Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Rumah Pelita berdiri di pinggir jalan kecil yang hampir tertelan proyek gudang.
Bangunannya tua, catnya mengelupas, halamannya sempit tetapi bersih. Di papan depan tertulis Yayasan Pelita Anak Mandiri. Hurufnya pudar, namun masih terbaca. Anak-anak kecil berlari di halaman, beberapa memakai seragam sekolah negeri. Seorang ibu tua menyapu teras sambil memperhatikan mobil Alya berhenti.
Alya datang bersama Rafi dan Raka. Raka bersikeras ikut. Ia bahkan membatalkan dua rapat dan menyerahkan urusan kantor kepada sekretarisnya.
"Kalau ini menyangkut Mama Nadira, aku ikut," katanya.
Alya tidak melarang.
Mereka disambut oleh pengurus yayasan bernama Bu Ratna, perempuan berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah tegas. Begitu mendengar nama Nadira Maheswari, matanya berubah.
"Kalian keluarga Bu Nadira?"
Alya mengangguk. "Saya putrinya."
Bu Ratna menatap Alya lama, lalu matanya basah. "Mirip sekali."
Raka menunduk sedikit. Ia jarang mendengar orang luar menyebut ibunya dengan rasa hormat seperti itu.
Bu Ratna membawa mereka ke ruang tamu kecil. Dindingnya penuh foto anak-anak dan kegiatan lama. Di salah satu foto, Alya melihat perempuan muda berambut panjang tersenyum sambil menggendong bayi. Nadira. Di sampingnya berdiri Eyang Laras yang masih lebih muda, dan seorang pria yang wajahnya sebagian tertutup bayangan.
Alya menunjuk foto. "Siapa pria itu?"
Bu Ratna menoleh, lalu ragu. "Saya tidak tahu namanya. Dulu dia datang bersama Bu Nadira beberapa kali. Orangnya... berpengaruh."
"Berpengaruh bagaimana?"
"Semua orang menuruti dia. Tapi Bu Nadira tidak."
Raka mendekat ke foto. "Papa pernah datang ke sini?"
Bu Ratna menggeleng. "Pak Baskara? Tidak pernah."
Alya menatap Raka. Itu berarti masa lalu Nadira punya lingkaran lain, bukan hanya Wiratama.
Bu Ratna membuka lemari tua dan mengeluarkan kotak arsip. "Saya tidak tahu apakah ini yang kalian cari. Bu Laras pernah menitipkan beberapa salinan dokumen di sini. Katanya kalau suatu hari cucunya datang, berikan."
Dada Alya menegang.
Eyang sudah menyiapkan jalan, tetapi tidak memberi tahu.
Di dalam kotak ada laporan donasi, daftar anak asuh, catatan medis, dan beberapa surat. Sebagian berkop Yayasan Melati Merah.
Melati Merah.
Nama itu belum pernah Alya dengar, tetapi simbol di kop surat membuat tangannya berhenti. Bunga berkelopak tajam. Hampir sama dengan tanda di foto lama Eyang, hanya versi lebih awal.
Rafi memotret dokumen satu per satu.
Raka membaca cepat. "Ini bukan yayasan anak biasa. Ada catatan pemeriksaan kesehatan, program nutrisi, bahkan data darah."
Bu Ratna menjawab pelan, "Dulu Bu Nadira membantu anak-anak sakit. Banyak yang tidak punya biaya. Kami kira yayasan itu lembaga medis donor."
"Lalu?"
"Beberapa tahun kemudian, ada anak yang dibawa untuk pemeriksaan lanjutan dan tidak kembali tepat waktu. Bu Nadira marah besar. Setelah itu dia berhenti datang bersama yayasan itu. Dia tetap membantu kami secara pribadi sampai..." Bu Ratna berhenti. "Sampai beliau meninggal."
Alya membuka salah satu surat.
Tulisan tangan Nadira.
Laras, aku mulai takut. Mereka tidak hanya meneliti penyakit. Mereka meneliti batas manusia. Kalau terjadi sesuatu padaku, lindungi anakku.
Tangan Alya terasa dingin.
Raka membaca kalimat itu dari samping. Wajahnya kehilangan warna.
"Ini maksudnya apa?" suaranya serak.
Alya tidak menjawab.
Rafi tiba-tiba menoleh ke jendela. "Ada orang."
Belum sempat mereka bergerak, terdengar teriakan dari halaman.
"Api!"
Asap hitam muncul dari bangunan samping tempat arsip lama disimpan. Anak-anak berteriak. Bu Ratna langsung berlari keluar.
Rafi menarik Alya. "Keluar."
"Kotaknya."
"Aku ambil."
Raka sudah lebih dulu mengangkat kotak arsip. "Aku bawa. Kamu keluar."
Mereka berlari ke halaman. Api menyala dari gudang kecil, terlalu cepat untuk kebakaran biasa. Bau bensin jelas tercium.
Seorang pria berjaket hitam terlihat melompat pagar belakang.
Rafi mengejarnya.
Alya ingin ikut, tetapi anak-anak masih panik. Ia membantu Bu Ratna membawa mereka menjauh dari bangunan. Raka menelepon pemadam dan polisi, lalu membantu memindahkan tabung gas dari dapur.
Beberapa menit terasa panjang.
Rafi kembali dengan tangan kosong. "Dia kabur. Tapi aku dapat ini."
Ia menunjukkan kain kecil yang sobek dari jaket pria itu. Di kain ada logo perusahaan keamanan.
Raka mengenali logo itu. "Itu vendor yang pernah dipakai keluarga Santoso."
Alya menatap api yang mulai dipadamkan warga.
Santoso lagi.
Terlalu sering.
Atau terlalu sengaja.
Bu Ratna menghampiri Alya dengan wajah pucat. "Kenapa ada yang membakar tempat ini setelah kalian datang?"
"Karena ada yang tidak ingin dokumen itu keluar."
"Dokumen apa?"
Alya menatap kotak di tangan Raka.
Masa lalu ibunya, Eyang, dan Melati Merah kini bukan lagi bisikan. Ada bukti. Ada nama. Ada jaringan.
Sebelum mereka meninggalkan Rumah Pelita, seorang anak kecil menarik ujung baju Alya.
"Kak, ini jatuh dari orang yang lari tadi."
Anak itu menyerahkan kancing logam kecil.
Di permukaannya ada ukiran bunga.
Bukan melati.
Bunga itu lebih mirip camellia.
Rafi melihatnya dan berkata pelan, "Ini bukan logo Santoso."
Alya menggenggam kancing itu.
Untuk pertama kalinya, nama yang belum ia tahu terasa seperti bayangan besar di belakang semua musuh kecilnya.
Malam itu, mereka membawa kotak arsip ke kantor Raka, bukan rumah Wiratama. Raka meminta ruangan server dikunci. Rafi memindai dokumen. Alya membaca surat demi surat.
Salah satu surat berisi nama seorang dokter: dr. Mahendra Wibisono.
Di bawah nama itu tertulis catatan Nadira.
Dia tahu terlalu banyak. Kalau dia hilang, cari istrinya.
Raka mencari nama itu di database publik. Hasilnya muncul cepat.
dr. Mahendra Wibisono meninggal dalam kecelakaan tunggal tujuh belas tahun lalu.
Istrinya, Sulastri Wibisono, masih hidup.
Alamat terakhir: Rumah Pelita lama, lalu pindah ke panti jompo swasta.
Alya menutup map.
"Besok kita temui istrinya."
Raka menatapnya. "Kamu belum tidur hampir dua hari."
"Aku tidur setelah tahu kenapa orang-orang membakar masa lalu ibuku."
Raka ingin membantah, tetapi ponselnya berbunyi.
Sekretarisnya mengirim pesan panik: kantor didatangi audit internal mendadak atas perintah Baskara.
Raka menghela napas panjang.
Alya menatapnya. "Mas ke kantor."
"Kamu?"
"Aku ke panti jompo."
"Tidak sendiri."
Rafi menjawab sebelum Alya, "Tidak akan."
Raka menatap Rafi dengan curiga, lalu akhirnya mengangguk.
Perang kini punya dua medan.
Raka menjaga perusahaan.
Alya mengejar kebenaran.
Sebelum mereka berpisah, Bu Ratna memanggil Alya dari pintu panti. Perempuan itu menyelipkan selembar kertas kecil ke tangan Alya, gerakannya cepat seperti takut dinding ikut membaca.
"Dulu ada sopir yang sering datang membawa amplop untuk Bu Nadira," bisiknya. "Namanya Harjo. Saya tidak tahu dia masih hidup atau tidak. Tapi kalau ada orang yang tahu perjalanan Bu Nadira sebelum melahirkan, mungkin dia."
Alya menggenggam kertas itu. Ada alamat lama di Cibubur, ditulis dengan tinta pudar.
"Kenapa tidak bilang di dalam?"
Bu Ratna menatap jalan sepi di depan panti. "Karena setelah kamu datang, ada motor yang lewat tiga kali."
Rafi langsung melihat ke arah ujung gang.
Alya memasukkan kertas itu ke dompet.
Kebenaran ternyata bukan pintu yang terbuka.
Ia lebih mirip lorong sempit, dan setiap langkah membuat suara di belakang mereka semakin dekat.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔