Nezia, yang telah menjalin hubungan serius selama bertahun-tahun dengan Dito, bahkan hubungan keduanya akan segera diresmikan dalam sebuah ikatan pernikahan, tak menyangka bahwa semua ini harus dia alami.
Sebuah kenyataan pahit menampar wajah Nezia ketika di hari dirinya fitting baju pengantin, gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ternyata lelaki yang sangat dicintainya berselingkuh dengan seseorang yang sangat dia kenal.
"Tega kamu, Bang!" seru Nezia yang memergoki calon suaminya, seraya menampar keras pipi Dito.
"Nez, ini tidak seperti yang kamu lihat, Nez! Aku bisa jelasin semua!" Dito berlari mengejar Nezia.
Akankah pernikahan keduanya tetap berlanjut?
Simak kisah Nezia, dalam Novel ; HOPELESS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segera dinikahkan
"InsyaAllah bentar lagi, Mas," balas Faris, yakin.
Ya, Faris merasa yakin bahwa dirinya akan bisa segera menikahi gadis yang pernah ditolongnya itu setelah mendengar sendiri jawaban Nezia atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Daddy Rehan.
Tak ada salahnya, jika Faris mulai memupuk rasa bahagia itu apalagi sepertinya keluarga sang gadis juga menerima kehadiran pemuda tersebut dengan sangat baik, terutama Abraham, kakak kandung Nezia.
"Ya sudah, perpanjang saja sewa kamar ini sekalian untuk bulan madu Inez dan Faris. Gue akan sewa 𝘩𝘢𝘭𝘭-nya untuk acara resepsi, lusa," tegas Daddy Rehan, membuat semua orang saling pandang, bingung dan terkejut.
Berbeda dengan Faris, senyuman pemuda itu mengembang sempurna menghiasi wajah ganteng pemuda asal kota kembang tersebut.
"Rey, Inez itu anak gue! Kenapa jadi lu yang ngambil keputusan seenak udel lu, gitu!" protes Ayah Alex, membuat Faris mengerutkan dahi.
Senyum di wajah ganteng Faris perlahan menghilang. 'Haruskah cintaku layu sebelum berkembang?' batin Faris bertanya pada diri sendiri.
Pemuda itu menundukkan kepala, wajahnya terlihat lesu dan tak bersemangat. Tidak seperti beberapa detik yang lalu, dimana Faris begitu bahagia mendengar suara Nezia yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.
Yoga menepuk pelan punggung Faris seraya berbisik. "Jangan khawatir ... aku yakin, Om Alex pasti akan memberikan restunya," hibur bos Faris tersebut.
Faris mengangguk, pasrah. Apapun yang akan dia dengar nantinya, pemuda itu tengah menyiapkan hati agar jangan sampai kecewa karena terlalu berharap pada keputusan manusia.
Sejenak keheningan tercipta di sana.
'Kupasrahkan semua pada-Mu, Ya Rabb. Aku tahu, aku salah karena sempat memupuk harapan pada manusia. Kini, aku kembalikan semuanya pada-Mu. Engkau yang Maha Kuasa atas segalanya, Engkau-lah Sang Pemilik hati, maka kusandarkan hati dan asa ini pada-Mu.'
"Punya anak perempuan itu tidak mudah untuk menjaganya, Lex." Suara Daddy Rehan, mengurai keheningan dan membuat Faris mengangkat dagu menatap pakdhenya Nezia tersebut.
"Tidak mudah mencarikan anak-anak gadis kita pasangan yang tepat, yang bisa membahagiakan anak kita di dunia dan membawanya hingga ke Syurga-Nya. Kita memang diwajibkan untuk berdo'a agar Allah memberikan pasangan yang tepat untuk anak kita, tetapi kita juga wajib berusaha bukan?" Daddy Rehan menatap dalam netra Ayah Alex.
"Kegagalan Inez bisa kamu jadikan pelajaran, Lex. Kita tak pernah tahu bagaimana kedalaman hati manusia. Siapa yang mengira, orang yang selama ini kita anggap baik, nyatanya telah tega menusuk dari belakang?" Sejenak Daddy tampan itu menghentikan ucapannya, beliau menatap ke arah Faris.
Daddy tampan itu tersenyum pada Faris, yang wajahnya sedikit memucat karena rasa khawatir.
"Orang asing yang tiba-tiba saja hadir dan membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang baik, bisa jadi adalah jawaban dari do'a-do'a kita untuk anak-anak. Do'a agar Allah memberikan jodoh yang sholeh bagi anak gadis kita."
Ayah Alex mengangguk, membenarkan.
"Nah, Ketika sudah ada pemuda yang mau dengan anak gadis kita dan pemuda itu memenuhi kriteria yang kita idamkan, tunggu apa lagi?" Kembali Daddy Rehan menatap sahabat, saudara, sekaligus asistennya itu.
"Hem ... ceramah besan gue itu benar adanya, Lex," timpal Om Devan seraya melirik Daddy Rehan. "Gak rugi gue nerima dia jadi besan," lanjutnya yang kemudian terkekeh.
Opa Alvian geleng-geleng kepala mendengar candaan Om Devan yang enggak jelas tersebut.
"Dasar, besan absurd," gerutu Daddy Rehan, membuat Om Devan semakin terkekeh.
Sementara Mirza hanya bisa senyum-senyum melihat kelakuan konyol sang papa mertua. 'Untung istri gue enggak kayak Papa Dev.'
"Gue setuju dengan Rehan, Lex. Nak Faris sudah terbukti pemuda yang baik dan Inez juga suka 'kan, sama dia? Udah, nikahin aja secepatnya," timpal Opa Alvian.
"Iya, gue juga setuju, Bang, tapi apa enggak terlalu cepat?" tanya Ayah Alex seraya menatap ketiga sahabatnya bergantian.
"Ingat slogan kita, Lex. Lebih cepat lebih baik, agar kita bisa mendapatkan tender lain yang lebih besar nilainya," balas Daddy Rehan penuh semangat, seperti ketika sedang ikut tender yang berskala internasional.
"Asal, untuk masalah yang lainnya jangan cepat-cepat, karena istri-istri kita pasti tidak akan menyukai itu," lanjutnya seraya terkekeh.
Bu Nisa yang paham ke mana arah pembicaraan Daddy Rehan, tertunduk malu.
Sementara yang lain tersenyum seraya geleng-geleng kepala, termasuk Yoga dan Duta.
Hanya Nezia dan Faris yang mencuri-curi pandang dan mengabaikan candaan absurd Daddy Rehan.
"Jadi, gimana? Kapan, mereka akan dinikahkan?" tanya Om Devan, kemudian.
"Ya, itu tadi seperti yang dikatakan Rehan," balas Ayah Alex yang kemudian setuju dengan usul sahabatnya tersebut.
"Dia 'kan yang menawarkan diri mau nyewa 𝘩𝘢𝘭𝘭?" lanjutnya seraya menatap Daddy Rehan.
Daddy Rehan mengangguk. "Siap."
"Kalau gitu, gue yang akan bayar sewa kamarnya selama seminggu ke depan," tutur Om Devan.
"Sisanya gue yang akan urus," timpal Opa Alvian.
"Om, jadi ... serius Faris dan Inez akan segera dinikahkan?" tanya Duta, memastikan.
"Iya," balas Ayah Alex. "Kamu enggak keberatan 'kan, Ris?"
"I-iya, Faris siap," balas Faris dengan sedikit gugup.
"Wah, selamat ya, Ris," ucap Yoga dan Duta bersamaan. Kedua pemuda yang merupakan atasan Faris di kantor itu tiba-tiba mencium pipi pemuda tersebut secara bersamaan, kompak dan seperti dikomando.
Yoga mencium pipi kanan Faris, sementara Duta mencium pipi kiri pemuda tersebut, hingga membuat semua orang melongo.
"Mas Duta, Mas Yoga ... apa-apaan, sih! Sungguh tega, ya! Kalian telah merenggut keperjakaanku yang aku jaga selama ini!" omel Faris yang merasa malu karena diperlakukan seperti anak kecil.
☕☕☕☕☕ bersambung ...