NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PABRIK ANAK

AKU BUKAN PABRIK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mei Sandra

Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.

Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.

Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung

Rendi bergerak cepat menghalangi lelaki itu mendekati Wina dan Luna. Rendi menjadikan diri sebagai perisai melindungi Luna dan Wina. Dia merupakan lelaki satu-satunya di antara kedua wanita itu jadi dia wajib melindungi keduanya dari ancaman bahaya. Mereka belum tahu siapa lelaki itu dan apa yang diinginkannya. Bisa jadi dia merupakan orang suruhan Anjas hendak melakukan tindakan tak terpuji kepada Luna.

"Siapa kamu? Untuk apa kamu mengganggu perjalanan istriku?" Rendi membusung dada memperlihatkan sikap ksatria seorang lelaki sejati. Jadi pelindung di saat dibutuhkan.

Orang itu tidak menunjukkan gelagat hendak melakukan kejahatan. Dia tersenyum memamerkan giginya yang putih bersih kayak tembok baru dicat warna putih. Bibirnya ranum bebas nikotin menambah kegantengannya. Rendi harus akui bahwa lelaki di depannya sangat tampan walupun ada sisi feminim.

"Sebelumnya aku minta maaf telah mengganggu kalian. Aku perkenalkan diriku dulu. Aku adalah Alvin Kirei owner salah satu brand produk kecantikan di tanah air. Mungkin kalian pernah mendengar namaku tetapi belum pernah melihat wajahku."

Luna dan Wina segera mengenali nama itu walaupun belum pernah berjumpa dengan pemilik nama. semua wanita pecinta kecantikan pasti mengetahui pemilik brand kecantikan yang sedang naik daun. Siapa yang tidak tahu produk kecantikan bermerek Kirei. Ternyata pemilik produk sama menarik dengan barang hasil produksi.

Rendi tetap menyimpan rasa curiga terhadap orang itu walaupun dia tampak ramah. Di saat-saat begini tidak boleh terlalu percaya kepada orang asing. Taruhannya sangat besar karena menyangkut keselamatan Luna dan anak-anaknya.

Rendi tetap bersiaga walaupun orang itu telah memperkenalkan diri. Kalaupun dia orang ternama untuk apa dia menghalangi jalan Wina dan Luna. Apa yang dia inginkan dari kedua wanita itu. Rendi tidak curiga istrinya berselingkuh karena dia sangat kenal ketulusan Wina terhadap dirinya. Rendi justru curiga orang itu datang untuk Luna.

"Apa yang kamu inginkan? Rasanya kami tidak mengenalmu." Rendi bertanya dengan nada ketus.

"Aku sudah melihat kejadian di pesta Anjas. Aku ke sini hanya ingin menawarkan perlindungan untuk nona Luna. Aku tahu kalau kalian pasti akan curiga mengapa tiba-tiba aku muncul. Sejujurnya aku ingin katakan bahwa aku melakukan semua ini bukan tanpa tujuan. Lebih baik kita mencari tempat lain untuk membicarakan hal ini karena di sini tidak aman. Aku yakin sebentar lagi mata-mata Anjas akan segera tiba di sini."

Rendi termakan omongan lelaki bernama Alvin. Kepalanya berputar melihat sekeliling mencari sesuatu yang mencurigakan. Sejauh itu belum terlihat ada yang bikin jantung berdetak kencang. Aktivitas sekitar stasiun berjalan dengan normal.

"Kenapa kamu harus percaya padamu?" Rendi kembali bertanya belum bisa percaya sepenuhnya kepada orang itu. Jangan jangan diam merupakan orang suruhan Anjas untuk menculik Luna secara halus.

Alvin tidak marah malahan tertawa kecil. suara tawanya sangat sedap di kuping. Teratur seperti sudah diatur oleh satu sistem khusus mengelus tawa menarik hati.

"Aku tidak menyalahkan kalian bila curiga kepadaku. Siapapun akan curiga ketemu orang asing. Itu hal wajar tapi aku memang berniat membantu nona dokter Luna. Kalau nona Luna dibawah perlindunganku tak ada yang berani menyentuh nona. Anjas pun akan segan berurusan denganku. Dari dulu Anjas merupakan musuhku. Musuh dari musuh adalah teman. Bukankah kalian juga musuh Anjas? Artinya kita berteman." Alvin berkata dengan santai seakan-akan dia memiliki power untuk berseteru dengan Anjas.

Rendi menatap Luna sekilas sambil tarik nafas. Dia sudah duga persoalan tidak semudah yang mereka bayangkan. Anjas membutuhkan anak dalam perut Luna untuk menutupi malu Clara. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk merebut anak-anak itu. Tawaran Alvin sepertinya menarik tetapi mereka tidak boleh langsung percaya kepada lelaki itu. Siapa tahu di dalamnya ada permainan yang lebih kotor.

"Bagaimana kami bisa percaya padamu?" Wina mulai tertarik pada omongan Alvin. Kelihatannya Alvin memiliki dendam terhadap mantan suami temannya. Dendam sesama pengusaha atau ada dendam yang tidak tercantum dalam buku.

"Coba kalian teleponi panti asuhan tempat nona Luna dibesarkan! Orang Anjas sudah bergerak ke sana mencari nona Luna. Aku sudah menempatkan orang-orangku untuk melindungi anak-anak di panti. Aku takut orang-orang Anjas akan melukai orang tak bersalah maka itu aku bertindak duluan. Anjas tahu kelemahan Luna adalah anak-anak di panti asuhan maka itu mereka sengaja membuat keonaran di sana untuk memaksa ibu panti mengatakan di mana keberadaan Luna." Kali ini Alvin sudah tidak bersikap gemulai. Rahangnya tampak mengeras menahan gejolak di hati.

Luna sangat kaget mendengar berita ini. Luna tidak menyangka kalau Anjas akan bertindak sejauh itu melibatkan orang-orang tidak bersalah. Luna semakin menyesal telah memilih Anjas sebagai suami. Waktu itu dia hanya melihat casing luar yang tampak sangat baik dan indah. Ini adalah penyesalan terbesar di dalam hidup Luna. Luna tidak pernah menyesal terlahir ke dunia ini tanpa orang tua. Rasa sesal itu datang setelah kejadian demi kejadian melukai hatinya.

"Apakah yang kamu katakan itu benar?" tanya Luna dengan suara bergetar. Luna benar-benar kuatir dengan nasib keluarga besarnya di panti asuhan. Mereka tidak tahu apa-apa harus menjadi korban dari keegoisan Anjas.

"Benar atau tidak kalian bisa menghubungi seseorang di panti asuhan. Bagusan jangan pakai nomor ponsel nona Luna! Jika perlu matikan saja ponselnya agar lokasi nona tidak terlacak oleh Anjas. Anjas bukan orang biasa yang mudah diakalin. Anjas memiliki kekuasaan untuk bertindak semaunya maka itu kalian harus hati-hati. Jangan mengira kalian sudah meninggalkan kota ini sudah aman!"

Luna termakan omongan Alvin segera mengeluarkan ponselnya lalu nonaktifkan. Kerongkongan Luna terasa kering mendengar semua penjelasan Alvin. Kelihatannya Alvin sangat berpengalaman soal tindakan kekerasan yang menggunakan kekuasaan. Mereka tidak ubah seperti mafia kelas kakap. Luna hanya seorang wanita rapuh mana sanggup melawan tembok besi. Jangankan untuk menang bisa jadi menjadi hancur lebur.

"Aku yang telepon..." Wina ajukan diri sebagai jembatan penghubung. Wina juga kuatir nasib anak-anak tak berdosa bila menjadi korban keegoisan Anjas. Orang panik mudah tersulut emosi sampai melakukan tindakan tak terpuji.

"Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini sebelum terlacak oleh Anjas. Biarlah mereka mengira kalian jadi berangkat! Anjas pasti akan lacak setiap transportasi kota ini untuk mencari nona Luna. Jadi nona Luna tidak akan aman walaupun pergi dari kota ini. Tempat yang paling aman adalah tempat dekat musuh." Alvin tetap menunjukkan rasa simpati mendalam.

Rendi menghela nafas tak tahu harus berbuat apa. Percaya pada Alvin atau biarkan Luna meninggalkan kota ini. Apa yang dikatakan Alvin bukan tanpa dasar. Orang sekelas Anjas mana mungkin menyerah begitu saja tanpa melakukan sesuatu. Jika benar demikian adanya maka nyawa Luna berada dalam bahaya.

"Baiklah kita pergi!" Rendi ambil keputusan percaya pada Alvin. Semoga keputusan kali ini tidak bawa dampak negatif terhadap Luna.

Alvin tampak senang Rendi pilih percaya padanya. Alvin akan menyakinkan Alvin bahwa keputusannya kali ini adalah langkah tepat. Terpisah apapun rencana Alvin yang penting tidak melukai Luna.

"Ayok kita pergi! Sebaiknya nona-nona ikut mobilku dan bapak ini ikut dari belakang. Kita ke rumahku..." tanpa meminta persetujuan siapapun Alvin segera mengambil alih koper Luna. Lelaki menarik koper Luna meninggalkan peron stasiun dengan langkah gemulai.

Wina dan Luna saling bertukar pandang tak sangka lelaki berbadan tegap itu memiliki sisi kelam. Mana ada lelaki bergaya nyiur melambai dalam setiap gerakan. Luna sedang berpikir apakah dia bisa aman bersama lelaki kayak slime. Lunak walau sulit dihancurkan.

Mereka tak punya banyak waktu untuk berpikir. Yang penting adalah bagaimana menghindari ancaman Anjas. Sesuai dengan nasehat Alvin mereka harus segera meninggalkan tempat umum ini. Mudah bagi Anjas melacak posisinya bila berada di tempat terbuka. Apalagi Luna membawa perut segunung mudah dikenali orang.

Mobil Alvin sangat bagus dan mewah. Tidak perlu ditanya semua sudah tahu bahwa mobil itu harganya menguras kantong.

"Silahkan..." Alvin membuka pintu untuk Wina dan Luna dengan gaya galant. Di sini Alvin tampak gagah perkasa menyingkirkan gaya lemah gemulai. Pria macam begini yang dirindukan kaum hawa. Bukan lelaki kayak slime.

Rendi mengikuti gerakan Alvin terhadap kedua wanita yang dia lindungi. Alvin tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan bahkan dia bersikap sangat sopan. Ini membuat Rendi agak lega. Semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi.

Perlahan mobil Alvin meninggalkan lokasi stasiun. Rendi menyusul dari belakang tak mau kehilangan jejak Alvin. Di dalam mobil Alvin terdapat dua wanita yang harus dia jaga. Bagaimana Rendi bisa tenang kalau mereka belum tahu ke mana arah tujuan mereka. Mobil terus melaju menuju ke tempat arahan Alvin. Agak jauh dari jantung kota menuju ke pinggiran. Tapi masih termasuk daerah ramai. Andai Alvin mau berniat jelek masih bisa minta pertolongan orang-orang sekitar yang masih lalu lalang.

Hampir satu jam mengendarai kendaraan akhirnya mereka tiba di satu bangunan mewah. Rumah dicat warna putih bersih persis gigi Alvin. Mungkin warna putih merupakan warna favorit Alvin sehingga semua harus tampak putih.

Ketiga tamu Alvin hanya bisa terkagum-kagum pada bangunan rumah Alvin. Luas dipagari tembok tebal dan tinggi. Sudah dipastikan tak semua orang bisa masuk ke rumah itu. Pantas saja Alvin yakin kalau Luna akan aman tinggal di tempatnya. Kondisi rumah memang menjanjikan rasa aman.

Pintu gerbang kokoh dan tebal menghalangi jalan masuk orang tak berkepentingan ke rumah Alvin. Tak sembarangan orang diijinkan masuk kecuali dengan ijin empunya rumah.

Kenderaaan Alvin dan Rendi meluncur mulus melewati gerbang masuk ke halaman rumah yang maha luas. Pepohonan menghiasi depan jalan menuju ke rumah induk. Mungkin berjarak ratusan meter baru mencapai bangunan permanen yang terlihat dari luar. Satu bangun bergaya moderen tropis yang memadukan estetika modern dengan elemen-elemen yang tahan terhadap cuaca panas dan lembab. Rumah yang nyaman dihuni. Sangat sesuai dengan karakter Alvin yang antik. Tak heran kalau Alvin merupakan pemilik rumah tersebut. Dia memang pantas menjadi majikan rumah mewah itu.

1
arniya
bau bangkai sudah tercium.....
arniya
pembalasan d mulai.....
arniya
firasat......
indy
Siapa yang membuntuti mobil Rendi
indy
biarkan luna menghilang dari pasangan itu
indy
Namany lucu, keluarga Kutilan😄
indy
Jadir kakak...
Mei: Makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!