.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REBAHAN ABADI
Suasana di dalam Paviliun Awan Surgawi yang telah kehilangan atapnya lambat laun kembali tenang, menyisakan keheningan yang teramat sangat pekat di seluruh penjuru Ibu Kota Utama. Kepergian rombongan Sekte Harimau Barat yang berlari terbirit-birit seperti tikus got menyisakan satu kepastian mutlak di benak setiap orang: Remaja bermata sayu bernama Ji Huang ini adalah eksistensi yang tidak boleh diusik, diganggu, atau bahkan disebut namanya dengan sembarangan jika ingin hidup lama.
Di tengah reruntuhan kayu cendana, Ji Huang duduk di tepi kasur bulu angsanya yang sebagian besar tertutup debu giok. Tangan kirinya masih memegang piring perak, sementara tangan kanannya memegang sisa tulang dari sayap ayam spiritual ranah Core Formation yang baru saja dia habiskan.
NYAM... KREK.
Ji Huang mengisap sisa bumbu madu di ujung jarinya dengan wajah watados tanpa dosa. "Hmm, setelah dipikir-pikir, daging hasil manifestasi energi Core Formation ini teksturnya lumayan padat. Mirip ayam kampung fana yang rajin olahraga, cuma kurang asin sedikit. Xiao Cui, nanti ingatkan aku untuk membawa garam sendiri kalau ada orang tua berjanggut lain yang mau menyerang."
Ji Zhen yang baru berani memanjat naik melalui sisa tangga paviliun langsung lemas seketika mendengar ucapan anaknya. Sang ayah memegangi dadanya yang berdegup kencang, menatap anaknya dengan pandangan yang berayun antara rasa syukur yang teramat sangat dalam dan rasa ngeri yang luar biasa.
"Huang'er... kamu... kamu baru saja menghancurkan basis kultivasi Master Sekte terkuat di wilayah ini hanya demi... demi sayap ayam?" Ji Zhen terbata-bata, suaranya terdengar seperti gelembung air yang pecah.
"Bukan demi sayap ayam, Ayah," koreksi Ji Huang dengan nada ketus yang sangat murni sambil membersihkan jemarinya menggunakan ujung selimut sutra yang masih bersih. "Tapi demi kenyamanan hakiki. Dia merusak atap kamarku di jam-jam krusial tidur siang. Itu adalah pelanggaran berat terhadap Hukum Dasar Kaum Rebahan."
Belum sempat Ji Zhen mencerna logika absurd anaknya yang setingkat dewa tersebut, dari arah halaman bawah penginapan mendadak terdengar suara gemuruh langkah kaki yang sangat teratur. Ratusan pasukan pengawal elite kekaisaran berbaju zirah emas langsung mengepung seluruh area Penginapan Awan Surgawi, namun kali ini mereka tidak datang dengan senjata terhunus.
Dari tengah barisan pasukan, melangkah maju Perdana Menteri Kekaisaran Nan Gong bersama seorang kasim agung istana yang membawa sebuah gulungan dekret suci berwarna ungu tua yang memancarkan segel naga emas murni—tingkatan tertinggi dari perintah kekaisaran.
Ji Zhen yang melihat rombongan agung tersebut langsung panik dan hendak bersujud di atas lantai kayu yang retak. Namun, Perdana Menteri dengan cepat menahan bahu Ji Zhen, memasang senyuman paling ramah dan penuh rasa hormat yang pernah dia tunjukkan sepanjang karier politiknya.
"Pakar Agung Ji Zhen, mohon jangan bersujud! Kedatangan kami ke sini adalah atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar untuk menyampaikan Dekret Penghormatan Tertinggi bagi Tuan Muda Ji Huang!" Perdana Menteri berkata dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar hingga ke atas paviliun yang bolong.
Kasim agung di sampingnya segera membuka gulungan dekret tersebut dengan tangan yang gemetaran, lalu membacakannya dengan nada suara yang tidak lagi melengking angkuh seperti kemarin, melainkan sangat santun dan penuh kehati-hatian.
"Berdasarkan dekret suci Yang Mulia Kaisar Nan Gong! Mengingat jasa luar biasa dan kekuatan tak tertandingi yang dimiliki oleh Tuan Muda Ji Huang yang telah menjaga ketertiban kekaisaran dari ancaman ekstrem... Maka, mulai hari ini, Yang Mulia Kaisar secara resmi menganugerahkan gelar kehormatan murni sebagai 'Kaisar Pedang Pemalas Kekaisaran' kepada Ji Huang!"
Kasim itu menarik napas dalam, melanjutkan poin-poin dekret yang membuat Xiao Cui yang mendengarkan di sudut ruangan langsung menutup mulutnya karena syok kegirangan.
"Dengan gelar ini, Tuan Muda Ji Huang dibebaskan secara mutlak dari segala bentuk tugas militer, urusan birokrasi, dan kewajiban pajak seumur hidup! Selain itu, Istana Kekaisaran akan menanggung seluruh biaya hidup Keluarga Ji, membiayai pembangunan kembali kediaman mereka dengan fasilitas nomor satu, dan... secara khusus memerintahkan perajin istana untuk menyuplai tiga buah kasur bulu angsa salju murni varian terbaik setebal empat jengkal ke kamar Tuan Muda Ji Huang setiap awal bulan!"
Setelah selesai membacakan dekret, Perdana Menteri mendongak ke atas paviliun yang bolong, menangkupkan kedua tangannya dengan hormat ke arah Ji Huang yang masih selonjoran di atas kasur berdebu. "Tuan Muda Ji Huang, Yang Mulia Kaisar juga berpesan... jika ada klan besar, termasuk sisa-sisa Keluarga Wang atau faksi politik mana pun di Ibu Kota yang berani mengetuk pintu kamar Anda atau membuat suara bising di sekitar tempat peristirahatan Anda, pihak istana sendiri yang akan mengeksekusi mereka terlebih dahulu agar tidak mengganggu waktu istirahat Anda."
Mendengar isi dekret kekaisaran yang sangat luar biasa aneh namun sangat menguntungkan tersebut, sepasang mata sayu Ji Huang mendadak berbinar cerah. Sebuah senyuman kepuasan yang amat sangat mendalam merekah di wajah tampannya.
Bebas tugas seumur hidup? Pajak gratis? Ditambah suplai kasur bulu angsa setebal empat jengkal setiap bulan secara cuma-cuma?!
Ji Huang merebahkan kembali tubuh fisiknya ke atas sisa bantal bulu angsanya yang empuk, menarik selimut sutranya dengan gerakan yang sangat rileks. Otaknya yang jenius langsung menyimpulkan bahwa keputusan untuk memamerkan secercah kekuatan dewanya kemarin ternyata adalah langkah taktis terbaik yang pernah dia ambil semenjak bereinkarnasi ke dunia fana ini.
Ternyata, cara tercepat untuk mendapatkan fasilitas rebahan abadi tanpa gangguan adalah dengan membuat seluruh dunia tahu bahwa membangunkan seorang dewa malas dari tidur siangnya adalah awal dari kiamat kecil bagi ranah kultivasi mereka.
"Sampaikan terima kasihku pada kaisar kalian," suara Ji Huang terdengar meredam dan sangat malas dari balik selimut, kembali ke mode watadosnya yang konyol. "Bilang padanya kalau selera fasilitasnya lumayan bagus. Sekarang, suruh pasukan berbaju emas di bawah itu berjalan menggunakan ujung jari kaki mereka saat meninggalkan tempat ini. Suara zirah besi mereka berdenting terlalu nyaring, merusak frekuensi dengkuranku."
"Baik, Pakar Agung! Kami akan segera undur diri dengan tenang!" Perdana Menteri menyahut dengan panik. Dia langsung memberi isyarat tangan, dan ratusan pasukan elite emas kekaisaran itu mendadak berjalan berjingkat-jingkat dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun saat meninggalkan area penginapan.
Ji Zhen yang melihat pemandangan ajaib di mana pasukan kekaisaran berjalan seperti pencuri demi ketenangan tidur anaknya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan pasrah. Kekhawatiran tentang kehancuran klan yang dia takuti semalaman kini menguap total, digantikan oleh kenyataan baru bahwa Keluarga Ji kini menjadi faksi paling suci dan tidak tersentuh di seluruh kekaisaran—hanya karena anaknya terlalu malas untuk diganggu.
Di dalam kamarnya yang hancur, di bawah naungan langit siang Ibu Kota yang perlahan kembali cerah, Ji Huang memejamkan kedua matanya dengan damai. Angin sepoi-sepoi berembus melewati atap yang bolong, membelai wajah tampannya saat dia mulai mendengkur halus dalam hitungan tiga detik, siap melanjutkan petualangan mencari bebek panggang madu yang sempat tertunda di dalam alam mimpinya yang abadi.