sebuah lengan membawaku kedalam pelukannya entah kenapa ragaku tidak bisa aku kendalikan, aku menatapnya lelaki dengan manik coklat dengan rahang kokoh.
sentuhan demi sentuhan membuatku terlena, aku tidak bisa berbuat apa apa entah ada apa dengan tubuhku, aku menikmati setiap sentuhannya.
"egh"
hanya itu yang keluar dari mulutku, hingga sesuatu yang melesak masuk kedalam tubuhku aku hanya mampu menangis namun menikmatinya sangat menikmatinya.
hingga berita kehamilan menyebar membuatku tak bisa mengelak sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak aku inginkan menjadi tameng penghalang impian impianku untuk meniti masa depan yang indah dan cerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah tingkah
"ekhem" suara deheman di tangga membuat aktifitas Rey dan Kena terhenti seketika, keduanya menoleh ke asal suara.
"papah tahu kalian pengantin baru tapi jangan disini juga dong" ujar Andra, sebelum berbalik kembali menaiki anak tangga.
"em ngga gitu kok pah" ujar kena, ia bangkit dari duduknya hendak mengejar Andra "pah" panggil kena namun Andra seperti tidak mendengar.
"udah gapapa, papa juga pernah muda kok" jelas rey.
"tapi..."
"sini duduk lagi" titah rey perempuan itu menurut perutnya yang semakin buncit membuat rey tak kuasa menahan senyumnya.
"rey aku gak enak sama papah" ujar kena
"jangan dipikirin, aku yakin dulu pas masih muda pasti papah kamu lebih liar dari kita" ujar rey, membuat kena menatapnya aneh.
"masa sih?"
"iya buktinya kamu lahir" ujar rey terkekeh, bibir kena mengerucut jawaban yang sangat tidak lucu menurutnya.
"jangan ngambek, tadi kenapa ngga ke kamar? aku nungguin loh" ujar rey bertanya.
"a..m" rey menunggu kena berbicara namun ia ragu.
"katakan?"
"aku sedikit sedih soalnya tadi pas aku bujuk kamu di rumah sakit kamu cuek dan kekeh sama keputusan kamu, tapi pas mami yang ngomong kamu langsung tunduk" jelas kena, rey seolah mengingat kembali kejadian tadi siang di rumah sakit.
"oh soal itu, aku minta maaf udah bikin kamu sedih, tapi maksud aku bukan gitu aku yakin kamu ngerti" ujar rey, ia membelai lembut perut kena.
"nak, suatu hari nanti pasti mami kamu akan tahu rasa bahagia dan bangganya saat kamu menuruti perkataannya" ujar rey yang membuat kena terpaku, hatinya seakan tercubit oleh perkataan rey, dia benar seorang ibu adalah kendali terbesar untuk anaknya namun ibu yang hebat adalah ibu yang mampu menjaga perasaan pasangan anaknya, seperti mami.
"mmm, rey kapan kita kembali ke jakarta?" tanya kena, ia sangat rindu rumahnya dan kamarnya.
"setelah rumah kita selesai di rapihkan" jelas rey.
"rumah kita?" kena terkejut
"hmmmm aku membelinya beberapa waktu lalu, dan belum sempat mengatakannya padamu" jelas rey.
"baiklah, sepertinya kamu memang lelaki penuh misteri dan tak bisa di tebak" rey tertawa mendengarnya, mirip pujian atau ejekan?
"sudahlah, aku suamimu sekarang jadi? kita lanjutin di kamar?" tatapan yang menusuk netra kena mampu membiusnya.
"matiin lampunya" ujar kena berbisik.
"jendelanya dibuka" bisik rey, yang disambut rasa nyeri dipinggangnya yang di cubit kena.
"mesum"
"eits udah jadi suami kan?" keduanya pun tertawa ringan sambil berjalan ke kamarnya...[]
setelah pertempuran hebat, yang mengurangi jam tidur kena, membuat perempuan itu masih betah dibalik selimutnya.
"hey, sayang kamu gak sarapan?" tanya rey mencoba membangunkan kena.
"masih pagi banget ini" ujarnya.
"mana ada, ini udah jam 11 sayang kasian sama bayi kita yang diperut kamu pasti dia lapar" ujar rey, kena mengucek matanya pelan seolah tak percaya.
"astaga, kok kamu gak bangunin aku sih" protes kena saat melihat jam dinding yang menunjukan pukul 11 lewat 15 menit.
"astaga aku lagi yang salah" ujar rey.
"yaudah, mandi gih sana aku tunggu dibawah" ujar rey.
15 menit berlalu, kena muncul dengan dress floral berwarna kuning cerah.
"kamu sendiri? papah mana?" tanya kena saat melihat rey menikmati segelas coklat panas sambil membaca koran.
"udah balik ke Jakarta, katanya sore ini harus ke Jogja ada kerjaan disana" jelas rey.
"oh gitu" kena duduk disamping rey, ia menyesap coklat panas milik suaminya itu.
"rasanya enak, tumben ya rasanya enak" ujar kena yang merasa heran pasalnya dia kurang suka dengan coklat.
"huh, tinggal minum pasti enak" ujar rey.
"ish"
"aku punya hadiah liat deh" ujar rey menunjukan sebuah kotak yang lucu.
"apanih?"
"buka dong" kena membukanya dengan tidak sabar dan jreng, sebuah lingerie berwarna merah menyala itu membuat ingatannya melayang kejadian semalam yang menyita waktu tidurnya.
sentuhan lembut yang ia rindukan, pelukan juga kecupan, pergerakan yang membuatnya sangat bergairah, hingga melupakan keadaannya yang tengah hamil karena kenikmatan yang diberikan rey.
lanjutkan