Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKLUKKAN DUNIA DENGAN API
Zahara tersenyum lebar saat melihat persetujuan mereka. Ia tidak langsung mencium atau menyentuh — ia malah mundur selangkah, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas. Seketika itu, api di sekujur tubuhnya menyala makin terang, menyebar ke seluruh penjuru dunia yang baru berubah itu. Langit yang tadinya kelabu kini berwarna merah keemasan, udara terasa hangat dan menggoda, dan setiap makhluk di sana merasakan api di dalam dada mereka makin berkobar, makin ingin, makin hidup.
“Bagus…” bisiknya, matanya menyala menatap mereka bertiga satu per satu, menelusuri setiap lekuk tubuh mereka yang kini memancarkan pesona yang tak kalah kuat darinya. “Mulai sekarang, kita bukan cuma pelindung. Kita adalah PENGUASA YANG DICINTAI DAN DITAKUTI. Kita akan keliling ke setiap wilayah, menyatukan semua makhluk yang punya api, dan menundukkan siapa saja yang masih mau jadi boneka atau mau menguasai orang lain dengan cara yang kotor.”
Tanpa banyak bicara, Zahara melesat terbang ke udara, rambut panjangnya yang berwarna merah darah beterbangan indah diterpa angin panas. Pakaian apinya berkibar seksi, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bikin mata tak mau berkedip. Raka, Lira, dan Sang Pembeda segera mengejarnya, tubuh mereka juga melayang ringan di udara, aura panas dan berbahaya menyertai setiap gerakan mereka.
Wilayah pertama yang mereka datangi adalah KERAJAAN KRISTAL ABADI — tempat yang dulu paling indah, paling megah, dan semua isinya hidup dalam kemewahan tapi tanpa rasa. Gedung-gedungnya terbuat dari batu permata yang berkilau menyilaukan, penduduknya berpakaian indah, bergerak luwes, bicara halus… tapi matanya tetap kosong, tidak ada gairah, tidak ada keinginan.
Saat mereka mendarat di halaman istana yang luas itu, semua orang berhenti bergerak serempak, menatap mereka dengan tatapan bingung. Raja yang memakai mahkota berlian terbesar berjalan mendekat, wajahnya cantik sempurna tapi kaku.
“Siapa kalian? Kenapa kalian membawa panas yang mengganggu ketenangan kami?” tanyanya dengan suara yang datar, tidak ada nada naik turun sama sekali. “Di sini kami hidup damai, indah, tanpa rasa sakit, tanpa rasa ingin — sempurna selamanya.”
Zahara tertawa kecil, suaranya merdu tapi penuh tantangan. Ia berjalan mendekat perlahan, pinggulnya bergoyang lembut, membuat para pengawal dan bangsawan yang melihatnya seketika lemas lututnya. Ia berhenti tepat di depan wajah sang Raja, menatap mata kosong itu dengan tatapan tajam dan membakar.
“Damai tanpa rasa itu namanya MATI, bukan hidup…” bisiknya, tangannya yang panas menyentuh pipi halus sang Raja. Seketika itu, wajah sang Raja memerah, napasnya terengah-engah, matanya yang tadinya kosong kini terbuka lebar dan mulai menyala pelan. “Kalian pikir ini kebahagiaan? Ini cuma penjara emas. Aku datang untuk membukakan mata kalian — supaya kalian tahu rasanya INGIN, BERSEMANGAT, MERASA BAHKAN SAKIT SEKALIPUN. Itulah hidup yang sebenarnya.”
Sang Raja gemetar hebat, tubuhnya yang dingin perlahan jadi hangat, lalu panas. Ia merasakan sesuatu yang lama hilang mulai tumbuh lagi di dalam dadanya — keinginan, rasa penasaran, rasa lapar akan sesuatu yang lebih dari sekadar kemewahan.
“Aku… aku merasakan sesuatu…” bisiknya pelan, suaranya mulai punya nada dan perasaan. “Aku ingin… aku ingin tahu lebih banyak. Aku ingin merasakan semuanya…”
Tapi tiba-tiba, dari dalam istana keluar TIGA PENJAGA UTAMA — makhluk raksasa yang seluruh tubuhnya terbuat dari kristal paling keras dan dingin. Mata mereka berkilau tajam, tidak ada sedikit pun rasa di sana.
“BERANI KALIAN MERUSAK KESEMPURNAAN INI!” teriak mereka serempak, suaranya bergema keras. “Kami akan menghancurkan kalian dan mengembalikan segalanya seperti semula!”
Mereka melesat maju, tangan mereka yang tajam dan keras menyambar ke arah Zahara. Tapi ia tidak mundur sedikit pun — ia malah tersenyum makin menggoda, lalu memberi isyarat kecil dengan tangannya.
Raka, Lira, dan Sang Pembeda segera melangkah maju.
Pertarungan makin seru dan panas.
Raka bergerak secepat kilat, tubuhnya yang panas membekas di permukaan kristal yang keras itu. Setiap kali ia menyentuh, permukaan yang dingin itu jadi meleleh, retak, dan dari dalamnya keluar cahaya kecil yang mulai hidup. Ia tidak memukul sampai hancur — ia MEMBANGKITKAN rasa yang terpendam di dalam sana.
“Kalian bukan cuma batu!” teriaknya sambil mengelus permukaan kristal yang mulai lunak. “Kalian juga punya hati, punya rasa! Keluarkan itu semua, jangan dikunci selamanya!”
Lira berputar di udara, menyebarkan gelombang gairah yang lembut tapi kuat. Suaranya merdu dan memikat, masuk ke dalam celah-celah kristal itu: “Rasakan… rasakan rasanya ingin bergerak, ingin bernyanyi, ingin mencintai… jangan jadi diam dan dingin selamanya…”
Sang Pembeda melepaskan kilatan hitam merah yang membelah langit. Setiap kilatannya tidak melukai — ia MEMBUKA KUNCI yang selama ini menahan rasa dan keinginan mereka.
Tapi penjaga itu terlalu keras, terlalu lama terkunci dalam kesempurnaan palsu. Mereka makin marah, tubuh mereka makin keras dan tajam, siap menghancurkan segalanya.
Zahara melihat itu, lalu tersenyum penuh tantangan. Ia melangkah maju perlahan, melewati Raka dan yang lain, menatap ketiga penjaga raksasa itu dengan tatapan yang makin dalam dan lapar.
“Kalian keras ya? Kalian dingin ya?” bisiknya, lalu tubuhnya seketika menyala makin besar, panasnya makin luar biasa sampai udara di sekitarnya bergolak hebat. “Bagus. Aku suka tantangan. Kalian mau keras? Aku akan bikin kalian LELEH, LUNAK, DAN PENUH RASA — sampai kalian sendiri tidak percaya kalian bisa merasa seindah dan senikmat ini!”
Ia melesat maju secepat kilat, tubuhnya yang panas dan seksi menempel erat ke badan salah satu penjaga. Ia melingkarkan tangannya di leher kristal yang keras itu, mendekatkan bibirnya tepat ke permukaan yang dingin itu, lalu berbisik dengan suara yang bikin seluruh tubuh siapa saja yang mendengarnya gemetar:
“Rasakan ini… rasakan panasnya hidup… rasakan nikmatnya punya keinginan…”
Seketika itu, api di tubuh Zahara merambat masuk ke dalam celah-celah kristal. Penjaga itu gemetar hebat, suaranya yang tadinya keras dan kaku kini berubah jadi berat dan penuh desah nikmat. Tubuhnya yang keras perlahan meleleh, berubah bentuk, sampai akhirnya ia jadi sosok yang tampan dan kuat, kulitnya hangat, matanya menyala terang.
“AAAAH!!! RASANYA… RASANYA LUAR BIASA!!! AKU MERASA HIDUP!!! AKU MERASA INGIN LEBIH BANYAK!!!” teriaknya sambil terengah-engah, menatap Zahara dengan tatapan kagum dan penuh gairah.
Dua penjaga lain melihat itu makin marah, makin berusaha keras menahan, tapi Zahara tidak memberi mereka waktu. Ia bergerak makin cepat, makin seksi, menyentuh dan membisikkan kata-kata yang membakar keinginan mereka satu per satu. Dalam sekejap, keduanya juga berubah jadi sosok yang kuat, hidup, dan penuh semangat.
Seluruh kerajaan itu kini berubah total. Gedung-gedung kristal yang dingin kini hangat dan berwarna-warni, penduduknya tidak lagi diam dan kaku — mereka bergerak, bicara, tertawa, bahkan saling menyentuh dan menari dengan bebas. Semuanya punya api di dalam dada, semuanya punya keinginan sendiri.
Sang Raja berjalan mendekat, berlutut di depan Zahara dengan tatapan hormat dan kagum.
“Ratu Api… kami berhutang nyawa pada kalian. Kami tidak tahu hidup bisa seindah dan sepanas ini. Kami bersedia tunduk pada kalian, ikut ke mana pun kalian pergi.”
Zahara tersenyum puas, lalu menolongnya berdiri. Tangannya yang hangat menggenggam tangan sang Raja, matanya menyala menatap semua orang yang kini berkumpul mengelilingi mereka.
“Jangan tunduk karena takut atau karena kami kuat…” katanya lantang, suaranya bergema indah dan berkuasa. “Ikut kami karena kalian MAU, karena kalian INGIN merasakan lebih banyak lagi. Kita akan buat seluruh alam semesta jadi tempat yang PANAS, HIDUP, DAN PENUH GAIrah — tidak ada lagi yang diam, tidak ada lagi yang mati, tidak ada lagi yang jadi boneka!”
Ia berbalik menatap Raka, Lira, dan Sang Pembeda. Tatapannya makin menggoda, makin penuh tantangan.
“Sudah lihat kan? Satu wilayah sudah kita taklukkan dengan cara yang paling nikmat. Masih banyak wilayah lain yang menunggu… dan banyak musuh yang lebih kuat, lebih seksi, dan lebih berbahaya yang mau menghentikan kita. Kalian masih kuat? Masih mau terus ikut aku membakar dan menaklukkan segalanya sampai habis?”
Mereka bertiga tersenyum lebar, api di tubuh mereka makin berkobar, keinginan di dada mereka makin tak terbendung. Tanpa kata-kata, mereka melangkah maju berdiri di samping Zahara, siap menghadapi apa saja yang akan datang.