Dua persahabatan yang selalu bersama dan saling berbagi tidak pernah terpisah sama sekali.
Vinvin dan Howard adalah sahabat yang sangat akrab dan mesra melebihi sepasang kekasih. gadis itu dikenal sangat ceria dan selalu mendukung Howard selama ini. akan tetapi ia memendamkan rasa suka terhadap sahabatnya itu.
Howard yang memiliki seorang kekasih, hubungan mereka akhirnya kandas karena kecemburuan terhadap hubungan Howard dan Vinvin..
Bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya, apakah Howard yang begitu perhatian terhadap Vinvin hanya sebatas persahabatan atau memiliki perasaan yang sama terhadap gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Promo novel
Cuplikan bab
Mansion keluarga Yang.
Di ruang tamu mewah itu, Alex duduk bersama keluarganya. Wajahnya masih muram, sementara suasana seakan penuh dengan ketegangan.
"Alex, kapan wanita itu akan bercerai denganmu? Apakah dia sengaja menunda? Sepertinya yang dia inginkan hanya harta kita," tanya Candy, ibunya, dengan nada penuh curiga.
Alex menghela napas, menatap ibunya dengan lelah.
"Ma, beri waktu untuk Janetta. Dia sedang berduka," jawabnya pelan.
Candy mendengus kesal.
"Berduka tidak bisa dijadikan alasan menunda perceraian."
Jessie, adiknya, langsung menyambar.
"Kakak, dia hanya mencari alasan dan simpati. Dia ingin membuatmu kembali padanya!" ujarnya sinis.
Anna, yang juga hadir di sana, mencoba meredakan.
"Bibi, Jessie, jangan memaksa Alex. Benar katanya, Janetta masih berduka. Dan saat ini… dia tidak tahu tinggal di mana. Tempat tinggalnya sudah dibakar habis. Mungkin dia sedang terpuruk."
Jessie melipat tangan di dada, wajahnya penuh kepuasan.
"Biarkan saja! Itu balasan karena dia menantang kita. Lagi pula kedua orang tuanya adalah kampungan, dan manusia rendahan."
"Jessie, jaga mulutmu! Jangan asal bicara. Setidaknya kau harus menghormati orang yang sudah meninggal," ujar Alex, suaranya meninggi.
Jessie menatap kakaknya dengan sinis.
"Mereka tidak layak dihormati, Kakak. Sejak kapan Kakak peduli pada mereka?"
Suasana tiba-tiba hening.
Tiba-tiba suara wanita terdengar dari pintu, dingin dan menusuk.
"Ternyata semuanya sudah berkumpul."
Semua kepala menoleh, terlihat Janetta melangkah masuk dengan pakaian hitam sederhana namun penuh wibawa. Wajahnya dingin, matanya tajam, penuh kebencian yang terpendam.
"Akhirnya kau datang juga. Aku mengira kau sedang menangis dan bersembunyi," sindir Jessie sambil tersenyum sinis.
"Bersembunyi? Aku tidak melakukan kesalahan, untuk apa bersembunyi?" Janetta berjalan anggun ke tengah ruangan, lalu meletakkan map tebal berisi dokumen di meja. "Aku justru datang untuk bercerai dengan kakakmu," katanya datar.
Dengan gerakan cepat, ia mendorong dokumen perceraian itu ke depan Alex.
"Tanda tangan. Dan aku ingin bagianku. Jangan coba-coba menolak!" ucap Janetta, lalu duduk di sofa, menyilangkan kaki dengan angkuh.
Candy berdiri sambil menunjuk tajam.
"Tidak tahu malu! Kau datang dengan tangan kosong dan berani meminta harta kami. Tidak cukupkah kau makan dan tidur gratis di rumah ini?"
Janetta tersenyum miring, penuh ejekan.
"Rumah ini dan semua yang ada di sini, termasuk perusahaan, semua dariku. Aku yang mengeluarkan tenaga dan uang untuk mengembangkan bisnis ini. Kalian hanya segelintir semut yang tidak berguna."
Alex menatapnya dengan heran.
"Janetta, itu tidak mungkin. Harta ini milikku, bukan milikmu."
Janetta berdiri perlahan, tatapannya tajam menusuk.
"Sepertinya kalian tidak bisa diajak bicara baik-baik."
Ia menoleh ke arah pintu.
"Masuk!" perintahnya dengan suara lantang.
Pintu terbuka, beberapa pria berpakaian serba hitam masuk dengan langkah tegas. Dalam hitungan detik, mereka menahan tangan Jessie, Candy, dan Anna, membuat ketiganya berteriak panik.
"Janetta! Siapa mereka? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Alex yang berdiri dari sofa, wajahnya tegang.
Janetta melangkah perlahan ke depan, lalu mengeluarkan pisau tajam berkilau dari balik mantel hitamnya. Senyumnya dingin, penuh kebencian.
"Alex Yang, anakku meninggal karena kau bunuh. Kedua orang tuaku meninggal karena ulah mereka. Aku yang sekarang… tidak peduli lagi. Aku hanya ingin mengambil semua yang menjadi milikku."
Ia mendekat ke Jessie yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman. Pisau itu nyaris menyentuh leher adiknya.
"Tanda tangan, atau aku potong jari adik kesayanganmu," ancam Janetta dengan suara rendah namun menusuk, membuat semua orang di ruangan itu terdiam ngeri.
Judul : Luka Dari Suami, Cinta Dari Mafia