Noir Steel awalnya seorang pedagang kaya, sayangnya beberapa tahun berikutnya perusahaannya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya hidup sebagai gelandangan, demi melunasi hutang ia akhirnya menjadi seorang petualang. Sayangnya kehidupan itu tidak lebih baik dari yang ia duga, dia harus menghadapi komandan raja iblis dan bertarung melawan musuh-musuh kuat dengan caranya sendiri yang terbilang licik dan pengecut.
Ini adalah cerita seorang petualang lemah yang harus bertahan hidup di dunia kejam dengan anggota party tidak berguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 : Gerakan Pasukan Iblis
Seorang berjalan melewati hutan mencekam dengan kedua kakinya melayang di udara, jika disebut seseorang maka itu tidaklah tepat, dia memang memiliki postur layaknya manusia namun kenyataannya dia adalah iblis, itu membuktikan alih-alih memiliki kepala manusia ia memiliki kepala katak yang terlihat tidak tersenyum sedikitpun.
Bicara penampilannya ia mengenakan pakaian layaknya seorang pelayan dengan perpaduan hitam putih serta dasi kupu-kupu, namanya Silver Frog, salah satu dari tujuh petinggi iblis yang melayani raja iblis secara langsung.
"Sudah mau pergi," mendapatkan perkataan itu, dia berhenti dan berbalik hingga menemukan seorang wanita dengan pakaian mini sedang bersandar di pohon sembari mengigit apel.
Berbeda dari Silver Frog, wanita itu benar-benar terlihat seperti manusia, akan tetapi ornamen tanduk dan sayap di punggungnya tidak bisa menyembunyikan identitasnya.
Dia dikenal sebagai Arza, sama seperti Silver Frog dia terlahir sebagai pemimpin pasukan raja iblis.
"Aku hanya pergi untuk memeriksa saja, sebelumya aku sudah mengirim banyak pasukan dan juga raksasa ke sana, paling tidak kota Alfina telah mengalami kesulitan sekarang."
"Dasar, kau terlalu santai. Bukannya lebih mudah untuk menghancurkan mereka tanpa mengambil banyak waktu, manusia lemah dan kita iblis adalah bagian atas dari rantai makanan."
Pernyataan itu dibalas dengan nada tanpa ekspresi.
"Aku hanya lebih suka memberikan keputusasaan pada manusia, itu jauh lebih menarik."
"Kita memang berbeda."
Arza melemparkan apel merah yang lain pada Silver Frog yang menangkapnya dengan baik. Warna apel ini sama seperti rambut Arza karena kecocokan itulah yang membuatnya menyukainya.
"Apel merah memang menarik, tapi aku lebih suka apel hijau."
Arza tersenyum kecil dan kemudian sesuatu menetes dari langit, sesuatu yang amis serta berbau tajam, itu cukup membuat siapapun akan muntah jika melihatnya.
Darah, sebuah hujan darah yang segar.
"Aku terlalu menyukai warna merah, seperti darah ini... benar-benar mengagumkan."
Sebelum hujan itu jatuh, Silver Frog sudah menghilang sejak awal, membuat Azra terlihat kesal.
"Kebiasaan buruk, paling tidak dengarkan perkataanku sampai selesai."
Kota masih ada, orang-orang tidak terluka, bangunannya masih utuh.
Sekembalinya ke kota Alfina, sekali lagi aku memeriksa keadaan sekelilingku.
Itu melegakan bahwa semuanya terlihat baik, aku memang khawatir dengan serangan pasukan raja iblis namun di sisi lain aku lebih khawatir dengan Lifa.
Jika situasi buruk dia tidak akan ragu meledakan kota ini sama seperti sebelumnya. Jika satu kota itu tidak masalah namun jika ada dua aku jelas akan mendapatkan hukuman dua kali lipat juga.
Lifa terlalu muda untuk dipenjara, aku memang harus menanggungnya, apa yang selalu aku bulatkan di hatiku.
"Kamu tidak ikut Noir?"
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar, semenjak datang kemari aku belum melakukannya."
"Ingin aku temani, kita bisa mampir ke penginapan," ucap Vira yang membuatku membalas dengan cepat.
"Tidak, aku ingin sendirian."
"Sayang sekali."
"Kalau begitu aku akan mencari yang lainnya dulu."
Tisa menyela dan lebih dulu pergi.
"Kalian ini sudah membantu kami, aku yakin nona Arc Priest akan memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih, paling tidak ikut dulu kami ke katedral."
Aku jelas menolaknya. Dari awal kami datang untuk berlibur maka dari itu kami lebih suka membantu dengan gratis dan secepatnya bersenang-senang di sini.
Di dalam lubuk hatiku aku ingin menceritakan bagaimana kemeriahan kami pada Agil, supaya dia sedikit iri.
Tidak sepertiku dia terkadang suka pamer saat berpergian secara berkelompok. Agil seorang petualang tanpa party karenanya dia sering diajak party yang lain untuk membantu.
Itu mampu membuatnya menjadi petualang populer di guild.
Sebaiknya aku pilih jalan mana.
Setelah menimbang-nimbang aku memilih untuk pergi ke wilayah pasar, aku hanya berfikir mungkin aku bisa membeli sesuatu yang menarik lagi setelah pedang hitam milikku.