Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Bersama
Pesawat pribadi Noah sudah mendarat. Terlihat dari dalam kabin pesawat, empat penumpangnya masih terlelap. Tidak lama Ferdinan yang berbaring di kursi barisan pertama bersama Farika pun terbangun. Matanya mengerjap pelan dan terbuka, pandangannya langsung tertuju pada pemandangan malam hari di luar yang ternyata pesawat sudah mendarat.
"Far bangun!" Ferdinan mengguncang pelan lengan adiknya yang masih tertidur memeluk tubuhnya, "kita sudah tiba."
"Mmmm." Farika hanya mengeliat dan semakin mengerutkan pelukannya pada Ferdinan.
Anak laki-laki itu mencebikkan bibirnya. Beginilah Farika saat tertidur, sangat sulit untuk dibangunkan. Dasar kebo betina!
Tidak jauh dari mereka, Faustine mengeliat pelan di kursinya saat mendengar suara Ferdinan.
"Kenapa?" Faustine bertanya dalam kondisi yang masih belum sepenuhnya sadarkan diri. Menggosok pelan kedua matanya.
"Pesawat sudah mendarat dan Farika masih menahan tubuhku dengan pelukannya."
Faustine menghela napas sebelum beranjak dan menghampiri saudara kembarnya. Melewati kursi Noah yang berdampingan dengan kursi Ferdinan.
"Far bangun!" Faustine menarik lengan adiknya dengan pelan.
"Biarkan saja!" cetus Noah yang masih terpejam.
Tidak lama kemudian pria itu pun bangkit dari baringnya, terduduk di kursinya sambil mengusap wajah bantalnya yang masih tetap menawan lalu mengacak rambutnya dengan pelan.
"Kalau dibiarkan kita tidak akan pernah turun dari pesawat ini." Faustine menatap Noah dengan kesal.
Noah menghela napas pelan, mengerjapkan matanya pada Faustine, "kau tidak pernah menatapku dengan tatapan yang baik. Selalu saja matamu itu melotot padaku."
Faustine menundukkan matanya pada Noah. Yah, dia sadar. Dia terlalu kurang ajar pada pria itu. Meskipun dia tidak menyukainya, tapi tetap saja dia harus menunjukkan sikap sopannya, karena dia lebih tua darinya. Itulah yang diajarkan oleh bundanya.
Sementara Noah pun bangkit dari kursinya menuju kursi Ferdinan lalu meraih tubuh kecil Farika dalam gendongannya, berjalan keluar dari pesawat.
Fau dan Fer saling bertukar pandang saat melihat aksi pria itu. Seolah tatapan mereka seperti bertanya apa yang terjadi dengan pria itu?
Ferdinan mengedikkan bahunya lalu beranjak dari kursinya untuk keluar dari kabin pesawat tersebut. Faustine pun sama setelah menarik napas pelan, anak itu menyusul Ferdinan dari belakang.
Di dalam mobil yang sedang melaju pun ekspresi Fau dan Fer masih sama. Sesekali mereka melirik Noah yang duduk di tengah dengan Farika masih tertidur di pangkuannya. Bahkan gadis kecil itu semakin mengeratkan pelukannya pada Noah. Seolah anak itu merasa nyaman bersandar pada dada bidang pria itu.
Begitupun dengan Noah. Pria itu juga merasa aneh dan bingung dengan apa yang sedang dia lakukan. Apa mungkin dia sedang mencari perhatian anak-anaknya? Atau mungkin nalurinya sebagai seorang daddy sudah muncul secara alami? Entahlah, namun yang pasti hati kecilnya memerintahkannya untuk melakukan hal itu.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Noah melakukan hal itu pada anak-anaknya. Dia hanya merasa tersentuh dengan kedekatan dan kehangatan yang tercipta diantara mereka bertiga.
Saat dalam perjalanan udara, Noah selalu memperhatikan mereka. Interaksi yang mereka tunjukkan sangat manis, mereka sesekali tertawa bersama, saling mengutarakan perasaan mereka satu sama lain bahwa mereka saling mengkhawatirkan dan saling merindukan. Dan saat mereka terlelap pun mereka masih menunjukkan kasih sayang mereka, saling melindungi dan saling menjaga.
Sebelum Faustine pindah ke kursi yang lain untuk tidur. Mereka sempat tidur bertiga. Farika yang berada di tengah memeluk tubuh Ferdinan sementara kakinya mengikat tubuh Faustine dan dua anak laki-laki itu memeluk tubuh Farika yang berada di tengah-tengah mereka.
Mengingat hal itu membuat Noah tersenyum tipis. Apakah sekarang anak-anak itu melembutkan hati kerasnya?
Pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri saat kini mobil sudah terparkir di depan rumah mewah milik Kaila. Entah apa yang sedang dia pikirkan, namun yang pasti ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
"Kita sudah sampai uncle!" Faustine menginterupsi saat sudah turun dari mobil. Menahan pintu dari luar.
"Ah?" Noah tersadar lalu turun dari pintu yang masih ditahan oleh Faustine masih menggendong Farika. Astaga anak gadis kok kebo banget.
"Bangunkan dia uncle." Fer menunjuk Farika saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
"Biarkan saja. Lagipula dia tidak berat sama sekali."
Pria itu tersenyum tipis dan berlalu masuk menuju ruang tamu.
"Farika!"
Kaila yang sedang duduk di ruang tamu langsung beranjak mendekati Noah yang sedang berjalan ke arahnya dengan Farika berada dalam gendongannya.
"Apa yang terjadi padanya?" Kaila menatap Noah dengan cemas.
Noah hanya menggeleng.
"Bunda!" Farika langsung melorotkan tubuhnya dari Noah saat mendengar suara Kaila dan langsung memeluknya.
"Sayang!" Kaila berjongkok di depan Farika, "kau baik-baik saja, hm?" Wanita itu mengelus lembut wajah anaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Astaga dia sangat merindukan anak gadisnya.
"Dia sangat peka dengan suara bunda." bisik Ferdinan pada Faustine dengan wajah yang kesal.
"Itu hanya taktiknya saja agar bisa digendong." Faustine balik berbisik.
"Licik!" gerutu mereka bersamaan.
"Kita harus pergi sekarang Tuan." Ben berbisik pada Noah. "Ada yang harus kita selesaikan."
Noah mengangguk pelan.
"Bunda sangat bersyukur kamu baik-baik saja, Nak." Kaila menarik Farika ke dalam pelukannya dengan suasana yang penuh haru.
"hm." Noah berdehem.
Semua orang pun mengalihkan atensinya pada pria itu.
"Aku akan pergi sekarang." Noah mengangkat sebelah alisnya, "apakah tidak ada yang ingin mengantar kepergianku?"
"Emm—" Kaila bangkit dari jongkoknya.
"No,no." cegat Noah saat melihat bibir Kaila bergerak hendak mengatakan sesuatu, "harusnya aku tidak berharap lebih." Noah tertawa pelan, "aku sebaiknya pergi saja. Baiklah." Noah pun berbalik dan menatap Fau dan Fer.
Noah tersenyum tipis pada mereka berdua, "twins? kalian tidak lupa kan?" Noah mengedipkan sebelah matanya pada mereka lalu mengacak pelan rambut mereka, "kita bertemu lagi besok. Ok."
Pria itu pun hendak melangkahkan kakinya namun Kaila mencegatnya.
"Ada apa?" Noah berbalik lagi menatap Kaila, "apa kau ingin meminta maaf atas tuduhan yang tidak mendasar itu."
Kaila menghela napas lalu tersenyum tipis, "aku tidak ingin meminta maaf. Tapi aku ingin berterima kasih."
Kening Noah berkerut bingung menatap wanita itu, "dengan apa?"
"Dengan makan malam. Kau pasti belum makan malam kan. Maka dari itu sebelum pergi makanlah dulu, aku sudah menyiapkannya."
Kaila mengalihkan tatapannya dari Noah kepada tiga anak kembarnya, "kalian pasti belum makan kan?"
Mereka serentak mengangguk.
"Ya sudah kita makan sekarang yah. Setelah itu kalian harus istirahat." Kaila pun menuntun anak-anaknya menuju ruang makan.
"Kalian tidak ikut?" Kaila berbalik lagi menatap Ben dan Noah yang masih bergeming. "Ya sudah." Wanita itu pun melenggang pergi ke ruang makan.
"Tuan pergilah! Biar aku yang menyelesaikan pekerjaan ini," cetus Ben.
"Kau tidak lapar?"
Ben menggeleng pelan.
"Baiklah. Kau pergilah lebih dulu, setelah makan malam aku akan menyusul." Noah menepuk pundak Ben.
Ben tersenyum tipis saat melangkah meninggalkan Noah. Pria itu pun kembali menoleh pada Noah yang masih berdiri ditempatnya, "nikmatilah makan malam bersama keluarga barumu, Tuan!"
Noah melotot tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan asisten gilanya itu. Namun entah kenapa bibirnya tertarik sedikit dan pipinya bersemu merah. Keluarga baru? astaga apakah tawaran makan malam sebagai ucapan terima kasih bisa disebut makan malam keluarga.
Noah tiba di ruang makan dengan perasaan yang tak menentu, terlebih saat melihat Kaila sedang bersikap penuh perhatian pada anak-anaknya. Mengisi piring mereka dengan makanan sambil tersenyum hangat.
"Duduklah, da—" Ferdinan langsung melipat bibirnya saat hampir menyebut Noah dengan sebutan daddy. "Duduklah uncle! Kenapa kau berdiri disitu?"
"Duduklah disini." Kaila menarik kursi untuk Noah. Pria itu pun melangkah dan mengambil duduk disana.
Kaila meletakkan piring di depan Noah, "makanlah!"
Kaila pun mengambil duduk di sisi Noah namun dua kursi dari pria itu menjadi jarak.
Triple twins yang duduk di depan mereka pun serentak menatap mereka penuh selidik.
"Bunda!" Farika berseru pada bundanya namun matanya tertuju pada Noah.
"Mmm." Kaila menatap Farika, "ada apa sayang? Kau perlu sesuatu?"
"Dia." Farika menunjuk Noah. Membuat tubuh pria itu terkesiap. "Apa benar dia ayah kita?"
Ujung mata Kaila berkedut lalu mengerjap bingung. Dia harus memulai dari mana?
"Jawab saja dengan jujur Bun." Ferdinan menatap bundanya yang bingung.
Kaila tersenyum canggung dan menelan ludahnya dengan gugup, "iya sayang. Dia adalah ayah kalian."
Faustine mendengus lucu, "apakah dia pria baik dan luar biasa yang selalu bunda ceritakan itu?"
Noah langsung mengalihkan pandangannya pada Kaila yang terlihat bingung. Apa dia mengatakan bahwa dia adalah pria yang luar biasa pada anak-anaknya? Kenapa dia melakukan hal itu?
Kaila mencoba menarik napasnya dalam-dalam, berusaha mengontrol rasa gugupnya. Dia tidak pernah mengharapkan situasi seperti ini. Diintrogasi oleh anak-anaknya sendiri karena ketahuan berbohong. Yah, Kaila juga tidak ingin memuji pria brengsek itu pada anak-anaknya. Namun tetap saja pria itu adalah ayah dari anak-anaknya. Cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu dan tidak mungkin Kaila mengatakan pada mereka bahwa ayahnya adalah pria brengsek. Kaila tidak ingin anak kembarnya itu membenci ayahnya sendiri.
"Yah." Kaila tersenyum tanpa beban pada mereka. "Bukankah menurut kalian dia adalah ayah yang luar biasa dan baik?"
Ferdinan tertawa lucu, "Dari segi apa bunda menilai pria ini baik?"
"Fer!" Kaila menatap anaknya dengan menginterupsi. "Dia ayahmu, hormatilah dia."
Kaila merutuki dirinya sendiri dalam hati. Astaga dia benar-benar sudah gila sekarang. Tapi tetap saja, sopan santun dan akhlak yang baik terbentuk dari interaksi sederhana. Orang tua terhadap anaknya ataupun sebaliknya. Sifat menghargai pun sama. Meskipun Kaila benci pria itu. Tapi tetap saja dia adalah pria yang memberikannya anak-anak jenius itu. Tapi tetap saja. Ah sudahlah, Kaila pun bingung dengan perasaannya sendiri.
"Baiklah, bunda akan perjelas malam ini." Kaila menarik napas pelan. "Dia memang ayah kalian. Jika kalian bertanya dia tidak seperti yang bunda ceritakan pada kalian. Kalian salah besar. Dia memang pria yang luar biasa. Apa kalian tahu? Pria ini memiliki banyak perusahaan, dia pria yang kaya raya, CEO. Dia memiliki hotel, maskapai penerbangan, perusahaan IT, manufaktur dan lain-lain. Bukankah itu luar biasa?" Kaila mengangkat sebelah alisnya menatap anak-anaknya.
Sementara Noah kini bergeming dengan mulut ternganga. Darimana wanita itu mengetahui segalanya? Apa wanita itu mencari tahu tentang dirinya? Lagi-lagi hal itu membuat Noah tersenyum tipis. Ah dia merasa bangga karena wanita itu penasaran terhadap dirinya.
"Apa kalian tahu? Dengan memiliki ayah yang begitu luar biasa seperti dia." Kaila menunjuk Noah, "Kalian lebih mudah mencapai cita-cita kalian. Ferdinan kau bisa bekerja di perusahaan IT milik ayahmu, dengan kemampuanmu kau bisa mengembangkannya. Faustine, kau bisa bekerja diperusahaan yang bergerak di bidang manufaktur milik ayahmu. Bukankah kau sangat menyukai bidang seni desain. Kau bisa menjadi seorang perancang bangunan yang profesional disana, kau juga bisa mengembangkan bakat bela dirimu dan untuk Farika, kau sangat pandai dalam menguasai berbagai bahasa asing. Kau bisa jadi pramugari di maskapai penerbangan milik ayahmu. Karena kekuasaan yang dimiliki ayahmu kaupun bisa membuka galeri untuk lukisanmu sendiri dan untuk cita-citamu yang ingin menjadi dokter, bunda yakin pria ini memiliki rumah sakit ternama. Kau bisa bekerja disana." Kaila berucap dengan berurai air mata. Entah sejak kapan air mata itu mengalir dengan derasnya. Kaila pun mengusap air matanya dengan cepat.
"Kita tidak akan menerima semua itu jika kita harus meninggalkan bunda." Faustine berucap dengan tatapan sendunya pada Kaila.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Kalian akan selalu bersama dengan bunda kalian. Disisiku!" cetus Noah dengan menekankan kata disisiku. Tatapan intensya hanya tertuju pada Kaila saat ini. Dia tidak pernah mengira wanita keras kepala itu memiliki hati yang sangat lembut. Dia memujinya di depan anak-anaknya, padahal Noah sangat tahu bahwa wanita itu sangat membencinya. Entah darimana kekuatan itu berasal. Namun yang pasti itu membuat hatinya berdebar aneh. Perasaan apa itu?
Farika menghela napas jengah saat melihat Noah dan Kaila masih saling beradu tatap. Astaga ini bukan film india.
"Lalu," Faustine berucap membuat fokus semuanya teralih pada anak itu, "bagaimana dengan yang bunda katakan bahwa dia adalah pria yang baik? Menurutku dia bukanlah pria yang baik." Anak itu memicingkan matanya pada Kaila begitupun dengan Noah. Dia begitu penasaran apa yang akan wanita itu jawab. Apakah dia akan membelanya lagi atau mungkin sebaliknya?
Kaila menghela napas pelan lalu menatap Faustine dengan lekat. Yah, dia tahu anak itu kecewa dengan pria itu, mengingat apa yang sudah terjadi beberapa hari terakhir. Tapi tetap saja, seburuk apapun pria itu dia tetaplah ayah mereka. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat.
"Penilaian seseorang tentang kebaikan itu berbeda-beda, sayang." Kaila tersenyum, "Ada yang menilai kebaikan dari luarnya saja dan ada yang menilai kebaikan dari dalam. Disini." Kaila menunjuk dadanya.
"Sebagian orang ada yang melakukan kejahatan demi kebaikan." Kaila melirik Noah. "Dan sebaliknya. Ada yang melakukan kebaikan demi kejahatan. Dan bagaimana kita menilainya? depends on our minds. Kau akan tertipu atau tidak, pilihannya ada pada diri kita masing-masing." Kaila berusaha menarik senyum di wajahnya. Yah, perkataan itu lebih cocok untuknya bukan. Dia tertipu lagi oleh Niko yang selama ini melakukan hal baik padanya namun memiliki niat jahat pada akhirnya.
"Dan menurut bunda dia adalah pria yang baik. Coba kalian pikirkan. Dia yang menyelamatkan bunda dan kalian bukan? Meskipun cara yang dia lakukan salah." Kaila menatap tajam Noah. Namun pria itu nampak tersenyum tipis. Wanita itu benar-benar membelanya. Itu membuat jiwanya terbang ke udara.
"Bagaimana kalian bertemu?" Tanya Ferdinan pada akhirnya setelah sejak tadi hanya terdiam.
Uhuk!
Noah tersedak ludahnya sendiri, begitupun dengan Kaila. Wanita itu duduk dengan tidak nyaman kini.
"Berhenti bertanya dan habiskan makanan kalian sebelum makanan itu basi." Tandas Kaila lalu menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Ferdinan mendesis penuh selidik, "apakah pertemuan kalian tidak normal?"
"Berhenti bertanya Fer!" Tatapan Kaila terlihat sarat akan kemarahan namun dia masih mencoba untuk berucap dengan lembut.
Farika menyenggol lengan kakaknya itu, "menurut saja! dan berhenti bertanya tentang pertemuan mereka? Tentu saja itu adalah privasi delapan belas plus. Kau paham?"
Ferdinan mengangguk meskipun tidak paham.
Mereka pun mulai makan dengan hikmat tak ada perbincangan yang penting lagi selain Farika yang tidak pernah berhenti mengoceh pada Kaila tentang Abraham. Dan sekarang anak itu berpindah tempat duduk di samping bundanya.
Lagi-lagi Noah berusaha menutup telinganya untuk tidak mendengar segala bentuk kebohongan yang diucapkan anak gadisnya itu. Bagaimana mungkin anak itu terus menerus memuji daddynya. Astaga, pikiran anak itu diracuni oleh pria tua itu.
Sementara Fau dan Fer sesekali melirik Noah dengan tatapan yang tidak bisa ditebak. Mungkin perasaan rasa bersalah, karena sudah bersikap kurang ajar pada pria itu.
"Berhenti menatapku seperti itu!" Noah berbisik pada mereka membuat mereka langsung mengalihkan tatapannya dari pria itu.
Noah mendengus, "aku tahu kalian merasa bersalah bukan?"
Fau dan Fer kompak melayangkan tatapan tajamnya pada Noah.
"Itu memang kenyataannya kan? Jika iya? Mulai besok kesepakatan kita mulai berlaku."
"Kau pria yang licik." Faustine berdecih, "bagaimana mungkin kesepakatan yang kau tetapkan itu berlaku secara sepihak. Itu adalah perbuatan yang ilegal. Melanggar hukum."
"I know... aku hanya mengingatkan saja agar kalian tidak lupa." Noah mengibaskan tangannya.
Fau dan Fer mendengus kesal. Astaga belum satu jam mereka luluh pada pria itu, dia kembali berulah. Sepertinya status ayah dan anak tidak cocok antara mereka. Mungkin lebih cocok jika status sebagai saudara saja. Lagipula pria itu lebih kekanak-kanakan dari pada Fau dan Fer.
...Happy Reading ❤...
Ok readers. Hari ini double up yah. Semoga kalian senang.
Dan Nikmatilah keharmonisan mereka sebelum badai menerjang 😉🙈🔫🙄
Jangan lupa tinggalkan dukungan kalian untuk karya author yang sedang ikut lomba ini yah. Dengan cara.
Like yang banyak.
Vote yang banyak.
Komentar yang positif.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂