Devan Pramudya, pemuda tampan ini harus terpaksa menyaksikan perbuatan tak senonoh calon istrinya tepat di depan mata. Pernikahan yang beberapa hari lagi akan digelar terancam batal.
Rina yang tak ingin anaknya mendapatkan reputasi buruk dan mencoreng nama perusahaan itu, mendesak Devan untuk tetap melanjutkan pernikahan.
Arabella Maharani, gadis penjual susu kedelai ini tak sengaja menabrak mobil Devan. Alhasil, mobil tersebut memiliki kerusakan membuat Arabella harus bertanggung jawab.
"Menikahlah denganku!" seru Devan.
"Apakah kau gila? Aku menabrak mobilmu. Apakah otakmu juga ikut mengalami kerusakan?!" ketus Bella.
"Bukankah ini tawaran yang langka, Nona? Banyak wanita yang ingin mendapatkan tawaran ini. Lagi pula jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau bawa," ucap Devan sinis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Kau Sangat Jelek!
Setelah mandi dan berpakaian lengkap, Devan berjalan membuka laci nakas mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci tersebut.Sesekali Devan melirik Bella yang sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukannya.
Melihat Devan yang baru saja berlalu dari hadapannya, membuat Bella mencuri pandang sejenak. Saat pria tersebut melihat ke arahnya, Bella kembali fokus memainkan game di ponselnya.
"Wanita itu ... Apakah dia benar-benar mengacuhkanku," batin Devan.
Ia pun membuka kotak P3K tersebut. Mengambil alkohol serta kapas untuk disiramkan pada lukanya.
"Awww ...." Devan meringis kesakitan saat alkohol tersebut mengenai lukanya yang menimbulkan rasa yang amat perih.
Bella melihat Devan kesakitan, gadis itu pun merasa tak tega. Bagaimana pun juga Devan pernah merawatnya saat kakinya terkilir dulu.
"Sini ... Berikan padaku," ujar Bella menghampiri Devan. Lalu kemudian ia pun menjatuhkan bokongnya ke sofa, tepat di samping Devan.
Bella sedikit menarik kaki Devan untuk di letakkan di atas pahanya.
"Awww ... pelan-pelan. Jika kau tidak ikhlas mengobatiku, sebaiknya tidak usah sekalian!" gerutu Devan kesal.
"Sssttt ... sebaiknya tutup mulutmu. Luka sekecil ini saja kau sudah merengek, apakah nantinya kau minta di otopsi?" cerca Bella seraya mengambil cotton bud lalu mengaplikasikan obat salep yang ada di tangannya ke atas luka suaminya.
Rasa perih kembali menjalar, akan tetapi Devan mencoba untuk tetap stay cool, karena ucapan Bella barusan cukup membuat harga dirinya jatuh.
Bella meniup-niup pelan luka Devan. Pria tersebut melihat Bella dengan seksama. Bentuk mata Bella yang bulat, bulu mata yang lentik, hidung yang tinggi, serta bibir yang sedikit berisi. Wajah Bella terpampang begitu jelas.
Seketika semua yang ada di sekitarnya mengabur. Yang dapat dilihat oleh Devan hanyalah sosok gadis yang ada di hadapannya.
DEGGG... DEGGG... DEGGG....
Jantungnya mendadak berpacu dengan cepat seakan hendak meloncat dari tempatnya. Sementara mata pria itu tak beralih, hanya memandang wajah Bella saja.
"Apakah benar aku sudah jatuh cinta kepadamu?" batin Devan.
"Bagaimana bisa kau membuatku jatuh hati secepat ini?" ujar Devan dalam hati.
"Selesai!" ujar Bella sembari menepuk tangannya.
Gadis itu menatap Devan dengan heran karena mata Devan yang sedari tadi memandangnya tanpa berkedip.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Bella sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Devan.
"Kau benar-benar sangat jelek," cerca Devan, padahal dalam hatinya berkata lain.
Mendengar hal tersebut membuat Bella mengernyitkan keningnya. "Memangnya kau sangat tampan? Wajahmu juga jelek. Ferdy jauh lebih tampan dibandingkan dirimu!" ketus Bella.
"Tidak usah membanding-bandingkan ku dengan pria lain. Jika kau tahu yang sebenarnya, mungkin kau juga akan menyesalinya," ucap Devan.
"Bilang saja jika kau tak terima kalah tampan dari dia," balas Bella.
"Terserah kau saja." Devan memilih beranjak dari tempat duduknya. Telinganya terasa sakit jika mendengar Bella terlalu memuji Ferdy di depannya.
"Memangnya apa kelebihannya, aku jauh lebih tampan dari dia. Dasar gadis aneh!" gerutu Devan yang tak terima jika ketampanan Ferdy mengalahkan dirinya. Bahkan banyak orang yang memuji ketampanan Devan, hanya satu gadis lah yang mengatakan bahwa dirinya jelek, yaitu istrinya sendiri.
Drrrtt...
Tak lama kemudian ponsel Devan yang ada di dalam sakunya bergetar. Pria tersebut langsung merogoh benda pipih itu.
Temui mama di ruang tengah.
Setelah membaca pesan dari ibunya, Devan pun meletakkan ponselnya di atas nakas. Baru saja pria itu hendak beranjak untuk keluar kamar, tiba-tiba ponsel Bella pun berbunyi.
"Mama mertua memintaku untuk menemuinya di ruang tengah," gumam Bella setelah melihat isi pesan tersebut.
"Mama juga memintamu ke ruang tengah?" tanya Devan memastikan.
Bella mengangguk pelan.
"Apakah ada hal yang serius? Mengapa kami dipanggil bersamaan?" dalam benak Devan bertanya-tanya.
Keduanya pun keluar dari kamar untuk memenuhi panggilan Rina.
Sesampainya di ruang tengah, Bella dan Devan segera duduk saling berdekatan.
"Ada apa mama memanggil kami?" tanya Devan.
"Kau mendapat undangan dari Pak Subagio yang hendak menggelar pesta pernikahan anaknya minggu depan," jelas Rina.
Pak Subagio adalah rekan bisnis sekaligus teman baik mendiang ayah Devan dulu. Hubungan keduanya sudah terjalin cukup lama, tak mungkin bagi Devan untuk tidak datang dalam undangan tersebut.
"Baiklah, aku akan datang nanti," timpal Devan.
"Bawa menantuku bersamamu!" titah Rina.
Seketika mata Bella membelalak, dan pandangan Devan pun tertuju pada sang istri.
"Kenapa harus bersamanya? Aku bisa sendiri," bantah Devan.
"Tidak bisa!! Kau harus mengajak menantuku bersamamu. Kenalkan pada semua orang bahwa kau memiliki seorang istri sangat cantik," ujar Rina yang diakhiri dengan kata pujian untuk menantunya.
Bella langsung tersipu malu. Gadis itu menyelipkan rambutnya ke telinga setelah mendengar pujian yang dilontarkan untuknya.
"Ck, cantik apanya. Dia sangat jelek," celetuk Devan.
Bella langsung menatap Devan dengan tajam seraya memajukan bibirnya. " Dasar pria menyebalkan," cecar Bella.
"Ya sudah, jika kau menolak, aku akan menyuruhnya pergi bersama Joko saja. Biarkan asistenmu itu yang membawanya ke pesta," ujar Rina seraya menaikkan alisnya sebelah.
"Biarkan saja dia bersamaku. Mama sudah terlanjur memberikan perintah untukku," tegas Devan.
Rina sedikit membuang muka lalu menarik segaris senyum. "Pancinganku ternyata mengenai sasaran. Putra semata wayangku sudah mulai menyukai istrinya. Kesempatan ini tak boleh disia-siakan" batin wanita tersebut lalu dengan cepat memasang ekspresi datarnya lagi.
"Baiklah jika kau bersedia membawanya," ujar Rina.
"Bella, ..." panggil Rina.
"Iya, Ma."
"Minggu depan kau harus bersiap. Ingat jangan permalukanku di depan umum. Buatlah dirimu seanggun dan secantik mungkin," titah Rina.
"Baik Ma," timpal Bella patuh.
"Ya sudah, kalau begitu kalian silahkan kembali ke kamar. Mama hanya ingin menyampaikan itu saja," tukas Rina.
Keduanya pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Mereka melangkah bersama kembali ke kamar.
"Apakah berada di keluargamu harus menjadi wanita yang benar-benar anggun? Terkadang aku ingin menjadi diriku sendiri," gumam Bella.
Devan yang mendengar hal tersebut langsung mengarahkan pandangannya pada Bella. Pria itu merasa sedikit kasihan pada sang istri.
Bella berusaha keras untuk memberikan yang terbaik pada keluarganya. Sementara Devan selalu saja mengatai gadis itu.
"Maaf karena sudah membuatmu kesusahan," lirih Devan yang nyaris tak terdengar.
"Setelah semuanya selesai, aku akan mengembalikan semuanya seperti semula. Aku menuruti semua ucapan mama mertua hanya untuk membayar hutangku padamu, setelah hutangku habis, maka aku juga akan kembali menjadi diriku yang dulu lagi," jelas Bella.
Mendengar sang istri yang berucap demikian, membuat Devan menjadi bungkam. Entah mengapa ucapan Bella tadi sedikit menyakitkannya.
Devan membaringkan tubuhnya. Pria tersebut menatap langit-langit rumahnya sembari memikirkan ucapan Bella barusan.
"Apakah aku akan bisa melepasnya saat kontrak kami telah berakhir. Kenapa membayangkannya saja sudah membuatku sakit. Bisakah aku memintamu untuk tetap tinggal di sini?" batin Devan.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya jika ada.
Yang belum favorit, yuk di favoritkan supaya dapat notifikasi update terbaru nya~
ig: Ayasakaryn24