NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07• Percaya Sesaat

Sore meriah di Grand Arsa sudah lama padam. Gedung megah itu sekarang gelap, cuma sisa wangi bunga anggrek yang nempel di baju Naya.

Sekarang, jam setengah sebelas malam. Naya duduk di depan meja rias kamar Arkan. Kamar ini dulu milik Arkan sendirian. Sekarang, di sudut ada kopernya Naya, gantungan baju tambahan, dan vas bunga kecil yang ia bawa dari kos.

Cermin memantulkan wajahnya. Rambut hitamnya terurai basah, habis keramas. Wangi sampo mawar yang ia pakai sengaja wangi kesukaan Arkan. Ia senyum kecil lihat pantulan itu. Untuk pertama kali hari ini, senyumnya bukan senyum formal ke tamu.

Klak..

Suara pintu kamar mandi kebuka. Uap hangat dan bau sabun mandi Arkan nyebar ke seluruh ruangan. Naya menoleh.

Arkan keluar, handuk kecil melingkar di leher, rambutnya masih basah. Kemeja putihnya udah ganti kaos abu-abu. Wajahnya lelah, tapi pas lihat Naya, sudut bibirnya naik.

“Nay, belum ngantuk?” Suaranya serak, rendah. Ia jalan pelan ke arah Naya, berhenti di belakang kursi rias, lalu menunduk. Mencium pipi Naya. Lembut. Hangat.

“Belum, Mas. Biasanya tidur larut,” jawab Naya. Suaranya pelan.

Arkan nggak jawab. Tangannya meraih tangan Naya, narik pelan supaya Naya berdiri. Kursi rias berderit kecil.

Di depan ranjang, Arkan berhenti. Kedua tangannya naik, menangkup wajah Naya. Jari-jarinya dingin, tapi telapaknya hangat. Ia miringkan wajah Naya sedikit, lalu mencium bibirnya.

Pelan. Hati-hati. Seperti takut membangunkan sesuatu.

Naya pejamkan mata. Awalnya kaku. Tapi ciuman itu dalam, lembut, dan entah kenapa… rasanya minta dibalas. Jadi ia ikut. Tangannya naik, meraih kerah kaos Arkan.

Ciuman itu makin dalam. Napas mereka jadi satu. Detak jantung Naya berantakan.

Arkan menurunkan Naya perlahan ke atas kasur. Seprai putih dingin di punggung Naya. Tapi tubuh Arkan hangat di atasnya. Bibirnya turun lagi, dari bibir ke rahang, ke leher Naya. Setiap sentuhan bikin Naya nahan napas.

Sampai bibir Arkan berhenti di telinganya. Bisiknya pelan, hangat, bergetar:

“Aku mencintaimu, Nay.”

Dunia Naya diam.

Semua lelah hari ini, semua senyum palsu ke tamu, semua sesak pas lihat Dewi luruh. Yang tinggal cuma suara napas mereka dan detak jantung yang sama.

Naya melingkar dari lengan ke punggung Arkan. Membalas. Erangan kecil keluar dari bibirnya, pelan, tidak sengaja. Kamar itu menjadi panas. Bukan karena AC mati. Tapi karena mereka berdua, akhirnya jujur sama perasaan yang selama ini mereka tahan.

Malam itu, cinta mereka utuh. Untuk pertama kalinya, tanpa ragu.

......................

Pagi.

Sinar matahari menyelinap lewat celah gorden tebal, langsung ke wajah Naya. Hangat. Silau. Ia merem, lalu perlahan buka mata.

Selimut tebal yang menutupi tubuhnya ia geser sedikit. Napasnya ketahan pas lihat lantai di bawah ranjang bajunya berhambur. piyama putih kemarin, dalamannya. Kaos Arkan yang tadi malam nyangkut di gagang kursi.

Mereka sudah melakukannya.

Pipi Naya langsung panas. Ia tarik selimut lagi sampai dagu, menutupi wajah yang merona. Tangannya tanpa sadar memegang pipinya sendiri. Masih panas.

Setengah jam kemudian, habis mandi, Naya turun tangga pakai daster katun. Rambutnya masih sedikit lembap. Wangi sabun yang sama seperti semalam masih nempel di kulit.

Di meja makan, Ibu Desy dan Bara sudah duduk.

Naya berhenti di anak tangga pertama. Dadanya sesak. Baru hari pertama jadi menantu, dia sudah bangun kesiangan. Malu.

Niatnya mau berbalik ke kamar, pura-pura belum turun. Tapi suara Ibu Desy lebih dulu pecah.

“Nay, turun nak. Sarapan.”

Suaranya seperti sengaja lebih keras. Seperti takut Naya tidak mendengar. Atau… Seperti mau menunjukkan ke Bara “lihat, menantu baru udah bangun.”

Naya balik badan, pasang senyum. Turun tangga dengan langkah terpaksa.

Meja marmer panjang itu penuh. Tapi aneh, tidak ada nasi, tidak ada bubur. Cuma roti tawar, croissant, selai stroberi, selai kacang, susu, dan kopi hitam.

Sarapan orang kaya, pikir Naya. Ia senyum tipis.

Kursi kosong ada tepat di depan Bara. Naya duduk di situ.

Bara sedang fokus dengan ponselnya. Jari tangannya jalan terus di layar. Roti di mulutnya dikunyah pelan, tapi matanya tidak lepas dari ponsel itu. Seperti tidak sadar ada orang duduk di depannya.

Ibu Desy berdiri. “Ibu ke belakang ya. Kalian lanjutin sarapannya"

Sekarang tinggal Naya dan Bara. Meja marmer sepanjang dua meter di antara mereka rasanya seperti kutub utara, dingin dan sepi. Cuma ada suara Bara mengunyah.

“Bara… gak kerja?” tanya Naya pelan. Basa-basi. Supaya tidak terlihat kaku di depan adik iparnya. Padahal jantungnya deg-degan. Sejak di ruang tengah dulu, Bara seperti tembok es ke dia.

Bara berhenti mengunyah. Ia melirik ke arah Naya. Sekilas. Dua detik. Tatapannya datar. Lalu balik lagi ke ponsel.

“Sore berangkat,” jawabnya. Pendek. Ketus. Seperti tidak berniat mengobrol.

Naya menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia ambil gelas susu, minum sekali teguk. Dingin.

“Kamu… gak inget aku, Bar…?”

Suaranya lirih. Hampir bisik. Takut kalau Ibu Desy dengar dari dapur.

Bara meletakkan ponsel, pelan. Lalu menatap Naya, tatapannya tajam, dalam. Ada sesuatu di sana yang Naya tidak bisa baca, marah? sakit? benci?

“Aku sudah selesai sarapan,” katanya.

Kursi digeser. Bara berdiri. Pergi. Tanpa pamit. Tanpa lirik lagi ke arah Naya.

Pas banget, Arkan turun dari tangga. Rambutnya masih acak. Ia lihat punggung Bara yang menjauh, lalu lihat Naya yang kaku di kursi.

“Bar, lo kenapa…?” tanya Arkan, bingung.

Nggak ada jawaban. Bara hilang di tikungan lorong.

Arkan duduk di kursi bekas Bara. Senyumnya dipaksain. “Lanjutin sarapannya. Bara emang gitu, dingin. Nggak usah diambil hati ya, sayang.”

Naya mengangguk. Tangannya gemetar megang roti.

Di kepalanya cuma satu pertanyaan yang nggak bisa ia telan bareng susu tadi,

Kenapa Bara ngeliat aku kayak musuhnya?

Arkan baru aja nyentuh roti tawar. Mau dioles selai.

Drrrt...

Ponselnya getar di atas meja. Layarnya nggak dibalik. Naya sempat ngelirik sekilas tidak terlihat nama. Tapi Arkan langsung gerak.

Ia angkat, berdiri. “Sebentar ya,” katanya singkat.

Lalu menjauh. Ke arah jendela. Punggungnya membelakangi Naya. Suaranya rendah, tidak jelas. Cuma ada nada “iya… iya…” beberapa kali.

Naya masih duduk. Roti yang hendak masuk mulut berhenti di tengah jalan. Lalu ia letakkan kembali di piringnya.

Ia percaya Arkan. Ia mau percaya. Semalam mereka bilang cinta. Semalam mereka utuh. tidak mungkin ada apa-apa.

Tapi dadanya aneh. Sesak, seperti ada yang mengikat pelan-pelan.

Satu menit. Dua menit. Arkan balik lagi. Duduk. mengambil roti yang tadi hendak dioles. Kunyah cepat-cepat. Tidak melihat Naya. Tidak bilang siapa yang telepon. Tidak berkata apapun.

Seolah Naya tidak perlu tahu.

Naya menatap punggung tangannya sendiri. Jari manisnya ada cincin baru. Mengkilap.

Tapi kenapa rasanya… dingin?

Naya masih megang roti ditangannya tidak dimakan, sementara Arkan ngunyah roti tanpa suara, dan ponselnya yang tadi getar, sekarang gelap lagi di atas meja.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!