NovelToon NovelToon
Kekasih Rahasia Supermodel

Kekasih Rahasia Supermodel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noeryanthi Kusnadii

- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-

Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.

Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

"Damar, ingat kondisimu. Kau akan mencarinya ke mana lagi? Ini sudah beberapa club malam, haruskah kita cari di seluruh penjuru club malam di kota ini?" Rio menggerutu karena sudah hampir 3 jam mereka berdua coba mencari Arundaya yang tadi ingin dijemput karena mabuk berat. Namun, masalahnya Arundaya tidak bilang di club malam mana.

"Kalau kau lelah, pulanglah. Aku masih ingin mencarinya," jawab Damar. Dia fokus dengan kemudinya, padahal kondisinya baru enakan, punggungnya saja menggunakan sling agar tidak terasa sakit.

"Dan membiarkanmu mencarinya sendiri? Tidak akan, papamu bisa membunuhku kalau aku melakukan itu," seru Rio.

"Kalau begitu diamlah, jangan terus bicara. Kau membuat konsentrasiku buyar." Tanpa peduli dengan ucapan Manajernya, Damar bersikeras untuk mencari Arundaya.

Dia bahkan memaksa pada Dokter untuk pulang, karena ingin mencari Arundaya. Dalam perjalanan mencari Arundaya, dia sesekali coba untuk menghubungi ponsel Arundaya, sampai panggilannya terjawab oleh seseorang dan langsung saja Damar menanyakan dia berada di club mana.

"Di mana dia?" tanya Damar pada salah satu petugas keamanan yang ada di club itu.

"Silakan masuk di lorong sebelah kiri, kamar nomor 2," jawabnya.

Damar segera masuk dan mencari Arundaya yang terlihat sedang mabuk berat di sisi tempatnya berdiri. Dia tidak peduli lagi dengan beberapa orang yang melihatnya aneh, dia hanya ingin menjemput Arundaya.

"Kita pulang," ajak Damar.

Namun, saat Damar akan menggendong Arundaya, dia mendorong tubuhnya pelan. Aroma alkohol tercium menyengat dari bibirnya.

"Pergilah, aku ti–dak bisa menjaga diriku. Aku mengingkari janji untuk menjadi lebih baik. Dia memaksaku—" Dengan kondisi mabuk, dia menjelaskan apa yang terjadi.

Tak ingin peduli dengan apa yang kekasihnya katakan, Damar tetap berusaha untuk menggendong. Sebelum menggendong di punggung, Damar memasangkan jaket yang dikenakan pada tubuh Arundaya.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Damar setelah berhasil membawa kekasihnya itu dalam gendongan.

"Aku bilang padanya untuk membayar hutangku, tapi dia memaksaku menemaninya. Maafkan aku, sayang ... aku sudah mengingkari janjiku." Arundaya mempererat pelukan dan bersembunyi pada punggung Damar.

"Apa kamu mau melaporkan tindakan ini?"

"Tidak, akan percuma. Aku juga yang bersalah, tolong maafkan aku. Masalah di masa laluku tidak juga selesai, tapi aku pantas mendapatkan perlakukan seperti karena aku memang seorang pelac*r kan?" Tangis dan tawa menjadi satu ketika dia menjelaskan apa yang dirasakan pada Damar.

"Tolong maafkan aku, sayang."

Tak ingin menjawab, Damar berjalan menuju mobil. Sesampainya di sana, segera dia membantu wanita cantik itu bersandar dengan kondisi mabuk berat.

"Maafkan aku, Damar. Kamu bisa memaki ku, tapi jangan pergi karena apa yang terjadi padaku."

"Sebaiknya kita pulang," pintanya pada Rio yang hanya diam.

Sepanjang jalan, Arundaya terus meminta maaf atas apa yang terjadi. Alex membuat dirinya mabuk, dan entah apa yang dilakukan pria bejat itu saat Arundaya tidak sadar.

Ingin Damar menghajar ataupun melaporkan tindakan orang yang membuat kekasihnya seperti ini, tapi dia ingin fokus pada Arundaya.

Perlahan tubuh kekasihnya baringkan dan menyelimuti sebagian tubuhnya. "Sayang, maafkan aku." Arundaya masih saja mengatakan kata maaf walau matanya sejak tadi terpejam.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Rio.

"Aku ingin Mas Cahyo membantu cari tau siapa yang membuatnya seperti. Atur apa yang menjadi masalah, dan jangan biarkan dia menemui Arundaya lagi," pinta Damar.

"Baik, Tuan."

"Jangan bilang pada Papa tentang ini, aku mohon. Ini tentang Arundaya, bukan diriku yang harus kau laporkan pada Papa. Bantu aku, tolong."

Cahyo mengiyakan apa yang tuannya katakan. Selama beberapa waktu dengan Damar, dia paham bagaimana tuannya itu. Kali ini dia ingin membantu dan tidak melaporkan pada Brata.

Jam menunjukkan pukul 4 saat Damar yang tidak bisa tidur menatap wajah pulas Arundaya. Dia berpikir apa yang sudah terjadi pada Arundaya tadi, walau tidak ingin mempermasalahkan keburukan Arundaya, namun ketika kekasihnya diperlakukan tidak baik, dia marah.

***

"Akh!" Rintihan lirih terdengar ketika Arundaya membuka mata. Efek mabuk sedang dia rasakan, cahaya matahari membuat matanya sakit. Sudah begitu terang, itu artinya dia melewatkan waktu untuk bekerja.

Dengan tergesa-gesa Arundaya bangun dari tempat tidurnya dan ketika akan melangkah, dia melihat kekasihnya sedang tidur dengan posisi duduk di sofa dekat tempat tidur.

Bayangan di mana Alex semalam terlintas, dia yang awalnya ingin menghampiri Damar, urung karena rasa bersalah. Meski tidak ingat apa yang terjadi semalam, tapi sepertinya hubungan badan itu tidak terjadi. Alex hanya mencumbu tubuhnya saja. Namun, dia ingat jika akan membayar hutangnya, padahal dia tidak memiliki uang untuk membayar hutang sebanyak itu.

"Akh!" Rintihan lirih terdengar dari mulut Damar ketika dia coba bergerak dan merasa pundaknya sakit. Dia saja baru pulang dari rumah sakit, tapi malah memaksa mencari Arundaya.

Perlahan mata Damar terbuka, dia coba menetralkan pandangannya sampai dia melihat Arundaya yang menatapnya sejak tadi.

"Kamu sudah bangun," ucapnya dengan suara serak lirih.

Arundaya yang masih menatap kekasihnya hanya diam dengan air mata sudah jatuh membasahi tanpa di minta. "Kemarilah," pinta Damar.

Langkah Arundaya mengarah pada kekasihnya, dia semaki terisak dan bersimpuh di kaki Damar yang masih duduk. Dia melingkarkan tangan pada tubuh kekasihnya dan menangis.

"Maafkan aku. Inn kesalahanku, tapi seingatku semalam tidak terjadi apapun hanya—"

"Hanya apa? Sudah jangan membahas itu jika itu akan membuatmu terluka. Berhenti menangis." Damar mengangkat dagu kekasihnya agar mau mendongak ke arahnya.

"Sebaiknya bersihkan tubuhmu. Maaf aku hari ini ingin istirahat, aku lelah sekali. Tidak perlu bekerja karena Rio sudah meminta izin pada atasanmu. Aku percaya padamu, jadi jangan terus menyalahkan diri." Semalaman Arundaya mengucapkan kata maaf, dan Damar yakin jika kekasihnya itu tidak dengan sengaja untuk melakukan itu.

"Tetap saja, aku mengingkari ketika kamu berusaha menutupi kekuranganku. Aku datang menjadi masalah untukmu."

"Bangunlah." Damar meminta kekasihnya itu berbaring dan membawa dalam pangkuannya.

"Jangan menyalahkan diri. Cukup laporkan tindakan pria itu pada pihak berwajib agar kamu tetap aman."

"Aku hanya seorang pelacur. Dia hanya menagih—" Arundaya tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Damar yang masih menatapnya dengan wajah pucat.

"Menagih apa? Berapa hutangmu?" tanya Damar.

"Tidak, aku tidak memilikinya." Arundaya tidak ingin masalahnya menjadi beban Damar, dia sudah cukup merepotkan, tidak dengan membayarkan hutang.

"Katakan saja, berapa hutang yang kamu miliki, tak perlu merasa tidak enak. Aku ini kekasihmu kan? Jadi katakan berapa hutangmu?" Pertanyaan yang sama dengan rasa ragu dalam diri Arundaya untuk mengatakannya. Cukup Sarita yang memberatkan Damar, tidak dengannya.

"Aku–"

"Kamu mau aku membayarkan atau kita laporkan saja dia," sahut Damar.

"Bukankah itu akan menjadi masalah untukmu. Tidak!"

"Jadi katakan berapa hutangmu."

1
habibulumam taqiuddin
kok G lnjut2
Nona Lemetd 💜: sudah di lanjut lagi kak 🫡
total 1 replies
habibulumam taqiuddin
selamatkan arundaya
habibulumam taqiuddin
lama sekali g update
ramochaaa
semangat thorrr
ramochaaa
semangatttt
habibulumam taqiuddin
salut sy dg kejujuran damar. menerima kekurangan pasangan masing-masing....
Ameera zie
ya allah bu, tobatt
Ameera zie
ngilu🥲
Nona Lemetd 💜
happy reading ya, jangan lupa tinggalkan komen kalian. terima kasih, follow akunnya juga yaaaa
adilia
keren
adilia
damar
adilia
seru untuk di baca
Yarasary
aku udah mampir tor, mampir juga yuk ke novel aku ~Aswarya genggam aku 😊.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!