Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Melangkah Masuk ke Sangkar Emas
Pagi hari setelah badai hujan dan mati lampu semalam menyisakan udara yang luar biasa segar, namun atmosfer di dalam kontrakan kecil itu telah berubah seutuhnya. Kinar terbangun dengan posisi kepala yang bersandar nyaman di atas dada bidang Arga, merasakan detak jantung cowok itu yang beritme tenang di bawah telinganya. Begitu menyadari posisi mereka yang begitu intim, Kinar buru-buru bangkit dengan wajah merona merah, sementara Arga hanya terkekeh pelan dengan suara seraknya, menatap Kinar tanpa sedikit pun niat untuk menjauh seperti hari-hari lalu.
Namun, kejutan nyata hari itu baru dimulai ketika mereka selesai sarapan sederhana. Arga meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap Kinar dengan serius.
"Nar, beresin barang-barang lo yang penting aja. Baju-baju lama lo yang udah gak layak, tinggalin. Baju dari koper Kakek kemarin, bawa semua," ucap Arga tenang.
Kinar yang sedang mengelap meja dapur langsung mengernyitkan alisnya bingung. "Hah? Beresin barang? Mau ke mana? Kita mau digerebek warga gara-gara semalam?"
Arga tertawa lepas, sebuah suara renyah yang akhir-akhir ini mulai sering Kinar dengar. Dia berdiri, melangkah mendekati Kinar dan tanpa ragu mencubit pelan hidung bangir istrinya itu. "Otak lo kebanyakan nonton film komedi, ya? Kita pindah, Kinar. Mulai hari ini, kita keluar dari kontrakan ini."
"Pindah ke mana, Ga? Kontrakan yang agak gedean dikit?" cecar Kinar, masih belum terbiasa dengan fakta bahwa suaminya adalah seorang pewaris tunggal konglomerat.
"Nanti lo juga tahu. Udah, cepetan beres-beres. Dua jam lagi orang-orang Pak Gunawan datang buat ngangkut koper," perintah Arga sembari mengacak rambut Kinar gemas.
Dua jam kemudian, sebuah mobil MPV premium berukuran besar sudah terparkir di depan gang. Kinar menatap nanar ke arah bangunan kontrakan kecil berkamar satu yang selama beberapa bulan ini menjadi saksi tidur mereka. Tempat yang dulunya penuh dengan omelan Kinar karena atapnya bocor, tempat mereka makan nasi goreng mentega berdua, dan tempat di mana Arga akhirnya meruntuhkan ego belasan tahunnya untuk menyatakan cinta.
"Kok malah melamun? Ayo masuk," ajak Arga lembut, merangkul pundak Kinar dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.
Perjalanan siang itu membawa mereka keluar dari hiruk-pikuk pusat kota, menuju sebuah kawasan perbukitan elit yang terkenal sebagai hunian para pejabat dan pengusaha papan atas. Mobil perlahan berbelok masuk ke dalam sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi yang dijaga oleh dua satpam berbadan tegap.
Begitu melewati gerbang, mata Kinar seketika membelalak. Di depan sana, sebuah mansion megah berlantai tiga dengan arsitektur klasik modern berdiri dengan anggunnya. Halaman depannya sangat luas dengan hamparan rumput hijau yang dipotong rapi, lengkap dengan kolam renang yang airnya berkilau jernih di bagian samping.
Begitu mobil berhenti tepat di depan undakan tangga marmer utama, pintu mobil langsung dibukakan dari luar. Kinar melangkah turun dengan lutut yang mendadak terasa lemas saat melihat ada sekitar enam orang pelayan berseragam rapi sudah berbaris rapi di depan pintu masuk. Di paling depan, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.
"Selamat datang di kediaman baru Anda, Tuan Muda Arga, Nyonya Muda Kinar," ucap pria paruh baya itu sembari membungkuk hormat sembilan puluh derajat, diikuti oleh seluruh pelayan di belakangnya. "Saya diko, kepala pelayan di mansion ini. Mulai hari ini, kami semua siap melayani seluruh kebutuhan dan kenyamanan Anda berdua."
Kinar melongo, refleks meremas lengan kaos Arga dengan sangat erat. "Ga... ini gak salah alamat kan? Lo gak lagi nyewa castil buat acara cosplay kan?" bisik Kinar dengan suara bergetar karena syok.
Arga hanya terkekeh pelan, menahan tangan Kinar yang gemetar di lengannya. "Nggak, Nar. Mulai sekarang, ini rumah kita. Kakek yang nyiapin semua pelayan ini biar kita gak kecapekan ngurus rumah besar."
Arga kemudian menatap kepala pelayan. "Pak Diko, tolong bawakan semua koper Nyonya Muda ke kamar utama. Dan pastikan tidak ada yang mengganggu kami sampai makan malam nanti."
"Baik, Tuan Muda," patuh Pak Diko takzim.
Arga menggandeng tangan Kinar, membimbingnya masuk melewati aula utama mansion yang dihiasi lampu kristal gantung yang mewah, lalu menaiki tangga melingkar menuju lantai dua tempat kamar tidur utama berada. Begitu pintu kayu jati ganda kamar utama dibuka, Kinar kembali dibuat menahan napas.
Kamarnya luar biasa luas, bahkan mungkin setara dengan luas seluruh rumah kontrakan lama mereka. Sebuah ranjang berukuran King Size berkelambu sutra putih berdiri anggun di tengah ruangan. Di sudut kamar, terdapat pintu kaca besar yang menghubungkan langsung ke arah balkon pribadi dengan pemandangan taman belakang yang asri.
"Kamarnya... beneran cuma satu, Ga?" tanya Kinar kaku, memandangi ranjang raksasa yang tampak begitu empuk dan mengintimidasi itu.
Arga menutup pintu ganda kamar mereka, menguncinya dari dalam, lalu berbalik melangkah perlahan mendekati Kinar. Langkah kakinya yang tenang entah kenapa membuat Kinar otomatis melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang.
Arga mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Kinar bisa merasakan hawa panas tubuh cowok itu. Arga menundukkan wajahnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kinar yang gugup, lalu menyunggingkan senyuman seksi yang mematikan.
"Gue rasa gue udah bilang semalam di kontrakan, Nar," bisik Arga dengan suara baritonnya yang rendah dan serak. Tangannya bergerak berani melingkar di pinggang ramping Kinar, menarik tubuh mungil itu hingga menempel erat pada dada bidangnya. "Mulai sekarang, gak ada lagi kata pisah kamar. Di mansion ini pelayannya banyak, dan mereka semua adalah mata-mata Kakek yang bakal ngelaporin setiap gerak-gerik kita. Jadi... kita harus bener-bener tidur di satu ranjang yang sama setiap malam."
Arga memajukan wajahnya, menyandarkan dahinya di dahi Kinar hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Misi kita buat ngasih cicit dalam waktu satu tahun buat Kakek... bakal dimulai dari kamar mewah ini, Kinar Anindita. Dan kali ini, gue gak bakal ngasih lo kelonggaran lagi buat kabur."
Sentuhan tangan Arga yang hangat di pinggangnya, ditambah dengan tatapan matanya yang menggelap penuh gairah dewasa, sukses membuat seluruh pertahanan Kinar luruh seketika. Di dalam kamar mansion mewah yang sunyi itu, Kinar tahu bahwa lembaran hidupnya telah berubah total. Dia tidak lagi berada di kontrakan sempit, melainkan sudah masuk sepenuhnya ke dalam sangkar emas yang dipenuhi oleh pesona dan cinta membara dari sang suami kontrak.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/