Sylvia Delwyn, seorang wanita yang masuk ke akademi kepolisian demi mengungkap kematian orangtuanya. Tapi saat bertugas, dia harus kehilangan sahabatnya dan hal itu membuatnya mengambil cuti untuk menenangkan diri.
Tapi bukannya mendapat ketenangan, Sylvia justru dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia kenal oleh orang tua angkatnya, untuk membayar hutang. Tentu saja Sylvia menolak. Tapi karena ancaman, mau tidak mau Sylvia menyetujuinya.
Anthony Brylee Xavier, seorang CEO yang merangkap menjadi mafia. Dia menginginkan Sylvia sebagai ganti melunasi hutang Issac dan memaksa untuk menikah dengan nya.
Tapi setelah menikah, Sylvia menemukan bukti jika suaminya adalah dalang dari pembantaian terhadap keluarganya.
Akankah Sylvia percaya dan membalas dendam atas kematian keluarganya? Atau justru akan tumbuh cinta di hati keduanya dan mereka hidup bahagia?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat dan alur cerita, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus Baru
Sylvia sampai di ruangan Kapten Alvin dan di sambut tatapan tidak suka dari Bruce. "Dari mana saja Kau? Kenapa baru muncul?" tanya Bruce sinis
"Tadi dia ada di depan." bukan Sylvia tapi Axel menjawab pertanyaan Bruce
"Bukannya kau tadi bilang mau ke ruang informasi?" Amel ikut menimpali
"I_itu...
Bruce menatap curiga Sylvia. Untuk apa wanita itu pergi ke ruang Informasi? Apa ada kasus yang dia cari di sana? pikir Bruce
"Apa kalian tahu, tadi ada berita heboh seorang wanita keluar dari toilet pria. Dan mereka yang melihat wanita itu mengatakan jika ciri-ciri wanita itu seperti....." Bara tidak melanjutkan ucapannya tapi tatapannya menuju Sylvia yang menyebabkan semua mata juga menatap ke arahnya.
"Oh my God." semua pria di ruangan itu langsung menjauh.
"Hei.. Kalian salah paham. Tadi aku memang ingin ke ruang informasi. Tapi tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Karena tidak tahan, aku asal masuk toilet. Dan saat aku keluar, yah... begitulah." jawab Sylvia asal
"Jadi kau di luar karena....
"Tentu saja aku sangat malu. Makanya aku menenangkan diri di depan sambil mencari udara segar." gerutu Sylvia
"Dasar aneh." gumam Bruce
Tidak berapa lama, Kapten Alvin masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya. "Apa semua sudah berkumpul?" tanyanya
"Sudah kapten." seru Bruce
"Oke." Kapten Alvin memberikan beberapa map dan meminta Axel untuk membaginya pada semua anggota Tim Alfa.
"Itu adalah kasus yang akan kita tangani." Kapten Alvin mulai menjelaskan sedangkan anggota nya mulai membuka setiap lembar laporan yang mereka pegang.
" Kasus itu terjadi sekitar sebulan yang lalu. Tapi sampai sekarang polisi tidak bisa mengungkap siapa pelakunya dan keluarga korban meminta bantuan kita untuk mengusutnya sampai tuntas." lanjut Kapten Alvin
"Polisi memang tidak bisa di andalkan." celetuk Bruce yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Damian. Berbeda dengan Sylvia yang santai. Karena dia sendiri tahu rahasia FBI yang tidak menuntaskan kasus yang mereka tangani.
"Sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan atau menghina. Kalian pelajari kasus itu dan silahkan jika ada yang ingin kalian tanyakan." seru Kapten Alvin
Sylvia membaca dengan seksama hasil penyelidikan dari kepolisian. Korban adalah seorang model. Dia di temukan tewas di balkon dengan luka tembak di keningnya yang menembus sampai belakang kepala. Senjata yang di gunakan pelaku di temukan di halaman tepat di bawah balkon.
"Apa tidak ada cctv di rumah itu?" tanya Bruce
"Ada, tapi saat peristiwa itu terjadi, cctv mendadak mati. Dan tidak ada yang menyadari jika korban meninggal sampai keesokan harinya saat pembantu membangunkan korban. Dia membuka pintu kamar korban dan menemukan korban sudah tergeletak bersimbah darah." terang kapten Alvin
"Tapi bukannya aneh, kenapa tidak ada yang menyadarinya?" tanya Bruce lagi
"Si pelaku mengunakan peredam suara di senjata yang dia gunakan." ucap Sylvia menyela. Dia menatap Bruce dan menunjukkan laporan di tangannya. "Semua tertulis disini." ucapnya lagi
Bruce mendengus dan kembali membaca laporan tersebut.
"Ada yang ingin kalian tanya kan lagi?" tanya Kapten Alvin
Sylvia mengangkat tangan nya dan bertanya, "Di sini tertulis jika kemungkinan pelaku adalah orang dalam. Tapi mereka tidak bisa mengungkap siapa pelaku sebenarnya. Apa ada salah satu penghuni yang mereka curigai sebagai pelaku?"
"Pertanyaan bagus." seru Kapten Alvin. "Memang polisi mencurigai jika pelaku adalah orang dalam. Tapi sayangnya semua mempunyai alibi. Penghuni rumah itu hanya Suaminya yang duduk di kursi roda, dua pembantu dan satu tukang kebun. Suaminya ada di kamar nya saat peristiwa itu terjadi. Dan kedua pembantu sedang berbincang di halaman yang letaknya bertolak belakang dengan kamar korban. Sedangkan tukang kebun rumah itu selalu pulang setiap jam 4 sore."
"Polisi sudah meminta keterangan mereka secara terpisah dan juga meminta keterangan dari keluarga tukang kebun tersebut dan tidak ada yang mencurigakan." lanjut Kapten Alvin
"Mereka suami istri, kenapa tidur terpisah?" tanya Sylvia lagi
"Kenapa hal seperti itu kau pertanyakan?" tanya Bruce sinis
"Sebagai MANTAN POLISI, aku terbiasa banyak bertanya. Karena hal sepele yang kita tanyakan bisa saja menjadi petunjuk." seru Sylvia. Dia sengaja menekan kata mantan polisi untuk membalas ucapan Bruce yang telah menghina kepolisian. Harusnya dia sadar jika tugasnya pun banyak yang terbengkalai. Dia hanya terlihat hebat karena menjadi ketua di tim Alfa saja.
"Cukup!!! Jangan bertengkar!!" sentak kapten Alvin. Dia menghela nafas dan kembali berkata, "Siapa saja boleh bertanya selama itu masih berhubungan dengan kasus yang kita tangani." ucapnya sambil menatap satu persatu anggota tim Alfa yang menunduk
"Untuk pertanyaan mu, Sylvia. Korban keberatan tidur satu kamar dengan suaminya karena cidera kaki yang di alami suaminya. Dia tidak mau di repotkan karena dia sudah sangat lelah bekerja sebagai model." terang kapten Alvin
"Bukankah itu aneh, di sini tertulis jika korban meninggal di kamarnya yang berada di lantai dua. Suami nya tidur di sebelah kamar korban. Itu artinya suami korban juga tidur di kamar lantai dua, bukan."
"Di mana letak keanehannya?" sela Bruce
"Cidera di kakinya. Jika dia memakai kursi roda, bukankah lebih baik dia tinggal di lantai satu? Akan sangat merepotkan saat pria itu akan ke kamar. Bukan begitu, sylvia." seru Damian
"Tepat sekali. Insting mu sebagai mantan polisi masih tajam, Dam." Seru Sylvia
"Thanks."
Lagi-lagi Bruce mendengus kesal. Dia merasa di pojokan dengan pernyataan kedua mantan polisi itu. Sekarang ini anggotanya pasti menganggap nya bodoh karena tidak bisa memahami kasus yang mereka tangani. Itulah sebabnya dia membenci Sylvia yang terlihat pamer di depan anggotanya yang lain.
"Oke.. Kita pecahkan kasus ini bersama-sama. Sekarang kita langsung ke lokasi tempat kejadian perkara. Walaupun peristiwa itu sudah sebulan yang lalu terjadi, tapi Anggota keluarga tidak di perbolehkan menempati rumah itu. Jadi kita bisa mencari petunjuk lebih lanjut." seru Kapten Alvin
"Siap kapten." jawam mereka serempak. Mereka membubarkan diri dan mulai bersiap-siap. Tapi saat mereka keluar dari ruangan kapten Alvin, Sylvia berpapasan dengan orang yang berada di ruangan Petinggi FBI. Dia menatap intens wajah orang-orang yang keluar dari ruangan tersebut terutama pria yang berjalan paling depan.
Pandangan mereka bertemu, tapi secepat kilat Sylvia memalingkan wajahnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
...****************...
"Dapat." seru Daniel
"Dia terekam melalui cincin yang di pakai nona, Tuan." ucapnya lagi.
Anthony memperhatikan rekaman yang ditunjukkan oleh Daniel. Dia menyeringai karena ternyata benar ada yang tidak beres dengan FBI. Bahkan penjahat kelas kakap bisa keluar masuk dengan santai ke badan intelijen tersebut. Luar biasa.
"Selidik apa tujuannya datang ke markas FBI!!" titah Anthony
"Baik tuan."
Ada beberapa Novel yg cukup bagus Alurnya menurut ku,Tapi disebabkan peran utama pria seorang pemain aku langsung stop bacanya walaupun baru baca awal bab,Walaupun alur luar negeri yg mengamalkan sex bebas,tapj pembaca nya rata2 kita orang timur,Jadi gimana ya kalo bacanya kayak gak terima aja gitu,Calonnya cewek polos dan baik2 lha dapatnya pria BARANG BEKAS..