NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Andry meletakkan sendoknya perlahan ke atas tepi kotak makan plastik yang masih mengepulkan uap tipis. Ketegangan yang tadi sempat mencair karena bunyi perut Tina yang keroncongan kini benar-benar telah berganti menjadi suasana yang begitu intim, hangat, dan sarat akan emosi yang mendalam. Ruang kantor guru yang sederhana, dengan dinding papan kayu yang bercat putih kusam itu, mendadak terasa seperti panggung waktu yang siap membawa ingatan mereka berdua melompati tahun-tahun yang lalu, kembali ke masa di mana benih-benih rasa itu pertama kali tertanam tanpa pernah disadari oleh salah satu pihak.

"Sebenarnya..." Andry memulai pembicaraan, suara baritonnya merendah hingga menciptakan resonansi yang begitu tulus di dalam ruangan yang sunyi itu. Tidak ada lagi sedikit pun kesan angkuh, dingin, atau menyombongkan diri seperti saat pertama kali ia menginjakkan kaki di desa ini. "Kita tidak pertama kali bertemu di sekolah PAUD ini tempo hari, Tina. Juga bukan di rumah Tante Yuna saat aku berpura-pura bertamu, ataupun di rumah sakit kabupaten saat ibumu sedang kritis menghadapi masa-masa sulitnya. Kita sudah pernah berada di satu tempat yang sama, bernapas di bawah atap yang sama, jauh sebelum semua rentetan kejadian itu dimulai."

Tina yang baru saja menyuap sedikit nasi pandan hangat ke dalam mulutnya seketika menghentikan kunyahannya. Gerakan tangannya membeku di udara. Ia mendongak, menatap Andry dengan sepasang mata jernih yang membelalak bulat, dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat sangat.

"Di satu tempat yang sama?" Tina setelah berhasil menelan nasinya dengan susah payah. "Maksudmu... di mana?"

Andry menatap Tina. Segaris senyum penuh nostalgia yang begitu manis terukir di sudut-sudut bibirnya, seolah-olah ia sedang membuka kembali sebuah album foto usang yang telah lama ia simpan di bagian terdalam dari laci ingatannya.

"Kurang lebih lima tahun yang lalu, di Universitas Nusa Bangsa," ucap Andry pelan, menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi di wajah gadis itu. "Kamu mungkin tidak pernah memperhatikanku atau menyadari keberadaanku saat itu, karena kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Kamu terlalu fokus pada tujuanmu. Saat itu, aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang stres menyelesaikan skripsi, sementara kamu... kamu adalah mahasiswi baru, seorang junior yang baru saja menginjakkan kaki di fakultas keguruan dengan segala kepolosanmu."

*Deg.*

Jantung Tina rasanya berhenti berdetak selama satu detik. Ia benar-benar tertegun, terpaku di atas kursi kayunya. Ingatannya langsung berputar seperti pita kaset tua yang diputar mundur dengan cepat, mencoba mengais-ngais dan menyusun kembali memori masa kuliahnya di kota besar yang terasa begitu asing. Lima tahun lalu. Bagi Tina, itu adalah masa-masa di mana ia harus berjuang keras dengan air mata yang berdarah-darah. Masa di mana ia harus beradaptasi dengan lingkungan kota yang bising, berdesakan di angkutan umum, menahan lapar demi menghemat uang jajan mati-matian, dan menghabiskan malam-malam panjang dengan mata terjaga demi mengejar beasiswa semester agar beban Abah di desa bisa sedikit berkurang.

"Waktu itu," lanjut Andry, matanya kini menatap lurus ke arah jendela, seolah gambaran lima tahun lalu itu sedang terproyeksi dengan jelas di luar sana. "Ada sebuah acara orientasi kampus yang sangat membosankan di aula utama. Aku bertugas sebagai salah satu panitia senior, berdiri di bagian paling belakang aula untuk mengawasi jalannya acara. Di tengah ratusan mahasiswa baru yang tampak mengeluh, mengantuk, dan kelelahan karena terik matahari, ada satu gadis yang berhasil menarik perhatianku sepenuhnya. Gadis itu duduk tegak di sudut ruangan, memegang sebuah buku catatan kecil, dan berpakaian sangat sederhana. Ia mendengarkan setiap materi dari dosen dengan kelopak mata yang berbinar antusias."

Andry mengalihkan kembali pandangannya kepada Tina, menatap wajah manis yang kini sedang terpaku mendengarkan ceritanya. "Gadis itu terlihat sangat berbeda dengan gadis-gadis kota lain yang sibuk mengobrol di tengah penyampaian materi, atau mereka yang bolak-balik membuka tas hanya untuk memperbaiki *make up* di wajah mereka. Dan... gadis unik itu adalah kamu, Tina."

Andry tersenyum tipis melihat bagaimana pipi Tina mulai merona kemerahan. "Sejak hari itu, mataku seperti memiliki magnet tersendiri. Aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Aku memperhatikanmu yang selalu duduk sendirian di bawah pohon rindang depan perpustakaan sambil membaca buku tebal, atau saat kamu berada di dalam ruang lab komputer untuk mencari bahan referensi tugas hingga larut malam. Saat itu, aku tahu posisiku. Aku hanyalah seorang senior yang hanya bisa melihatmu dari kejauhan tanpa berani mengusik fokusmu."

Andry menarik napas dalam-dalam, tawanya terdengar sedikit canggung saat ia mengingat sebuah kejadian menggelikan. "Tapi, sebenarnya aku pernah mencoba memberanikan diri untuk mendekatimu sekali. Waktu itu aku baru saja selesai bimbingan skripsi dengan dosen, dan kebetulan kamu sedang duduk membaca di dekat koridor yang sama. Aku berjalan mendekat, mencoba menyapamu dan mengajakmu berbicara sepatah dua kata. Tapi tahu apa yang kamu lakukan? Kamu justru memberikan tatapan yang sangat cuek, mengemas barang-barangmu dengan terburu-buru, lalu langsung pergi meninggalkanku begitu saja."

Tina yang mendengar rahasia masa lalu itu dibongkar seketika langsung menyela dengan panik, rasa bersalah mendadak menyeruak di dadanya. "Maaf, Andry! Itu... itu karena aku benar-benar takut jika harus berhubungan dengan laki-laki, apalagi di kota besar seperti itu. Abah dan Mama selalu berpesan agar aku menjaga diri baik-baik dan fokus belajar, jadi aku selalu membentengi diriku dari siapa pun yang mencoba mendekat."

Andry kembali tersenyum hangat, sama sekali tidak ada gurat kekesalan di wajahnya. "Aku tahu, Tina. Dan kamu harus tahu satu hal... saat itu aku tidak marah sama sekali karena penolakan mentah-mentah darimu. Malahan, aku merasa semakin jatuh suka kepadamu. Di zaman yang sudah serba bebas seperti ini, kamu adalah salah satu gadis yang sangat sulit didapatkan, seperti sebuah permata yang sengaja menyembunyikan kilaunya. Bahkan, saking gilanya aku saat itu, aku sempat berpikir untuk menunda kelulusan skripsiku selama satu semester lagi, hanya agar aku memiliki alasan untuk tetap berada di kampus dan melihatmu lebih lama lagi."

Andry terkekeh kecil, mengenang masa mudanya yang penuh dengan kenangan yang sedikit lucu. "Tapi tentu saja rencana konyol itu gagal total karena aku didesak oleh orang tuaku untuk cepat selesai dan segera memegang kendali perusahaan keluarga. Dan di situlah perpisahan pertama kita terjadi. Aku kehilangan jejakmu setelah aku lulus, dan kesibukan dunia bisnis perlahan menyita seluruh waktuku, meskipun wajah gadis di sudut aula itu tidak pernah benar-benar hilang dari benakku."

Andry menjeda ceritanya sejenak, menatap Tina dengan binar mata yang sarat akan takdir yang tak terduga. "Sampai akhirnya, tepat satu bulan yang lalu... Tuhan seolah punya cara sendiri untuk mempertemukan kita kembali. Hari itu aku berniat mengunjungi rumah Tante Yuna di desa ini untuk beristirahat dari penatnya pekerjaan kota. Saat mobilku melintas di jalanan desa, aku tidak sengaja melihat ke arah kebun di pinggir jalan. Di sana, di antara rimbunnya dedaunan, aku melihat seorang wanita sedang memetik buah cacao dengan peluh yang membasahi keningnya. Aku menghentikan mobilku dari jauh, mempertajam pandanganku, dan jantungku berdegup dengan ritme yang sama seperti lima tahun lalu. Itu kamu, Tina. Aku menemukanmu kembali di desa ini."

"Saat itu juga, di dalam mobil, aku berpikir bahwa kamu adalah takdir yang sengaja disimpan oleh Allah untukku. Jadi, karena itulah aku mulai menggunakan pengaruhku untuk menyelidikimu, mencari tahu segala hal tentang keluargamu, dan menyusun sebuah rencana besar agar aku bisa mendekatimu kembali dengan cara yang terlihat senatural mungkin. Aku berpura-pura menjadi pengusaha kejam yang ingin menyita tanah, berpura-pura menjadi penolong di rumah sakit... aku mendesain semuanya agar aku bisa terus berada di dekatmu. Namun, pada akhirnya... semua rencana manipulatif itu gagal total karena ketulusan hatimu justru menamparku dengan keras."

"Aku menyukaimu bukan karena apa yang kamu miliki sekarang, Tina," tutur Andry dengan suara yang mulai bergetar hebat, menahan gelombang emosi yang begitu membuncah di dalam dadanya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, menatap lekat-lekat manik mata gadis desa yang telah menjerat jiwanya selama setengah dekade itu. "Aku menyukaimu karena keteguhan hatimu yang tidak pernah goyah oleh badai apa pun, kesederhanaanmu yang menenangkan, dan caramu menjaga kehormatan diri serta keluargamu di tengah pergaulan dunia yang sudah penuh dengan kepalsuan. Dan mengapa aku begitu yakin ingin menikahimu? Karena setelah aku lulus dan terjun ke dunia bisnis yang kejam, aku bertemu dengan banyak wanita. Tapi tidak ada yang seperti dirimu, dan saat itulah aku menyadari satu hal yang sangat krusial... aku membutuhkan seseorang yang memiliki hati yang suci dan tulus seperti kamu untuk menjadi jangkar dalam hidupku yang penuh badai, menjadi tempatku pulang untuk meredakan lelah, dan menjadi ibu terbaik bagi anak-anakku kelak."

Mendengar pengakuan yang begitu mendalam, jujur, dan tanpa ada satu pun hal yang ditutupi itu, pertahanan yang selama ini dibangun kokoh di dalam dada Tina benar-benar runtuh seutuhnya. Segala prasangka buruknya tentang Andry yang egois, sisa-sisa rasa takut akan masa lalu pria itu, hingga omongan miring nan menyengat dari Tante Ros yang sempat membuat hatinya ciut pagi tadi, semuanya menguap lenyap ke udara bak embun yang disiram cahaya matahari pagi. Tidak ada yang tersisa di dalam hatinya selain rasa damai yang luar biasa sejuk, seolah-olah Tuhan baru saja membentangkan jalan lurus setelah begitu banyak kelokan tajam yang harus ia lalui.

Tina menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menyembunyikan setitik air mata haru yang lolos melewati pipinya, jatuh tepat di atas permukaan jemarinya yang saling bertautan. Di balik tundukan kepalanya, sebuah senyuman manis—senyuman yang paling indah, paling tulus, dan paling penuh dengan kelegaan yang pernah ia miliki seumur hidupnya—perlahan-lahan merekah dengan begitu indahnya.

Ia akhirnya menyadari bahwa semua kesulitan hidup yang ia lalui selama lima tahun terakhir, semua air mata kesepian di kota besar, dan semua peluh di kebun cacao desa, ternyata sedang menuntunnya menuju sebuah pelabuhan hati yang begitu kokoh dan aman. Andry bukan lagi seorang pria asing yang harus ia takuti, melainkan jawaban atas doa-doa sunyinya yang selama ini membumbung ke langit.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!