Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari aula.
Gerbang ruang menutup perlahan.
Namun tepat sebelum gerbang itu tertutup sepenuhnya, simbol mahkota retak di peta langit berdenyut satu kali.
DONG.
Lonceng berbunyi lagi.
Kali ini hanya sekali.
Tapi bunyinya membuat seluruh aula terasa seperti ditekan oleh tangan raksasa.
Yun Cang membuka mata dengan tajam.
Mei Lan langsung menatap peta langit.
Simbol mahkota retak tidak lagi hanya menyala.
Ia seperti bergerak.
Seolah sesuatu di sisi lain telah menyadari bahwa seseorang dari Dunia Immortal sedang menuju ke sana.
Tetua berjanggut putih menelan ludah.
“Leluhur…”
Yun Cang tidak menjawab.
Ia memandang titik Pontianak dengan wajah semakin muram.
Dalam hatinya, ia hanya berharap Luo Cheng mengingat peringatannya.
Namun harapan itu bahkan terdengar lemah di pikirannya sendiri.
Karena ia tahu watak murid itu.
Dan ia juga tahu, jika aura itu benar-benar milik sesuatu yang ia takutkan, maka kesombongan Luo Cheng bukan hanya akan membunuh dirinya sendiri.
Ia bisa membuka pintu bagi bencana yang lebih besar.
Di sisi lain, perjalanan Luo Cheng melewati celah ruang tidak berlangsung lama.
Tubuhnya seperti meluncur di antara ribuan lapisan cahaya. Angin ruang menghantam jubahnya. Petir kecil menari di sekitar tubuhnya, tetapi perlindungan spiritual dari sekte membuatnya tetap aman.
Ia menatap ke depan dengan senyum penuh keyakinan.
“Pontianak…”
Nama itu terasa aneh.
Kasar.
Tidak elegan seperti nama kota-kota spiritual di Dunia Immortal.
Namun semakin dekat ia ke titik tujuan, semakin jelas ia merasakan aura emas gelap yang tadi muncul di peta langit.
Aura itu berat.
Dalam.
Dan anehnya, membuat pedang spiritual di punggungnya bergetar samar.
Luo Cheng mengerutkan kening.
“Takut?”
Ia tertawa kecil.
“Pedangku takut pada dunia fana?”
Ia mengalirkan energi spiritual ke pedangnya. Getaran itu berhenti sesaat, tetapi tidak hilang sepenuhnya.
Luo Cheng tidak menyukainya.
Ia merasa seperti harga dirinya tersentuh.
“Pasti karena aura pusaka itu terlalu tua,” gumamnya. “Bagus. Semakin tua, semakin berharga.”
Ia tidak berpikir ada kemungkinan lain.
Tidak berpikir bahwa pedangnya bukan tertarik pada pusaka.
Melainkan mengenali tekanan senjata yang jauh lebih tinggi.
Jauh di Pontianak, di bawah Jembatan Kapuas, Raka baru saja meninggalkan tempat retakan hitam itu pecah.
Namun sebelum ia benar-benar menjauh, langkahnya berhenti.
Sistem berbicara.
[Gerbang ruang aktif.]
Raka menoleh sedikit.
Di langit yang tidak terlihat manusia biasa, sebuah titik biru menyala samar.
“Apa itu?”
[Kultivator dari Dunia Immortal sedang turun.]
Raka menatap titik biru itu.
“Ke sini?”
[Benar.]
“Sendiri?”
[Satu orang.]
Raka diam sejenak.
Lalu ia tersenyum tipis.
“Percaya diri sekali.”
Sistem menjawab tenang.
[Kesombongan adalah penyakit umum bagi makhluk yang belum pernah melihat takhta.]
Raka menatap jalan di depan.
“Kalau dia datang sebagai musuh?”
[Keputusan ada pada Tuan.]
Raka melanjutkan langkahnya.
“Kalau dia datang sebagai tamu, dia hidup.”
Angin dari Sungai Kapuas bergerak pelan, menyapu ujung jaket hitamnya.
“Tapi kalau dia datang membawa pedang…”
Mata Raka memantulkan cahaya emas tipis.
“…aku patahkan dulu pedangnya.”
Beberapa menit kemudian, di sebuah bagian gelap dekat Jembatan Kapuas, udara bergetar.
Lingkaran cahaya biru muncul di atas tanah.
Simbol asing berputar di sekitarnya.
Retakan kecil terbuka, lalu seorang pemuda berjubah putih-biru melangkah keluar dengan dagu terangkat.
Luo Cheng menginjak tanah Pontianak.
Hal pertama yang ia rasakan adalah udara lembap.
Energi spiritual yang tipis.
Dan bau kota manusia yang menurutnya tidak nyaman.
Ia mengerutkan kening.
“Jadi ini dunia fana?”
Ia melihat sekeliling dengan tatapan meremehkan.
Lampu jalan.
Aspal.
Beton jembatan.
Sungai gelap.
Kendaraan yang melintas di kejauhan.
Semua itu terlihat asing, kotor, dan rendah di matanya.
“Benar-benar tempat yang menyedihkan.”
Pedang spiritual di punggungnya kembali bergetar.
Kali ini lebih kuat.
Luo Cheng menoleh ke arah bawah jembatan.
Di sana, ia melihat sisa cahaya emas gelap yang hampir padam di udara.
Lambang mahkota retak.
Matanya langsung menyala.
“Ketemu.”
Ia berjalan mendekat.
Di tanah, masih ada bekas retakan hitam yang hancur. Ada jejak energi gelap yang terbakar. Ada tekanan samar yang membuat udara terasa berat.
Luo Cheng menyentuh bekas itu dengan dua jari.
Begitu jarinya menyentuh tanah, cahaya emas kecil menyambar.
Sret!
Luo Cheng menarik tangannya cepat.
Di ujung jarinya, muncul luka tipis.
Darah menetes.
Wajahnya langsung berubah.
Ia terluka.
Oleh sisa jejak energi di dunia fana.
Untuk beberapa detik, Luo Cheng terdiam.
Lalu wajahnya memerah karena marah.
“Berani melukaiku?”
Ia berdiri.
Kesombongannya yang tadi santai berubah menjadi kemarahan dingin.
“Aku tidak peduli siapa yang menemukan pusaka ini.”
Pedangnya keluar setengah dari sarung.
“Mulai sekarang, benda itu milikku.”
Di kejauhan, langkah kaki terdengar pelan.
Luo Cheng menoleh.
Seorang pemuda berjalan dari arah kabut tipis di bawah jembatan.
Jaket hitam.
Wajah tenang.
Mata yang terlalu dingin untuk ukuran manusia fana.
Raka Pratama.
Luo Cheng menatapnya dari atas sampai bawah.
Tidak ada aura kultivasi.
Tidak ada jubah sekte.
Tidak ada senjata.
Hanya manusia dunia fana.
Luo Cheng tersenyum meremehkan.
“Kau penduduk kota ini?”
Raka berhenti beberapa meter di depannya.
Ia melihat pedang di punggung Luo Cheng.
Lalu melihat luka kecil di jari pemuda itu.
Sistem berbisik.
[Target: Luo Cheng.]
[Murid inti Sekte Awan Langit.]
[Sifat: sombong, mudah terpancing, meremehkan dunia fana.]
[Status: membawa pedang.]
Raka menatap Luo Cheng.
“Dunia Immortal?”
Luo Cheng sedikit terkejut.
“Oh? Kau tahu?”
Raka tidak menjawab.
Luo Cheng tersenyum.
“Bagus. Berarti kau tahu harus bersikap bagaimana di hadapan kultivator immortal.”
Raka diam.
Luo Cheng mengangkat dagu.
“Aku mencari pusaka yang muncul di sini. Jika kau tahu sesuatu, berlutut dan katakan. Kalau jawabanmu berguna, aku bisa membiarkanmu hidup.”
Raka menatapnya lama.
Lalu berkata pelan, “Kau baru datang ke Pontianak.”
Luo Cheng mengerutkan kening.
Raka melanjutkan, “Belum tahu apa pun.”
Udara di sekitar mereka mulai berubah berat.
“Tapi kalimat pertamamu sudah menyuruhku berlutut.”
Luo Cheng tertawa.
“Apa itu membuatmu tersinggung, manusia fana?”
Raka tidak tersinggung.
Justru wajahnya semakin tenang.
“Tidak.”
Ia melangkah maju.
“Aku hanya sedang memastikan kau datang sebagai musuh.”
Luo Cheng menyipitkan mata.
“Sepertinya kau tidak tahu siapa aku.”
Raka berhenti.
“Benar.”
Luo Cheng tersenyum dingin.
“Kalau begitu dengarkan. Aku Luo Cheng, murid inti Sekte Awan Langit. Di dunia rendah seperti ini, namaku saja cukup untuk membuat kalian—”
“Tidak penting.”
Ucapan Raka memotongnya begitu saja.
Senyum Luo Cheng membeku.
“Apa katamu?”
Raka menatapnya datar.
“Nama sektemu tidak penting di Pontianak.”
Udara hening.
Lalu kemarahan muncul di mata Luo Cheng.
Pedangnya keluar penuh dari sarung.
Sring!
Cahaya biru menyala, membuat angin tajam berputar di bawah jembatan.
“Manusia fana,” ucap Luo Cheng dingin, “aku berubah pikiran.”
Raka menatap pedang itu.
“Aku akan memotong kakimu dulu,” lanjut Luo Cheng, “lalu memaksamu berlutut sambil menjawab pertanyaanku.”
Sistem berbicara dalam jiwa Raka.
[Ancaman terhadap Tuan: rendah.]
[Ancaman terhadap harga dirinya sendiri: tinggi.]
Raka hampir tersenyum.