NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.7
Nama Author: Lalu LHS

Dia adalah seorang janda beranak tiga. Namanya Sulastri. Ia diceraikan suaminya saat ia mengandung anaknya yang ketiga. Selama perceraiannya, ia sama sekali tidak mendapatkan nafkah dari mantan suaminya yang penjudi untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bahkan ia terpaksa harus jadi jaminannya, memuaskan birahi bos besar tempat mantan suaminya berhutang. Beruntung ia jatuh ke tangan orang yang tepat. Yulian Wibowo, seorang laki-laki yang menjadi langganan kencannya beberapa malam, akhirnya jatuh cinta kepadanya. Perlahan ia berubah menjadi wanita tangguh yang mewarisi kekayaan Yulian Wibowo. Tentunya setelah melalui rintangan demi rintangan yang membuatnya hampir putus asa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu LHS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Malam sehabis isya'. Sulastri masih terdiam di luar rumah di atas kursi rotan reot memandang jauh ke ujung gang. Sementara ketiga anaknya masih ditemani bi Aisyah di dalam rumah, ia masih tercenung memikirkan sesuatu di luar rumah.

Bagas dan istri barunya sudah pergi sehabis maghrib tadi. Tadi siang, ketika mendengar kedatangan Bagas dari bi Aisyah, ia sempat menaruh harapan besar, Bagas datang dengan membawa harapan baru setelah ia merasa tak bersemangat lagi menjalani hidup setelah kematian Yulian Wibowo. Setidak-tidaknya, Bagas akan membantunya menafkahi kehidupannya sehari-hari. Tapi ternyata ia sudah menikah. Istrinya baik dan ramah untuk pertemuan pertama mereka. Ia pun sempat meminta salah satu anaknya untuk di bawa pergi ke Bima. Ia ingin berbagi asuh Farida. Dokter telah memvonisnya tak bisa melahirkan. Ia memohon agar ia mengijinkannya membawa Farida, namun ia menolak. Ia tidak bisa dipisahkan dengan anak-anaknya. Baginya, melihat anak-anaknya kelaparan di sampingnya lebih baik dari pada mereka hidup mewah tapi berada di tempat yang jauh darinya.

Seorang perempuan tua terlihat dari arah samping seperti mendekat ke arahnya. Walaupun agak gelap, tapi Sulastri sudah bisa mengenalnya. Dia bu Sumi, pemilik rumah kontrakan.

Sulastri berdiri ketika bu Sumi sudah dekat dengannya. Ia tersenyum.

"Eh, Ibu," sapa Sulastri. Ia segera menyalami bu Sumi.

"Kamu gak sibuk Nak," kata bu Sumi.

"Gak Bu, memangnya ada apa, Bu,"

"Ada yang perlu saya bicarakan sedikit,"

"Kalau begitu, di dalam saja Bu, di sini kursinya cuma satu," kata Sulastri. Ia kemudian membuka pintu dan mempersilahkan bu Sumi masuk.

"Silahkan duduk Bu," kata Sulastri setibanya di ruang tamu.

"Maaf sebelumnya Nak Sulastri. Seharusnya ini tidak saya lakukan. Sekali lagi maaf kalau saya salah," kata bu Sumi. Ia seperti tidak berani terlalu lama menatap Sulastri.

"Ada apa Bu, kok minta maaf?" kata Sulastri agak bingung. Bu Sumi mendesah.

"Begini Nak, ini terkait sewa rumah." Bu Sumi terdiam sejenak. Kali ini ia menatap Sulastri dengan tatapan bersalah.

"Ibu tidak tahu kalau anak ibu sudah melakukan kesepakatan dengan orang lain untuk menyewa rumah ini. Tadi ibu marahi dia karna tidak mufakat terlebih dahulu dengan ibu." Bu Sumi kembali mendesah. Ia terlihat kesal.

"Jadi, bagaimana ini Nak Lastri, ibu jadi malu sama Nak Lastri,"

Sulastri mendesah panjang dan terdiam.

"Nak Lastri sebenarnya masih bisa tinggal di rumah ini, tapi...," Bu Sumimenghentikan kata-katanya. Sepertinya ia ragu untuk melanjutkannya.

"Tapi kenapa, Bu,"

"Aduh, ibu jadi malu mengatakannya. Dasar anak sekarang, gak ijin dulu sama orang tua kalau melakukan sesuatu," kata bu Sumi meracau sendiri.

"Ada apa, Bu, katakan saja," kata Sulastri.

"Nak Lastri masih bisa menempati rumah ini asalkan sewanya harus lebih tinggi dari yang disewakan anak saya pada orang itu,"

"Memangnya berapa yang anak ibu sewakan,"

Bu Sumi menatap Sulastri.

" 4 Juta Nak, jadi, Nak Lastri harus membayar lima juta. Tapi itu kalau Nak Lastri mau. Ibu bisa mengembalikan uang sewa yang sudah Nak Lastri berikan pada ibu,"

Kembali Sulastri mendesah. Ia menundukkan kepala. Ia menganggukkan kepalanya pelan terus menerus sembari tersenyum ketus, seperti sedang menertawakan nasib sialnya. Bu Sumi memegang tangannya.

"Aduh, Nak, sekali lagi, maafkan ibu dan anak ibu," terdengar suara parau bu Sumi membuyarkan diam Sulastri. Sulastri mendesah kasar. Ia menatap bu Sumi tak bersemangat. Sulastri mengangguk kecil.

"Baiklah, Bu, biar nanti saya tambah uang sewanya, tapi saya minta waktu satu minggu untuk melunasinya" kata Sulastri lemah. Bu Sumi terdiam. Ia menatap wajah Sulastri yang berpaling darinya.

"Tapi Maaf, Nak, anak saya bilang harus secepatnya,"

Sulastri mendesah kesal. Kali ini ia benar-benar marah. Wajahnya berubah merah. Nafasnya naik turun dengan cepat menahan kata-kata marah yang coba ditahannya.

"Baik, besok ibu sudah menerima uangnya,"kata Sulastri kesal.

"Tapi gak apa-apa ini Nak," kata bu Sumi. Ia kembali memegang tangan Sulastri. Sulastri tiba-tiba merasa jijik. Pegangan tangan bu Sumi mulai membuatnya gak nyaman. Ia menarik tangannya pelan.

"Ibu, pulang saja dulu, nanti saya kesana untuk membayar kekurangannya," kata Sulastri sembari bangkit dari tempat duduknya. Sadar raut muka Sulastri terlihat berubah kesal, bu Sumi bangkit.

"Kalau begitu saya pulang dulu Nak Lastri. Sekali lagi, maaf," kata bu Sumi. Sulastri tersenyum setengah dipaksakan. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tanpa menunggu bu Sumi benar-benar telah keluar dari rumahnya. Ia benar-benar merasa kesal. Setiap orang yang datang, selalu menambah beban dalam pikirannya.

"Siapa yang datang Bu,"

Sulastri menoleh. Dilihatnya bi Aisyah sudah berdiri di sampingnya. Ia menatap bi Aisyah dengan tatapan sayu.

"Bi, duduk sini Bi," kata Sulastri menyuruh bi Aisyah duduk di sampingnya.

"Tadi itu, bu Sumi, pemilik rumah ini," kata Sulastri setelah bi Aisyah duduk di dekatnya. Bi Aisyah menatap wajah Sulastri yang terlihat murung.

"Ada apa Bu," tanya bi Aisyah. Sulastri mendesah dan menghadap bi Aisyah.

"Kita harus menambah uang sewa rumah ini. Anak bu Sumi sudah menyewakan terlebih dahulu rumah ini pada orang lain. Kalau kita ingin tetap di rumah ini, kita harus membayar lebih dari yang orang itu bayar," kata Sulastri.

"Berapa, Bu,"

"Kita harus menyiapkan uang sebesar lima juta Bi,"

Bi Aisyah terlihat kesal. Ia terlihat menggenggam kedua tangannya kuat.

"Seharusnya tidak seperti ini Bu, apa tak rumah lain yang bisa kita sewa Bu,"

"Hanya ini yang termurah Bi, aku sudah memeriksa beberapa rumah di sekitar sini sebelum menempati rumah ini dulu, mau tidak mau, kita harus membayar sesuai permintaan mereka,"

"Kurang ajar," umpat bi Aisyah.

"Apa kita punya cukup uang untuk membayarnya, Bu," sambungnya resah.

Sulastri menatapnya kemudian berpaling lagi ke arah pintu yang terbuka.

"Cukup Bi, uang titipan Bagas untuk anak-anak terpaksa harus kita pakai," jawab Sulastri lemah. Bi Aisyah mendesah panjang. Keluh kesah dan marahnya harus ditahannya. Ia tak ingin menambah kesusahan Sulastri tanpa bisa memberikan jalan keluar.

"Bi, nanti malam, aku harus keluar mencari pekerjaan. Jaga anak-anak di rumah. Semoga saja ada rumah makan di jalan sana yang mau memberikan kita pekerjaan," kata Sulastri setelah beberapa saat terdiam. Bi Aisyah menatapnya sedih. Berlama-lama menatap wajah Sulastri, air matanya mulai keluar. Dia sudah tidak bisa lagi menahan tubuhnya untuk memeluk Sulastri. Tubuhnya luruh dan Sulastri yang masih menatap hampa keluar rumah dipeluknya erat. Tangisnya membuat air mata Sulastri keluar. Keduanya mulai hanyut dalam isak tangis.

1
Enih Rustini
smg kefuanya kembali ke jalan yg lurus sesuai akidah agama
Enih Rustini
baru nampur langsung sedih banget
لواء الحمد: terimakasih
total 1 replies
Syifa Unella
Luar biasa
erma wahyuningsih
bagus
Agus Tina
Thor, masa istri ulama mau pakai guna2
لواء الحمد: namanya juga manusia
total 1 replies
Agus Tina
bagus ...
mey
masyaalloh...tabarakaalloh...sungguh novel yg sangat luar biasa bagus...🤩🤩🤩😍😍
Mery Misri Atin
alurnya keren dan sarat makna dalam kehidupan sehari-hari.
Lina Budiyarti
cerita dalam novel ini sungguh berikahyat bagus skli
لواء الحمد: trimksh
total 2 replies
Zahra Lain
kok bu sofia memegang dan mencium tangan tuan guru nur asikin yg bukan suaminya ataupun mahramnya???
لواء الحمد: tuan guru nur asikin seorang kiayi
total 1 replies
Pak Elim75nur
Aamiin ya rabbal alamiin
Muhyati Umi
Laila kayaknya terobsesi ke tuan guru. bukan cinta
Muhyati Umi
wih mengerikan sekali tubuh jini di cincang dan timbun
Muhyati Umi
jahat banget jini. sesama perempuan tega menjual nya
Lina Linah
subhanallah
RARA
nyai ronggeng,.🤣🤣🤣
RARA
si napi cantik jodoh nya tuan guru
RARA
hadeuhh pak Syahril telat amat dtgnya.. istri almarhum boamu udah di gilir org ...
Pak Elim75nur
Alhamdulillah.. akhirnya nikah juga...
Pak Elim75nur
Subhanallah... Allahuakbar....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!