Alessandra, umur 20 tahun masih virgin. Baru lulus kuliah dengan status Cum Laude. Dia terpaksa pulang ke Bali karena Covid-19 yang memporak porandakan bisnis di Bali.
Tiba di Bali ayah angkatnya meninggal dan menyisakan selembar surat wasiat yang berisi pembagian warisan.
50% adalah milik Alessandra, 25% diwariskan kepada istri tercintanya, siapakah 25% lagi?
Tidak ada yang tahu atau mengenal nama yang tertera di surat wasiat itu. Reyshaka Mahotra!!.
Siapakah dia??
****
Hallo readers...aq datang lagi dengan cerita yang lebih menggoda. Ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMPIR SAJA
Dengan langkah terburu-buru Alee pergi menuju bassement, dia tidak ingin menjadi biang kerok dari kematian Rey. Semoga Rey tidak nekad mengambil jalan pintas. desisnya. Rey mengancam akan menulis surat bahwa kematiannya karena Alee. Rey mengancam akan membeberkan hubungan mereka kepada nenek. Sungguh menakutkan Alee tidak ingin orang tahu hubungan mereka.
Lamborghini itu melaju dengan kencang, Alee dipandu oleh google maps untuk mencari alamat yang di kirim oleh Rey. Ternyata tempatnya sangat terpencil di sebuah Home Stay. Alee memarkir mobilnya di halaman depan, kemudian dia menuju pintu utama yang tidak dikunci.
"Rey.... Rey.... ." panggil Alee ketar ketir. Tidak ada jawaban. Alee membuka pintu kamar satu persatu sambil terus memanggil nama Rey. Perasaan Alee tidak menentu, dia naik ke lantai dua karena mendengar suara tangisan. Alee cepat membuka pintu, astaga... dia melihat Rey hampir gantung diri, lagi sedikit saja leher Rey terjerat tali plastik.
"Rey...sadarlah." teriak Alee memeluk kedua kaki Rey yang sudah berdiri di atas sebuah bangku plastik.
"Turun Rey.... kita bicarakan baik-baik." bujuk Alee ikut sedih melihat kondisi Rey. Gara-gara dirinya Rey jadi gelap mata mau bunuh diri.
"Biarin dah aku mati saja, aku tidak sanggup melihat kamu menikah dengan Brian. Aku sangat mencintaimu...hiks." sahut Rey sambil pelan-pelan turun dari bangku.
Dia langsung memeluk Alee, suasana ini membuat Alee terharu. Alee membalas pelukan Rey sambil menangis. Rey tersenyum menyeringai licik. Drama ini harus dia lanjutin sampai Alee mau menyerah.
"Kenapa kamu nekad begini, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, semua beban bisa di omongin baik-baik." kata Alee menyuruh Rey duduk dan memberi air mineral yang berada di atas meja.
"Aku minta maaf, selama ini aku khilaf. Semoga kamu mengerti, aku ingin kita menikah." kata Rey menatap Alee.
"Maaf Rey itu tidak mungkin, aku akan menikah dengan Brian." sahut Alee, dia baru merasa curiga ketika Rey mengunci pintu kamar.
"Maaf Alee, tidak ada jalan lain." tangan Rey menggapai pundak Alee, sebuah sapu tangan menutup hidung Alee. Bius yang ada disapu tangan Rey membuat Alee jatuh kepelukan Rey.
Rey mengangkat tubuh Alee dan membaringkannya di ranjang. Dia tidak menyangka Alee bisa dikelabui dengan mudah, kemudian Rey mengambil borgol di laci dan memborgol tangan Alee di sisi railing ranjang besi.
Hanya dengan cara ini dia bisa memiliki Alee. Dia begitu puas dengan kerjanya dan berharap semua sepak terjangnya- tidak ada yang mengetahui.
"Dreettt...dreettt..." ponsel Rey bergetar.
"Hallo Rey kamu dimana?" suara Fegi terdengar di seberang sana.
"Aku sibuk, ada kerjaan di luar kota. Hari ini aku tidak biģsa meńemuimu."
"Rey...lepaskan aku, kurang ajar. Aku akan laporkan sama nenek." teriak Alee membuat Rey kaget. Alee sudah sadar.
"Rey aku mau datang ketempatmu, posisimu sekarang ada di mana?" Rey tidak menjawab pertanyaan Fegi, ponsel dia lempar keranjang.
"Alee diamlah jangan membuat aku memperkosamu?" kata Rey menutup mulut Alee dengan lakban. Tapi Alee berontak, kakinya menendang kesana kemari.
Fegi mendengar semua apa yang di bicarakan oleh Alee dan Rey. Hatinya panas, bisa-bisanya Rey menipunya. Akhirnya Fegi mengirim rekaman suara Alee dan peta lokasi kepada Brian lewat private number. Dia menyembunyikan identitasnya supaya Rey tidak curiga dengannya.
Untuk menghindari Rey melecehkan Alee, Fegi terus menerus menghubungi Rey. Dia tidak kasihan sama Alee dia cemburu kalau Rey berhubungan intim dengan Alee. Lama kelamaan Fegi merasa suka kepada Rey dan tidak ingin ada yang merebutnya.
"Fegi aku sibuk, tidak ada yang bisa dibicarakan lagi." kata Rey kesal. Dia harus melanjutkan aksinya kepada Alee.
"Rey, kalau kamu tidak mau bertemu denganku sekarang aku yang akan datang padamu." kata Fegi kesal. Rey cepat mematikan ponselnya dan menyalakan mode pesawat.
Dia naik ke ranjang menghampiri Alee, dia menatap Alee dengan perasaan gairah. Alee saat ini memakai pakaian kerja yang roknya di atas lutut. semakin Alee berontak rok dan bajunya tidak beraturan. Semua aset Alee terlihat menyembul samar. Rey menelan salivanya.
"Alee... aku tahu kamu masih mencintai, akupun masih mencintaimu. Apa yang akan aku lakukan padamu adalah bentuk cintaku padamu, kamu tenanglah dan nikmati....." bisik Rey sambil membuka pakaian Alee satu persatu. Air mata Alee bergulir membasahi pipinya. Haruskah dia menyerah kepada bajingan ini. Dengan sekuat tenaga dia menendang Rey, tapi tetap Alee kalah, karena tangannya diborgol.
"Hahaha...sekuat apapun kamu melawan tidak akan bisa mengalahkan aku. Nasibmu ada di tanganku." kata Rey tertawa senang.
Tendangan di pintu menuntaskan aksi Rey yang hampir bisa menguasai Alee.
"Kurang ajar, dasar manusia hina." teriak Brian memukul Rey. Brian sangat emosi melihat Rey mau memperkosa Alee.
"Beraninya kau ikut campur masalahku." pekik Rey tidak tinggal diam, dia melawan Brian membabi buta.
"Perbuatanmu tidak bisa ditolerir lagi, kamu tega memperdaya orang yang memberi kamu makan. Aku akan melapor kepada nenek." sahut Brian.
"Apa pedulimu, kami saling mencintai dan saling membutuhkan. Tidak seperti kau yang memaksa Alee untuk menikah denganmu. Apa tujuanmu selain mengambil artha Alee."
"Rey, Brian behenti!! aku tidak mengerti pikiran kalian." suara Fegi membuat Rey dan Brian berhenti. Rey mengambil pakaiannya dan lari ke kamar mandi. Sedangkan Brian mengambil kunci borgol dan membantu Alee mengenakan pakaian.
Fegi memandang Alee dan Brian silih berganti tanpa berkata-kata.
"Mari kita pergi." kata Brian menghapus air mata Alee, dia sangat sedih melihat Alee dalam keadaan begini. Alee memeluk Brian histeris.
Walaupun masih terasa sakit Brian tetap memaksakan dirinya menggendong Alee, menjauh dari Villa itu secepatnya.
Brian memacu mobil Lamborghini dengan kecepatan tinggi. Dia ingin supaya cepat sampai di Bandara.
"Kita akan ke Aussie, untuk seminggu. Aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya, Rey otaknya sudah mesum. Masalah ini termasuk pelecehan, kita bisa mengadukan masalah ini ke Polisi. Kamu harus mengadu kepada nenek, supaya orang seperti ini di keluarkan dari perusahan atau suruh bekerja di Colorado biar nenek mengawasinya." kata Brian mengelus rambut Alee.
"Aku tidak bisa berpikir saat ini, kejadian ini membuat aku trauma. Aku tidak menyangka Rey sejahat itu, untunglah kamu datang, kalau tidak, aku tidak tahu nasibku selanjutnya. Aku betul-betul lelah lahir bathin dan mengharap kemelut ini bisa berakhir. Aku capek." keluh Alee.
"Sabarlah, semua sudah berakhir." sahut Brian lirih. Lamborghini itu memasuki kawasan Bandara Ngurah Rai, Brian mencari parkir eksklusif karena berencana menitipkan mobilnya seminggu.
"Mari kita boarding pass, setelah itu kita bisa ke gerai pakaian untuk membeli beberapa pakaian ganti." kata Brian. Alee cuma mengangguk, dia merasa beruntung punya Brian yang sangat memperhatikannya.
*****
ya Allah nggak sanggup
aku lelahhhh