Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Permainan Yang Seru
Erivo mengepalkan tangannya lagi. Lalu perlahan....
Tangannya terangkat. SREETT
Veil itu terbuka.
DUG
Waktu berhenti.
Bukan Vivian.
Serena, Alexander, dan Levin langsung berdiri. Begitu pun dengan Eleanor.
"D-DIA BUKAN PUTRIKU, VIVIAN!" teriak Serena.
FLASH! FLASH! FLASH!
Semua kamera wartawan langsung menyorot wajah Chloe. Rambut hitam, mata coklat.
Chloe menatap Erivo yang menatapnya dengan wajah datar. Wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang sama persis seperti senyuman Daisy.
DEG
Napas Erivo tercekat. Lututnya hampir goyah.
"Queen..." bisiknya. Hanya ia yang bisa mendengarnya.
Lalu Chloe menoleh ke arah Serena, Alexander, dan juga Levin.
"Selamat malam, Mama, Papa, Kakak," sapa Chloe dengan wajah yang dibuat selembut mungkin.
HENING.
Satu detik. Dua detik.
PLAK
Buket yang ada di tangan Serena jatuh ke lantai.
"CHLOE?!" teriak Alexander. "KAU... KAU BAGAIMANA BISA ADA DI SINI? DI MANA VIVIAN?"
Chloe mengangguk pelan. Senyumannya masih ada, tapi matanya dingin.
"Vivian ya?" Chloe tersenyum manis. "Dia pergi, Pa. Dia kabur... Dan dia meminta aku menggantikannya di sini."
DUG
Serena mundur. "TIDAK! ITU TIDAK BENAR! KAU PASTI BERBOHONG! KATAKAN, DI MANA PUTRIKU, WANITA GILA!"
Chloe menoleh ke Serena. Senyumannya hilang.
"Gila?" ulang Chloe pelan. "Yang gila itu kalian, bukan aku."
Alexander melangkah naik ke altar dengan wajah memerah karena marah.
TAK... TAK... TAK...
"JAGA BICARAMU!" bentak Alexander. Ia mengangkat tangannya, ingin menampar Chloe. Tapi dengan cepat Erivo menangkap pergelangan tangannya dengan kuat.
"Jangan sentuh dia," kata Erivo. Suaranya rendah, tapi seluruh katedral mendengarnya.
Alexander menatap Erivo. "LEPASKAN! DIA HANYA WANITA GILA, DAN TIDAK PANTAS UNTUK DIBELA!"
Erivo mendorong Alexander mundur selangkah, lalu berdiri di depan Chloe. Melindunginya. Entah dorongan dari mana seorang Erivo Reinhard untuk pertama kalinya melindungi wanita asing seperti ini.
"Tuan Erivo, dia hanya wanita gila," ucap Alexander. "Yang kabur dari rumah sakit jiwa. Dia tidak pantas bersanding dengan Anda, apalagi menjadi istri Anda. Minggirlah dan berikan dia kepada saya!"
Chloe tertawa. Pendek. Dingin.
Wanita itu melangkah dan berdiri di samping Erivo.
"Benar," ucap Chloe dengan tatapan tajam. "Apa yang Papa katakan semuanya benar.
Aku Chloe Weiss. Putri sulung keluarga Weiss... Yang lima tahun lalu dikirim ke rumah sakit jiwa karena mereka mengatakan aku ini gila."
DUG
FLASH! FLASH! FLASH!
Lima ratus tamu yang hadir di sana menahan napas. Wartawan tidak berhenti meliput berita terbaru yang terjadi saat ini.
"KAU MEMANG GILA! JANGAN DENGARKAN DIA! KATAKAN DI MANA PUTRIKU?!" teriak Serena.
Chloe menoleh ke Serena. Air matanya jatuh. Tapi senyumnya tetap ada.
"Apa kurang jelas, Ma?" suara Chloe bergetar. Paling lembut. Paling pilu.
"Aku di sini hanya korban. Vivian, dia pergi karena tidak ingin menikah."
"Stop! Semua ini apa maksudnya?" ucap Eleanor. Wanita itu yang sejak tadi diam kini membuka suara.
Serena dengan cepat menghampiri besannya itu. "Maaf, Nyonya. Sepertinya ini ada kesalahan," ucap Serena dengan tangan bergetar.
Eleanor melirik wanita itu. "Salah paham? Salah paham bagaimana maksudmu? Dia mengatakan Vivian pergi karena tidak ingin menikah dengan putraku.
Jika menurutmu ini salah paham, bawa Vivian sekarang ke hadapanku," ucap Eleanor.
DUG
Serena tercekat. Keringat dingin jatuh.
"Baik. Aku akan membawa putriku ke hadapan Anda—"
"Sepuluh menit," potong Eleanor dingin. "Jika dalam sepuluh menit Vivian tidak ditemukan... maka wanita yang bernama Chloe inilah yang akan resmi menjadi menantuku."
BOOM
Semua tamu langsung heboh. Alexander terpaku. Levin menutup mulut.
Serena menoleh ke suaminya. "PA! LAKUKAN SESUATU!"
Alexander mengepalkan tangannya. Ia menatap Chloe dengan benci.
"Aku tanya sekali lagi. Di mana Vivian?"
Chloe mengangkat bahu. Wajahnya paling polos, paling rapuh.
"Aku kan sudah bilang. Aku tidak tahu," ucap Chloe.
Alexander menarik napas panjang.
"LEVIN! PERINTAHKAN SEMUA ANAK BUAH CARI VIVIAN SEKARANG!"
"Baik, Pa," ucap Levin dan bergerak cepat. Karena mereka hanya punya waktu sepuluh menit untuk menemukan Vivian.
Lalu Alexander mengeluarkan pistol dari balik jas mahalnya dan menodongkannya ke kepala Chloe.
Jeritan memecah Katedral. Semua tamu langsung mundur, begitu pun wartawan.
Chloe berdiri diam. Tidak mundur sedikit pun. Di matanya tidak ada ketakutan. Justru wanita itu tersenyum tipis.
"LETAKKAN PISTOLNYA!" bentak Erivo.
TAK
Dalam satu detik, Erivo sudah ada di depan Chloe. Menutupi seluruh tubuhnya dengan badannya sendiri.
"Tidak, Putraku!" ucap Eleanor. Ia ingin berlari naik ke atas altar, tapi dengan cepat suaminya meraih lengannya.
"Erivo tahu apa yang harus dia lakukan. Tetap di sini," ucap Nicholas. Wajah pria paruh baya itu datar. Tatapannya hanya mengarah pada Erivo dan juga Chloe.
"Tuan Erivo, minggir!" raung Alexander. "Ini urusan keluarga saya!"
Erivo tidak bergeming. Hingga sebuah tangan menariknya untuk mundur.
"Dia benar. Ini urusan keluarga Weiss," ucap Chloe. Nada suaranya datar dan dingin.
Chloe kembali maju. Kini berdiri tepat di depan laras pistol Alexander. Jarak hanya 20 cm.
Erivo menoleh. "Mundur."
Tapi Chloe tidak bergerak dan tidak menoleh sedikit pun. Matanya lurus menatap Alexander.
"Tembak, Pa," kata Chloe pelan. "Tembak aku di sini. Di depan semua orang."
Alexander gemetar. "JANGAN MEMPROVOKASI AKU!"
Chloe tersenyum tipis.
"Aku bukan Chloe yang dulu lagi. Yang penakut, yang lemah, dan yang bodoh."
Ia menunjuk ke arah kamera.
"Tembak. Biar seluruh dunia melihat bagaimana Alexander Weiss membunuh putri kandungnya yang selama lima tahun dikurung di rumah sakit jiwa."
Tangan Alexander bergetar hebat. Keringat jatuh.
Serena berlari naik ke atas altar, lalu berdiri di samping Alexander. Menatap Chloe dengan mata memerah.
"JANGAN PERCAYA UCAPANNYA!" teriak Serena. "DIA GILA! DIA PEMBOHONG!"
Chloe melangkah satu langkah lagi. Dahinya hampir menyentuh laras pistol.
"Kalau aku gila... kenapa kalian terlihat takut ketika aku bicara?"
DOR!
Tembakan terdengar dari luar, membuat semua tamu undangan berlarian.
"AAAHHH!!!"
FLASH! FLASH! FLASH! FLASH! FLASH!
Pistol yang ada di tangan Alexander terjatuh. Serena langsung berjongkok.
Tapi Chloe hanya berdiri. Tidak bergerak sedikit pun.
Erivo meraih tangan Chloe. "Ayo pergi," ucapnya.
Tapi Chloe justru menepis tangan pria itu dengan kasar, tanpa menoleh sedikit pun.
"Urusanku dengan neraka masih belum selesai," ucap Chloe.
Anak buah Alexander mulai berpencar mencari siapa yang melakukan penembakan itu.
Tapi anak buah Erivo hanya diam, menunggu perintah dari tuannya.
Erivo menatap Chloe. Lama.
Lalu ia menatap anak buahnya. Satu anggukan.
"LINGKARAN," perintah Erivo pelan.
Dalam dua detik, anggota klan yang dipimpin Erivo membentuk lingkaran. Menutupi Chloe, Erivo, Eleanor, dan Nicholas.
"Yang lain cari penembaknya—"
"Tidak perlu. Itu orangku," potong Chloe cepat.
DUG
Semua hening. Hanya suara tamu yang masih tersisa berteriak mencari jalan keluar.
Eleanor membeku. "Apa yang kau katakan?"
Nicholas menyipitkan matanya. Tatapannya tajam ke Chloe.
Erivo menoleh pelan. Rahangnya mengeras.
"Ulangi," kata Erivo. Suaranya rendah. Berbahaya.
Chloe hanya tersenyum tipis.
"Aku tidak suka mengulang kata untuk kedua kalinya."
Serena menjerit dari lantai. "LIHAT! DIA MENGAKU!"
Alexander bangkit. "TANGKAP DIA! DIA DALANGNYA!"
Chloe mengangkat tangan, menghentikan mereka.
"Lanjutkan, Pa... Teriak yang lebih kencang lagi."
Ia melangkah maju, keluar dari lingkaran anak buah Erivo.
Berdiri di tengah. Sendiri. Di bawah lampu gantung yang pecah.
"Ya. Aku yang menyuruh orang itu menembak," kata Chloe.
Suara Chloe lantang, menggema di dalam ruangan itu.
"Tapi bukan untuk membunuh," Chloe menatap Alexander dan Serena.
"Aku hanya menyuruhnya menembak ke udara. Biar semua orang lari. Biar semua orang panik."
Chloe tertawa. Pahit.
"Karena kalau tidak ada kekacauan ini... maka awal permainannya tidak akan seru."
Alexander maju. "KAU GILA! KAU PSIKOPAT!"
Chloe menatapnya. Matanya dingin.
"Karena aku gila, jadi aku kembali untuk balas dendam."
Chloe tersenyum. Senyuman yang tidak sampai ke mata.
"Bersiaplah kalian... Jaga harta warisan yang kalian nikmati itu.
Jangan sampai aku mengambilnya."
Setelah mengatakan itu, Chloe berbalik lalu melangkah ke arah Erivo.
"Ayo, suamiku. Kita pergi dari sini."
---
Jangan lupa Like, komen dan Vote ya Besty 🙏 😊 🥰 🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,