NovelToon NovelToon
Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Si Kecil yang Terbuang

Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.

Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?

Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Pertemuan Ibu dan Anak

Suara alarm terus menggema di seluruh rumah tua. Lampu-lampu di lorong berkedip tanpa henti, sementara hitungan mundur pada bom terus berjalan.

09:48...

Arsen menggenggam tangan Clara erat.

"Bu Clara, kita harus keluar sekarang."

Clara mengangguk, meski tubuhnya masih lemah setelah bertahun-tahun hidup dalam kurungan.

Rangga segera membuka jalan.

"Pak, saya akan menghadang mereka."

"Tidak," jawab Arsen tegas. "Kita keluar bersama."

Victor tertawa melihat mereka.

"Kalian pikir bisa kabur semudah itu?"

Ia memberi isyarat kepada anak buahnya.

Belasan pria langsung menyerang Arsen dan Rangga.

Perkelahian kembali pecah di lorong sempit rumah tua itu.

Rangga berhasil melumpuhkan dua orang sekaligus, sementara Arsen melindungi Clara agar tidak kembali ditangkap.

Di luar rumah, Aluna berlari sekuat tenaga menuju pintu utama.

"Aluna, jangan!" teriak Ratih.

Namun Aluna tidak berhenti.

Hatinya mengatakan bahwa ibunya berada di dalam sana.

Beberapa pengawal mencoba menahan langkahnya, tetapi Aluna berhasil melewati mereka.

Saat memasuki rumah, ia mendengar suara seseorang memanggil.

"Aluna!"

Suara itu terdengar asing, tetapi begitu hangat.

Aluna mengikuti arah suara hingga tiba di ujung lorong.

Di sana ia melihat seorang wanita yang wajahnya hampir sama dengan wajahnya sendiri.

Wanita itu menangis sambil menatapnya.

"Aluna..."

Tubuh Aluna membeku.

"I... Ibu?"

Clara mengangguk dengan air mata yang tak henti mengalir.

"Maafkan Ibu..."

"Maaf karena meninggalkanmu selama ini."

Aluna langsung berlari memeluk Clara.

Tangis keduanya pecah di tengah situasi yang penuh bahaya.

"Aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun, Bu."

"Ibu juga."

"Setiap hari Ibu berdoa agar bisa melihatmu lagi."

Ratih dan Tiara yang baru masuk ke dalam rumah ikut menitikkan air mata melihat pertemuan ibu dan anak yang telah terpisah selama delapan belas tahun.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.

Victor kembali muncul sambil mengarahkan pistol ke arah Clara.

"Drama keluarga yang mengharukan."

"Tapi sekarang waktunya mengakhiri semuanya."

Arsen segera berdiri di depan Clara dan Aluna.

"Turunkan senjatamu."

Victor tertawa dingin.

"Aku sudah tidak punya apa pun untuk kehilangan."

Hitungan mundur terus berjalan.

05:36...

Suasana semakin menegangkan.

Saat Victor hendak menarik pelatuk pistolnya, terdengar suara keras dari luar rumah.

"Polisi! Letakkan senjata kalian!"

Puluhan anggota polisi mengepung seluruh bangunan.

Victor tampak terkejut.

"Bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini?"

Rangga tersenyum tipis.

"Sejak awal kami sudah bekerja sama dengan polisi."

Victor mengepalkan tangannya.

Ia sadar semua jalan keluar telah ditutup.

Namun ia masih memiliki satu kartu terakhir.

Dengan wajah penuh amarah, ia mengarahkan pistol ke kepala Aluna dan menarik gadis itu sebagai sandera.

"Jangan ada yang mendekat!"

Clara menjerit histeris.

"Jangan sakiti putriku!"

Arsen menghentikan langkahnya.

"Victor, lepaskan dia."

Victor menggeleng.

"Suruh semua polisi mundur!"

"Tidak mungkin."

"Kalau begitu, kita mati bersama!"

Victor kembali melirik alat peledak yang hitungan waktunya kini hanya tinggal beberapa menit.

Aluna yang berada dalam cengkeramannya berusaha tetap tenang.

Ia tahu, jika ia panik, keadaan akan semakin buruk.

Dengan suara lirih ia berkata,

"Victor..."

"Selama delapan belas tahun, kau hidup dengan kebencian."

"Tapi hari ini semuanya berakhir."

Victor menatap Aluna dengan mata penuh kemarahan.

Namun tanpa disadari, kata-kata Aluna membuat genggamannya sedikit mengendur.

Melihat kesempatan itu, Arsen bersiap mengambil langkah yang sangat berbahaya.

Satu gerakan yang salah bisa membuat Victor menarik pelatuk pistol atau membiarkan bom itu meledak.

Nasib semua orang kini ditentukan dalam hitungan menit.

1
Adinda
mungkin victor simpanan istrinya damar bapak kandungnya Keisha
ժׁׅ݊ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊ꫀׁׅܻ݊݊ꪀ_݊ꪀꪱׁׅ꯱: Terima kasih sudah Like dan Komen ka🙏🙏🙏
total 1 replies
Adinda
semoga Aluna bertemu keluarga sebelah ibunya atau kakeknya
Adinda
Aku harapnya Aluna direbut oleh keluarga dari ibunya atau kakeknya yang Kaya biar ayah kandungnya Tau rasa dibenci oleh anaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!