Aleeya telah dijatuhi talak tiga oleh suaminya karena melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
Namun setelah Marco menyadari bahwa kesalahan itu tidak sepenuhnya salah Aleeya, ia pun ingin kembali rujuk.
tapi apalah daya, Marco terlanjur menjatuhkan talak tiga pada Aleeya. jadi menurut hukum agama, Aleeya bukan perempuan yang halal lagi untuk Marco nikahi lagi, kecuali Aleeya menikah dahulu dengan pria lain lalu bercerai, maka ia akan kembali halal untuk Marco nikahi kembali.
Marco meminta Marcell untuk menjadi suami kontrak Aleeya.
akankah Marcell menyetujui permintaan kakaknya itu ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiny Flavoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterkejutan Gita
Seorang ibu berpakaian sederhana nampak sedang menyapu dedaunan kering yang berserakan dihalaman depan rumahnya. Sesekali ia mengusap peluh keringat yang menetes didahi dengan punggung tangannya.
“Selamat pagi, maaf mengganggu” seorang lelaki datang menyapa dengan penuh ragu.
Ibu itu terkesiap, ia seketika menghentikan kegiatan menyapunya lalu mendekat, “Iya, selamat pagi. Ada apa ya?”
“Betul dengan rumahnya Dokter Alisha?” tanya lelaki jangkung yang ternyata Marco. Dia baru tiba dari New York tadi malam dan langsung ke kota ini untuk menemui Alisha di rumah sakit. Tapi saat Marco kesana, petugas rumah sakit bilang bahwa Dokter Alisha sedang off. Lalu Marco dengan susah memaksa petugas itu untuk meminta alamat rumahnya, dan akhirnya diberikanlah alamat rumah ini kepadanya. Tetapi Marco tampak ragu saat menemukan rumah yang sesuai dengan alamat yang diberikan petugas rumah sakit itu kepadanya.
Apa benar ini alamatnya? Seorang dokter Alisha yang cantik nan elegan itu tinggal dirumah sesederhana ini?
“Oh, iya betul. Ini rumah Alisha. Saya ibunya, Kamu temennya Alisha?” tanya ibu paruh baya itu tersenyum hangat. Baru kali ini ada seorang lelaki tampan mendatangi rumahnya untuk menemui anak gadisnya itu. Alisha tidak pernah terlihat bersama laki-laki apalagi sampai ada yang datang kerumah seperti pagi-pagi buta seperti ini.
“Berarti saya tidak salah alamat kan? Ini benar rumah Dokter Alisha?” tanya Marco sekedar memastikannya lagi.
“Benar, Alisha anak saya, dan kami memang tinggal disini” ujar ibu itu seolah berusaha meyakinkan Marco.
“Oh, Perkenalkan saya Marco Apta Daniswara, teman Alisha” Marco menjulurkan tangannya kepada ibunya Alisha yang nampak membulatkan kedua kelopak matanya begitu sempurna.
Tidak, ini tidak mungkin. Apa dia anak Mas Ferry Daniswara? Anak-anaknya Mas Ferry kan bernama Marco dan Marcello? Jangan-jangan----
Ibu Alisha dengan gemetaran menyambut tangan Marco seraya menatap dalam mata coklat lelaki itu yang sangat mirip dengan laki-laki yang pernah singgah dikehidupannya. “Saya Gita, ibunya Alisha” ucap perempuan berkata lirih namun masih terdengar jelas di telinga Marco.
“Dokter Alishanya ada dirumah, Tante Gita?” tanya Marco kemudian.
“Oh, ya. Mari masuk Nak Marco!! Alisha ada didalam” sahut perempuan bernama Gita langsung menyimpan sapu yang sedari dipegangnya itu kesembarang tempat, lalu mempersilahkan Marco untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Silahkan duduk dulu, saya akan panggilkan Alisha dikamarnya” ujar Gita berlalu pergi untuk memanggil Alisha ke kamar, setelah memastikan Marco sudah duduk di kursi ruang tamu.
*
CEKLEK!!
Tanpa mengetuk terlebih dulu Gita membuka kamar anaknya, disana ada Alisha yang masih meringkuk diatas tempat tidur.
“Bangun, Sha!!” ujar Gita sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Alisha agar terbangun.
“Hmm”
“Ayo bangun, Sha!! Diluar ada yang mencarimu” ujar Gita sedikit meninggikan suaranya.
“Euumm…” Alisha mengerjap malas, “Siapa sih, Bu? Kurir paket?” tanya Alisha dengan suara parau khas bangun tidur.
“Bukan” sahut Gita datar dan menatap tajam pada Alisha.
Alisha segera mengubah posisi tidurnya dan langsung duduk bersila dihadapan ibunya, “Ada apa bu? Siapa memangnya yang mencariku?” tanya Alisha jadi tegang saat melihat tatapan sang ibu yang menusuk itu.
“Kenal dari mana kamu dengan Marco Apta Daniswara?” tanya Gita tak sabaran.
Pertanyaan Gita sontak membuat kedua bola mata Alisha terbelalak lebar. Ibu tau darimana? Apa jangan-jangan yang datang itu dia? Gawatt.
“Jawab, Sha!! Itu Marco adik kamu kan?” sekali lagi gita mempertegas pertanyaannya.
“Cukup, Bu!! Jangan pernah mengatakan lagi bahwa mereka adik-adikku!!”
“Alisha, ibu sudah pernah bilang sama kamu jangan mengganggu kehidupan mereka. Tapi kenapa sekarang Marco bisa ada disini dan mencarimu? Kamu kan yang memulai? Kamu kan yang masuk ke kehidupan mereka agar mendapat pengakuan? Apa tidak cukup kamu dibiayai sekolah sampai menjadi dokter spesialis? Ibu tidak mau kamu merusak kebahagian mereka, sha” ujar Gita panjang lebar.
“Kebahagiaan apa maksud ibu? Orangtua mereka udah mati, bu” Alisha tak sadar telah membentak sang ibu.
“Apa?” Gita mengernyit bingung, “apa maksudmu bicara seperti itu?”
“Ibu bisa tanya sendiri sama Marco. Aku mau mandi dulu, bu” sahut Alisha segera turun tempat tidurnya, lalu meraih handuk kimononya yang tergantung dibalik pintu, kemudian beranjak ke kamar mandi meninggalkan Gita yang masih diliputi oleh tanda tanya besar dikepalanya.
*
“Diminum dulu Tehnya, nak marco!! Alishanya masih membersihkan diri dikamar mandi” ujar Gita seraya meletakan teh manis hangat buatannya ke atas meja.
“Oh, iya tidak apa-apa tante, terima kasih” sahut Marco, lalu meminum teh manis yang disuguhkan Gita karena dirinya sedari tadi sudah kehausan akibat perjalanan jauhnya, ditambah harus menunggu Alisha cukup lama.
“Nak Marco tinggal dimana? Teman Alisha dirumah sakit, atau---?” tanya Gita mulai memancing pembicaraan.
“Saya dari Jakarta, Tan. Dokter Alisha itu kebetulan yang menangani Adik saya waktu kecelakaan beberapa bulan yang lalu”
“Ooh... lalu bagaimana kondisi adiknya sekarang? Dia baik-baik saja kan?”
Marco mengernyit heran, “Baik kok, Tan.”
“Syukurlah” ucap Gita lega, “Kamu sudah menikah atau masih tinggal dengan kedua orangtua?” tanya Gita, berharap ia akan mendapat jawaban dari rasa penasarannya ini.
“Hmm… sebentar lagi saya akan menikah kembali. Tapi kalau kedua orangtua saya, mereka sudah meninggal empat tahun yang lalu.”
“Apa?” Gita terkejut, dia tidak tau kalau lelaki yang menyumbang darah daging Alisha ternyata sudah tidak ada lagi didunia ini. “maaf, Nak Marco. Tapi mereka meninggal kenapa?”
“Mama dan Papa meninggal karena kecelakaan pesawat ketika penerbangan ke Jepang, Tan” sahut Marco sambil mengernyit. Ia merasa bingung dengan sikap ibunya Alisha yang nampak penasaran dengan kisah keluarganya padahal baru saja kenal.
“Ya Tuhan…” lirih Gita lemas. “Tante tinggal dulu ke dalam ya” ujar Gita lalu beranjak dari duduknya, dan pergi dari hadapan Marco menuju ke kamarnya dengan langkah gontai.
Kenapa dengan ibunya Alisha? Aneh sekali, gumam marco dalam hatinya bingung.
Tak lama kemudian Alisha datang, lalu duduk dihadapan Marco. “Pak Marco, untuk apa anda datang kemari?” tanya Alisha sinis.
“Aku mau tanya kondisi Marcell saat terakhir dia bisa kabur dari rumah sakitmu itu” ujar Marco seraya berbisik seolah ia takut ada orang lain yang mendengar ucapannya itu.
Alisha terlihat menghembuskan nafasnya sejenak sebelum mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi terakhir Marcell.
“Dia sudah bisa berjalan, meski tertatih, makanya dia bisa kabur” sahut Alisha.
“Hah? Lalu bagaimana dengan kejiwaannya?”
“Ternyata perlahan-lahan kondisi Marcell membaik, buktinya dia bisa mengataiku bit*h sebelum dia pergi. Sialan!!” ujar Alisha terlihat kesal jika mengingat hal itu.
“Apa? Kenapa bisa begitu? Bukannya kau sendiri yang mengontrolnya? Apa memang dosisnya kurang?” cerca Marco memberondong tuduhannya pada Alisha.
“Aku tidak tau!! Mungkin selama ini dia memang tidak pernah meminum obat itu sehingga keadaannya semakin membaik” ujar Alisha.
“Omong kosong!! Bilang saja kalau kau memang bodoh” ujar Marco.
“Heyy!! Kau mengatai ku bodoh? Dasar adik kurang ajar ya!!” umpat Alisha keceplosan, dan sontak membuat kedua bola mata Marco terbelalak lebar.
“Apa tadi kau bilang? Adik??” Marco memicingkan sebelah alisnya sambil menatap tajam pada Alisha.
Sial!! Kenapa bisa salah ngomong??
.
.
.
ya thor...lanjut..
klo marscel sampai memilih sabrina,
marchel pastikan menyesal ...
klo sampai marscel melepas mu aly pasti menyesal...marscel ..
soalnya dia gak tau apa2 dan gak jahat pula
dia hanya emosi krn tersakiti
author, buat cerita khusus utk sabrina dong
kyaknya seru deh, soalnya dia ada di posisi tersakiti, di kecewakan dan kehilangan kepercayaan utk org yg di cintainya
prmpuan yg bodoh mau rujuk blik di suruh lki lain bru rujuk balik
trllu ribet
lki yg bodoh maunya gitu