Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Arief resmi mengambil alih divisi hari ini. Pak Dharma akan diproses hukum.
Pesan Jason itu seharusnya membuat Keira lega.
Ia duduk di sofa kecil kamar Villa Awan, ponsel di pangkuan, rambut belum disisir rapi. Di luar jendela, pagi Menteng bergerak seperti biasa. Mobil lewat pelan, tukang kebun menyiram tanaman, dapur menyiapkan bubur ayam tanpa terlalu banyak kecap karena Richard sudah memberi instruksi.
Semuanya normal.
Tubuh Keira tidak.
Tangannya masih terasa dingin sejak mendengar kalimat Pak Dharma semalam. Pinjam Keira dua hari. Kata-kata itu kotor, tetapi yang membuatnya mual bukan hanya kotornya. Yang membuatnya mual adalah betapa mudah pria itu mengucapkannya, seolah tubuh perempuan hanya benda yang bisa dipindahkan dari satu meja ke meja lain.
Keira pernah mendengar sesuatu yang mirip.
Bukan dari Pak Dharma.
Dari Kevin.
Saat itu mereka masih bertunangan. Di sebuah makan malam keluarga Ong, seorang rekan bisnis mabuk menatap Keira terlalu lama dan mengomentari pinggangnya. Keira menghindar, lalu mengatakan pada Kevin di mobil bahwa ia tidak nyaman. Kevin hanya tertawa.
"Orang bisnis memang begitu. Dilecehkan sedikit itu biasa saja. Kamu jangan terlalu drama."
Keira dulu diam.
Dalam mimpi profetik, ia diam terlalu lama sampai semua orang mengira diamnya adalah izin.
Pintu kamar diketuk dua kali.
"Keira."
Richard.
Ia tidak menjawab langsung. Ia berdiri, berjalan ke pintu, lalu membukanya. Richard sudah berganti kemeja gelap. Noda merah semalam hilang. Tangannya bersih. Wajahnya juga bersih, terlalu tenang untuk pria yang baru menghancurkan karier seseorang dan mungkin lebih dari itu.
"Sarapan."
Keira menatapnya.
Ia tahu adegan seperti apa yang harus dimainkan. Gadis yang ketakutan. Anak angkat yang hampir dipermalukan. Perempuan muda yang membutuhkan pelindung. Semua itu benar dan tidak benar sekaligus.
Tetapi ketika melihat Richard berdiri di depan pintunya, bagian dirinya yang paling lelah tiba-tiba tidak ingin menghitung.
Ia mengangkat kedua tangan.
"Om..."
Richard diam.
Keira tidak menurunkan tangan. Suaranya lebih kecil. "Peluk..."
Sesuatu bergerak di mata Richard.
Detik berikutnya, ia masuk dan menarik Keira ke pelukannya.
Tidak seperti sentuhan hati-hati sebelumnya. Kali ini pelukannya penuh, kuat, menutup seluruh ruang di sekitar Keira. Satu tangan menahan punggungnya, tangan lain menekan kepala Keira ke dada. Keira mencium aroma kopi hitam, sabun mahal, dan sedikit logam dingin dari jam tangan Richard.
Ia menutup mata.
Air mata jatuh.
Awalnya, air mata itu bagian dari rencana. Keira tahu Richard tidak tahan melihatnya menangis. Ia tahu tubuh yang bergetar di pelukan pria itu akan membuat rasa bersalah dan protektif bercampur menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Tetapi setelah isak pertama keluar, isak kedua bukan akting.
"Aku kotor, ya?" bisiknya.
Richard membeku.
"Apa?"
"Orang seperti Pak Dharma... Kevin juga dulu bilang begitu. Katanya kalau ada pria bicara seperti itu, saya jangan lebay. Katanya dilecehkan sedikit biasa saja."
Tangan Richard di punggungnya menegang.
Keira merasakan perubahan itu dan menangis lebih pelan, bukan lebih keras. Tangisan yang pelan sering lebih menusuk daripada jeritan.
"Saya tahu saya sengaja mengumpulkan bukti. Saya tahu saya tidak benar-benar tidak berdaya. Tapi saat mendengar dia bilang begitu ke Ko Jason..." Suaranya patah. "Saya tetap merasa seperti barang."
"Kamu bukan barang."
"Tapi mereka bicara seperti saya barang."
"Mereka akan membayar."
"Pak Dharma sudah."
"Kevin belum."
Keira mengangkat wajah sedikit. Matanya basah. "Om marah pada Kevin?"
"Aku marah pada semua orang yang pernah membuatmu berpikir kamu pantas diperlakukan begitu."
Kalimat itu masuk terlalu dalam.
Keira tidak siap.
Ia ingin menjawab dengan kalimat yang tepat, sesuatu yang bisa membuat Richard makin masuk perangkap. Tetapi lidahnya kosong. Yang keluar hanya napas bergetar.
Richard menatapnya lama, lalu duduk di sofa karena Keira masih memeluknya. Ia mungkin bermaksud membuat Keira duduk di sampingnya. Namun Keira, entah karena lemah atau sengaja atau keduanya, jatuh ke pangkuannya.
Udara berhenti.
Keira duduk di atas paha Richard, kedua lututnya di sisi tubuh pria itu, tangan masih mencengkeram kemejanya. Posisi itu terlalu dekat. Terlalu dewasa. Terlalu jauh dari alasan paman dan anak sahabat.
Richard langsung memegang pinggangnya, hendak memindahkan.
Keira menahan kemejanya lebih kuat.
"Sebentar saja."
"Keira."
"Om, sebentar saja."
Ia menyembunyikan wajah di lekuk leher Richard.
Richard tidak memindahkannya.
Satu detik.
Lima detik.
Lalu tangannya yang semula kaku mulai bergerak di punggung Keira, pelan, naik turun, seperti menenangkan anak kecil. Tetapi tubuh Keira bukan tubuh anak kecil, dan Richard terlalu sadar akan hal itu. Setiap gerakan telapak tangannya melewati kain tipis baju rumah Keira. Setiap napas Keira jatuh hangat di lehernya.
"Kamu aman di sini," kata Richard.
"Sampai kapan?"
"Selama aku ada."
"Kalau Om pergi?"
"Aku tidak pergi."
"Semua orang bisa pergi."
Richard menunduk. "Kei."
Nama itu keluar untuk pertama kali dari mulutnya dalam bentuk yang berbeda.
Keira berhenti menangis.
Ia tidak mengangkat wajah. Kalau ia mengangkat wajah sekarang, Richard mungkin akan melihat sesuatu yang terlalu tajam di matanya. Kei. Panggilan itu milik Engkong, milik Papa, milik orang yang menyayanginya tanpa syarat. Ketika Richard mengucapkannya, Keira merasa satu pintu yang ia kira terkunci tiba-tiba terbuka dari dalam.
"Om jangan panggil begitu kalau tidak serius," bisiknya.
Richard tidak menjawab cepat.
Tangannya berhenti di punggung Keira.
"Aku tidak main-main dengan namamu."
Air mata Keira jatuh lagi.
Kali ini ia tidak tahu untuk siapa air mata itu.
Richard menyentuh sudut matanya dengan ibu jari.
Sentuhan itu sangat singkat, tetapi membuat napas Keira berhenti. Ia pernah disentuh banyak orang dengan maksud berbeda. Pak Dharma dengan licik, Kevin dengan rasa memiliki yang dangkal, keluarga besar dengan tangan yang selalu menimbang untung rugi. Sentuhan Richard berbeda. Ia seperti takut menambah luka, tetapi lebih takut membiarkannya sendirian.
"Kalau aku bilang aku tidak kuat," bisik Keira, "Om akan percaya?"
"Aku tidak butuh kamu kuat di depanku."
"Tapi Om menyukai orang kuat."
"Aku menyukai kamu hidup."
Keira menatapnya.
Kalimat itu terlalu sederhana, hampir kasar, tetapi menabrak semua pertahanan. Hidup. Bukan cantik, bukan berguna, bukan pintar memainkan papan. Richard tidak berkata ia menyukai Keira. Ia juga tidak berkata ia mencintai. Tetapi ia memilih kata hidup, dan Keira tahu mengapa kata itu membuat dadanya sakit.
Dalam mimpi profetik, ia mati.
Di sini, Richard memeluknya seolah hidupnya adalah perintah yang tidak boleh dibantah.
Mereka duduk seperti itu lama sekali. Di luar kamar, staf tidak berani mengetuk meski sarapan mulai dingin. Jason datang sekali ke ujung lorong, melihat pintu kamar yang setengah terbuka, lalu berbalik tanpa suara. Ia menulis satu pesan ke Richard, kemudian menghapusnya lagi.
Di dalam kamar, Keira perlahan berhenti terisak. Napasnya menempel di leher Richard dengan ritme yang lebih teratur. Tangannya mengendur di kemeja pria itu, tetapi tubuhnya tetap berada di pangkuan Richard.
Richard menatap jendela.
Ia tidak pernah membenci tubuhnya sendiri seperti saat itu.
Ada gadis yang baru saja dihina, disakiti, dibuat merasa kotor. Ia seharusnya hanya melindungi. Seharusnya hanya menjadi tangan yang stabil. Tetapi tubuhnya bereaksi pada berat Keira di pangkuannya, pada aroma rambutnya, pada cara jari perempuan itu mencengkeram kain di dadanya.
Ia menutup mata.
"Keira."
"Hm?"
"Kamu harus sarapan."
"Sebentar lagi."
"Sekarang."
Keira akhirnya mengangkat wajah. Matanya sembap, hidungnya merah, tetapi bibirnya terlalu dekat. Richard bisa melihat butir air mata kecil di sudut mulutnya.
Ia hampir mengangkat tangan untuk menghapusnya.
Hampir.
Keira melihat gerakan yang tertahan itu.
Ia tahu, jika ia sedikit saja mendekat, Richard mungkin akan mundur. Atau justru tidak. Dua kemungkinan itu sama-sama membuat darahnya bergerak lebih cepat. Ia menurunkan pandangan ke bibir Richard, hanya sepersekian detik, cukup singkat untuk disebut tidak sengaja, cukup lama untuk membuat napas pria itu berubah.
"Om," bisiknya.
"Jangan."
Suara Richard serak.
Keira berkedip seperti tidak mengerti. "Saya belum bilang apa-apa."
"Aku tahu."
Mereka saling menatap dalam jarak yang tidak pantas untuk dua orang yang masih memakai panggilan paman. Di luar, suara roda troli sarapan lewat pelan, lalu menjauh lagi karena staf memilih menyelamatkan diri.
Keira turun dari pangkuannya lebih dulu.
Begitu berat tubuhnya hilang, Richard merasakan ruang di lengannya kosong dengan cara yang memalukan. Ia berdiri terlalu cepat.
"Aku tunggu di bawah."
Keira mengangguk, terlihat patuh.
Ketika pintu tertutup, ia menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya masih kacau.
Di meja makan, sepuluh menit kemudian, Richard tidak banyak bicara. Keira duduk di hadapannya dengan mata sembap, memegang sendok bubur seperti anak patuh. Jason berdiri di sisi ruangan, melaporkan bahwa Arief sudah siap masuk divisi dan laporan hukum Pak Dharma akan diajukan siang nanti.
"Pastikan Siska dilindungi sebagai saksi," kata Richard.
"Sudah, Boss. Namanya tidak akan muncul di memo umum."
Keira mengangkat wajah. "Terima kasih."
Jason mengangguk kaku. Sejak melihat adegan di kamar, ia tampak seperti orang yang sedang menyusun ulang seluruh definisi pekerjaannya.
Richard mendorong lauk kecil ke dekat mangkuk Keira. "Makan."
Keira menatap lauk itu, lalu Richard. "Om juga belum makan."
"Aku nanti."
"Kalau Om sakit, siapa yang menjaga saya?"
Kalimat itu membuat Jason menatap tablet lebih serius dari seharusnya.
Richard mengambil sumpit.
Keira menunduk, menyembunyikan senyum lemah.
Richard masuk ke kamar mandi pribadinya, membuka shower air dingin sampai maksimal, dan berdiri di bawahnya selama dua jam.
Air membuat kulitnya nyaris kebas.
Tetapi pelukan Keira tetap tinggal.