NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Acara di rumah Daren tidak selesai dengan tenang.

Tentu tidak ada yang berteriak. Tidak ada piring pecah. Tidak ada tamu yang keluar sambil membanting pintu. Keluarga seperti Pradipta terlalu terlatih untuk itu. Mereka melukai dengan senyum, lalu meminta pelayan menambah teh.

Namun setelah Alya menyebut hasil lab dan pengacara, tawa di ruangan itu berubah.

Lebih pendek.

Lebih hati-hati.

Perempuan-perempuan yang tadi ingin menguji menantu baru itu mulai menimbang ulang setiap pertanyaan. Ratna tetap duduk dengan punggung tegak, tetapi jari telunjuknya mengetuk cangkir pelan. Daren berdiri di dekat pintu, tidak masuk penuh ke lingkaran, seolah ingin melihat medan sebelum memilih kalimat.

Arga duduk di kursi bersandaran tinggi, wajah pucat, tetapi matanya hidup.

Hidupnya itu masalah baru untuk semua orang.

"Alya," kata Dira akhirnya, berusaha menyelamatkan suasana. "Aku senang kamu perhatian pada Arga. Tapi mungkin urusan medis bisa kita bahas di keluarga inti. Tamu-tamu jadi khawatir."

Alya menatap gelasnya. "Aku juga tidak ingin membahasnya. Bu Ratna yang meminta kabar baik."

Beberapa wanita menunduk untuk menyembunyikan reaksi.

Dira tersenyum semakin kaku. "Iya, tentu. Maksud Mama pasti hanya ingin semua orang ikut lega."

Ratna berkata pelan, "Dira, tidak perlu menjelaskan niatku. Alya sudah memutuskan sendiri apa yang ingin dia dengar."

Alya mengangkat wajah. "Kalau Bu Ratna ingin mengatakan saya salah dengar, silakan koreksi."

Ratna menatapnya.

Daren masuk sebelum ibunya menjawab.

"Arga," katanya hangat, "aku ingin bicara sebentar. Ada ruang kerja di belakang. Tidak lama."

Alya berkata, "Tidak."

Daren menoleh. "Aku bicara dengan adikku."

"Arga punya batas waktu satu jam. Sisa waktunya dua puluh menit. Kalau bicara, di sini."

Arga mengangkat gelas, menutupi mulutnya.

Daren melihat itu. "Kamu bahkan tidak mengizinkan dia bicara sendiri?"

Arga menurunkan gelas. "Aku bisa bicara sendiri. Aku hanya tidak ingin."

Kalimat itu membuat Daren diam.

Ratna akhirnya berdiri. "Kalau begitu, biarkan Arga istirahat. Alya, karena kamu sudah datang, mungkin bisa menemani Dira sebentar melihat kegiatan yayasan. Banyak program kesehatan yang cocok dengan latar belakangmu."

Ah.

Alya hampir tersenyum.

Panggung kedua.

Kalau ia menolak, ia tampak sombong. Kalau ia ikut, Arga ditinggal dengan keluarga Pradipta. Atau sebaliknya, ia dibawa ke tempat yang sudah disiapkan.

Arga menatapnya.

Alya menatap balik.

Tidak perlu kata-kata.

Ia berkata, "Saya ikut sebentar. Arga tetap di sini. Yusuf ada di depan. Lilis menunggu di mobil dengan obat darurat. Kalau ada yang memberi Arga makanan atau minuman tanpa izin saya, acara syukuran ini akan berubah menjadi laporan polisi."

Ruangan langsung dingin.

Seorang tante berbisik, "Ya Allah."

Dira memucat. "Alya, tidak ada yang akan--"

"Bagus."

Arga berkata, "Aku akan baik-baik saja."

"Kamu tidak boleh sok kuat."

"Aku tahu."

"Kalau lelah, pulang."

"Iya."

Daren menatap mereka dengan ekspresi sulit dibaca.

Dira membawa Alya ke ruang samping. Di dinding ada foto-foto kegiatan yayasan Pradipta: bantuan alat kesehatan, operasi gratis, pengajian ibu-ibu, beasiswa perawat. Semuanya rapi. Terlalu rapi.

"Kamu membuat semua orang takut," kata Dira setelah pintu tertutup.

Nada suaranya masih sopan, tetapi lelahnya keluar.

"Mereka takut karena salah paham atau karena tahu ada masalah?"

Dira memandangnya. "Kamu selalu menjawab dengan pisau?"

"Tidak. Kadang dengan dokumen."

Dira tertawa kecil tanpa senang. "Aku tidak ingin menjadi musuhmu."

"Tapi kamu mengundangku ke acara yang jelas-jelas disiapkan untuk mengujiku."

"Aku tidak punya banyak pilihan."

"Semua orang selalu berkata begitu sebelum melakukan sesuatu yang buruk."

Dira menatap foto di dinding. "Kamu pikir mudah menjadi istri Daren?"

Alya diam.

Dira melanjutkan, "Semua orang mengira aku menikmati posisi. Istri calon pewaris, menantu kesayangan, wajah yayasan. Padahal setiap kata yang keluar dari mulutku harus lebih dulu kutimbang. Kalau aku diam, aku dianggap tidak mendukung suami. Kalau aku bicara, aku dianggap ambisius. Kalau Mama Ratna meminta sesuatu, aku tidak bisa sekadar bilang tidak."

"Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?"

Dira menoleh.

Matanya tidak lagi tersenyum.

"Karena ada orang yang ingin melihatmu terpancing."

"Kamu?"

"Bukan."

"Ratna?"

Dira tidak menjawab.

Cukup.

"Apa rencananya?"

"Aku tidak tahu semua." Dira merendahkan suara. "Tapi aku dengar Mama bicara dengan seseorang. Katanya setelah acara ini, akan ada makan malam yayasan yang lebih besar. Banyak orang luar keluarga datang. Media kecil juga mungkin hadir. Mereka ingin membuatmu terlihat arogan, seolah kamu menantu baru yang memfitnah ibu mertua dan mengendalikan suami sakit."

"Kenapa kamu memberi tahuku?"

Dira tersenyum pahit. "Karena kalau Arga benar-benar diracuni pelan-pelan, aku tidak mau ikut menanggung dosa itu."

"Tapi kamu tetap berdiri di sisi Daren."

"Dia suamiku."

"Itu jawaban atau alasan?"

Dira terdiam.

Alya menatapnya beberapa saat. Dira bukan sekutu. Belum. Ia hanya orang yang mulai takut kapal yang ia tumpangi bocor.

Itu tetap berguna.

"Makan malam yayasan kapan?"

"Jumat malam."

"Siapa yang datang?"

"Istri komisaris, beberapa dokter, donatur, Karina Hartono."

"Putri Menteri Hartono?"

"Iya. Dia mengelola program kesehatan ibu. Mama ingin terlihat dekat dengannya."

Nama itu penting.

Dalam kehidupan lalu, Karina Hartono pernah menjadi salah satu perempuan yang difitnah dalam skandal yayasan. Kasus itu menghancurkan karier sosialnya selama beberapa tahun, lalu ayahnya menarik dukungan dari salah satu proyek kesehatan. Saat itu Rafi menggunakan kekacauan itu untuk masuk sebagai penyelamat.

Jika pola itu muncul lebih awal sekarang, berarti seseorang sedang mempercepat permainan.

"Ada lagi?"

Dira ragu.

"Dira," kata Alya, "kalau kamu hanya memberi setengah informasi, kamu tidak sedang membersihkan diri. Kamu sedang memilih sisi dengan cara pengecut."

Wajah Dira memerah.

"Aku dengar nama Raka."

"Raka siapa?"

"Raka Wibisana. Donatur muda yayasan. Reputasinya buruk. Suka perempuan, suka mabuk, tapi keluarganya punya uang."

Alya mengingat nama itu.

Di kehidupan lalu, Raka pernah muncul di banyak gosip. Lelaki yang selalu lolos karena keluarganya membayar.

"Dia dekat dengan Karina?"

"Tidak. Karina membencinya."

Maka jelas.

Alya menarik napas pelan.

"Mereka ingin menjebak Karina."

Dira terkejut. "Apa?"

"Atau menjebakku memakai Karina."

"Aku tidak tahu sampai sejauh itu."

"Sekarang kamu tahu."

Dira terlihat benar-benar takut. "Alya, kalau benar begitu, ini bukan sekadar perang keluarga."

"Memang bukan."

Pintu ruang samping diketuk.

Seorang asisten rumah berkata, "Nyonya Dira, Tuan Arga terlihat lelah."

Alya langsung keluar.

Di ruang utama, Arga memang tampak pucat. Namun ia masih duduk tegak. Ratna berada tidak jauh darinya, wajahnya penuh perhatian. Terlalu dekat.

Alya berjalan cepat.

"Kita pulang."

Ratna berkata, "Alya, Arga baru saja--"

"Kita pulang," ulang Alya kepada Arga, bukan kepada Ratna.

Arga mengangguk.

Daren berkata, "Belum satu jam."

Alya menatapnya. "Terima kasih sudah menghitung."

Ia membantu Arga berdiri. Kali ini Arga tidak menolak. Tangannya dingin.

Saat melewati Dira, Alya berhenti sebentar.

"Kirim daftar tamu Jumat."

Dira menegang.

Ratna mendengar.

Matanya menyipit.

Alya tidak menunggu jawaban. Ia membawa Arga keluar.

Di mobil, Arga bersandar dengan mata tertutup.

"Apa yang kamu dapat?"

"Makan malam yayasan Jumat. Karina Hartono. Raka Wibisana. Kemungkinan jebakan."

Arga membuka mata.

"Untukmu?"

"Mungkin. Untuk Karina juga."

"Kamu akan datang."

"Iya."

"Tentu saja."

"Kamu tidak ikut."

"Aku tahu. Aku hampir pingsan tadi."

Alya menoleh.

Kejujuran itu jarang.

Arga tersenyum lemah. "Aku belajar. Jangan terlalu terharu."

"Aku tidak."

"Bohong."

Alya melihat jalan.

Ia tidak terbiasa ada orang yang mengaku hampir pingsan tanpa menjadikannya alasan untuk menguasai suasana. Arga hanya mengatakan batas tubuhnya, lalu menerima konsekuensinya.

Aneh, pikir Alya. Dalam hidupnya yang panjang, banyak pria lebih rela menghancurkan ruangan daripada mengakui tubuhnya lemah. Arga tidak seperti itu. Belum tentu ia baik, tetapi ia bisa diajak melihat kenyataan.

"Istirahat. Jumat akan panjang."

Arga menutup mata lagi.

Beberapa menit kemudian, ia berkata pelan, "Alya."

"Ya?"

"Jangan biarkan mereka memakai perempuan lain seperti mereka memakai perawatku."

Alya diam.

Lalu menjawab, "Tidak akan."

Di luar jendela, Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu.

Dan di antara lampu itu, perang berikutnya sudah menunggu.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!