Natasya Effendi,,, Gadis pintar yang selalu menjadi juara di sekolahnya. Bahkan Tasya begitu biasa dia di panggil, dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dengan nilai terbaik. Bahkan Tasya bisa lolos masuk kerja di salah satu bank swasta. Berbanding terbalik dengan pendidikan dan karirnya kisah cintanya harus berakhir dengan penuh luka.
Mau tau kisah lanjutnya? Yuk... ikutin ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Karena Raya baru tiba di kota J. Raya pun memutuskan untuk pergi berbelanja bahan makanan sebelum ke apartemen Galih. Galih pun menemani Raya memilih apa yang dia mau. Galih tak pernah memaksakan Raya untuk turun ke dapur sendiri namun Raya selalu ingin melayaninya selayaknya seorang istri walaupun dirinya sibuk.
"Jangan terlalu banyak Yang, nanti setelah kamu kembali bahan makanan itu tidak akan terpakai lagi." Galih.
"Iya Mas. Kamu tenang saja. Aku akan meninggalkan makanan siap saji untukmu." Raya.
"Apa kamu sudah menghubungi Mama Sayang?" Galih.
"Sudah Mas. Mama sedang ke luar kota menemani Papa jadi kami tidak bisa bertemu." Raya.
"Ya, maaf ya sayang. Mas upa memberitahu Mama jika kamu akan datang." Galih.
"Tidak masalah Mas. Aya sudah menghubungi Mama dan ternyata Mama sudah ada janji lebih dulu bersama Papa. Tak masalah, bukankah kita bisa bertemu kapan saja." Raya.
"Ya kamu benar. Ayo apa sudah selesai?" Galih.
"Sudah Mas. Ayo bayar." Raya.
Mereka berdua pun berjalan menuju kasir untuk membayar apa yang telah mereka pilih. Raya bergelayut manja pada lengan kekar Galih. Saat keduanya mengantri tiba-tiba mereka berdua di kejutkan oleh kedatangan Lika.
"Raya..." Panggil Lika.
"Astaga! Eh, h hai.. Lika." Raya.
"Uuu... Senengnya ketemu lu Ya. Kok ga ngabarin gw sih kalo lu ke kita ini?" Lika.
"Hm... Sorry gw ga sempet menghubungi siapa pun kecuali suami gw. Soalnya serba mendadak." Raya.
"Hm... Gw maafin. Eh, makan malam bersama yuk." Ajak Lika antusias karena Lika tengah bersama Galih.
"Hm,, Thanks Lik. Kita udah makan tadi. Lagian ini udah lewat jam makan malam." Raya.
"Ish... Iya deh ga apa-apa. Klo gitu kirim alamat lu di sini biar gw bisa mampir." Lika.
"Gw tinggal di hotel X dekat rumah sakit." Raya.
"Loh, bukan nya Kak Galih tinggal di kota ini? Kenapa ga tinggal di rumah kalian saja?" Lika.
"Tidak apa-apa. Gw ada acara di rumah sakit Mawar jadi biar gw ga terburu-buru." Raya.
"Hm.. Baiklah. Besok gw mampir ya." Lika.
"Nanti hubungi lagi aja dulu ya Lik. Takutnya gw masih di acara." Raya.
"Oke." Lika.
"Kalo gitu kita pamit duluan ya Lik. Gw udah selesai nih." Ucap Raya setelah Galih membayar belanjaannya.
"Oke. Sampai ketemu besok ya. Bye..." Lika.
Galih tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun ketika Lika dan Raya saling berbicara baru saat mereka di dalam mobil Galih mengutarakan apa yang ada di kepalanya.
"Kenapa kamu bilang kita tinggal di hotel X Yang?" Galih.
"Lalu aku biarkan dia mengetahui alamat tempat tinggal mu Mas dan membiarkan dia menggantikan peran ku saat aku tak ada di sini." Raya.
"Astaga! Ish... Jangan sampe deh." Jawab Galih bergidig ngeri. Pasalnya dia tidak bisa membayangkan ulet bulu terus menempel padanya.
Galih pun tak melanjutkan kata-katanya. Sampai di apartemen Galih dan Raya segera memasuki Unit mereka. Galih langsung membersihkan dirinya sedang Raya membereskan belanjaannya terlebih dahulu. Galih sudah menawarkan bantuan namun Raya menolaknya.
"Sayang, apa tidak apa kita masih berjauhan begini?" Tanya Raya setelah mereka berada di atas tempat tidur.
"Asal kamu percaya padaku tidak masalah sayang. Jarak tak mengurangi rasa sayangku padamu melainkan semakin bertambah rasa ini untukmu." Galih.
"Setelah ini Aya akan mengurus perpindahan Aya." Raya.
"Iya sayang. Apapun yang terbaik untuk kita." Galih.
"Mama pun sudah menanyakan kapan Aya pindah. Mungkin Mama merasa kasian pada kita." Raya.
"Jangan di jadikan beban sayang. Kita jalani saja ya." Galih.
"Terima kasih Mas." Raya.
Pagi hari seperti yang telah di jadwalnya Raya menghadiri acaranya di rumah sakit. Galih menyempatkan mengantarkan istrinya terlebih dahulu sebelum dirinya ke kantor. Siang ini Galih tak perlu repot mencari makan siang untuknya karena Raya telah membuatkan bekal makan siang untuknya.
Sementara Tasya, Rosa dan Rantika membuat janji bertemu karena Rantika mendapatkan libur hari ini. Tasya telah meminta ijin terlebih dahulu pada Marchel jika dirinya akan pergi bersama Rosa dan Rantika ke sebuah mall dengan membawa Putra mereka dan juga suster tentunya.
"Mas ga marahkan kalo Sya pergi?" Tanya Tasya pada Marchel.
"Tidak sayang. Pergilah, hati-hati di jalan. Hubungi Mas jika ada apa-apa." Marchel.
"Tentu. Apa Sya boleh berbelanja?" Tasya.
"Tentu saja. Untuk apa Mas bekerja mencari uang jika tidak kamu gunakan sayang. Gunakanlah kartu yang Mas berikan untuk mu. Belilah apapun yang kamu suka asal jangan berlebihan." Marchel.
"Terima kasih Mas." Tasya.
"Eh, Mami bilang minggu depan Mami pulang untuk menyiapkan resepsi kita Mas. Karena Papi tugasnya di percepat." Ucap Tasya kembali mengingat percakapannya dengan Ibu mertuanya kemarin di telfon.
"Wah, bagus itu. Kalo begitu persiapkan diri kamu untuk acara kita sayang. Jangan terlalu lelah." Marchel.
"Oke. Siap Kapten." Tasya.
Siang hari Rosa dan Tasya pergi bersama. Kali ini hanya menggunakan mobil Rosa. Karena mereka tak akan berbelanja mingguan yang membuat mereka bisa satu mobil bersama. Jika berbelanja kebutuhan maka mereka akan membawa mobil masing-masing demi kenyamanan mereka.
"Sya, lu belum bisa ketemu dia?" Rosa.
"Buat apa? Gw sama dia udah selesai dan ga perlu lagi di bahas." Tasya.
"Jika kita mewakili lu untuk bertemu dia lu ga masalah?" Rosa.
"Silahkan saja. Gw percaya lu semua." Tasya.
"Tapi, Galih ga enak sama Lu Sya. Tapi dia juga terus mendesak karena dia tau Galih adik ipar lu." Rosa.
"Atur saja apa yang menurut kalian benar. Tapi, gw belum bisa ketemu. Kalau pun harus gw akan melibatkan Mas Achel." Tasya.
"Baiklah. Nanti kita kondisikan bersama Kak Marchel kalo begitu." Rosa.
"Lagian ngapain sih ngurusin masa lalu. Ribet deh." Tasya.
"Sepertinya ada hal yang sangat penting yang akan dia sampaikan Sya. Bukan perkara dia ingin kembali sama lu tapi sepertinya dia ga mau kita terutama lu salah faham sama dia." Rosa.
"Huh! Terserah deh." Tasya.
Tak terasa obrolan mereka harus terhenti karena mobil Rosa sudah terparkir dengan baik di halaman parkir sebuah mall besar. Kedua suster turun dengan anak asuh mereka masing-masing. Di susul Tasya dan Rosa yang berjalan saling bergandengan.
Saat sampai di tempat yang telah di janjikan ternyata Rantika sudah menunggu mereka bersama putrinya dan seorang suster juga. Mereka pun saling bercipika-cipiki saat mereka bertemu. Kemudian mereka mencari tempat duduk masing-masing. Tasya sedikit waspada dengan tempat mereka demi kenyamanan putranya.
"Tenang, gw udah dari tadi di sini dan gw rasa aman." Ucap Tika seolah mengerti tatapan Tasya.
"Kebiasaan." Rosa.
"Daripada kecolongan." Tasya.
"Siaga." Jawab Rosa dan Rantika bersamaan.
🌹🌹🌹
yg judul 'jodoh pilihan ayah' jg di up thor
lanjuttttt