NovelToon NovelToon
4 Putri Dari Masa Depan

4 Putri Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Romansa Fantasi
Popularitas:524.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Cha_Nisa

"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."

~Lisa~




"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."

"Tidaaaakkk!"

~Lista~
__________________

JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bodoh!

Di masa depan ....

"Jadi begitu ceritanya, Pak." kata Devon yang masih terlihat biasa saja.

"Bukan kami yang membunuh mereka! Awalnya kami hanya ingin memberikan mereka pelajaran atas perbuatan mereka yang telah memanfaatkan kami, tapi kami tidak tahu akan berakhir seperti ini." Leo tampak memiliki sedikit raut wajah sedih saat mengatakan hal itu.

"Untuk apa menyesali kematian mereka, toh mereka juga yang menginginkannya. Kalau sejak awal mereka tidak membohongi kita, maka hal ini tidak akan terjadi!" ketus Devon mengingatkan Leo dan juga Ronald yang masih trauma dengan kepergian mantan kekasih mereka.

Sedangkan Jeck tersenyum penuh kemenangan saat melihat amarah dan dendam yang berkobar di dalam diri Devon.

"Bagus Dev, teruslah membenci mereka. Karena dengan itu, rencana antara gue dan Sinta bakalan segera menjadi kenyataan," batinnya.

"Itu semua tidak benar!"

"Apa!" Teriakan tidak terima seseorang yang datang tiba-tiba, mengagetkan Jeck dan yang lain.

"Orang itu! ... jangan bilang kalau dia berniat menggagalkan rencanaku. Itu tidak boleh terjadi, aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat," cemas Jeck membatin.

"Semua yang kau katakan tadi adalah fitnah, adik-adikku tidak mungkin melakukan hal selicik itu hanya untuk menyingkirkan lawan yang bahkan jauh di bawah mereka," sergah Brigadir Alex.

"Semua barang bukti sudah kami berikan, dan semuanya mengarah kalau kami tidak bersalah atas kematian mereka. Dan apakah kau tahu, temanmu yang ada di belakang itu—" Jeck menunjuk ke arah Jenderal Damian, "Dia adalah PHO alias perusak hubungan orang, ia telah berselingkuh dengan kekasih temanku di belakangnya, siapa yang akan tinggal diam jika seperti itu? Apakah kami salah jika membalasnya?" balas Jeck membela Devon dan yang lain.

"Kau sebut apa aku barusan!" tanya Jendral Damian penuh penekanan.

"P ... H ... O, perusak hubungan orang," jawab Jeck santai.

"Brukkk!" Jendral Damian menghantamkan Jeck ke tembok dengan keras, lalu mencekik lehernya.

"Coba kau ulangi sekali lagi!" tantang Damian dengan nada mengerikan dan tatapannya yang tajam.

Devon tak terima temannya di perlakukan seperti itu, apalagi yang melakukan hal itu adalah musuhnya sendiri.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu dengan sekali tarikan nafas panjang, ia melayangkan sebuah pukulan yang membuat Damian tersungkur.

"Huh ... huh ... hah, untunglah kau tepat waktu. Ia hampir saja membuatku mati tercekik kalau kau terlambat barang sedetik saja," Jeck berakting seolah-olah Damian ingin membunuhnya.

"Hah ...." Damian menghela nafas kasar lalu mengusap darah yang sudah mengalir di sudut bibirnya.

"Gue peringatin sama lo, jangan pernah lo nyakitin teman-teman gue, atau gue gak akan tinggal diam buat membalas perbuatan lo beribu kali lipat dari yang lo lakuin ke mereka." Devon menatap tajam Jendral Damian dengan penuh kebencian.

"Apa kau sudah gila hah! Dia telah memfitnah kekasihmu berselingkuh denganku, dan kau malah menonjokku bukannya dia!" bentaknya.

"Kau dan wanita murahan itu sama saja, kalian memang pasangan serasi, sangat pandai bersilat lidah. Padahal bukti sudah ada di depan mata, tapi tetap saja mengelak," sahut Devon mencemooh dirinya.

Damian mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya, ia tak terima jika adiknya di sebut seperti itu, "Apa kau sudah menyelidiki kebenaran bukti-buktimu sebelum menjach Chaca dengan sebutan wanita murahan seperti itu?" tanyanya sedikit keras dan membuat Devon bungkam.

Ia berjalan menuju meja yang di atasnya sudah ada bukti-bukti yang di berikan oleh Devon dkk. Kemudian mengambil salah satu foto yang terdapat fotonya dan Chaca yang seolah-olah sedang berciuman.

"Hm ... kami memang sangat serasi di foto ini, sangat layak di sebut dengan sepasang kekasih. Aku tebak ... yang mengambil foto kami diam-diam adalah seorang fotografer profesional." Damian menampakkan senyum dan mata penuh cinta pada foto itu. Membuat Devon lagi-lagi mengepalkan tangannya kuat karena berusaha menahan kecemburuannya.

"Tapi sayangnya, dia tidak pernah membalas perasaanku sama sekali. Ia hanya mencintaiku sebagai saudara saja karena ia sangat mencintai pria lain yang selalu ia ceritakan padaku setiap saat, segala pujian ia lontarkan pada orang itu saat kami sedang berdua saja. Seperti di foto ini, jika orang lain melihatnya, maka mereka akan mengatakan bahwa ia sedang mencium diriku. Tapi kenyataanya adalah ... ia sedang membisikkan padaku bahwa ia habis di cium oleh pria itu beberapa saat lalu." Damian tak sadar bahwa air matanya mengalir saat mengatakan itu, hatinya sangat sakit saat mendengar bahwa wanita yang di cintainya di cium oleh pria lain.

"Awalnya aku berpikir bahwa pria itu adalah pria paling beruntung di dunia ini karena mendapatkan cinta yang tulus dari wanita hebat sepertinya. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa pria itu adalah pria paling sial di dunia ini karena kehilangan dirinya." Damian menghapus kasar air matanya lalu menatap ke arah Devon yang masih terdiam sedari tadi.

Devon tidak tahu apakah ia harus mempercayai musuhnya atau tidak, "Apakah Vila membohongiku dengan foto palsu? Atau dialah yang sebenarnya membohongiku?" batinnya bertanya-tanya.

Damian kembali melangkah mengambil bukti selanjutnya, sebuah rekaman.

Ia pun memutar rekaman tersebut, tetapi reaksinya selanjutnya membuat semua orang bingung. Pasalnya ia malah tersenyum penuh misteri yang membuat mereka penasaran.

Sedangkan Jeck sudah keringat dingin sedari tadi, "Apakah dia sudah tahu bahwa itu adalah rekaman palsu?" batinnya cemas.

"Kau harusnya tidak percaya begitu saja dengan sebuah bukti tanpa menyelidiki apakah itu asli atau palsu. Bisa saja kan orang yang memberikan bukti itu sebenarnya adalah musuh dalam selimut ...." Jendral Damian menatap Jeck seolah perkataan itu di tujukan untuknya.

"Apa maksud perkataanmu itu? Apa kau menuduhku mengkhianati temanku sendiri?" tanya Jeck yang peka terhadap tatapan Damian.

"Skakmat!" batin Kapten Maher senang melihat Jeck masuk ke dalam jebakan Jenderal Damian.

"Apakah kau sadar apa yang kau katakan barusan? Damian tidak pernah mengatakan bahwa musuh dalam selimut itu adalah kau, lalu mengapa kau merasa tersinggung," katanya tersenyum penuh kemenangan.

Devon dan yang lain sontak menatap Jeck penuh curiga, "Glub!" Jeck menelan salivanya dengan susah payah.

"Siapa yang tidak tersinggung jika seseorang menatapmu saat ia mengatakan musuh dalam selimut?" sanggahnya lalu di benarkan oleh Devon, Leo, dan Ronald.

"Baiklah, aku minta maaf kalau kau tersinggung—" Jeck menghela nafas lega, "Toh, sepandai-pandainya bajing melompat, kelak akan terjatuh juga." Jeck lagi-lagi merasa tersinggung, tapi dia belajar dari kesalahan sebelumnya, maka dari itu ia hanya diam dan menyimak.

"Aku mau tanya ke kalian, dari mana kalian mendapatkan rekaman ini?" tanya Damian sambil membolak-balik rekaman itu.

"Apa urusannya sama lo? Dan apa gunanya juga buat kita? Gak ada sama sekali! Yang ada kita bakalan rugi, toh sebentar lagi kita bakalan keluar dari sini. Papa kita adalah orang kaya, berapapun bisa mereka bayar untuk ngebebasin kita dari jeratan hukum, jadi sudahi saja ceramah panjang lebar kalian. Gak berguna!" Tolak Jeck keras.

"Itu terserah kalian jika tak mau memberitahuku. Aku hanya ingin berterimakasih pada orang itu saja," kata Damian yang membuat emosi Devon kembali tersulut.

"Apa maksudmu sebenarnya baj*ngan?" bentak Devon.

"Karena semua pemikiranku tentang kalian terbukti benar, kalian memang tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari adik-adik kami."

TBC

1
Nunung Sunarti
asik juga ceritanya penuh denga halu 🤭🤭🙏
un3's
Luar biasa
IndraAsya
lanjut
IndraAsya
jejak 🐾
IndraAsya
🌷🌷🌷
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘😘😘
azka aldric Pratama
jiwanya yg di tuker ,😏😏😏😏 bener gk Thor 🤭🤭🤭🤭
azka aldric Pratama
punya penyakit hati biasanya perpendek umur 😏😏😏😏
azka aldric Pratama
masih blm hafal am nm2"nya susah di ingat 😌😌😌😌🥺🥺🥺
Dara131
thor kyak nya itu kebalik deh desain chacha n ralia..
semngat thor..
Crystal
sedih banget sumpah
Crystal
sedih banget sumpah
Alyafirinda27
Next kak, semangat
Alfimunji
lanjutin dong kak
kucing kecil💅
kak kok gk lanjut sih :(
Sifazara
kok gk dilanjut lanjut sih thor...
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
Smonnelly
up up up up up up up up up up up Thor
Nuri Ahfiani nasution
lanjutaanya?
ᴍ֟፝ᴀ Odette🏁
Omo Omo 🙈🙈🙈🙈🙈

kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺

Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ᴍ֟፝ᴀ Odette🏁
Omo Omo 🙈🙈🙈🙈🙈

ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!