"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Bip. Bip. Bip.
Ponsel pintar milik Gavin yang tergeletak di atas meja kaca ruang tengah terus-menerus bergetar, mengeluarkan bunyi notifikasi beruntun laksana senapan mesin yang sedang ditembakkan. Layarnya yang semula gelap berkedip-kedip tanpa henti, memunculkan deretan pesan SMS banking dari bank swasta nomor satu di Indonesia.
Gavin yang awalnya sedang mencoba fokus membaca draf laporan keuangan bulanan perusahaan demi mengalihkan rasa penatnya, seketika menoleh. Dengan dahi berkerut dalam, ia meraih ponsel tersebut. Begitu ibu jarinya membuka kunci layar, kedua mata Gavin mendadak terbelalak kaget. Rahangnya hampir saja jatuh ke lantai melihat rentetan angka nominal yang tertera di sana.
> [INFO BANK]Transaksi Black Card Platinum Anda di SK-II sebesar Rp 14.500.000 Berhasil.*
> [INFO BANK] Transaksi Black Card Platinum Anda di Salvatore Ferragamo sebesar Rp 22.800.000 Berhasil.
> [INFO BANK] Transaksi Black Card Platinum Anda di Zara & Massimo Dutti sebesar Rp 11.250.000 Berhasil.
> [INFO BANK] Transaksi Black Card Platinum Anda di Mothercare & Gingersnaps sebesar Rp 8.900.000 Berhasil.
> [INFO BANK] Transaksi Black Card Platinum Anda di Hugo Boss Executive sebesar Rp 34.000.000 Berhasil.
Gavin mengucek matanya berulang kali, berharap bahwa dirinya salah lihat atau sistem bank sedang mengalami keliru massal. Namun, belum sempat ia menarik napas, sebuah notifikasi baru kembali menyusul dengan nominal yang jauh lebih fantastis.
> [INFO BANK] Transaksi Black Card Platinum Anda di Chanel Boutique Mall sebesar Rp 85.000.000 Berhasil.
"Astaga... apa saja barang yang sudah gadis itu beli?!" pekik Gavin spontan, suaranya naik satu oktav. Ia langsung berdiri dari sofa, mondar-mandir di ruang tengah dengan jantung yang berdegup kencang.
Bukan, Gavin bukannya takut jatuh miskin atau pelit karena nominal ratusan juta tersebut. Bagi seorang direktur utama sebuah perusahaan keluarganya dan perusahaan games miliknya, uang ratusan juta tentu saja hanya sekadar jentikan jari. Namun, yang membuat Gavin syok setengah mati adalah fakta bahwa seorang Aruna—gadis yang selama ini ia kenal sangat hemat, sederhana, bahkan cenderung perhitungan jika menyangkut pengeluaran—bisa berubah menjadi wanita matre dalam hitungan jam.
Bip.
Satu notifikasi masuk lagi. Kali ini bukan dari bank, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor Aruna. Gavin dengan cepat membukanya, berharap istrinya itu sudah puas dan berniat pulang.
Aruna:
' Jangan menangis, aku menghabiskan uang mu. Jangan hanya memanjakan wanita luar saja, kamu. Aku juga ingin menikmati hasil kerja suami ku :)'
Gavin hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah. Perasaannya mendadak tidak enak. "Oh astaga wanita ini. Masih saja curiga, kalo aku masih suka bermain wanita..." gumam Gavin dengan bulu kuduk yang mendadak meremang.
---
Sementara itu, di pusat perbelanjaan...
Di lantai yang menyediakan segala macam kebutuhan rumah tangga, Aruna sedang berjalan dengan anggun disusul oleh dua orang pegawai mal yang bertugas mendorong troli di belakangnya. Di dalam benak Aruna, apartemen mewah milik Gavin selama ini benar-benar tidak layak huni untuk ukuran keluarga kecil. Pria itu terlalu fokus pada pekerjaan sampai-sampai melupakan detail terkecil dalam urusan domestik.
"Mbak, tolong ambilkan set teflon anti-lengket yang itu satu set, panci, satu set pisau dapur, sama talenan kayu jati yang besar ya," perintah Aruna dengan nada tegas laksana seorang ratu.
"Baik, Ibu," sahut pelayan toko dengan sangat ramah dan cekatan.
Aruna mendengus pelan mengingat dapur apartemen Gavin. Selama ini, alat-alat masak di sana sama sekali tidak komplit. Bagaimana ia bisa memasak makanan sehat untuk Kenzie jika talenan, panci sup, dan pisau dapur yang layak saja pria itu tidak punya? Bahkan yang paling menyedihkan, gelas dan piring di sana hanya ada dua buah saja! Seolah-olah Gavin mengutuk apartemen itu agar tidak pernah dikunjungi oleh tamu mana pun. Mumpung kartu Black Card sakti bersarang di dompetnya, Aruna membeli dua lusin piring keramik estetis, satu set gelas beragam bentuk, mangkuk, hingga sendok garpu berkualitas terbaik.
Tidak berhenti di dapur, Aruna melangkah ke bagian furnitur. Matanya tertuju pada sebuah lemari pakaian anak berpintu geser dengan warna putih bersih.
"Kasihan Kenzie, selama ini pakaiannya harus berdesakan di lemariku. Baju anak kecil kan harusnya dipisah supaya tetap rapih," gumam Aruna bermonolog. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung membeli lemari pakaian khusus anak tersebut.
Tak lupa, ia juga membeli sebuah rak buku besar dan rak khusus mainan untuk Kenzie. Tujuannya jelas: agar mainan-mainan plastik dan buku cerita milik keponakannya itu tidak lagi berserakan secara berantakan di atas karpet ruang tamu apartemen.
Setelah urusan bayar membayar selai dan Aruna menitipkan barang ini semua disini sebelum ia ambil nanti. Aruna mendorong stroller Kenzie menuju area swalayan hypermarket. Ia ingin membeli stock makan untuk dirinya dan juga Kenzie.
Aruna membeli beragam kebutuhan rumah. Mulai dari beras premium, lauk-pauk segar seperti daging sirloin, daging cincang, buntut sapi , ayam potong, berbagai macam ikan, sayuran organik, bumbu dapur, hingga kebutuhan rumah tangga seperti sabun cair l, sampo dan pewangi kamar mandi serta pembersih lantai
Dan yang paling utama, Aruna sama sekali tidak tanggung-tanggung dalam membeli kebutuhan Kenzie. Ia memborong susu formula, minyak telon, tisu basah, hingga popok celana sekali pakai untuk stok dua bulan sekaligus! 3 Troli belanjaannya sampai penuh membuat orang-orang yang lewat memandang Aruna dengan tatapan takjub bercampur heran.
Begitu tiba di kasir, total belanjaannya di swalayan saja mencapai angka yang membuat kasir tersebut tersenyum lebar saking besarnya komisi yang akan didapat. Aruna dengan santai menggesek kartu hitam Gavin untuk kesekian kalinya.
"Mbak, boleh minta salah satu pegawai sini buat bantuin saya membawa barang -saya kebawah ?" tanya Aruna.
"Bisa, Ibu. Kami bisa bantu koordinasikan," jawab kasir itu dengan ramah.
Wanita itu bergegas memanggil beberapa rekan kerjanya untuk dimintai bantuan membawa troli belanja Aruna kelantai lobby bawah.
Karena saking banyaknya barang belanjaan yang Aruna beli, ia sampai harus menyewa satu armada mobil bak kebuka melalui aplikasi Lalamove khusus untuk mengangkut semua barang belanjaan nya ini semua. Sementara itu, Aruna sendiri memilih untuk memesan taksi online premium untuk mengantar dirinya dan Kenzie yang sudah mulai mengantuk kembali ke apartemen.
---
Pukul 15.00 WIB, Di Lobby Apartemen
Gavin duduk di tepi ranjangnya dengan perasaan was-was yang luar biasa. Ponselnya akhirnya berhenti berbunyi sekitar tiga puluh menit yang lalu, setelah total transaksi harfiah menyentuh angka ratusan juta rupiah.
Tiba-tiba, sebuah panggilan telepon masuk dari Aruna. Gavin dengan kecepatan kilat langsung mengangkatnya.
"Halo, Ru? Kamu di mana? Sudah selesai?" tanya Gavin beruntun, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Aku sudah di depan lobby apartemen bersama Kenzie. Turun sekarang, bantuin aku bawa barang-barang ke atas. Jangan labat, cepat!" perintah Aruna di seberang telepon, langsung memutuskan sambungan secara sepihak sebelum Gavin sempat membalas.
Gavin mengembuskan napas panjang, mengurut dadanya sabar. Ia bergegas memakai alas kaki lalu keluar dari unit apartemennya, menumpangi lift menuju lantai dasar. Di dalam kepalanya, Gavin membayangkan Aruna mungkin akan membawa tiga atau empat kantong plastik besar berisi baju baru dan beberapa kotak sepatu mewah. Ia sudah siap mental untuk membawakan barang-barang itu demi mengambil hati sang istri kembali.
Namun, begitu pintu lift terbuka dan Gavin melangkah keluar menuju area drop-off lobby apartemen, langkah kakinya seketika terkunci rapat. Pria itu dibuat melongo lebar, matanya berkedip-kedip tidak percaya memandang pemandangan horor di depannya.
Di sana, sebuah mobil bak kebuka Lalamove sedang terparkir dengan pintu belakang terbuka. Seorang orang kurir sedang sibuk menurunkan kardus-kardus entah berisi apaan seorang diri.
Di dekat pintu masuk apartemen, Aruna sedang berdiri dengan santai sambil mengipasi dirinya sendiri menggunakan brosur mal, sembali menggendong Kenzie di pelukannya.
"Gavin! Sini, jangan cuma berdiri kayak patung selamat datang!" panggil Aruna melambaikan tangan dengan wajah tanpa dosa.
Gavin melangkah mendekat dengan sisa-sisa kesadarannya yang seolah melayang terbang. Ia menunjuk tumpukan barang raksasa itu dengan jari bergetar. "Ru... ini... semua ini kamu yang beli? Kamu mau buka toko swalayan di apartemen ku?!"
Aruna melirik Gavin sekilas dari balik kacamata hitamnya, lalu tersenyum tipis sarat akan kepuasan batin. "Buka toko apa sih? Ini semua barang kebutuhan penting tahu! Lagian apartemen kamu itu isinya kosong melompong kayak rumah hantu. Gak ada piring cantik, gak ada tempat mainan Kenzie, stok makanan juga menyedihkan. Jadi ya sekalian saja aku lengkapi semuanya pakai kartu ATM kamu. Kan kamu sendiri yang bilang tadi pagi, 'beli apa saja, aku turuti semuanya'. Iya, kan?" tanya Aruna membalikkan ucapan Gavin dengan nada super manis namun menohok.
Gavin menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan, meratapi kebodohannya yang telah memberikan Black Card tanpa limit kepada Aruna. Ternyata wanita sama saja dengan wanita lainnya.
"Tapi gak sebanyak ini juga, Aruna..." keluh Gavin lemas, menatap tumpukan kardus yang rasanya tidak akan muat jika hanya dibawa dengan satu kali perjalanan lift barang.
"Oh, jadi kamu gak ikhlas? Gak tulus nih ceritanya ngasih katru ATM mu ini" tantang Aruna, menaikkan satu alisnya dengan wajah jutek.
Melihat sinyal bahaya tersebut, Gavin buru-buru mengangkat kedua tangannya, menyerah kalah total. "Iya, iya! Ikhlas, tulus banget malah! Ya sudah, biar aku bantu kurirnya angkut semua ini ke atas. Kamu bawa Kenzie naik duluan saja ke unit," ucap Gavin pasrah, mulai melepas jam tangan mewahnya dan menggulung lengan kaus hitamnya hingga ke siku untuk bersiap melakukan kerja rodi sore ini.
Aruna yang melihat suaminya yang biasa tampil necis dan berwibawa kini harus membungkuk-bungkuk mengangkat kardus tersebut. Ia langsung membalikkan badan menyembunyikan senyum kemenangannya. Di dalam hati, Aruna tertawa puas tiada tara.
“Hihihi... rasakan itu, Gavin ! Itu baru pemanasan saja. Makanya, jangan pernah coba-coba membohongi seorang wanita!” batin Aruna bersorak riang gembira sambil mendorong stroller Kenzie masuk ke dalam lift, meninggalkan sang suami playboy-nya yang kini harus mandi keringat.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor