NovelToon NovelToon
ELENA

ELENA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:235.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rinjani Asa

Hai,
Ini merupakan karya pertamaku, mohon dukungannya ya dengan cara like, love, vote dan komen sebanyak-banyaknya.
Kasih juga ya hehehe.

❤️❤️❤️❤️❤️
Anyelir, gadis yatim piatu yang cerdas dan cantik. Tapi sayang nasibnya tak secantik rupanya. Ia harus rela mengubur impiannya untuk bekerja keras demi sang Nenek tercinta yang sedang sakit.
Kehormatan nya direnggut secara paksa oleh seseorang yang mempunyai pengaruh di tempatnya bekerja.

Ken, anak dari pengusaha kaya raya. Hidupnya tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah setelah malam kejadian ia merampas kehormatan salah satu karyawannya.

Elena, seorang gadis manis yang sangat hebat. Diusianya yang masih kecil ia memiliki bakat melukis serta bermain biola. Disamping kelebihannya, Elena merupakan gadis yang pendiam, saking diamnya sampai-sampai ia tidak mau berbicara. ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan juga note book electric nya.

Akankah mereka bisa bersatu menjadi satu keluarga yang utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinjani Asa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Gagal

"Pagi Ma," ucap Elena memberi salam. Bangun tidur Elena langsung menemui Anyelir di dapur.

"Pagi Sayang. Tumben anak Mama jam segini sudah bangun," ucap Anyelir sambil melirik pada jam dinding yang terpajang di dapur.

Jam menunjukan pukul 05.00, tentu saja Anyelir merasa heran, putri cantiknya sudah bangun dan terlihat sangat segar. Ini merupakan pertama kalinya Elena bangun sepagi ini. Biasanya Elena bangun sekitar pukul 06.00 itu pun harus dibangunkan terlebih dulu oleh Anyelir.

"Kenapa? semalam tidurnya nyenyak kan?" tanya Anyelir sambil mencuci beras untuk dimasak.

Seperti di New York, di sini pun Anyelir tidak mempunyai asisten rumah tangga. Mulai dari memasak, mencuci baju, menyetrika semua dikerjakan sendiri oleh Anyelir. Anyelir hanya mempekerjakan dua orang tukang kebun yang bertugas untuk bersih-bersih halaman dan kolam renang yang akan datang setiap sore hari.

Elena mengangguk. "Tidurku semalam nyenyak. Tapi aku terbangun jam 4 dan enggak bisa tidur lagi."

Membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan yang akan dimasak Anyelir menoleh ke arah Elena. "Elena mimpi buruk?" tanyanya lagi.

Elena menggeleng. "Elena enggak bisa tidur lagi karena Elena senang Papa sudah pindah rumah dan rumahnya dekat dengan rumah kita Ma," jawabnya jujur.

Gerakan tangan Anyelir yang sedang mencuci sayuran pun terhenti. Ia lalu meletakan sayuran yang telah dicucinya kedalam wadah untuk ditiriskan, tak lupa ia mematikan keran air. Kemudian ia beralih mengambil ayam yang sudah ditiriskan setelah direbus tadi untuk disuwir-suwir. Rencananya pagi ini Anyelir akan memasak capcay ayam.

"Elena tau dari Papa?" tanya Anyelir pada putrinya yang kini sedang mengambil gelas untuk diisi air, karena ia merasa tenggorokannya perlu dialiri air supaya tidak kering.

"Iya Ma. Semalam Papa video call. Tadinya Papa mau bicara sama Mama, tapi sewaktu Elena ke kamar Mama, Mama sudah tidur," jawab Elena setelah menghabiskan minumnya terlebih dulu.

"Memangnya Papa mau bicara apa?" tanya Anyelir penasaran.

"Kata Papa, mulai hari ini biar Papa saja yang antar Elena ke sekolah. Tugas Mama jemput Elena."

"Baru datang sudah berani ngatur-ngatur," gumam Anyelir dalam hati.

"Boleh kan Ma?" tanya Elena dengan penuh harap Anyelir akan mengizinkan ia diantar oleh papanya ke sekolah.

"Nanti biar Mama bicara dulu sama Papa. Sekarang Elena mandi ya, enggak mau tidur lagi kan?"

"Ok Ma." Elena kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mandi pagi.

***

Elena berdiri di teras dengan wajah ditekuk. Tangannya ia lipat di depan dada. Elena sudah selesai sarapan lima belas menit yang lalu. Tas sekolah telah siap di punggungnya, sepatu sudah selesai ia pakai, tapi sampai sekarang Ken belum juga menjemputnya.

Elena menghentak-hentakan kakinya. "Ma, aku susulin papa di rumahnya ya. Siapa tahu papa belum bangun," pinta Elena.

Anyelir keluar dari dalam rumah, ia kemudian menghampiri anaknya. "Kita tunggu sepuluh menit lagi. Kalau papa kamu belum datang juga, biar Mama yang antar ke sekolah. Lagi pula biasanya juga Mama yang antar kan?"

Elena menghembuskan napas pelan sambil menunduk. Hari ini ia sangat bersemangat sampai bagun pagi-pagi sekali karena merasa senang, akhirnya dia akan bisa menunjukan kepada teman-temannya kalau dia juga punya papa, tidak seperti apa yang mereka katakan selama ini.

"Kalau kamu punya papa, buktiin dong, jangan cuma ngomong doang."

"Iya betul. Selama ini Mama kamu terus kan yang ke sekolah."

"Ada kok selain mamanya, biasanya dia dijemput sama penjaga toko rotinya kan?

"Anak yang enggak bisa buktiin omongannya disebut apa??"

"Penipuuuu."

"Terus apa lagi??"

"Pembohong."

Kata-kata sindiran dan ejekan dari beberapa teman di sekolahnya selalu terngiang-ngiang di benak Elena. Elena mendapat perlakuan seperti itu semenjak ia memasuki sekolah barunya di kota ini. Elena tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun termasuk Anyelir. Ia tidak mau menambah beban pikiran sang ibu.

Saat mendengar deru mesin mobil berhenti di depan rumahnya, Elena langsung mendongak. Perlahan wajah sendunya menghilang tergantikan dengan senyum ceria seperti senyum mepsodent, salah satu slogan pasta gigi yang cukup terkenal di Indonesia.

Ken segera turun dari mobilnya lalu membuka gerbang rumah Anyelir. Setengah berlari Ken menghampiri Elena yang sudah menunggunya dari tiga puluh menit yang lalu.

"Maafin Papa, tadi Papa terlambat bangun. Kita berangkat sekarang?" ajak Ken masih sambil menormalkan napasnya karena tadi cukup terburu-buru agar tidak sampai terlambat untuk mengantar Elena ke sekolah.

Baru saja Elena akan menjawab, Anyelir sudah mendahului dengan kata-katanya.

"Baru hari pertama sudah bikin anak hampir terlambat berangkat, bagaimana hari-hari berikutnya?" sindir Anyelir.

"Aku benar-benar minta maaf, semalam memang tidur terlalu malam karena ada sesuatu yang urgent, jadi enggak dengar bunyi alarm," sesal Ken.

"Coba kalau Papa tinggal bareng kita, pasti enggak akan telat bangun, karena ada Mama yang akan bangunin kita setiap pagi," ujar anak kecil yang rambutnya dihiasi bando itu.

Ken seketika garuk-garuk pelipis merasa salah tingkah. Sedangkan Anyelir pipinya sudah semerah buah strawberry yang biasa dimakan Elena.

"Sudah sana cepat berangkat, nanti terlambat, jangan lupa pastikan Elena sudah masuk ke dalam kelas sebelum kamu pergi," pesan Anyelir pada Ken.

Ken mengangguk, menyanggupi permintaan Anyelir.

"Elena pamit ya Ma," pamit Elena pada Anyelir sambil mencium tangan mamanya. Tak lupa ia berikan kecupan masing-masing satu kecupan di pipi kanan dan kiri Anyelir.

"Nanti jangan lupa jemput ya Ma. Harus Mama yang jemput," ujar Elena.

"Iya Sayang. Belajar yang rajin, jangan berantem sama temannya," pesan Anyelir.

"Ayo," ajak Ken pada buah hatinya untuk segera berangkat.

"Papa enggak pamitan dulu sama Mama?" tanya Elena karena melihat papanya langsung mengajaknya menuju mobil.

Anyelir dan Ken pun dibuat mati kutu lagi oleh perkataan anaknya sendiri. Dengan kaku Ken segera menoleh ke arah Anyelir, ia menganggukkan kepala sekilas. "Aku pamit antar Elena ke sekolah," ucapnya kaku.

Anyelir hanya tersenyum tipis dan membalas dengan anggukan kepala. Segera Ken menggenggam tangan anaknya untuk menuju ke mobilnya.

"Tunggu Pa!" teriak Elena.

"Papa belum cium tangan Mama. Kata Bu guru kalau mau kemana-mana harus pamit dan jangan lupa cium tangan."

"Ya Tuhan! Elena kenapa jadi menyebalkan begini sih," gumam Anyelir dalam hati.

"Ayo Pa cium tangan Mama," pinta Elena.

Ken dan Anyelir sama-sama saling pandang dan terdiam.

"Ayo Pa cepetan, nanti aku terlambat," rengek Elena sambil menggoyang-goyangkan tangan Ken.

Ken pun mengalah, membuang rasa malunya, ia akhirnya menuruti keinginan buah hatinya. Ia berjalan menghampiri Anyelir lalu mengambil tangan Anyelir kemudian dikecupnya punggung tangan wanita bermata bulat itu.

Seketika Anyelir meremang, seperti ada sengatan listrik yang mengalir di tubuhnya.

Ini enggak kebalik ya, harusnya aku kan yang cium tangannya, kenapa jadi dia yang cium tangan ku. Ck..apaan si Nye, sadar woy! emangnya kamu siapa pake cium tangannya segala.

"Daah Mama!" teriakan Elena seketika menyadarkan dari lamunannya.

❤️❤️❤️

Hai hai Elena balik lagi.

Maafin kemarin gak up karena badan rada meriang ditambah malas yang menggunung.

Semoga suka ya...

Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya...

Terima kasih 😘😘😘

sampai jumpa di part selanjutnya

1
Nabilah Putri
keren
Nabilah Putri
Semangat
Lenny Susilawati
sangat bagus dan tetlalu simple
cheng phong
sangat bagus,aku suka alurnya👍
Sundari Sekariputi
bgs ceritanya thor 👍👍👍
Dede Dengah Rumayar
extra partnya mana thor😁😁😁
Salfanei
😭😭
Salfanei
biar banyak yg komen
Salfanei
padahal novel y bagus ya menurut saya tp g ada yg komen buat nyemangatin author y
re
Ditunggu Ektra partnya
Anita Candra Dewi
terlalu lemah ini ken
Prima Dewi
siapa ya yang udah ngeracuni elana....🤔apa seseorang yang udah sakit sama Ken ya...
Welly Sumarni
CPT bgt tamat nya.. pdhl ud nunggu brp hr episode nya..
Mahameru
sedih si, harus tamat padahal batu dikit bab nya
extra part-nya yg byk thor
Ratna Wati
akhir nya tamat juga
Umi Ningsih Mujung
❤️
🌻 y_alcalief 🌻: hai kak mampir yuk ke karya terbaru ku yang berjudul MENCINTAI IBU SAMBUNG
total 1 replies
Umi Ningsih Mujung
❤️🥰😍😘
Welly Sumarni
lanjut KK, semngat
🌻 y_alcalief 🌻: hai kak mampir yuk ke karya terbaru ku yang berjudul MENCINTAI IBU SAMBUNG
total 1 replies
Sri Wahyuni
baguslah ada cerita kearifan lokal. semangat thor.
🌻 y_alcalief 🌻: hai kak mampir yuk ke karya terbaru ku yang berjudul MENCINTAI IBU SAMBUNG
total 1 replies
Ratna Wati
lanjut kk semangat
🌻 y_alcalief 🌻: hai kak mampir yuk ke karya terbaru ku yang berjudul MENCINTAI IBU SAMBUNG
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!