NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:122.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pohon Gaharu

Suara Tuan Lin Zukang terdengar renyah di seberang telepon. "Hahaha, halo Banyu anak mudaku. Sudah beberapa bulan kita tidak bertemu ya, apakah kau masih ingat dengan orang tua renta ini?"

Banyu ikut tertawa mendengarnya. "Mana mungkin saya melupakan Tuan Lin? Dengar dari suara Bapak yang sangat bersemangat, kelihatannya kesehatan Bapak sedang sangat prima ya?"

"Hehehe, terima kasih atas doamu. Berkat kau yang telah membereskan beban pikiran terbesarku, suasana hatiku jadi sangat tenang dan bebanku hilang. Otomatis, kondisi fisikku ikut membaik," ujar Tuan Lin dengan nada yang sangat tulus dan bahagia. Ia kemudian bertanya dengan nada kebapakan, "Lalu, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"

Awalnya Banyu berniat menjawab bahwa kabarnya sangat baik. Namun, sekelebat ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Di detik terakhir sebelum ia mengucapkan kalimat itu, ia sengaja memelintir nadanya menjadi keluhan. "Ah... jujur saja, kabar saya sangat buruk, Pak. Saya baru saja nyaris kehilangan nyawa."

Pertanyaan Tuan Lin sebenarnya hanya basa-basi ringan, namun mendengar jawaban tak terduga Banyu, ia sontak kaget dan bertanya dengan nada cemas, "Ada apa ini? Apa yang terjadi padamu?"

Banyu memutuskan untuk menceritakan fakta secara blak-blakan. "Ceritanya panjang, Pak. Intinya, beberapa waktu lalu saya pergi ke Amerika. Di sana, saya diberondong tembakan senapan mesin oleh sekawanan orang tak dikenal. Saya kena tembak dua kali. Nyaris saja saya pulang tinggal nama."

"Ya Tuhan... bagaimana bisa begitu?!" Tuan Lin terdengar sangat terkejut. "Apa kau tak sengaja terjebak dalam perampokan bank atau semacamnya?"

"Bukan, Pak. Mereka itu regu pembunuh bayaran profesional yang ditargetkan untuk menghabisi teman saya, Pak Yapto Liem," Banyu sengaja menyebutkan nama itu dengan sangat jelas untuk memancing reaksi Tuan Lin. "Waktu serangan itu terjadi, saya kebetulan sedang berada di mobil yang sama dengannya, jadi saya ikut jadi sasaran tembak."

Mendengar nama Pak Yapto Liem disebut, keheningan menyelimuti panggilan itu selama beberapa detik. Tuan Lin sepertinya sedang mencerna informasi itu sebelum akhirnya bertanya ragu, "Temanmu yang bernama Yapto Liem... apakah dia konglomerat ternama dari Hong Kong itu?"

"Tepat sekali, Pak! Apakah Bapak kebetulan mengenalnya juga?" Banyu langsung mengejar.

"Kalau dibilang saling mengenal secara personal sih belum, tapi kami berdua punya beberapa urusan bisnis," Tuan Lin tidak berniat menyembunyikan apa pun dari Banyu. "Tuan Liem saat ini sedang bernegosiasi soal transfer lahan dengan salah satu keponakan jauhku. Secara pribadi, aku sangat menyukai penawaran yang diajukannya, dan aku sebenarnya berencana untuk mendesak keponakanku agar segera menandatangani kontrak kerja sama dengan Tuan Liem. Sungguh tak kusangka dia mengalami insiden seberbahaya ini di Amerika. Nanti aku akan menyempatkan diri untuk menelepon dan menanyakan keadaannya."

Selama berbicara, nada suara Tuan Lin terdengar sangat natural. Rasa terkejut dan empatinya terasa sangat nyata tanpa ada nada yang dibuat-buat atau mencurigakan. Fakta ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Pak Yapto Liem sebelumnya: Tuan Lin juga melihat prospek kerja sama mereka sangat cerah. Dengan kata lain, Tuan Lin sama sekali tidak punya motif bisnis untuk menyewa pembunuh bayaran demi menghabisi mitra kerja potensial. Hal ini membuat Banyu sepenuhnya yakin bahwa Tuan Lin Zukang sama sekali tidak tahu-menahu soal insiden percobaan pembunuhan tersebut.

Menyadari hal ini, Banyu menyimpulkan bahwa mungkin ada anggota faksi lain di dalam Grup Lin yang diam-diam menyewa Triad Malaysia dan melibatkan Tuan Lin Zukang dalam konspirasi ini tanpa sepengetahuannya. Banyu merasa perlu memperingatkan pria tua itu agar lebih waspada. Bagaimanapun juga, Banyu merasa memiliki hubungan yang baik dengan Tuan Lin, dan ia juga sudah mengantongi banyak uang berkat beliau. Ia tak tega membiarkan pria tua ini ditusuk dari belakang oleh keluarganya sendiri.

Banyu berdehem pelan, lalu merendahkan suaranya seolah sedang membagikan rahasia besar. "Sebenarnya, ada hal penting yang harus Bapak tahu... Waktu penyerangan itu terjadi, saya sedang beruntung dan berhasil menangkap salah satu pembunuhnya hidup-hidup. Saat saya interogasi, dia mengaku dari mulutnya sendiri kalau kelompok mereka adalah anggota Triad Malaysia."

Sebagai seorang pendiri kerajaan bisnis raksasa, Tuan Lin Zukang jelas bukan orang bodoh. Meski Banyu tidak menuduhnya secara langsung dan hanya menyebut nama organisasi pembunuhnya, Tuan Lin langsung menangkap sinyal bahaya yang dimaksud Banyu. Nada suaranya seketika berubah berat dan sangat serius. "Aku mengerti maksudmu. Aku akan segera mengerahkan orang-orangku untuk melakukan investigasi internal. Kita akan lihat apakah ada anggota keluarga Lin yang diam-diam bermain kotor di belakangku."

"Terima kasih atas pengertian Bapak," jawab Banyu tulus. "Bapak dan Pak Yapto Liem adalah teman baik saya. Saya sungguh tidak ingin melihat salah satu dari kalian menjadi korban kelicikan pihak lain."

Tuan Lin menjawab dengan penuh wibawa, "Tenang saja. Begitu aku mendapat titik terang dari investigasi ini, kau akan menjadi orang pertama yang kuhubungi."

"Terima kasih banyak, Tuan Lin." Merasa peringatannya sudah cukup jelas dan diterima dengan baik, Banyu dengan luwes mengalihkan topik pembicaraan. "Oh ya, ngomong-ngomong... tadi Bapak bilang menelepon saya karena ada urusan penting. Urusan apa ya, Pak?"

Diingatkan seperti itu, Tuan Lin akhirnya teringat tujuan awalnya menelepon. Ia tertawa pelan. "Hahaha, beginilah kalau orang sudah tua, ingatannya mulai memudar. Aku sampai lupa tujuan asliku! Kau masih ingat dengan bibit pohon Kayu Gaharu yang pernah kujanjikan padamu waktu itu? Barangnya sudah tiba di pelabuhan Jakarta hari ini, dan rencananya akan dikirim ke peternakanmu dalam beberapa hari ke depan. Kalau kau tidak punya urusan mendesak di luar kota, sebaiknya kau stand by di pesanggrahanmu untuk beberapa hari ini."

Sejujurnya, semenjak Tuan Lin kembali ke Singapura, Banyu terlalu sibuk mengurus akuisisi peternakannya di Amerika sampai-sampai ia melupakan total soal pohon Gaharu tersebut. Diingatkan seperti itu, ia buru-buru mengucapkan terima kasih. "Oh, astaga! Tentu saja, Pak! Saya akan stand by penuh di Lahan Mustika beberapa hari ke depan. Terima kasih banyak atas hadiahnya, Tuan Lin!"

"Ah, bukan apa-apa, itu cuma hadiah kecil." Tuan Lin merendah dengan sopan, lalu menambahkan peringatan yang terdengar agak aneh. "Banyu, saranku... sebaiknya kau mulai menggali lubang untuk menanamnya dari sekarang. Mmm... dan pastikan kau menggali lubang yang cukup besar, ya. Kalau tidak, kau bakal agak kerepotan nanti."

"Siap, Pak! Saya mengerti," Banyu mengiyakan begitu saja tanpa berpikir panjang. Setelah berbasa-basi beberapa kalimat lagi, panggilan pun diakhiri.

"Lubang yang cukup besar?" Banyu bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil menatap layar ponselnya dengan bingung. "Memangnya seberapa besar 'bibit' pohon yang dikirim Tuan Lin? Dari nada bicaranya, kok kedengarannya seperti sesuatu yang luar biasa besar ya..."

Teka-teki itu akhirnya terjawab lunas beberapa hari kemudian. Peringatan Tuan Lin ternyata sama sekali bukan gurauan. Pagi itu, dua unit truk kontainer raksasa merayap pelan menuju gerbang Lahan Mustika. Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas rapi turun dari truk utama. Dengan sangat sopan, ia bertanya pada satpam apakah tempat itu benar Lahan Mustika. Setelah mendapat konfirmasi, pria itu mengarahkan kedua truk raksasa tersebut untuk masuk ke area peternakan.

Banyu, yang sudah diinformasikan oleh stafnya, segera keluar dari kantor untuk menyambut kiriman pohon Gaharu tersebut. Melihat Banyu datang, wajah pria berjas itu langsung dihiasi senyum ramah. Ia melangkah cepat menghampiri Banyu dan menyapanya, "Anda pasti Bapak Banyu, kan? Perkenalkan, nama saya Jin Junhui. Saya diutus langsung oleh Tuan Lin Zukang."

"Senang bertemu dengan Anda, Pak Jin. Pasti lelah di perjalanan," sapa Banyu dengan sopan, meskipun ia tahu bahwa pria ini hanyalah anak buah Tuan Lin. "Mari, silakan mampir ke kantor saya dulu. Kita ngobrol sambil minum teh."

Melihat Banyu bersikap sangat ramah dan menghormatinya, senyum Jin Junhui semakin tulus. Faktanya, ia bukanlah pegawai rendahan. Ia adalah salah satu Manajer Senior kepercayaan Tuan Lin, yang tugas sehari-harinya adalah menangani urusan-urusan VVIP dan negosiasi krisis tingkat tinggi. Ketika bos besarnya menugaskannya "hanya" untuk mengantar pesanan pohon kepada seorang pemuda antah-berantah di pedesaan, Jin Junhui diam-diam merasa gengsinya turun dan sedikit kesal. Namun, sikap hangat Banyu sukses meluluhkan rasa kesalnya.

Meski begitu, Jin Junhui tetap menolak tawaran minum teh tersebut dengan sangat sopan. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak Banyu. Namun Tuan Lin sudah berpesan dengan sangat tegas agar saya segera menurunkan barangnya, supaya Anda bisa secepat mungkin memindahkan pohon-pohon ini ke tanah. Urusan minum teh bisa kita tunda untuk kesempatan berikutnya. Truk dereknya sudah menunggu di belakang. Apakah kita bisa memulai proses bongkar muat sekarang?"

Karena Banyu berencana untuk menanam semua pohon gaharu itu di dalam Kendi Penyuling Jiwa, ia hanya perlu mencari momen saat tak ada orang, lalu memindahkan semuanya ke dalam dimensi Kendi secara instan. Menggunakan truk derek untuk menurunkan beban raksasa itu ke tanah, hanya untuk ia pindahkan lagi nanti, adalah pekerjaan yang sangat sia-sia dan menguras tenaga. Karena itu, ia menolak usulan Jin Junhui dengan halus dan bertanya, "Sebenarnya, pohon-pohon ini rencananya tidak akan saya tanam di sini. Apakah saya boleh meminjam kedua truk kontainer ini? Nanti setelah pohon-pohon ini dipindahkan ke lokasi tanamnya, saya akan mengembalikan truknya pada Anda."

"Oh, tentu saja tidak masalah!" jawab Jin Junhui tanpa ragu. "Tuan Lin sudah memberikan instruksi absolut agar kami menuruti semua permintaan Anda. Jangankan meminjamkannya untuk beberapa hari, kalaupun Anda ingin memiliki kedua truk ini secara permanen, Tuan Lin pasti akan memberikannya."

"Hahaha, tidak perlu berlebihan, saya hanya meminjamnya kok. Lusa pagi, saya akan minta orang untuk mengantarkan truk ini kembali pada Anda," Banyu membuat kesepakatan dengan Jin Junhui. Ia kemudian bertanya dengan rasa penasaran yang sudah tak terbendung, "Oh ya, apakah saya boleh mengintip barangnya sekarang?"

"Tentu saja!" Jin Junhui menggeser tubuhnya dan mempersilakan Banyu. Ia memberi isyarat pada sopir truk untuk membuka pintu belakang kontainer raksasa tersebut.

Saat pintu kontainer perlahan terbuka, pemandangan di dalamnya sukses membuat Banyu terbelalak kaget setengah mati. Pantas saja Tuan Lin memperingatkannya untuk 'menggali lubang yang cukup besar'! Ukuran pohon-pohon Gaharu itu benar-benar jauh melampaui imajinasinya! Diameter batang dari setiap pohon itu mencapai lebih dari 20 sentimeter; dengan standar industri kayu mana pun, pohon-pohon ini sudah dikategorikan sebagai pohon dewasa yang matang dan siap panen. Ada lebih dari 60 batang pohon sebesar itu yang dijejalkan ke dalam dua kontainer raksasa. Menilai dari nilai pasar kayu gaharu dewasa yang sangat fantastis, nilai material dari satu truk ini saja sudah setara dengan harta karun!

Agar muat ke dalam kontainer, bagian pucuk pohon yang lebih kecil dan tak bernilai ekonomis tinggi telah dipangkas habis. Ranting-ranting samping dan sebagian besar daunnya juga dipotong untuk mengurangi penguapan. Yang lebih gila lagi, untuk memastikan tingkat kelangsungan hidup pohon saat dipindahkan, akar setiap pohon dibungkus dengan pot keramik raksasa yang diameternya mencapai 80 sentimeter dengan kedalaman hampir satu meter!

Membayangkan proses memindahkan puluhan pohon raksasa beserta potnya yang super berat, lalu mengirimkannya melintasi ribuan kilometer lautan dari Singapura menuju Indonesia... Biaya transportasi, tenaga kerja, dan logistik yang dihabiskan untuk ekspedisi ini pasti sangat tidak masuk akal! Bahkan, ada kemungkinan biaya operasional pengiriman ini jauh lebih mahal dibandingkan harga pohonnya sendiri! Hanya konglomerat gila sekelas Tuan Lin Zukang yang rela membakar uang sebanyak itu tanpa pikir panjang.

Menatap barisan pohon gaharu raksasa itu, Banyu hanya bisa menelan ludah. Saat Tuan Lin berjanji akan memberinya "bibit" pohon gaharu lewat telepon tempo hari, nada bicaranya sangat santai dan biasa saja. Banyu benar-benar berpikir bahwa ia hanya akan menerima kotak berisi tunas-tunas kecil dalam polybag. Kalau saja Banyu tahu sejak awal bahwa "bibit" yang dimaksud adalah pohon raksasa sebesar ini, ia pasti akan nekat menyelinap ke Singapura dan mengangkut semuanya langsung menggunakan kekuatan Kendi Penyuling Jiwa. Itu pasti akan menghemat banyak uang dan keributan!

"Totalnya ada 65 batang pohon gaharu, semuanya memiliki diameter batang utama di atas 20 sentimeter," bisik Jin Junhui menjelaskan. "Sayangnya, ada tiga pohon yang layu dan mati di perjalanan, jadi saat ini yang bertahan hidup ada 62 batang. Mengingat cuaca saat ini sangat panas dan ekstrem, saya sangat menyarankan Anda agar memindahkannya ke tanah secepat mungkin untuk mencegah lebih banyak pohon yang mati."

Bisa mengangkut pepohonan sebesar ini di tengah cuaca musim panas yang terik melintasi perbatasan negara dan hanya kehilangan tiga pohon adalah sebuah keajaiban logistik. Banyu sangat tahu seberapa keras usaha Jin Junhui dan timnya dalam merawat pohon-pohon ini selama perjalanan. Ia mengucapkan terima kasih yang sangat tulus kepada pria itu, lalu segera menelepon Tuan Lin untuk mengucapkan rasa syukurnya yang tak terhingga.

Di seberang sana, Tuan Lin tampak sangat puas mendengar hadiahnya telah tiba dengan selamat. Setelah berbasa-basi singkat, ia menutup teleponnya. Bukannya sombong, tapi waktu adalah uang; bagi penguasa bisnis sekelas Tuan Lin, satu menit saja bernilai ratusan juta Rupiah. Tentu saja beliau tidak punya waktu untuk mengobrol ngalor-ngidul di telepon.

Setelah serah terima selesai, misi Jin Junhui telah tuntas. Ia menolak dengan halus tawaran Banyu untuk tinggal dan makan malam, lalu berpamitan pulang bersama anak buahnya, meninggalkan dua truk kontainer raksasa itu di Lahan Mustika.

Kehadiran dua truk monster itu jelas memicu rasa penasaran dari para pekerja di peternakan. Begitu tahu bahwa truk itu berisi pohon-pohon raksasa yang harus segera ditanam, para pekerja mendadak panik. Beberapa staf yang punya inisiatif tinggi bahkan sudah bersiap membongkar muatan truk. Mereka sangat tahu bahwa membiarkan pohon yang baru dipindahkan berlama-lama di dalam kontainer pada cuaca sepanas ini sama saja dengan membunuhnya perlahan.

Sebaliknya, Banyu justru terlihat sangat santai bagai orang yang sedang piknik. Ia dengan tenang menginstruksikan para pekerjanya untuk tidak menyentuh truk tersebut, beralasan bahwa pohon-pohon itu akan segera diangkut ke lokasi lain paling lambat malam ini. Karena Bos sudah memberikan perintah mutlak, para pekerja akhirnya bubar dan kembali ke rutinitas masing-masing dengan perasaan lega.

Begitu malam tiba dan seluruh pegawai Lahan Mustika telah kembali ke asrama mereka, Banyu menyelinap ke area parkir truk. Hanya dengan sapuan pikiran dan sentuhan ringan, ia menteleportasikan puluhan pohon gaharu raksasa itu ke dalam dimensi magis Kendi Penyuling Jiwa. Malam itu, Banyu bekerja lembur di dimensi rahasianya, menanam harta karun barunya itu satu per satu ke dalam tanah spiritual.

1
Cui Lan Seng
hahahaha boy beauty...lagi trending masa kini tembus di ring 1
Cui Lan Seng
wkwkw namanya Sandi atau Dicky?
Sri Murtini
keturunan manusia kalang kali yg ada di kotagede yogyakarta yg merantau di dunia lain
Sri Murtini
adu kesaktian Nyu ....ayo keluarkan ajian simpanan kendi penyuling jiwa pertemukan dgn tulang dewa anya
Yuliana Tunru
banyu ketemu siluman rubah yg mmg suoer genit dan seksi 🤭🤭
asammanis
fix Aya siluman rubah 🤔🤣
Sri Murtini
halu deh😄😄😄😄🤣🤣🤣
asammanis
waduh makin seru aja nih cerita 👍👍👍
Naga Hitam
hook
Sri Murtini
atau cef
Memyr 67
𝗁𝖺𝖽𝖾𝖾𝗁 𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗂𝗄𝗅𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝗄𝗂𝗇 𝗁𝗉 𝗆𝖺𝗍𝗂 𝖻𝖾𝗋𝗃𝖺𝗆 𝗃𝖺𝗆. 𝖽𝖺𝗁 𝗅𝖺𝗁 𝖻𝖺𝖻𝖺𝗒 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗍𝗈𝗈𝗇. 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝖺𝗉𝗅𝗂𝗄𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗄𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗄𝗂𝗇 𝗁𝗉 𝗆𝖺𝗍𝗂.
Sri Murtini
salah satu dayangkah itu????
Aditya Ramdhan22
siapaaa woiiii
arniya
duh siapa ya???!
Along Baen
/Smile/
wan auw
iya thor ini ke skip ya chapternya
Yuliana Tunru
bakakan seru.nih adu bacot yg bikin nyesal sdh berkicau ..ayo banyu kasih sedikit oengarahan biar bisa hatgain orang
asammanis
thor maaf ini chapternya ngeskip sekitar satu atau dua chapter, mohon di perbaiki soalnya penasaran sama pak baskoro marah" 🙏😄
Aman Wijaya
rejeki nomplok lagi buat banyu.pasti yang lagi ngintip itu putrinya pak baskoro.emang dimana mana pesona Banyu membuat para cewek pada klepek klepek.joooz jiiizz abis Banyu
arniya
di tunggu update terbaru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!