Panggil saja aku Mentari umur ku yang masih belia di paksa dewasa. Harus menerima masalah begitu berat dalam keluarga. Ibu ku mati bunuh diri tak sanggup menerima ke jahatan yang ayah ku berikan.
Ayah ku menjual ku kepada mami Tiara hanya untuk membahagiakan istri mudanya. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya?
Atau aku mati saja ikut bersama ibu ku di surga. Bagaimana nasib adik ku Revalina jika aku mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gupita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Jahil
"Loh, jadi selama ini kamu tidak, tahu?"
"Nggak, Bu. Kata ibu dulu, kakek dan nenek itu, sudah tiada," jawabnya lesu.
"Sebenarnya, ibumu keturunan orang kaya, menikah diam-diam bersama ayahmu, dia usir dari rumah. Akhirnya, ibumu mengikuti kontes fashion show, karya menang dan mendapatkan uang banyak. Setelah itu Ibu tidak tahu, kabarnya menghilang seperti ditelan bumi, Sayang. Ibu dan suami berusaha keras mencari keberadaan ibumu tidak mendapatkan hasil. Kakek mu, sempat datang kemari beberapa tahun lalu, untuk mencari ibumu."
"Ibu mau mencari keberadaan, kakekku? Aku sebentar lagi akan menikah, butuh wali, Bu."
"Kuliah 'lah, nak. Nanti siang jika kamu, ada waktu. Kita bersama-sama ke sana."
Mentari memeluk ibu Fatimah, tiba-tiba Revalina datang mengganggu momen mereka berdua.
"Kak, tuh, dicariin sama Kak Leona, udah nunggu di depan."
"Tunggu sebentar." Mentari menyeka air matanya.
"Drama queen banget, sih," cibir Revalina.
"Astaga, Reva. Mulut kamu, pedes banget," ucap Mentari tercengang.
"Ih, orang Kakak, geh yang ngajarin, aku." Revalina berkacak pinggang lalu pergi meninggalkannya.
"Bu, Mentari berangkat ya," pamit Mentari lalu mencium tangan dengan takzim.
Mentari masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu. Mengambil tas yang sudah ia persiapkan dari pagi. Di luar Leona dengan dress di atas lutut ia pakai, terlihat sangat cantik.
"Ya ampun, Kak. Seperti Kak Leona dong, pakai dress biar cute. Calon desainer kok, nggak tau mode," cibir Revalina lagi.
"Astaga, anak ini. Kamu habis sarapan cabe rawit, ya? Pedes bener kalo ngomong."
Leona hanya tertawa melihat Mentari dan Revalina saling mengejek. "Andai aku punya, adik."
"Jangan, Le. Nanti lo nyesel, kaya gue gini. Tumben banget si, lo pakai aku," ejek Mentari.
"Kita, pakai aku kamu aja, ya. Biar terlihat lebih deket."
"Ini, kita udah deket." Mentari bergeser di samping Leona.
"Bukan gitu, konsepnya Bambang!" teriak Revalina sambil melempar sepatunya.
"Eh, bocil nggak sopan." Mentari melempar sepatu Revalina sampai keluar pagar rumah.
"Kakak!" teriak Revalina sambil berjalan mengambil sepatunya.
"Cepet masuk mobil." Mentari berlari sambil menarik tangan Leona.
"Cepet buka pintu mobilnya," titahnya.
Leona menurutinya membuka pintu mobil dengan remote. Setelah terbuka Mentari cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Mentari tahu jika sepatu Revalina masuk got.
"Kakak!" Suara Revalina sangat melengking sampai-sampai semua tetangga keluar rumah hanya ingin melihat teriakan siapa itu.
"Gila kamu, Tar. Adek sendiri dikerjain sampai nangis gitu," protes Leona.
Mentari hanya tertawa terbahak-bahak, melihat sang adik menangis karena sepatunya masuk got. "Sudahlah, sudah biasa aku, tuh."
*****
Rio melihat Revalina dari dalam mobilnya, ia binggung melihat para tetangga menonton Revalina sedang menangis. Rio buru-buru keluar dari mobil. Rio khawatir melihat sang pujaan menangis menjadi tontonan.
"Reva! Kamu kenapa?" Terdengar suara Rio panik.
"Kak Mentari."
"Iya, dia kenapa?"
"Itu," lirihnya sambil menunjuk sepatunya yang berada di dalam got.
"Astaga, Va. Pakai sepatu yang lain aja." Rio sambil membantu berdiri.
"Nggak punya."
Rio mendengar pernyataan Revalina hatinya terasa terenyuh. Rio langsung berjongkok melepaskan sepatunya. Rio memakainya di kaki Revalina, sempat ia menolak dipakaikan sepatu.
"Jangan, Kak. Nanti Kakak pakai apa coba?"
"Di dalam mobil ada sepatu lagi, sudah pakai saja ya, walaupun kebesaran, Va."
"Terima kasih, Kak." Revalina semakin jatuh cinta dengan perbuatan Rio yang manis seperti itu.
****
"Ma, aku mau berangkat kuliah, ya," pamit Gio.
"Kamu jadi masuk ke kampus xxx, Sayang?"
"Iya, Ma. Aku ambil jurusan fashion Bisnis."
"Kamu, kenapa nggak ambil jurusan yang lain, Gio."
"Aku ingin menciptakan karirku sendiri, Ma."
"Terserah, kamu," ketus Jesica.
"Sudahlah, Sayang. Gio sudah besar." Leo membela Gio, ia mencari simpatik anak tirinya.
Dasar penjilat, jijik gue liat ayah tiri gue ini, miskin, cuma bisa jadi beban, umpat Gio dalam hatinya.
"Sudahlah." Gio pergi meninggalkan meja makan.
Gio sedang dalam perjalanan ternyata ia lupa membawa korek api. Gio berinisiatif mencari warung kecil di pinggir jalan. Saat Gio akan keluar dari mobilnya, ia melihat Revalina keluar dari mobil Rio.
"Gadis itu, sekolah di sini, Apa ini yang dinamakan jodoh?" gumamnya.
Nanti siang, pulang dari kampus akan ku temui saja dia, pikir Gio.
Setelah Gio selesai membeli korek api, ia langsung bergegas ke kampus. Diperjalanan Gio membalap mobil Rio, ia membawa mobil tanpa aturan. Membuat Rio mengumpat hampir saja ia di serempet oleh Gio.
Bersambung.....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untukku ❤❤❤