Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Gadis Absurd
"Glor?" panggil Ziel dengan mata yang membulat sempurna. Dia sangat terkejut karena mendapati sang kekasih tidur di kolong tempat tidurnya.
Bukankah semalam mereka berpelukan? Lalu kenapa bisa Gloria turun ke bawah dan tidak merasakan apa-apa?
Dengan tergesa Ziel berusaha membangunkan Gloria, dia menepuk-nepuk pipi gadis cantik itu. "Glor, bangun!"
Akan tetapi yang dibangunkan masih asyik berkelana di alam bawah sadarnya. Dia hanya bergumam dan semakin menutup matanya rapat-rapat.
"Gloria, jangan main-main. Semua orang sudah mengkhawatirkanmu," ujar Ziel dengan wajah yang sudah nampak gelisah. Takut ayah dan ibunya datang secara tiba-tiba.
Merasakan sentuhan di anggota tubuhnya, Gloria pun akhirnya mulai mengerjapkan mata. Dia mengerutkan dahi saat cahaya masuk ke dalam indera penglihatannya.
"Ziel?" panggil Gloria dengan suara serak, dia masih belum sadar berada di mana, hingga dia kembali berguling.
"Hei, ayo cepat keluar! Mamah dan Papah mencarimu dari tadi. Lagi pula kenapa kamu bisa tidur di bawah kolong sih?" omel Ziel sambil menarik lengan Gloria.
"Kolong apa? Aku kan semalam tidur denganmu Ziel."
"Iya, tapi aku tidak tahu kenapa pagi ini tiba-tiba kamu berpindah tempat!"
Mendengar itu sontak saja Gloria melihat sekeliling, dan ternyata benar, dia tidak tidur di atas ranjang.
"Astaga, apakah semalam aku mengigau? Aku bermimpi main kejar-kejaran denganmu di taman, lalu kita berguling-guling di sana." Gloria nampak terkejut dengan aksinya sendiri.
Dan dia hanya bisa pasrah saat Ziel menarik tubuhnya hingga keluar. Dia tidak tahu kalau pria yang ada di hadapannya sudah kalang kabut sejak tadi.
"Ceritanya nanti saja, sebaiknya kamu cepat keluar, biar aku berpura-pura menemukanmu," kata Ziel, setelah berhasil mendudukan Gloria di atas ranjang.
"Memangnya mereka ada di mana?"
"Mereka semua sedang sarapan, jadi jangan banyak tanya."
Tanpa membuang waktu, Ziel langsung mengangkat tubuh Gloria dan berjalan ke arah jendela. Tempat yang dijadikan Gloria sebagai pintu masuk.
"Sekarang kamu harus mengikuti semua perkataanku. Tidurlah di bawah tanaman itu, nanti aku ke sana dan memberitahu semua orang bahwa aku berhasil menemukanmu," jelas Ziel seraya menunjuk tanaman hias yang berjajar setinggi paha orang dewasa.
"Tapi bagaimana kalau ada semut atau ulat bulu?" tanya Gloria dengan nada merengek.
Dan Ziel tidak menerima alasan apapun, dia langsung membekap mulut Gloria. "Tidak ada, tanaman itu sangat terawat. Lagi pula aku tahu kamu tidak takut dengan hewan-hewan itu."
Mata Gloria langsung memancarkan binar merayu. Akan tetapi kali ini usahanya tidak membuahkan hasil, karena dengan cepat Ziel mengangkat tubuh Gloria untuk melewati jendela kamarnya.
"Laksanakan tugas dariku, atau aku tidak akan berbicara denganmu selama dua hari!" ancam Ziel saat melihat wajah Gloria yang tertekuk.
"Iya-iya, kalau begitu cium dulu!" tawar Gloria sambil memonyongkan bibir.
Tak ingin mengulur waktu, Ziel langsung mengecup benda ranum itu beberapa kali, hingga menghasilkan senyum merekah di bibir Gloria.
"Karena sudah mendapatkan asupan, Hamba pamit undur diri, Tuan," ucap Gloria dengan nada bercanda, dia membungkukkan badan dan siap untuk bersembunyi di balik tanaman.
Melihat itu Ziel hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala. Ya, dia tidak tahu kenapa dia bisa menyukai gadis seabsurd Gloria.
Gloria mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda bahwa dia sudah berhasil sembunyi dan siap berpura-pura tidur di sana. Lantas setelah itu, Ziel langsung menutup jendela dan keluar dari kamar.
Selena melihat sekilas tubuh Ziel yang melangkah ke arah teras rumah.
Dan dia bisa menebak, Gloria belum ditemukan putranya. Rasa cemas di hati Selena semakin menggunung, hingga dia tidak bisa duduk dengan tenang.
"Sepertinya kita memang harus ikut mencari Glor," cetus Selena, membuat Malvin dan Amanda langsung mengangkat kepala.
Amanda ingin menyahuti ucapan ibu kandung dari kakak sulungnya, tetapi mereka semua malah mendengar teriakan Ziel yang katanya sudah berhasil menemukan Gloria.
Sontak saja ketiga orang itu langsung berlalu dari meja makan. Mereka menghampiri Ziel yang sedang berpura-pura membangunkan Gloria.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Gloria, seolah tak tahu apa-apa. Dia juga menguap, agar semua orang percaya kalau dia baru bangun tidur.
"Glor? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Selena dengan terperangah. Sementara Gloria langsung melihat keadaan sekitarnya.
"Sepertinya dia mengigau, Sayang. Lihat, buktinya dia kebingungan," jawab Malvin sesuai dugaannya.
"Hehe ...." Gloria tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya. "Sepertinya begitu, semalam aku bermimpi mengejar pria yang aku suka. Mungkin karena itu, aku jadi tidak sadar keluar dari kamar."
Tanpa diduga Selena langsung menghambur ke arahnya. Gloria dipeluk, karena Selena merasa lega. "Syukurlah kamu tidak apa-apa. Mamah hanya takut kamu benar-benar pergi dan bertemu orang jahat."
Melihat itu, Ziel juga merasakan kelegaan yang sama, karena akhirnya semua orang tidak ada yang curiga.
Padahal sedari tadi ada Amanda yang terus mengerutkan dahinya.
***
Jam ngunti😝😝