Mikhayla gadis berusia 19 tahun, tiba-tiba harus mengalami kejadian yang tak terlupakan. Dia yang datang ke Bali dengan niat berlibur setelah menang undian. Harus menerima kenyataan saat tak sengaja dia melakukan hubungan terlarang dengan Azka. One standing night yang tanpa sengaja mereka lakukan membuat Mika hamil. Apa yang Azka dan Mika harus lakukan? bagaiman dengan Sheryl kekasih Azka? Bagaimana juga dengan Fariz orang yang diam-diam Mika suka? Penasaran? yuk baca, cekidoooooot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzwa Chazanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_35_ArCel
Azka pulang ke rumah setelah bekerja, terlihat Qila tengah bermain sendiri di depan televisi, tak ada Mikha di sampingnya.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Azka.
"Waalaikumsalam, Papa!" Qila berlari memeluk papanya.
"Anak papa, gimana sekolah hari ini?" tanya Azka sambil menggendong putrinya.
"Seru, Pa. Tapi, Qila nggak suka sama Rain dia peluk-peluk mama," adu Qila.
"Rain siapa?"
Qila hanya menggeleng.
"Ya udah, kamu main dulu, ya. Papa mandi dulu, ntar balik lagi."
"Oke!" Qila turun dari gendongan papanya.
Azka menuju kamar, dilihatnya Mikha tengah membereskan baju.
"Udah pulang, Bang. Maaf, ya, Mikha barusan beresin baju. Baru selesai nyetrika." Mikha meraih tangan Azka dan menciumnya.
"Iya, nggak apa-apa, abang mandi dulu, ya," ucap Azka sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Mikha menyiapkan baju ganti suaminya, setelah itu dia menyiapkan makan malam.
"Ini cantik, sukses, pinter dan pasti jago masak karena dia chef." Risma ibunda Arya tengah memamerkan banyak foto cewek pada putranya.
"Ma, Arya udah gede. Nggak usah kaya gini."
"Kamu udah tua bukan gede lagi! Mana? Apa kamu udah ada calon," ujar Risma.
Arya meraih handphone miliknya, dia membuka galeri dan menunjukkan foto Celi pada ibunya.
"Ini calon Arya, cuma susah banget. Makin diuber-uber makin kenceng larinya."
Risma mengamati foto Celi yang ada di handphone tersebut, terlihat Celi tengah tersenyum manis.
"Kok bisa dia nolak kamu, kamu kan penakluk wanita!"
"Nah, itu dia, Ma. Ternyata Arya kena karma, dia beda. Nggak gampang ditaklukkan. Arya sampai keder," adu Arya.
Risma terbahak, Arya hanya mengkerut. Setiap dia cerita perihal penderitanya, pasti selalu ditertawakan.
"Rasain kamu, mama bilang juga apa? Jangan suka mainin anak gadis orang. Rasain!" Risma menyumpahi anaknya sendiri.
"Mama gitu, deh. Arya cuma main-main," elaknya.
"Tetep aja kamu menyakiti banyak wanita. Arya kalo dalam sebulan kamu nggak bisa dapetin cewek itu. Terpaksa mama bakal nyariin jodoh buat kamu!" Risma meninggalkan anaknya sendiri.
Arya memijit pelipisnya, lima tahun deketin Celi aja susahnya minta ampun, ini malah dikasih waktu cuma sebulan.
Tak beda dengan Arya Celi juga bingung, terus didesak mamanya membuat dia berpikir apa nggak sebaiknya menerima Arya saja. Namun, masa lalu Arya membuatnya takut, kalau-kalau dia juga hanya sebuah permainan baginya.
"Cel, kamu itu cewek usia 25 tahun bukan saatnya main-main lagi. Kalo kamu punya cowok kenalin sama mama, biar mama tes dia layak nggak buat kamu."
Celi melirik ke arah ibunya, nggak percaya. Udah kaya masuk universitas kudu tes dulu.
"Ma, tolong kasih Celi waktu."
"Selama ini mama nggak pernah lihat kamu main sama cowok, paling sama adiknya Mikha. Mikha aja udah punya anak, kamu masih kaya gini terus," omel Ani.
"Ih! Mikha punya anak juga karena kecelakaan," bela Celi.
"Tapi, mereka dewasa dan berbesar hati buat menerima. Itu murni kecelakaan, bukan sengaja nyelakain diri."
"Huft!" Celi mengembuskan napas panjang.
Celi merenung di kamarnya, pikirannya menerawang. Dia melihat ke arah luar jendela.
Hatinya, gundah. Bukankah jodoh itu hak Tuhan. Sekuat apa kita mengejar dan berusaha jika Tuhan belum berkehendak hal itu tak mungkin pernah terjadi.
Celi mengucek matanya, ada Arya di gerbang pintu rumahnya, dengan sekali gerakan, dia mulai membuka jendela. Arya berdadah ria di bawah.
"Ngapain lu!" teriak Celi.
"Ketemu mama."
What? Ketemu mama, mama siapa yang dia maksud.
"Pulang udah malem!"
"Nggak bisa. Aku udah sampe!" tolak Arya. Celi menutup jendelanya rapat hatinya tak karuan, antara menerima kehadiran Arya atau mengusirnya.
Setelah pergulatan hebat di batinnya, Celi memutuskan untuk bertemu dengan Arya kemudian mengusirnya.
Namun, langkahnya terhenti saat dia mendengar suara tawa di ruang tamu. Dipasangnya telinga itu baik-baik. Suara Arya tengah mengobrol dengan mamanya.
Sedikit berlari Celi segera menghampiri asal suara itu. Benar saja, Arya tengah bercanda ria bersama sang mama.
"Mama!" panggil Celi.
Arya dan Ani menoleh ke asal sumber suara, hanya sebentar kemudian mereka kembali larut dalam obrolan. Ini memang pertama kalinya Arya main ke rumah Celi.
"Udah malem, pulang. Gue nggak mau digrebek hanisp!" usir Celi sambil duduk di samping mamanya.
"Jadi Nak Arya temennya Azka. Wah, kok mama baru tahu, ya." Celi sebal mamanya malah ngajak Arya ngobrol bukannya bantu ngusir.
"Iya, Ma. Kita kerja sama buat buka cafe bareng," balas Arya.
"Tunggu! Lu manggil Mama gue apa barusan? Gue nggak salah denger?"
"Emang kenapa, Sayang. Kan ini calon Mamaku juga." Arya mendekati Ani dan memeluk lengannya. Ani tersenyum mengusap kepala calon mantu.
"Ma, Celi nggak ada hubungannya sama dia, jadi lu jangan pernah deketin Mama gue atau pun yang lainnya!" tegas Celi.
"Ma, Celi galak banget. Tapi, Arya udah kadung cinta, jadi nggak ngaruh!" ucap Arya dia sengaja mengabaikan Celi dan fokus pada Ani.
"Yang sabar, ya, Celi emang gitu udah tua masih kaya bocah. Kamu kudu lebih dewasa!" Ani memberikan nasihat pada Arya kemudian dia manggut-manggut sok paham dengan nasehat tadi.
"Ma, Celi mo ngomong sama Arya, Mama masuk, gih istirahat!" pinta Celi. Ani mengangguk mengerti, kemudian dia pergi setelah berpamitan pada Arya.
Celi menarik tangan Arya keluar.
"Apa, sih?"
"Lu ngapain tiba-tiba ke sini?"
"Gue PDKT sama calon mertua, lu susah dideketin, gue bisa apa? Ini usaha gue buat bikin lu yakin gue serius!" balas Arya. Kali ini tak ada ragu dalam ucapannya. Celi juga bukanya tak paham mana cowok yang serius dan hanya mainin dia doang.
"Cel, kasih gue kesempatan, gue bakal bahagiain lu?" Arya meraih tangan Celi.
"Mbak Cel, udah malem temennya nggak mau pulang!" seru suara dari samping tembok. Sudah pasti itu hansip yang lagi ronda keliling komplek.
"Ini mau pulang, Pak!" teriak Celi.
"Baik, Mbak. Berarti aman, ya!" Terdengar suara langkah kaki hansip yang kian menjauh. Pertanda mereka telah pergi.
"Pulang, gih!" usir Celi.
"Gue sayang sama lu, pliss pikirin baik-baik. Coba buka hati lu buat gue, jangan ragu!"
Arya pulang setelah mengatakan itu, Celi masih mematung di depan rumahnya. Dia merosot ke lantai setelah kepergian si playboy itu.
Perasaannya kian kalut, logika dan hati tak sejalan. Entahlah kata-kata Arya barusan membuat dia merasa bahagia.
Bersambung.