Dia terlahir dari setitik cahaya yang membentuk sebuah kehidupan.
Tidak tahu darimana dia berasal atau kemana tujuannya.
Tapi segala yang dia lihat saat ini membuatnya merasa asing.
Entah dibalik asal usul kehidupan yang dia jalani sekarang akan seperti apa takdir membawa semua ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shina Yuzuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua saudara
Memang benar apa yang dikatakan oleh Asmi, hanya saat dia merasa terdesak, babak belur, nyawa sudah di ujung tenggorokan atau pun bertaruh hidup mati.
Tapi dalam situasi yang sama pula, Davendra merasakan sendiri bahwa kekuatan itu meluap-luap, sangat kuat, bahkan merasa yakin jika dia belum mengeluarkan semuanya.
Akan tetapi setelah mengeluarkan kekuatan dalam waktu singkat, keadaan kembali lenyap, semua kosong, dan jelas saja ada sesuatu yang membuat energi dalam tubuhnya tersegel.
Davendra sadar ini tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin.
Bahwa kekuatan yang dia miliki, bisa di gunakan olehnya, hanya untuk sekarang masih belum mendapat pemahaman atas kendali energi itu.
"Jadi.... Kenapa kau yang menjadi pemenang lomba ini." Sintia secara terang-terangan menunjukan kekesalan karena Davendra yang mendapat hadiah utama.
"Maaf nona, selagi Anda terlalu sibuk mengejar, batu kristal itu datang sendiri kepadaku." Jawab Davendra.
Jika mereka hanya memiliki satu atau dua batu kristal, sedangkan Davendra memiliki tiga, satu dari panta*t ayam dan dua dari pertarungan melawan Zuzou.
Tidak ada yang menyangka bahwa dua batu secara khusus dibawa oleh raja kota, dan memang semua penjelasan tentang 'siapa pun bisa membawa batu kristal ini' membuat mereka tidak bisa membantahnya.
Tapi paling tidak satu batu kristal mentah itu sendiri memiliki nominal yang cukup banyak, jika di konferensikan dengan koin emas meskipun saat sudah menjadi koin kristal akan memiliki harga yang lebih besar.
"Karena kau mendapatkan keuntungan yang cukup banyak, paling tidak berikan kami sedikit bagian." Sintia masih belum menerima kekalahannya.
"Nona, bukankah sudah aku katakan perlombaan ini tidak menyangkut pautkan dengan status ku sebagai penjaga anda."
"Kau sungguh pelit, Davendra, paling tidak ajak kami makan." Itu yang Sintia minta.
"Itu benar, hanya beberapa cemilan tidak mungkin menghabiskan semuanya." Untuk kali ini Asmi setuju atas pendapat Sintia.
"Baiklah..... cih padahal uang saku yang anda punya jauh lebih banyak dari keuntunganku di perlombaan ini." Balas Davendra yang sedikit kesal.
Ya menang tidak adil, tapi untuk sekedar mengajak kedua wanita makan, tentu tidak membuat semua uang yang dia dapatkan habis.
Memasuki sebuah rumah makan yang terlihat ramai dan cukup mewah, Davendra merasa tidak nyaman untuk hal ini.
Kedua wanita yang dia bawa, seakan tidak pernah ingin melihat Davendra senang, melakukan hal-hal lain untuk membuatnya kesulitan.
Dan yang lebih sulit dari itu adalah saat dia membawa dua wanita ini ke sebuah situasi lebih buruk lagi.
Karena saat dia duduk di bangku makan, menunggu pesanan diantar, satu sosok tidak diharapkan pun datang, lelaki yang terbilang tampan namun keras kepala seperti sebuah tempurung kura-kura.
Kamo datang bersama para pengikut klan kura-kura hitam di rumah makan yang sama dengan Sintia, mungkin memang kebetulan atau mereka memang mengikutinya.
"Oh nona Sintia, kebetulan lagi kita bisa saling bertemu." Ucap Kamo.
Sedangkan Sintia jelas tidak menganggap bahwa kehadiran lelaki dari penerus klan kura-kura hitam itu datang tanpa sengaja.
"Itu benar, sungguh.... Jika ini sebuah kebetulan yang sangat kebetulan, dan mungkin, satu kali lagi kita bertemu itu artinya.... " Sintia merasa risih untuk kehadiran Kamo.
"Berjodoh ?." Ungkapnya dengan senyum lebar.
"Tidak bukan itu yang aku maksud ... Karena artinya aku sedang mengalami hari yang buruk." Sintia sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesal dengan kehadiran Kamo.
Dan seketika itu juga Sintia berdiri menunjukan tatapan tajam yang jelas berbeda dengan biasa Kamo lihat.
Nyatanya unek-unek Sintia karena lelaki satu ini tidak lagi bisa di bendung, tidak tahu kapan Kamo harus berhenti mengejar dan menganggu waktu santainya.
"Tuan kamo yang terhormat dan paling tampan se.... Ikhlasnya, bisa tidak anda memberi sedikit ruang untukku bernafas, karena sejak tadi kau mencoba menggangguku."
"Aku tidak menganggu nona Sintia, tentu anda tahu, bahwa lamaran ku kepada anda sudah di terima oleh Tuan salman."
"Ingat tuan kamo, aku belum menjawab apa pun, jadi anda tidak bisa menganggap bahwa bisa mendekatiku seenaknya sendiri." Tegas jawaban Sintia untuk Kamo.
Davendra baru mendengar ini, sebuah lamaran kepada Sintia, ya mungkin itu sebabnya Seui tidak terlalu perduli akan sikap Kamo yang mencoba mendekati Sintia.
Selain itu juga, Davendra jelas belum lama hadir di klan harimau api, banyak hal tidak dia ketahui dan mungkin karena ini bukan urusannya juga.
Tapi ya .... Sungguh sangat disayangkan jika tuan Salman membiarkan Sintia menikah dengan Kamo, dilihat dari mana pun, Sintia memang terpaksa untuk lamaran itu.
"Tentu nona sadar, bahwa lamaran yang aku berikan jelas menarik minat keluarga besar dari klan harimau api, terlebih lagi dengan semua keuntungan didapat jika keluarga harimau api dan kura-kura hitam saling berbesan." Seakan Kamo merasa menang di dalam hidupnya.
"Jika kau menganggap pernikahan menjadi sebuah keuntungan, lebih baik kau menikah dengan ayahku, itu jelas lebih mudah untuk mengatur semua aset kekayaan harimau api." Sintia semakin membuka pikiran dan mengutarakan segala kekesalan tentang kamo.
Sintia jelas tidak perduli dengan lamaran ini, tapi perihal klan harimau api ini sangat mengganggunya, di sana adalah tempat dia tinggal dan besar.
Hanya saja mendengar kamo membicarakan keuntungan dalam menikah, itu membuat Sintia kesal, ya lelaki seperti Kamo menganggap bahwa segala hal bisa dikendalikan oleh kekuasaan klan kura-kura hitam.
"Tuan kamo bisakah anda berhenti menganggu majikan ku." Kini Asmi turun tangan atas sikap Kamo yang sudah tidak menyenangkan di dengar.
"Oh, oh, oh, anda adalah nona Asmi yang menjadi pengikut klan harimau api."
"Aku tidak mengikuti siapa pun, tapi ini adalah pekerjaan." Perjelasnya.
"Meskipun nama anda cukup terkenal di kota ini, tapi anda salah tempat jika berani mengusikku." Terlihat jika Kamo masih bersikap berani dengan sosok Asmi.
Sebilah pedang dia keluarkan, tapi cepat tangan Sintia menghentikan tindakan Asmi yang mungkin menimbulkan masalah kepada klan kura-kura hitam.
Sintia tahu bahwa klan kura-kura hitam tidak akan membiarkan tuan muda mereka terluka, tiga penjaga yang mengawal Kamo, mereka akan sulit di lawan.
"Tuan kamo, kali ini bisa aku minta kepada anda untuk pergi dengan baik-baik." Sintia pun mencoba bicara tanpa mau membuat keributan.
"Baiklah, karena nona Sintia meminta." Kamo tidak lagi mendorong keinginannya ke tempat yang salah.
"Terimakasih." Jawab Sintia dengan tenang.
Davendra melihat sendiri, bagaimana Asmi mencoba melindungi Sintia, dan Sintia pun menjaga Asmi, jika di bilang mereka tidak cocok satu sama lain, itu salah.
Bagaimana pun Davendra merasa antara mereka berdua, lebih seperti dua saudara yang saling menjaga, terkadang bertengkar, dan sesekali bicara dengan akrab.
judul lainya apa thor? yg kamu tulis biar tak baca semua