"Jangan begitu, dia itu bukan lintah pengganggu. Seberapa buruk sifatnya pun perlahan akan berubah. Aku tidak apa-apa." Kalimat tidak menyalahkan sama sekali.
"Kamu memang malaikat." Shizuko memeluknya erat.
Supel pandai bergaul dan dermawan, itulah Alira."Nanti pulang sekolah, kita pergi ke mall, aku yang traktir."
*
Alur yang berjalan dengan berbeda. Kala Edward berjalan dengan Rachel menuju tempat parkir yang cukup ramai.
Seseorang menghentikan langkah mereka. Cartier, dialah yang membuat langkah mereka terhenti. Rachel memilin jemarinya terlihat ketakutan.
"Bisa aku bicara dengan Rachel? Aku ingin mengembalikan buku miliknya." Ucap Cartier, tersenyum di hadapan kedua orang siswa tersebut, membawa sebuah buku yang sempat ditinggalkan Rachel di tangga darurat. Buku tentang sistem pernapasan manusia.
"Lebih baik bicara denganku saja. Baru beberapa jam aku meninggalkan adikku, banyak masalah yang mendatanginya." Edward menghela napas kasar.
"E... Edward! Ini masalah diantara kami." Ucap Rachel berusaha tersenyum. Masalah dimana dirinya mengintip guru yang tengah berpacaran.
"Tidak! Kamu tunggu disini!" Edward tersenyum mengacak-acak rambut Rachel. Kemudian berjalan meninggalkannya, diikuti sang guru muda.
Rachel menelan ludahnya kasar. Dirinya harus menjaga Edward, karena itu dirinya mengikuti diam-diam dari jauh. Tempat yang sepi di sudut sekolah, mengingat sebagian besar siswa sudah pulang.
Tidak ingin ada adegan sadis sama sekali. Namun, apa yang mereka bicarakan tidak terdengar.
Beberapa siswa dari tim basket yang kebetulan lewat juga ikut menghentikan langkah mereka. Sama seperti Rachel hanya mengamati dari jauh.
Pembicaraan yang tenang pada awalnya. Hingga Edward terlihat menarik kerah pakaian sang guru. Menghela napas pria yang dijuluki pangeran es itu terlihat lebih tenang.
Apa yang mereka bicarakan? Entahlah.
Memang perdebatan sepertinya kembali terjadi. Tapi sepertinya itu berakhir dengan ancaman dari Edward. Berjalan meninggalkan sang guru.
Kemudian menarik jemari tangan Rachel pergi. Sedangkan Rachel melihat ke arah belakang. Sang guru masih berdiri di tempatnya.
Apa yang terjadi? Entahlah, Rachel tidak menyadari noda darah akan terlihat keesokan harinya.
karena film sailormoon adanya ditahun-tahun itu
SUKAAA NIHH GAYA AUTHORR NYAAA🫶🎀❣️