Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.
Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.
Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.
Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.
Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.
Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?
Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 35
"Terima kasih sayang sudah menerimaku apa adanya dan aku juga mau berterima kasih sama kamu. Kamu bahkan tidak marah atau kecewa ketika aku 'menolakmu', bertindak lebih jauh" ujar Irene.
"Sama-sama sayang," ujar Tian kemudian merengkuh Irene dalam pelukannya.
"Terima kasih juga karena sudah mau menceritakan semuanya padaku. Aku janji akan menjagamu sampai nanti kita sah," imbuh Tian.
Irene begitu lega dan bahagia mendengarnya. Jatuh bangun kisah cintanya, akhirnya ada seorang pria yang mau menerima ia dengan masa lalunya tanpa memaksanya untuk berhubungan suami istri sebelum sah dalam ikatan pernikahan.
Baginya, Tian adalah jawaban dari doa-doanya selama ini. Jodoh terbaik yang Tuhan kirim untuknya.
"O iya sayang, ada yang ingin aku tanyakan," ujar Irene.
"Tanyakan saja," balas Tian lembut.
"Kamu dapat foto-foto itu darimana? Karena akupun tidak tau kalau ada foto-foto seperti itu," ujar Irene.
"Desi yang memberikannya pada mama dan mama menyerahkannya padaku begitu aku pulang dari Bali," jelas Tian.
Irene teringat ketika mama Gina menghubungi Tian ketika mereka sedang berlibur.
"Aku malu sama mama," sahut Irene sambil menundukkan kepalanya.
"Mama pasti kecewa padaku," imbuhnya lagi.
"Sayang, dengarkan aku," sela Tian.
"Untuk masalah mama, serahkan padaku. Biarkan aku yang akan menjelaskannya pada mama. Aku yakin mama akan mengerti setelah tau posisi kamu," Tian berusaha menenangkan Irene.
Irene hanya menganggukan kepalanya.
"Sayang, kira-kira darimana Desi mendapatkan foto-foto itu?" tanya Irene lagi.
"Entahlah sayang. Aku juga tidak tau," jawab Tian.
"Biar nanti aku yang akan cari tau. Tidak usah kamu pikirkan. Aku tidak mau kamu banyak pikiran," ujar Tian sambil merapatkan keningnya dengan kening Irene.
Irene hanya membalasnya dengan senyuman.
"Sudah malam, ayo istirahat. Kamu pasti lelah," ujar Tian sambil membelai pipi Irene.
Irene menganggukan kepalanya.
"Besok masih ke kantor?" tanya Tian ketika Irene hendak berdiri.
"Masih, tapi tenang saja besok hari terakhir setelah itu libur panjang akhir tahun," ujar Irene girang.
Malam itu mereka tidur bersama. Dan Tian menepati janjinya untuk tidak berbuat yang lebih. Hanya sekedar berciuman sebelum menuju alam mimpi. 😄
...--------...
Keesokkan harinya,
Setelah mengantar Irene ke kantor seperti biasa Tian bekerja dari balik laptopnya.
Menjelang siang ia teringat tentang rencana mencari tau darimana Desi mendapatkan foto-foto Irene.
"Halo Rob, aku ada tugas penting padamu," ujar Tian.
"Yang lebih penting dari pak Tian sekarang adalah kekasihnya," goda Robby diseberang telpon.
"Aku serius," jawab Tian kesal.
"Iya-iya. Ada tugas penting apa?" tanya Robby.
"Kamu kirim orang untuk memata-matai Desi. Dengan siapa dia bertemu dan kemana saja dia pergi," titah Tian.
"Boleh tau maksud dari tugas penting ini?" tanya Robby ingin tau dan agar ia bisa menjalankan misinya dengan baik.
"Beberapa bulan yang lalu, ingat kan Desi pernah mencariku ke kantor? Dan ternyata aku akan ke Bali dengan Irene," urai Tian.
"Ooh iya ingat. Terus?" tanya Robby.
"Waktu itu Desi pergi menemui mama. Dia menyerahkan beberapa foto tentang masa lalu Irene. Aku ingin tau darimana dia dapatkan semua foto itu. Aku ingin infonya segera," titah Tian.
"Baik, segera aku kirimkan beberapa orang kepercayaan kita untuk tugas penting ini," sahut Robby.
"O iya mama Gina, Elis dan Dani mungkin besok atau nanti sore baru terbang ke Bali. Elis masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikan," ujar Robby.
"Baiklah. Kamu urus untuk akomodasi dan penginapannya," perintah Tian.
"Untuk hotelnya samakan saja dengan tempatku saat ini," imbuh Tian lagi.
"Baik bos," sahut Robby.
Setelah menutup telponnya ternyata ada panggilan masuk dari Irene.
"Iya sayang. Kamu sudah merindukanku?" goda Tian setelah menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
"Sangat sangat merindukanmu," balas Irene menggoda Tian.
"Kamu sudah pintar menggombal sekarang," celetuk Tian.
"Aku serius sayang," sahut Irene manja.
"O iya sayang, maaf makan siangnya sedikit terlambat," ucap Irene dengan nada sedikit menyesal.
"Belum selesai pekerjaannya?" tanya Tian.
"Belum. Tapi aku janji nanti aku sekalian pulang, jadi bisa bersamamu lebih lama," sahut Irene berusaha merayu Tian.
Tian terkekeh.
"Iya tidak apa-apa sayang, tidak usah terburu-buru. Selesaikan saja dulu pekerjaanmu" jawab Tian.
"Ok. Nanti aku chat begitu hampir selesai jadi nanti kamu tidak lama menungguku," ujar Irene.
"Hhmmmm," jawab Tian singkat.
"See you pak bos, I love you" sahut Irene.
"See you sayangku, I love you too. Muuachh," balas Tian diakhiri dengan cium jauh yang membuat Irene tertawa bahagia disebrang sana.
(Ini penampilan kasual Christian Abimanyu) 😄
"Dia begitu romantis," batin Irene sambil senyum-senyum sendiri sambil memandang layar ponselnya.
Setelah menyerahkan laporan akhir tahun pada atasannya, Irene sekalian pamit karena tugasnya sudah selesai.
Jadi ia bisa menikmati hari libur panjang dengan tenang.
"Kak Ren, ada yang menunggumu didepan," sahut Febie antusias yang baru datang dari makan siang. Ia bergegas menuju meja Irene.
"Tampan sekali kak," celetuk Mia yang juga rekan kerjanya bersemangat.
Karena tadi ketika Tian mendekati mereka untuk bertanya, kedua wanita itu menjerit histeris. Disapa pria tampan.
"Ok, thanks ya" sahut Irene santai sambil merapikan meja kerjanya.
"Itu pacarnya kak Irene? Bukannya dia salah klien kita ya kak?" tanya Febie polos dengan nada yang tidak terkontrol.
"Ssttt... jangan keras-keras. Nanti pak bos dengar," bisik Irene sambil menutup mulut Febie dengan tangannya.
"Memangnya kenapa kak?" bisik Febie begitu Irene melepaskan tangannya.
"Aku merasa tidak enak saja. Aku hanya tidak ingin urusan kantor dicampur adukan dengan urusan pribadi. Aku takut nanti dibilang tidak profesional," urai Irene panjang lebar.
Febie dan Mia manggut-manggut mendengar penjelasan Irene.
"Kak Irene bertemu dengan pacarnya dimana?" tanya Mia penasaran.
"Kalian serasi sekali kak. Kak Irene cantik sedangkan pacarnya tampan," ujar Febie memuji.
Irene hanya tersenyum mendengar pujian Febie.
"Sudah tidah usah bergosip. Lain kali aku ceritakan. Sekarang lanjutkan pekerjaan kalian," nasihat Irene.
"O iya selamat berlibur ya," ucap Irene kemudian bergegas menuju keluar.
"Selamat berlibur kak," sahut Febie dan Mia bersamaan.
Memang umur mereka terpaut jauh sehingga beberapa kali Irene harus menasihati mereka tentang berbagai hal.
...-------------...
Senyum mengembang dibibir Irene melihat sang pujaan hati yang sudah menunggunya disamping mobil, bersiap membukakan pintu untuknya.
Irene terpukau dengan penampilan kasual Tian. Pantas saja Febie dan Mia histeris.
"Mau makan siang dimana sayang?" tanya Tian sambil menghidupkan mesin mobil.
"Aku punya tempat yang bagus. Tapi aku takut makanan disana mahal sayang," jawab Irene ragu.
Tian tersenyum. Begitu polosnya kekasihnya itu.
"Sudah masukkan saja alamatnya di GPS. Aku sudah lapar sayang," rengek Tian.
dukung karya ku juga y cucu manja oma
*Suamiku ceo ganas
"Sarlince(cinta sepihak)