Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Perintah Format Mental
Selokan Sektor 4 bukanlah tempat bagi manusia. Itu adalah pembuangan terakhir, tempat di mana semua limbah dari kehidupan mewah di atas sana diakumulasikan menjadi satu. Di sini, cahaya hanya sekadar legenda. Udara adalah sup beracun—campuran metana yang menyesakkan dan bau busuk belerang yang melekat kuat di pori-pori kulit.
Arka meringkuk di celah sempit di balik pipa drainase raksasa yang berkarat. Tubuhnya menggigil hebat, bukan karena suhu dingin yang menembus tulang, melainkan karena syok. Tangannya, yang kini tampak kotor dan kurus, memegang terminal data rakitan—hasil jarahan dari rongsokan gelandangan di pasar tadi malam. Layarnya retak membentuk pola jaring laba-laba, kabel-kabel tembaganya terurai seperti urat saraf yang terbuka, tapi bagi Arka, ini adalah satu-satunya jembatan menuju temannya.
Aku hanya perlu menembus log tahanan Asosiasi. Hanya perlu satu ping lokasi untuk Bram dan Hasan, pikir Arka.
Dia menyambungkan kabel dengan jemari yang mati rasa ke port data manual di pipa. Jari-jarinya mulai mengetik kode override dengan ritme yang dipaksakan.
Zzzzt.
Pikiran Arka seolah dihantam martil baja. Sebuah sensasi panas membakar saraf di pangkal tengkoraknya. Ini bukan sihir, melainkan Neural Feedback—efek samping dari Ghost Code yang Kaelen tanamkan di sistem sarafnya saat dia mencoba meretas di Depot Kereta. Setiap kali Arka mencoba mengolah logika kompleks, otaknya mengalami korsleting.
Darah kental menetes dari lubang hidungnya, membasahi layar terminal yang retak. Aroma amis darah beradu dengan bau busuk selokan.
"Sial..." Arka menggertakkan gigi hingga terdengar suara retakan di enamel giginya. Ia menahan erangan yang hendak meledak di tenggorokannya. Ia tidak bisa berhenti. Dia harus tahu di mana mereka membuang Bram dan Hasan.
Dia menekan tombol Enter lagi dengan sisa tenaga.
BZZZZT!
Rasa sakit itu berlipat ganda. Dunia di sekitarnya mencair menjadi gradasi hitam dan putih yang menyakitkan. Arka merasa seperti sedang tercekik dari dalam kepalanya sendiri, seolah otaknya diremas oleh tangan raksasa tak kasatmata. Terminal itu mengeluarkan suara beep panjang yang melengking, sebelum layarnya mati total, terbakar dari dalam hingga mengeluarkan aroma plastik hangus.
Arka jatuh, punggungnya menghantam dinding pipa yang basah dan berlendir. Dia terengah-engah, mencoba mencuri oksigen di antara siksaan hebat itu. Dia gagal. Dia tidak bisa meretas. Logikanya yang dulu menjadi senjata paling mematikan di Sektor 4, kini menjadi belati yang menusuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di atas air limbah yang mengalir lambat.
Langkah itu terlalu teratur, terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Suaranya bergema di lorong pipa—klik, klik, klik.
Arka mendongak, matanya yang kabur mencoba fokus. Di ujung lorong, di tengah kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh lumut bercahaya redup, sosok itu berdiri.
Kaelen. Pria itu tampak sangat tidak pada tempatnya dengan setelan jas abu-abunya yang tajam dan bersih, seolah-olah dia sedang berjalan di koridor kantor pusat, bukan di dalam selokan penuh kotoran manusia. Dia tidak membawa senjata. Dia tidak membawa pasukan. Dia hanya memegang sebuah tablet kecil.
"Tiga hari," suara Kaelen bergema, tenang dan mekanis. "Kau bertahan lebih lama dari yang kukira. Data statistik menunjukkan bahwa rata-rata 'anomali' sepertimu akan menyerah setelah 48 jam tanpa asupan nutrisi yang layak."
Arka berusaha bangkit, tapi otaknya kembali bergejolak, memaksanya jatuh tertelungkup ke dalam air limbah yang dingin. "Bram... Hasan... di mana mereka?"
Kaelen tidak menjawab. Dia berjalan mendekat, langkahnya tenang, sepatunya tidak sedikit pun terkena percikan kotoran. Dia berhenti tepat di depan terminal rusak milik Arka, lalu menendangnya dengan ujung sepatunya hingga hancur berkeping-keping ke dalam air limbah.
"Kau mencoba meretas lagi," Kaelen menggeleng kecil, bukan karena marah, tapi karena bosan—sebuah gestur yang menghina. "Arka, kau tidak paham. Kau bukan musuh yang perlu dilawan. Kau hanyalah file yang salah ketik. Kau adalah entitas yang tidak memiliki izin untuk berada di sistem ini."
"Aku manusia!" teriak Arka, suaranya parau, penuh kebencian dan keputusasaan yang murni.
"Dalam database Asosiasi, kau tidak terdaftar." Kaelen menatap Arka seolah melihat kuman di bawah mikroskop, sebuah eksistensi yang tidak berarti. "Oleh karena itu, kau tidak ada. Dan sesuatu yang tidak ada, tidak memiliki hak untuk memiliki keinginan, apalagi untuk mencari temannya."
Kaelen mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya—sebuah defragmenter portabel. Dia mengarahkannya ke kepala Arka.
"Aku datang ke sini bukan untuk membunuhmu. Itu akan memakan banyak administrasi hukum. Aku hanya datang untuk memastikan bahwa bug ini tidak menyebar."
Kaelen menekan tombol di perangkat itu. Frekuensi suara yang sangat rendah menyebar, membuat Arka merasa seolah seluruh dunianya runtuh. Bukan rasa sakit fisik kali ini, tapi rasa hampa yang absolut. Ingatan Arka tentang cara meretas, cara menyusun logistik, cara memetakan rute... semuanya seolah ditarik paksa keluar dari otaknya, digantikan oleh suara statis yang kosong dan dingin.
Kaelen mematikan perangkatnya dan memasukkannya kembali ke saku.
"Selamat menikmati sisa hidupmu sebagai subjek tak terdata, Arka." Kaelen berbalik dan berjalan pergi, menghilang ke dalam kegelapan lorong seolah dia tidak pernah ada di sana.
Arka terdiam di kegelapan. Dia mencoba mengingat kode override tadi. Dia mencoba mengingat bagaimana cara memetakan rute. Tapi yang ada di kepalanya hanyalah lubang kosong yang luas dan membekukan.
Dia benar-benar telah dihapus. Bukan hanya secara fisik, tapi secara mental.
Arka menatap air limbah yang mengalir di kakinya. Untuk pertama kalinya, tidak ada rencana. Tidak ada logika. Hanya ada kegelapan pekat yang menelannya bulat-bulat.
***
**[AUTHOR NOTE]**Selesai. Kaelen benar-benar melakukan 'penghapusan' pada Arka. Dia tidak membunuh Arka, tapi dia mengambil satu-satunya hal yang membuat Arka menjadi manusia: kemampuannya untuk berpikir dan merencanakan. Arka sekarang bukan lagi seorang ahli logistik, dia hanya seorang pria yang tersesat dalam pikirannya sendiri. Bagaimana dia akan bertahan besok pagi jika dia bahkan tidak tahu cara mencari makan karena otaknya 'dikosongkan'? Komen pendapat kalian!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼