Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Cadar
Suara dengung kipas angin di langit-langit kelas berputar konstan, mengiringi derit kapur Pak sidiq yang sedang menuliskan soal-soal fisika di papan tulis. Namun bagi Albiru, seluruh penjelasan di depan kelas itu hanyalah angin lalu. Fokusnya benar-benar buyar. Sepasang matanya yang biasa menatap tajam penuh percaya diri, kini berulang kali bergulir ke arah barisan belakang, tepat di mana Ellea duduk.
Gadis itu tampak begitu tenang. Ia mencatat setiap penjelasan guru dengan jemari yang bergerak anggun, seolah ketegangan hebat di kantin beberapa menit lalu tidak pernah terjadi. Ketenangan Ellea justru membuat batin Albiru kian bergemuruh.
"Sial. Kenapa mata gue malah beralih ke dia terus sih? Padahal cuma cewek kampungan apa menariknya," umpat Albiru dalam hati, meremas pulpennya dengan kesal.
Kehadiran Andra yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Ellea juga terus membayangi benak Albiru, memantik sebentuk ego kelaki-lakiannya yang menolak untuk dikalahkan.
Di barisan depan, Sandra yang duduk tidak jauh dari Albiru mulai merasa diabaikan. Sejak kembali dari kantin, ia menyadari ada yang berbeda dari sikap cowok itu. Pandangan Albiru kosong, seolah raganya ada di kelas namun jiwanya melayang entah ke mana.
Sandra memutar tubuhnya sedikit, lalu berbisik pelan dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat.
"Al?"
Tidak ada jawaban. Albiru masih menopang dagu, menatap lurus ke arah jendela luar atau mungkin, ke arah meja Ellea yang segaris dengan sudut pandangnya.
"Al?" panggil Sandra lagi, kini sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Albiru.
Tetap hening.
"ALBIRU?!" pekik Sandra setengah berbisik dengan nada yang jauh lebih tajam, menahan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun karena merasa dikacangi.
Albiru tersentak, mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap Sandra dengan kening berkerut dalam. "Apaan sih, San? Berisik tahu, nanti kedengaran Pak sidiq."
"Lagian elo dari tadi gue panggil malah melamun terus. Mikirin apa, sih?" selidik Sandra, matanya menyipit penuh kecurigaan, mencoba membaca apa yang sedang mengusik pikiran sang pangeran sekolah.
"Bukan urusan lo. Ada apa?" jawab Albiru ketus, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh.
Sandra mengembuskan napas panjang, lalu memajukan tubuhnya ke meja Albiru. "Gue cuma mau memastikan soal yang tadi. Nanti pulang sekolah, jadi 'kan kita nongkrong di kafe baru dekat bioskop? Anak-anak yang lain juga pada ikut."
"Ya," jawab Albiru singkat, enggan berdebat.
"Al!" seru Sandra lagi, merasa jawaban Albiru terlampau dingin dan tidak berniat.
"Iya, Sandra. Jadi," jawab Albiru dengan helaan napas berat, mencoba meredam kekesalan yang kian menumpuk.
"Kamu kenapa sih hari ini? Aneh banget, nggak kayak biasanya," keluh Sandra sambil mengerucutkan bibirnya manja, berharap mendapatkan perhatian lebih dari cowok yang selama ini selalu ia klaim sebagai miliknya di hadapan murid-murid lain.
Melihat tingkah manja Sandra yang mulai mengaburkan fokusnya, Albiru mengulas senyum tipis. Secara spontan, ia mengangkat tangan kanannya, lalu menyentil hidung bangir Sandra dengan gerakan gemas yang cukup akrab.
"Gue nggak apa-apa. Udah, buruan catat itu di depan sebelum dihapus," ucap Albiru lembut, sebuah gestur intim yang biasa mereka lakukan di depan umum untuk menegaskan kedekatan mereka.
Sandra seketika tersenyum cerah, wajahnya memerah senang mendapat perlakuan manis tersebut. Ia kembali berbalik ke depan dengan hati berbunga-bunga, merasa posisinya sebagai perempuan paling berharga di mata Albiru tetap aman.
Namun, apa yang menjadi momen manis bagi Sandra justru menjadi belati yang menyayat hati di sudut belakang kelas.
Ellea, yang tanpa sengaja mendongak dari buku catatannya, menyaksikan seluruh interaksi intim tersebut dengan sangat jelas. Gerakan tangan Albiru yang menyentil hidung Sandra terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan seluruh pertahanan dinding hatinya.
Dadanya mendadak terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis. Ellea menarik napasnya dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh hebat yang berkecamuk di dalam sana. Tanpa bisa ia kendalikan, setetes air mata hangat luruh dari sudut matanya, mengalir lambat sebelum akhirnya membasahi kain cadar hitam yang dikenakannya.
Di balik sekat kain itu, bibirnya bergetar menahan isak yang nyaris lolos.
"Tuhan ... sesakit inikah rasanya mencintai suami sendiri?" batin Ellea meratap pilu.
Ia teringat akan sebuah pesan mendalam yang pernah ia pelajari selama di pesantren. Sebuah pengingat tentang hakikat hati dan perasaan manusia.
(Cinta Terbesar, Menaruh harapan dan cinta tertinggi hanya kepada Sang Pencipta.)
(Sebab Kekecewaan, ketika seorang hamba menaruh cinta yang terlampau besar kepada manusia, maka Tuhan akan mengujinya dengan rasa sakit dan kekecewaan agar ia kembali bersujud.
Ellea memejamkan matanya erat-erat, membiarkan beberapa tetes air mata berikutnya terserap oleh kain penutup wajahnya. “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini. Hamba tahu, Engkau cemburu jika hamba-Mu mencintai makhluk-Mu melebihi cinta kepada-Mu. Cabutlah rasa sakit ini jika ia menjauhkan hamba dari-Mu,” ucap doanya dalam kesunyian hati, berusaha meneguhkan kembali imannya yang sempat goyah oleh api cemburu.
"El? Kamu nggak apa-apa?" bisik Dania yang menyadari perubahan gestur tubuh Ellea yang mendadak kaku dan sedikit gemetar.
Ellea buru-buru mengusap sudut matanya dari luar cadar, lalu menoleh ke arah Dania sambil menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Dania. Cuma ... mataku agak kemasukan debu tadi."
Dania menatapnya dengan pandangan khawatir, namun memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut demi menjaga privasi sahabat barunya itu.
Detik demi detik berlalu seperti siksaan bagi Albiru dan Ellea, hingga akhirnya bel panjang tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi nyaring. Seluruh murid bersorak lega, bergegas merapikan tas mereka untuk segera pulang.
Sandra langsung bangkit dan berdiri di samping meja Albiru, menggandeng lengan cowok itu dengan posesif. "Yuk, Al. Anak-anak udah pada nunggu di parkiran depan."
Albiru tidak menolak, namun matanya kembali mencuri pandang ke arah meja belakang. Di sana, Ellea sedang berjalan keluar kelas bersama Dania tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Sikap dingin Ellea yang terkesan menganggap dirinya tidak ada benar-benar membuat ego Albiru tersulut.
Saat melewati koridor menuju area parkir, langkah rombongan Albiru dan Sandra mendadak terhenti ketika melihat Andra sudah berdiri di dekat tangga, tampak seperti sedang menunggu seseorang. Dan benar saja, begitu Ellea dan Dania lewat, Andra langsung melangkah mendekat dengan senyum hangat yang merekah.
"Ellea," panggil Andra sopan.
Ellea menghentikan langkahnya, menatap Andra dengan pandangan bertanya. "Iya, Kak Andra? Ada apa?"
"Kebetulan arah pulang kita searah. Mau pulang bareng gak? Sekalian gue mau tunjukin beberapa toko buku yang bagus di sekitar sini." Tawar Andra dengan nada yang sangat ramah, sama sekali tidak memedulikan keberadaan Albiru yang kini menatapnya dengan pandangan membunuh dari jarak beberapa meter.
Alisa yang kebetulan baru turun dari lantai atas langsung memotong pembicaraan dengan heboh saat melihat kesempatan ini. "Wah, Kak Andra mau antar Kak El pulang? Boleh banget tuh, Kak! Kebetulan Kak El hari ini nggak ada yang jemput!" sela Alisa sengaja mengeraskan suaranya agar sang kakak kandung bisa mendengar dengan jelas.
Mendengar tawaran Andra dan kompor dari Alisa, rahang Albiru seketika mengeras. Tangannya yang bebas mengepal kuat di dalam saku celananya. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk maju dan menarik Ellea menjauh dari Andra, meneriakkan pada dunia bahwa gadis bercadar itu adalah miliknya. Namun, dinding bernama gengsi dan rahasia pernikahan mereka menahan langkahnya dengan sangat kuat.
Albiru menatap Ellea dengan sorot mata yang tajam penuh ancaman, seolah memberi ultimatum mutlak melintasi jarak, “ Kalau lo berani menerima tawaran dia, lihat apa yang bisa gue lakukan sama elo setelah ini, Ellea.”
Ellea menyadari tatapan tajam nan mengintimidasi dari Albiru. Alih-alih takut seperti biasanya, ingatan tentang bagaimana Albiru memperlakukan Sandra di kelas tadi kembali berkelebat di benaknya, menggantikan rasa sedihnya dengan keberanian yang nekat.
Dengan ketenangan yang luar biasa, Ellea membalas tatapan Albiru sekilas sebelum akhirnya menoleh kembali pada Andra, menyunggingkan sebuah senyuman yang terlukis dari lipatan matanya yang indah.
"Boleh, Kak Andra, kebetulan ada buku yang mau El beli. Terima kasih atas tawarannya," jawab Ellea dengan suara yang cukup jelas untuk menggelegar di telinga Albiru sebagai sebuah genderang perang baru.
Wajah Albiru seketika menggelap, memancarkan aura dingin yang luar biasa mencekam hingga Sandra yang berada di sampingnya pun sampai bergidik ngeri tanpa tahu apa penyebab pastinya.