NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK

Pagi itu, kediaman Habib Abdullah di Krapyak terasa begitu hidup. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu, menerangi kepulan uap dari teh melati yang disajikan Ummi di meja makan. Zaid dan Khadijah baru saja turun setelah menyelesaikan sholat Subuh dan sedikit tadarus bersama. Aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajah keduanya; ada ketenangan yang lebih dalam, sebuah ikatan yang kini telah sempurna terjalin.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika seorang anak laki-laki berusia lima tahun dengan rambut ikal dan mata bulat berlari masuk ke ruang tengah. Ia adalah Hamzah, putra dari kakak tertua Khadijah yang sedang berkunjung.

Hamzah langsung menghambur ke arah Khadijah yang sedang membantu Ummi menata piring. Zaid, yang duduk di kursi kayu sambil mengamati istrinya dengan tatapan penuh pemujaan, hanya tersenyum melihat tingkah laku bocah kecil itu.

"Tante Ijah!" panggil Hamzah nyaring.

Khadijah berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang keponakan. "Iya, Sayang? Kenapa lari-lari?"

Hamzah memiringkan kepalanya, menatap Khadijah dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidiki yang sangat polos. "Tante Ijah sakit ya? Atau kakinya kena paku?"

Dahi Khadijah berkerut bingung. "Sakit? Enggak kok. Tante sehat. Kenapa Hamzah tanya begitu?"

Hamzah menunjuk ke arah kaki Khadijah dengan jari telunjuknya yang mungil. "Itu... Tante kalau jalan kok aneh? Kok Tante jalan sedikit renggang, Tan? Kayak Hamzah waktu habis disunat tahun lalu," celetuknya dengan suara yang cukup keras hingga menggema di ruangan itu.

Seketika, suasana di meja makan membeku.

Khadijah merasa seluruh darah di tubuhnya naik ke wajah. Pipinya yang putih pualam berubah menjadi merah padam, bahkan lebih merah dari buah delima. Ia segera berdiri tegak, mencoba merapatkan kakinya meski rasa pegal di pinggangnya masih tersisa sebagai jejak indah dari malam tadi.

Zaid yang sedang menyesap tehnya hampir saja tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil, mencoba menutupi rasa canggung yang luar biasa. Ia mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit, pura-pura tidak mendengar celotehan lugu keponakan istrinya itu.

Ummi yang sedang memegang teko hanya bisa terdiam dengan mata membulat, sementara Habib Abdullah yang berada di kursi seberang berdeham sangat keras sambil kembali membuka korannya, menyembunyikan senyum tipis di balik lembaran berita.

"Hamzah... sini sama Om Zaid saja. Tante sedang sibuk bantu Ummi," Zaid akhirnya bersuara, mencoba menyelamatkan situasi meskipun suaranya terdengar sedikit kaku.

Namun, Hamzah bukanlah tipe anak yang mudah dialihkan. Ia justru mendekati Zaid dengan wajah penasaran. "Om Zaid apain Tante Ijah? Tante Ijah jalannya jadi lucu, kayak bebek."

"Hamzah! Ayo sini makan sama Ibu!" teriak kakak Khadijah dari arah dapur, yang rupanya juga mendengar ucapan anaknya dan merasa perlu segera mengamankan sang bocah sebelum suasana semakin "panas".

Hamzah berlari pergi sambil tertawa-tawa, meninggalkan Khadijah yang masih mematung di dekat meja makan. Zaid bangkit dari duduknya, melangkah perlahan ke arah Khadijah. Saat jarak mereka sudah cukup dekat, Zaid membisikkan sesuatu di telinga istrinya yang tertutup hijab.

"Sepertinya kita harus belajar jalan lebih normal hari ini, Istriku," goda Zaid dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh Khadijah.

Khadijah mencubit lengan Zaid pelan, wajahnya masih diselimuti rona malu. "Ini semua gara-gara Mas..."

Zaid terkekeh, ia menggenggam tangan Khadijah di bawah meja, seolah ingin mengatakan bahwa apa pun yang terjadi, ia akan selalu ada di sampingnya. Kejadian lucu itu menjadi bumbu manis di pagi mereka di Yogyakarta, sebuah pengingat bahwa kebahagiaan mereka kini bukan lagi rahasia, melainkan berkah yang dirasakan oleh seluruh penghuni rumah.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!