NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terciduk

Setelah meminum obat flunya, Keana kembali tertidur. Kombinasi obat dan istirahat total itu benar-benar manjur. Demamnya sudah hilang sepenuhnya, menyisakan hidung yang sedikit mampet, ingusan, dan suara yang masih agak serak.

Pagi hari berikutnya. Hari ini adalah hari Senin, Papa, Mama dan Elvan akan pergi ke rumah sakit untuk bekerja, sementara dirinya dan Elvan sedang libur.

Keana yang sudah merasa lebih baik, walaupun masih terkana flu, ia turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarganya.

"Pagi semua" sapa Keana sembari menarik kursi di sebelah Gavin.

"Pagi sayang" saur Mama Soraya.

"Pagi, nak. Apa kamu suka merasa enakan sekarang?" ucap Papa Arland.

"Sudah, Pa. Cuman flu aja, tapi udah gak apa-apa, kok" jawab Keana.

"Makanya, jadi orang jangan bandel" timpal Gavin dengan manarik pipi chubby Keana.

"Kaaaak.... Jangan di tarik" rengek Keana.

Gavin terkekeh. "Kakak kesepian tahu selama dua hari ini kamu sakit. Kakak jadi gak punya teman berantem"

"Kan, kak Gavin bisa main di luar sana teman kakak"

"Kakak lagi males aja keluar, tapi eh...kamu sudah sembuh, kakak terlanjur sudah punya janji main sama teman nanti"

"Kea sendiri dong di rumah"

"Ada Mama, nanti jam sembilan baru Mama ke rumah sakit" sahut mama yang sejak tadi mendengar pembicaraan Kedua anaknya, sedangkan Elvan hanya diam menikmati sarapannya.

"Tuhhh....dengar, ada Mama. Walaupun cuman menemanimu beberapa jam. Hahah" ucap Gavin.

Keana hangat memanyunkan bibirnya, lalu memakan sarapannya. Ia tidak mengatakan apapun lagi.

Setelah sarapan, Elvan dan Papa pergi ke rumah sakit. Keana dan Gavin pergi ke ruang TV, mereka memilih bersantai disana.

Hingga beberapa menit mereka fokus dengan TV sampai Gavin menatap Keana yang tengah sibuk mengunyah buah pir dengan bunyi krek yang renyah. Meskipun hidung Keana masih agak kemerahan dan sesekali terdengar tarikan napas pendek karena ingusan, anak itu sudah kelihatan jauh lebih hidup dibanding semalam.

"Masih mampet itu hidung?" tanya Gavin memecah keheningan di antara suara bising dari televisi.

Keana menoleh, menelan kunyahan buahnya sebelum menjawab. "Dikit. Tapi udah gak pusing kayak kemarin."

" Kak Gavin jahat banget, ih. Tega banget ninggalin Kea sendirian di rumah nanti."

Gavin tertawa renyah mendengarnya.

"Dih, dibilang ada Mama juga. Lagian salah sendiri pake sakit. Harusnya hari ini kita bisa main seharian kalau lo gak nekat hujan-hujanan."

Keana semakin memanyunkan bibirnya. Bayangan ditinggal sendirian di rumah besar ini setelah jam sembilan nanti membuat perasaannya mendadak tidak enak.

"Gak usah cemberut gitu, jelek banget kayak donat bantat," ledek Gavin sengaja memancing emosi adiknya.

Keana mendongak, menatap Gavin dengan pandangan menusuk, lalu mendengus keras-keras lewat hidungnya yang masih agak tersumbat. *

Hatsyiii!

"Ih, jorok! Jauh-jauh sana!" seru Gavin dramatis, langsung menggeser tubuhnya menjauh seraya tertawa puas melihat Keana yang buru-buru mengambil tisu untuk mengelap hidungnya yang mengeluarkan ingus.

"Gara-gara Kak Gavin, nih! Kalau kemarin Kak Gavin gak telat jemput, Kea gak bakal kehujanan lama-lama di taman terus sakit begini!" omel Keana dengan suara bindeng yang terdengar lucu.

"Heh, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan ya, Ndut! Yang malah asyik selebrasi muter-muter kayak India di tengah hujan siapa? Kenapa sekarang kakak yang disalahin?" Gavin menjitak pelan dahi Keana yang tertutup poni.

"Udah, nurut aja. Jaga rumah, jangan keluyuran." Gavin kemudian bangkit, lalu bersiap-siap pergi menemui temannya, meninggalkan Keana yang semakin merana.

Melihat Mama Soraya keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan tas kerja yang sudah siap, mata Keana langsung berbinar. Ia segera bangkit dan berlari kecil menghampiri Mamanya, lalu memeluk lengannya dengan erat.

"Mamaaa... Kea ikut ke rumah sakit, ya? please......" bujuk Keana, memasang wajah paling memelas yang ia punya. Kedua matanya berkedip-kedip penuh harap.

"Loh, kok minta ikut, kamu di rumah saja, Sayang. Istirahat. Hidungmu masih ingusan begitu," jawab Mama Soraya lembut sambil mengusap rambut Keana.

"Kea bosen banget di rumah, Ma. Kalau sendiri nanti Kea malah kepikiran, terus pusing lagi," rengek Keana, sengaja membawa-bawa alasan pusing agar Mamanya luluh.

"Kea janji deh, di sana Kea bakal duduk manis di ruangan Mama. Gak bakal ganggu, gak bakal keluyuran. Boleh ya, Ma? Daripada Kea kesepian di rumah..."

Mama Soraya menatap putri bungsu itu dengan helaan napas pasrah. Naluri keibuannya selalu lemah jika Keana sudah mulai mengeluarkan jurus memohon seperti ini. Lagipula, melihat kondisi Keana yang memang sudah tidak demam dan hanya tinggal flu ringan, Mama pikir tidak ada salahnya membawa Keana agar bisa dipantau langsung di ruangan kerjanya daripada ditinggal sendirian.

"Benar ya? Janji sama Mama tidak boleh nakal dan tidak boleh keluyuran dari ruangan Mama? Kamu juga harus pakai masker" tanya Mama memastikan.

"Janji dua jari, Ma! Kea bakal pakai masker terus juga!" seru Keana bersemangat, langsung mengubah raut wajah melasnya menjadi cengiran lebar.

Keana segera naik ke kamarnya untuk berganti pakaian, tidak lupa dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya.

"Loh, mau kemana kamu, Ndut?" Gavin yang baru turun dari lantai atas dengan kondisi rapih, namun santai, heran melihat Keana yang memakai masker dan juga telah berganti pakaian.

"Mau ikut Mama ke rumah sakit" jawab Keana dengan wajah songongnya.

"Kok Mama izinin?" Gavin menatap Mamanya heran.

"Nggak apa-apa. Kasian tinggal sendirian di rumah. Kalau nanti kenapa-kenapa dan gak ada yang liat, kan bahaya. Biar ikut mama, jadi mama bisa pantau nanti" jawab Mama Soraya.

"Dasar, buntut"

Wleeeeee

"Sudah, ayo berangkat! antar Mama dulu ya, Gav!"

"Iya, Ma"

Rumah sakit

"Jangan nakal, Ndut! Dengar kata mama" Gavin mengingatkan saat Keana akan segera turun dari mobil menyusul sang Mama.

"Iya, isss....bawel" Keana segera menutup pintu dan menyusul sang Mama sebelum mendapatkan tatapan horor dari kakaknya.

Sesampainya di ruangan Mama Soraya, Keana menuruti semua perkataan sang Mama. Ia duduk manis, memperhatikan sang mama yang memeriksa pasien yang datang untuk mengecek kandunganya, dan bermain ponsel. Sesekali ia berdecak kagum melihat para calon ibu membawa perut yang besar dan ada juga yang masih datar. Ia juga bisa melihat di monitor tampilan bayi di dalam perut.

"Ternyata begitu" batin Keana.

Begitu Mama Soraya menyelesaikan tugasnya memeriksa semua pasien yang datang kontrol, ia pamit pada Keana untuk mengunjungi pasien di bangsal persalinan.

"Mama pergi dulu, ya"

"Iya. Tapi Ma, apa boleh Kea berjalan-jalan keluar? Sebentar saja"

"Tapi jangan jauh-jauh, ya!"

"Siap, Ma" Keana hormat pada Mama Soraya dan membuat sang Mama tersenyum kecil.

Melihat Mamanya sudah pergi, ia pun keluar juga. Berjalan-jalan melewati lorong-lorong hingga tiba di halaman samping rumah sakit. Matanya seketika berbinar melihat sebuah kedai mini es-krim yang sedang parkir disana.

Tenggorokannya sejak tadi terasa kering dan gatal merindukan sesuatu yang manis dan dingin.

“Beli es krim satu cup kecil gak bakal bikin mati, kan? Lagian demamnya udah sembuh, tinggal ingusan dikit doang,” pikir Keana dalam hati, mencari pembenaran sendiri.

"Tapi kalau dimarahin gimana?" gumamanya.

"Ahh...itu kalau ketahuan. Kalau Mama sama Papa gak tahu, kan aman"

Sambil mengendap-endap seperti buronan, Keana langsung menyeberang jalan dengan riang membeli satu cup es krim rasa vanila dengan topping cokelat. Setelah itu ia kembali, lalu duduk di bangku taman belakang rumah sakit, menikmati setiap suapan es krim dingin itu dengan perasaan senang. Sensasi dingin yang melewati tenggorokannya terasa begitu nikmat setelah semalaman disiksa rasa pahit bubur.

Di sisi berbeda, Elvan baru saja selesai memeriksa pasien. Ia akan kembali ke ruangannya. Namun, matanya menyipit saat melihat seorang gadis tengah duduk sembari makan sesuatu. Ia sangat kenal gadis itu.

"Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam Elvan.

Ia segera melangkah mendekat kearah Keana

"Keana?" panggil Elvan pelan.

Uhuk..

Keana tersedak hingga es krim di mulutnya hampir menyembur keluar. Suara bariton yang sangat familier itu terdengar tepat di belakang telinganya.

Keana menoleh perlahan dengan horor. Di sana, berdiri Elvan dengan jas putih dokternya yang rapi. Kedua tangan Elvan terbenam di saku jas, sementara sepasang matanya menatap Keana dengan pandangan tajam, seolah siap membedah adiknya hidup-hidup.

"K...kak Elvan..." cicit Keana terbata-bata, buru-buru menyembunyikan cup es krim itu di belakang punggungnya, walau noda cokelat di sudut bibirnya sama sekali tidak bisa berbohong.

"Apa yang kamu makan?" tanya Elvan dingin.

"Hanya.... hanya kue. Iya, kue" Keana menampilkan deretan giginya dengan kaku.

"Jangan berbohong, Keana. Aku paling tidak suka dengan orang yang berbohong. Perlihatkan kedua tangan mu!" suaranya terdengar sangat tenang namun justru hal itu membuat bulu kuduk Keana meremang.

Keana tidak juga menunjukkan kedua tangannya. Ia tahu saat pasti akan dimarahi.

"Keana Aluna" tekan Elvan.

Elvan melangkah maju, menarik tangan Keana hingga memperlihatkan cup es krim yang sejak tadi ia sembunyikan. Ia lalu membuangnya tanpa ragu ke tempat sampah di dekat mereka.

"Kak! Kan baru makan dikit!" protes Keana spontan dengan suara seraknya

"Oh, jadi kamu mau menunggu sampai es krimnya habis, lalu nanti malam badan kamu mendadak panas lagi seperti semalam?!" Nada suara Elvan meninggi satu oktav, membuat beberapa orang yang lewat di taman sempat menoleh.

Elvan mencengkeram pergelangan tangan Keana, tidak keras, tapi cukup kuat agar adiknya tidak bisa kabur.

"Kamu benar-benar tidak bisa dikasih kelonggaran sedikit pun, ya? Semalam Papa, Mama, dan Gavin panik setengah mati melihat kamu tidak sadarkan diri. Sekarang, kamu sudah berani makan es krim diam-diam dengan hidung yang masih ingusan begitu?!"

Keana menunduk dalam, meremas ujung bajunya. Nyalinya ciut total. "Kea bosen di dalam, Kak... tenggorokan Kea gatal..."

"Bosen bukan alasan untuk merusak badan kamu sendiri, Keana!" potong Elvan tegas tanpa toleransi.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarahnya yang hampir meledak melihat kenakalan Keana.

"Ikut aku ke ruangan sekarang. Kamu tidak boleh keluar dari sana sampai aku izinkan. Mengerti?"

"Tapi Kea tadi kesini sama Mama"

"Nanti aku yang akan memberitahu Mama. Mama juga pasti akan memarahi mu saat tahu kamu makan es krim"

Elvan menarik keana ke ruangannya. Dengan pasrah Keana ikut dengan menarik ingusnya yang berair. Ia meratapi nasibnya yang harus terjebak di bawah pengawasan ketat sang robot medis sepanjang hari.

"Kalau tahu kayak gini, mending tinggal di rumah sendirian. Aiss...aku menyesal ikut sama Mama"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!