Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Pergi Dari Kamar
Tangan kasar Herman hampir menyentuh tepi tirai kaca. Adnan sudah pasrah, matanya terpejam rapat, tubuhnya menegang seolah siap disambar petir. Namun tepat saat jari pria itu akan menyibakkan kain buram itu, suara Sherly tiba-tiba melengking dari belakang, membelah keheningan ruangan.
"Pak Herman! Lihat ini!"
Herman terkejut, tangannya seketika tertahan di udara. Ia berbalik perlahan, menatap wanita itu dengan dahi berkerut. "Apa lagi?"
Sherly tersenyum canggung, namun berusaha semaksimal mungkin agar terlihat tenang. Tangannya mengangkat ponsel yang tadi ia ambil dari meja samping ranjang, menunjuk ke layar yang menyala. "Ponsel Bapak tadi terus berdering. Istrimu sepertinya menelepon. Sebaiknya Bapak pulang saja sekarang."
Mata Herman membelalak. "Benarkah?"
"Iya," jawab Sherly cepat, mengangguk mantap. "Bapak sebaiknya pulang sekarang. Istri Bapak bisa curiga."
Kata-kata terakhir itu langsung membuat wajah Herman berubah pucat. Alkohol di kepalanya seketika menguap sebagian. Ia menatap Sherly dengan tatapan waspada, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Kau benar," balasnya cemas. "Aku tidak mau ketahuan. Biar begini, aku masih sayang keluargaku."
Ia langsung melupakan tirai kaca itu sepenuhnya. Dengan langkah terburu-buru, ia bergegas keluar dari kamar mandi, menyambar jaketnya yang tergeletak di kursi, lalu berjalan cepat menuju pintu utama.
"Kita selesaikan lain kali," ucapnya singkat tanpa menoleh lagi. "Simpan sisanya untukku."
Pintu terbuka dan tertutup dengan bunyi klik yang terdengar begitu melegakan. Suara langkah kaki beratnya perlahan menjauh, hingga akhirnya lenyap sepenuhnya di ujung lorong.
Kini hening benar-benar menyelimuti ruangan.
Sherly merosot jatuh ke tepi ranjang, kedua kakinya lemas tak bertulang. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu menarik napas panjang sebelum beranjak berdiri.
Langkah kakinya pelan dan ragu saat mendekati pintu itu. Ia mengetuknya lembut dua kali.
"Mas..." suaranya berbisik lirih. "Dia sudah pergi. Kau aman."
Beberapa detik berlalu. Lalu kunci pintu berputar perlahan. Pintu terbuka sedikit, dan wajah Adnan yang masih pucat pasi muncul dari celah itu. Matanya masih melebar, penuh ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. Ia melangkah keluar perlahan, tubuhnya masih gemetar hebat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sherly cemas, tangannya terulur menyentuh lengan pemuda itu. Ia merasakan betapa dingin dan basahnya kulit Adnan karena keringat dingin.
Adnan mengangguk pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Iya... terima kasih. Kalau tidak ada kamu..." Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bayangan wajah Herman saat membuka tirai tadi masih terasa begitu nyata, mengancam.
Sherly tersenyum tipis, namun matanya tampak sedih dan lelah. Ia menarik tangannya kembali, merapikan selimut yang sempat berantakan di ranjang. "Tidak perlu berterima kasih. Kita sama-sama berusaha bertahan hidup di sini."
Ia melirik jam dinding yang jarumnya menunjuk pukul dini hari. "Sekarang... kau harus pergi. Sekarang juga."
Adnan terdiam. "Malam?"
"Semakin cepat semakin baik," tegas Sherly, meski suaranya terdengar berat. "Meskipun mereka mungkin sudah santai, tapi tidak ada jaminan. Sekarang ini jam-jam sepi, lorong-lorong kosong. Kesempatan terbaikmu untuk keluar tanpa terlihat."
Adnan menatap wanita itu lekat-lekat. Ia tahu Sherly benar. Semakin lama ia berlama-lama di sini, semakin berbahaya bagi mereka berdua. Namun entah mengapa, ada rasa berat hati yang mengikat kakinya. Wanita ini baru saja menyelamatkan nyawanya dua kali berturut-turut, dan kini ia harus pergi meninggalkannya sendirian di sini.
"Tapi..." Adnan menatap sekeliling ruangan itu, tempat yang bagus namun terasa seperti penjara bagi wanita di hadapannya. "Bagaimana denganmu?"
Sherly tersenyum tipis, senyum yang penuh kepasrahan. "Aku? Aku akan tetap di sini. Ini pekerjaanku. Ini hidupku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menjalaninya." Ia melangkah mendekat, lalu menyentuh dada Adnan pelan tepat di atas letak kamera tua yang masih terselip di balik kemejanya. "Pergilah!"
Kata-katanya terdengar lembut namun tegas. Adnan mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa pahit. Ia meraih tas kameranya, lalu memastikan sekali lagi bahwa kamera tua itu masih aman di dalamnya.
"Terima kasih, Mbak," ucapnya tulus, matanya menatap wanita itu dengan penuh rasa hormat sekaligus belas kasihan.
Sherly hanya menunduk, bibirnya tersenyum samar namun matanya berkaca-kaca. "Pergilah lewat pintu darurat di ujung lorong. Jangan lewat lobi."
Adnan menarik napas dalam-dalam, lalu memutar gagang pintu itu perlahan. Lorong di luar sana remang-remang dan sepi. Hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar saat ia melangkah keluar. Ia menoleh sekali ke belakang, melihat Sherly yang masih berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kecemasan dan harapan.
Pintu tertutup pelan. Adnan melangkah menjauh.
Jantungnya masih berdebar, namun kali ini bukan karena ketakutan semata, melainkan karena harapan yang perlahan tumbuh. Ia berjalan cepat menuju tangga darurat, matanya waspada mengawasi setiap sudut gelap yang ia lewati. Tidak ada suara langkah kaki lain. Tidak ada bayangan mencurigakan. Lorong itu benar-benar kosong.
Mungkin Gladys dan kelompok sekte itu akhirnya menyerah. Mungkin mereka mengira ia sudah berhasil kabur keluar. Atau mungkin mereka tahu persis di mana dia bersembunyi, dan sengaja membiarkannya pergi karena sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang menantinya di luar sana.
Namun Adnan tidak peduli. Dia hanya ingin keluar. Ia ingin menghirup udara malam yang bebas, jauh dari aroma darah, jauh dari sosok bertanduk yang mengerikan, dan jauh dari jerat dunia yang gelap ini.
Dengan tangan gemetar, dia membuka pintu tangga darurat dan melangkah turun, menuju kebebasan yang masih samar, namun setidaknya kini ada di depan matanya.