Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datangnya sang mertua.
"Ternyata ibu mertua, uups maksudnya mantan ibu mertua." Menutup mulut, dimana perkataanku begitu terdengar keras.
Tak peduli, bagiku dia sadar diri.
"Kaira." Tangan yang terlihat mengkerut itu, kini memegang kedua tangan lembutku. Kedua matanya tampak terlihat berkaca kaca, mm. Entah sengaja, hanya untuk membuat anaknya keluar dari penjara.
"Kaira, ibu nggak menyangka kalau kamu datang dengan wujud yang berbeda. "
Apa katanya, wujud. Sialan, memangnya aku ini apa'an. Menghela napas, berusaha tetap tenang menghadapi wanita tua ini. Bukannya dia sudah tahu, apa pura pura saja, anggar aku melihatnya dengan suatu kebodohan.
"Kaira, andai saja ibu tahu kalau itu kamu. Mungkin ibu, hihihi. "
Wanita ini tiba tiba menangis, ia tak meneruskan perkataanya, seperti orang yang kelupaan naskah saja. Apalagi suara tangisnya kayak kunti terjepit pintu.
Kedua tangan terus mengusap air mata yang keluar, membuat aku berusaha bersikap baik. Merangkul bahunya, " Sebaiknya kita bicarakan di kursi saja. "
Menganggukkan kepala, aku berusaha tersenyum dihadapannya, walau sebenarnya hati ini kesal dan ingin mengusirnya.
"Ibu, ayo duduk di sini. "
kami duduk saling berhadapan, dimana wanita tua itu masih menangis. Sedikit menggaruk belakang kepala, melihat pegawai hotel saling melirik ke arah kami berdua.
"Bu, sudah nangisnya ya. "
Wanita tua itu malah mengencangkan suara tangisannya, membuat amarah terasa meluap luap. Ingin rasanya memukul wajahnya.
"Tahan, tahan. Jangan emosi." Menenangkan diri, dengan bergumam dalam hati, senyuman tetap aku perlihatkan di depannya.
"Stop ya bu, jangan nangis lagi. Sekarang Kaira tanya apa keinginan ibu datang ke sini?"
Aku tak ingin banyak berbasa basi terlalu lama, apalagi mendengar tangisnya yang membuat kedua telinga ini sakit.
"Kaira, kenapa kamu tidak memberikan keringan pada suamimu. "
Hah, ternyata membahas Angga. " Bu, maaf sebelumnya, kesalahan anak ibu sudah terlalu banyak dan tak bisa di berikan keringan lagi. Kaira sudah terlanjur sakit hati dan merasa terhina. "
"Kaira, ibu tahu akan hal itu, tapi. Ibu tak tega melihat nasib Angga, bagaimana masa depannya. Kalau dia di penjara seumur hidup, kamu tahu sendirikan dia harapan ibu satu satunya."
Di depan wanita tua ini, aku berusaha bersikap bijak dan tegas.
"Masalah itu, sudah menjadi resiko Angga sendiri. Jadi Kaira hanya bisa memberi teguran untuknya agar ia sadar. Jadi maaf ya bu, Kaira tak bisa memberi kesempatan pada anak ibu yang sudah melakukan kesalah yang pantal."
Aku mulai beranjak berdiri, pergi dari hadapannya. Wanita tua itu tampak membulatkan kedua matanya. " Kaira, kamu benar benar tidak punya hati nurani ya. kamu jahat, kamu tega, pada Angga. Harusnya kamu ini berterima kasih pada anakku, kalau bukan berkat dia, mungkin kamu tidak akan sesukses seperti ini. "
Perkataan yang tak memiliki adab sama sekali, aku berusaha tetap tenang tak melawan, hanya berjalan penuh dengan percaya diri, tanpa menanggung rasa bersalah sedikit pun.
Aku merasa jika langkahnya semakin dekat, terdengar dari suara sandalnya ia seperti berlari ke arahku.
Membalikkan badan dan dugaanku benar saja, wajah wanita tua itu begitu dekat dengan kedua tanganya yang terlihat bersiap siap ingin menjabak rambutku.
Dengan sigap, menahan kedua tangan wanita tua itu. " Lepaskan tanganmu ini. "
"Sudah untung Kaira masih baik terhadap ibu! Tapi ibu malah, sudahlah."
Melepaskan kedua tangan wanita itu, sampai dimana. " Kamu jahat. "