NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 Murid Baru

"What!" pekik Chika dan Chaca ketika keduanya sudah berada di rumah Celia yang benar-benar kaget mendengar pernyataan Celia.

"Issss kalian jangan berisik. Om Darius baru saja tidur!" tegur Celia.

"Aduh-aduh Celia, tunggu dulu deh, ini beneran kamu dijodohin sama Alfian cowok songong itu?" tanya Chaca memastikan.

Celia mengangguk malas.

"Ya, aku juga tidak menyangka bahwa dia adalah laki-laki yang dijodohkan, padahal aku berharap bahwa pria yang dijodohkan dengan kau adalah Rafa, eh ternyata laki-laki itu," sahut Celia dengan sewot.

"Terus gimana? Kamu terima perjodohan ini?" tanya Chika.

"Aku sudah terlanjur mengatakan kepada Om Darius akan menerima Perjodohan ini dan aku juga sudah mengatakan kepada kalian berdua bahwa perjodohan ini aku terima karena aku ingin melanjutkan sekolah di universitas kedokteran di luar negeri dan ini adalah cara satu-satunya," jawab Celia.

"Meski laki-lakinya adalah dia?" tanya Chaca memastikan dengan raut wajahnya tampak tidak yakin.

"Om Darius mengatakan peluang besar untuk memasuki universitas kedokteran di luar negeri adalah dengan masuk SMA Bintang dan caranya dengan dijodohkan dengan putra temannya, tetapi bukan salahku jika Alfian menolak perjodohan itu, lagi pula mana mungkin juga kami menikah masih SMA," jawab Celia.

"Kesimpulannya kamu hanya mengambil kesempatan tanpa peduli siapa laki-laki yang dijodohkan kepada kamu?" tebak Chika.

"Benar sekali," sahut Celia.

"Tetapi bagaimana jika perjodohan kalian berdua justru menimbulkan permasalahan dan ini akan menjadi penghalang kamu untuk memasuki universitas luar negeri?" tanya Chika.

"Tidak akan, ketika aku masuk SMA Bintang dan maka semuanya ditujukan kepadaku, aku hanya cukup belajar dengan baik dan bersaing dengan murid-murid SMA Bintang dan masalah perjodohan itu hanya pembukaan saja yang terpenting kesempatan itu ada dan harus digunakan dengan baik," sahut Celia dengan yakin.

"Ya kalau masalah bersaing dengan anak-anak SMA Bintang, itu tidak perlu diragukan dan sudah pasti teman kita yang pintar ini akan mengalahkan mereka semua dan mungkin saja ketika kamu menjadi murid baru di SMA Bintang, kamu yang paling pintar di sekolah itu dan menjadi motivasi untuk mereka, untuk menyadarkan anak-anak orang kaya seperti mereka," sahut Chaca.

"Kalian berdoa doakan saja yang terbaik dan semoga aku bisa menyelesaikan semua ini," sahut Celia.

"Itu sudah pasti," sahut Caca dan Chika serempak.

*****

Celia sudah tidak menjadi murid SMA Cendrawasih lagi. Ini pertama kali bagi Celia memasuki SMA yang terlihat begitu besar dan mewah dari luar.

Celia harus jujur jika memang sekolah itu benar-benar mewah, sejak tadi kakinya menginjakkan kaki di sekolah itu ditemani oleh guru yang membimbingnya tidak lepas kepalanya terus berkeliling melihat betapa luasnya sekolah tersebut dengan fasilitas yang lengkap.

Celia juga menyesuaikan pakaiannya, jika di SMA sebelumnya pakaian murid-murid SMA seperti biasa dengan putih abu-abu dan maka di SMA Bintang, wanita menggunakan rok hitam kotak-kotak dan dipadukan dengan seragam dan tidak lupa memakai dasi.

Seragam yang benar-benar mewah dan menarik seperti biasa yang selalu dia dan teman-temannya perhatikan bagaimana anak SMA Bintang mau masuk ke sekolah itu.

"Ayo Celia di sana kelas kamu!" guru cantik itu mempersilahkan Celia.

"Baik Bu," sahut Celia dengan menganggukkan kepala.

Salah satu ruang kelas tampak ribut karena tidak ada guru di jam pelajaran. Terlihat Valery yang asik mengobrol bersama dengan Kania dengan keduanya sembari memperlihatkan kuku masing-masing yang baru saja mencoba warna kutek baru.

Sementara Diego dan Yogi tampak bermain game dengan suara mereka yang sejak tadi terdengar begitu berisik.

Lain dengan Alfian yang bersandar pada bangkunya dengan satu kakinya diletakkan di atas pahanya yang hanya melihat ponselnya dan pahala apa yang saat ini diperhatikan oleh laki-laki itu.

Anak-anak yang lain juga memiliki kesibukan masing-masing di tengah-tengah guru mata pelajaran yang tidak hadir di kelas tersebut.

"Bu Widya datang!" salah satu murid memberi informasi membuat murid-murid berhamburan duduk di tempat masing-masing.

Kania juga langsung menghadap depan dan begitu juga dengan Diego dan Yogi yang mematikan ponsel mereka.

5 Murid yang menjadi musuh bebuyutan Celia bersama teman-temannya cukup kaget melihat kehadiran Celia yang mengikuti langkah Widya.

"Bukankah itu wanita kampungan itu?" tanya Kania.

Valery mengangkat kedua bahunya kebingungan dengan Celia dan bahkan sampai memakai seragam yang sama dengan mereka.

"Mau ngapain wanita alay itu berada di kelas kita?" tanya Yogi.

"Minta sumbangan kali," sahut Diego dengan tertawa.

"Anak-anak duduk di tempat masing-masing dan jangan ada yang bersuara!" tegas Widya memberi arahan.

Mata Celia ternyata langsung tertuju pada Alfian yang juga melihat dirinya. Celia tampak sewot melihat Alfian yang sampai saat ini masih memegang ponselnya.

"Alfian, kenapa kamu tidak menyimpan ponsel kamu di loker, ayo bawa ke depan!" titah Widya membuat Alfian menghela nafas.

Cukup kaget dengan kedatangan Celia sampai membuatnya lupa untuk menyembunyikan ponselnya.

Alfian mau tidak mau berdiri dari tempat duduknya, tetapi saling menatap tajam dengan Celia.

"Sudah kuduga dia pasti menjadi murid yang paling bandel di kelas ini," batin Celia.

"Baik anak-anak, sebelum memulai pelajaran di jam pertama, kita perkenalkan dulu murid baru pindahan dari SMA Negeri Cendrawasih," sahut bu Widya langsung memperkenalkan.

"Hah pindahan!" pekik Diego secara serempak bersama dengan Yogi.

"Ada apa Diego, Yogi, kalian ingin mengatakan sesuatu?" tanya Widya.

"Tidak Bu," sahut Yogi.

"Baiklah, Celia sekarang kamu perkenalkan diri kamu!" ucap bu Widya membuat Celia menganggukkan kepala.

"Hmmmm, perkenalkan nama saya Arcelia Lavanya Maheswari, saya pindahan dari SMA Cendrawasih, senang bertemu dengan kalian semua," ucap Celia tanpa gugup ketika masuk ke dalam kandang musuh.

"Namanya keren tapi gayanya kampungan!" ejek Yogi.

"Justru semakin kampungan, jika orang kampung memberi nama anak mereka dengan nama seperti itu," sahut Kania.

"Baiklah Celia, ini sekarang menjadi kelas kamu dan kamu silakan berbaur dengan teman-teman satu kelas kamu, anak-anak terima Celia dengan baik dan jadilah temannya," ucap Widya.

"Iya Bu," sahut semuanya dengan serentak.

"Ogah!"

Valery, Kania, Diego dan Yogi menjawab berbeda dan benar-benar tidak sudi jika harus berbaur dengan murid baru di kelas mereka.

"Hmmmm kamu duduk di mana ya ....." Widya melihat-lihat bangku yang kosong.

"Duduk di sana!" ucap Widya membuat Celia menganggukkan kepala dan mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Alfian.

Di dalam kelas itu semua murid-murid memang duduk sendiri-sendiri. Alfian kembali menoleh ke arah Celia dan begitu juga dengan Celia.

"Apaan sih lihat-lihat aja dari tadi, nanti matanya dicolok baru tahu rasa," batin Celia dengan kesal.

"Apa sebenarnya maunya? kenapa tiba-tiba dia pindah sekolah?" batin Alfian kebingungan dengan kehadiran Celia di sekolahnya dan bahkan satu kelas dengannya.

Valery juga menoleh ke arah Celia, dari raut wajah Valery sudah terlihat tidak menyukai Celia, sudah pasti banyak dendam dia dan teman-temannya Celia dan juga teman-temannya.

"Bisa-bisanya wanita kampungan itu bisa sekolah di sini ada jangan-jangan gengnya yang tidak jelas itu juga pindah sekolah di sini," umpat Kania.

"Seperti apa yang gue katakan sebelumnya, anak-anak SMA Cendrawasih hanya iri kepada kita dan lihatlah mereka pengen juga sekolah di sini," sahut Yogi.

Bersambung....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!