Audrey Zivia Abraham, harus menyandang status janda di usia yang masih terbilang muda, setelah rumah tangganya bersama Will kandas.
Audrey merasa trauma untuk menjalin sebuah hubungan lagi, hingga akhirnya Kyle Aditya Arthur datang dalam kehidupannya, dan berhasil meyakinkan Audrey untuk mau menikah serta membangun sebuah mahligai rumah tangga yang baru.
Namun, kebahagiaan Audrey dan Kyle yang baru sesaat, harus terusik tatkala sebuah kecelakaan fatal menimpa Kyle dan membuat suami Audrey itu kehilangan sebagian ingatannya.
Bagaimana rasanya, saat suami yang dulu begitu mencintaimu dan begitu kau cintai bisa mengingat semua orang disekitarnya, namun ia tak sedikitpun ingat padamu?
Kau adalah orang asing bagi suamimu!
Dan suamimu berubah menjadi orang asing untukmu.
Namun Audrey tak menyerah, dan melakukan berbagai hal untuk mengembalikan ingatan Kyle dan semua memori indah tentang pernikahannya bersama Kyle.
Mampukah Audrey mengembalikan ingatan Kyle dan tetap mempertahankan mahligai rumah tangganya bersama Kyle?
Atau pada akhirnya Audrey hanya akan menyerah dan melepaskan Kyle yang masih terus terbayang oleh masa lalunya bersama Valeria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BOLEH AKU?
"Kapan kau akan memotong rambutmu, Kyle?" Tanya Audrey seraya mengusap rambut dan kepala Kyle yang kini berada di pangkuannya.
Angin pantai berhembus meniup daun-daun kelapa yang melengkung dan menimbulkan suara khas. Deburan ombak di pantai yang menabrak karang dan bebatuan, sesekali juga mencipratkan airnya ke arah Kyle dan Audrey yang sedang duduk di gazebo tepi pantai.
"Setelah kita pulang, Sayang! Disini mana ada barbershop?" Jawab Kyle seraya terkekeh.
Audrey ikut terkekeh dan kembali mengusap lembut wajah Kyle.
"Atau kau saja yang memotong rambutku bagaimana?" Kyle mendongakkan wajahnya dan mengusap lembut dagu Audrey.
"Aku mana bisa?" Jawab Audrey seraya merengut.
"Lalu bisamu apa, hmm?" Kyle menarik kepala Audrey hingga istrinya itu menunduk dan wajahnya semakin dekat. Tak menunggu waktu lama dan Kyle sudah meraup bibir Audrey, menciumnya dengan panas dan intim.
"Aku bisa memuaskanmu di ranjang," jawab Audrey di sela-sela ciumannya pada Kyle.
"Bagaimana kalau disini saja?" Kyle hendak bangkit dan menerjang Audrey. Namun terlambat karena kini Audrey yang sudah berada di atas tubuh Kyle dan menatap nakal ke arah suaminya tersebut.
"Aku pasrah!" Ucap Kyle dengan nada lebay seraya mengangkat kedua tangannya.
"Memangnya kau pikir aku mau apa? Dasar mesum!" Audrey segera bangkit dan hendak meninggalkan Kyle yang masih berbaring. Namun Kyle sudah menarik lengan Audrey dengan cepat hingga membuat Audrey hilang keseimbangan dan nyaris jatuh terjerembab.
Kyle menangkap tubuh Audrey dengan cepat.
"Kau sudah menggodaku, Nona Audrey Arthur. Jadi kau harus menuntaskannya," tatapan mata Kyle begitu mengintimidasi.
Pria itu bahkan sudah berguling dan menindih tubub Audrey yang telentang pasrah di bawahnya.
Audrey yang hanya mengenakan baju renang two piece dengan kain pantai yang menutup bagian bawah tubuhnya, tentu saja semakin membuat Kyle bergairah.
"Ini tempat terbuka, Kyle! Kita tak mungkin bercinta disini. Bagaimana jika ada yang melihat?" Audrey menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu.
"Siapa yang melihat memangnya? Hanya ada kau dan aku di pulau ini," Kyle memaksa untuk membuka telapak tangan Audrey yang menutupi wajah istrinya tersebut.
"Ayo ke gubuk dan kita bisa bercinta di sana sampai malam," rayu Audrey seraya mengusap lembut wajah Kyle.
"Disini dulu satu ronde, lalu kita lanjutkan di gubuk sampai malam," Kyle sudah menyibak kain pantai Audrey, menyisakan underwear yang begitu pas membalut bagian intim Audrey.
Kyle mencium pangkal paha Audrey yang masih tertutupi underwear tersebut.
"Kyle, jangan gila!" Pekik Audrey memperingatkan sang suami.
"Aku menyukainya, Sayang!" Kyle mengerling nakal ke arah Audrey.
"Aku sangat-sangat menyukainya!"
Suara alarm dari ponsel milik Kyle langsung membuat mata Audrey terbuka, dan semua mimpinya bersama Kyle menguap pergi. Audrey seolah masih bisa merasakan sentuhan demi sentuhan dari jari, bibir, dan lidah Kyle di sekujur tubuhnya.
Audrey merindukan semua hal itu sekarang.
"Audrey, kau sudah bangun?" Suara Kyle terdengar dari balik punggung Audrey.
Menandakan, kalau semalaman ia dan Kyle memang tidur saling memunggungi hingga pagi ini.
"Ya, aku sudah bangun, Kyle!" Jawab Audrey seraya mengusap bulir bening di pelupuk matanya.
Audrey segera berbalik dan mendapati Kyle yang sudah duduk bersila di atas tempat tidur.
"Aku bermimpi aneh," cerita Kyle seraya menatap Audrey yang masih berbaring miring menghadap ke arahnya.
"Bermimpi apa?" Tanya Audrey yang merasa antusias sekaligus penasaran.
Mungkin saja mimpi Kyle ada kaitannya dengan memori Kyle yang menghilang.
"Aku bermimpi pergi ke pulau Dad, menikmati semua pemandangan indah yang ada di sana. Tapi aku hanya sendirian."
"Tak ada siapapun. Aku sendirian di pulau. Dan aku merasa kesepian," Kyle mengakhiri ceritanya dengan raut wajah sendu.
Audrey sudah bangun dan ikut duduk bersila di atas tempat tidur.
"Mungkin karena kita membahas soal pulau semalam sebelum tidur, makanya hal itu jadi terbawa ke dalam mimpi," pendapat Audrey yang kini sudah mengusap punggung Kyle.
Punggung kekar milik Kyle yang begitu Audrey rindukan.
Dulu Audrey bisa mengusapnya kapan saja, atau bersandar disana, atau mencakarnya saat Kyle sedikit gila diatas ranjang.
"Kau benar. Mungkin itu hanya efek cerita semalam kita," ujar Kyle yang tiba-tiba sudah mengusap wajah Audrey.
Terang saja, hal itu langsung membuat Audrey sedikit kaget.
"Maaf membuatmu kaget aku hanya ingat dengan kesepakatan kita tempo hari, soal saling mengusap wajah saat bangun tidur," Kyle sudah menyingkirkan tangannya dari wajah Audrey dan pria itu terlihat salah tingkah.
"Oh, soal itu. Maaf aku lupa," Audrey segera mengusap pembut wajah Kyle yang kini ditumbuhi jambang tipis.
Sedikit terasa kasar.
"Aku belum bercukur," Kekeh Kyle mencoba mencairkan susana, tangan pria itu sudah krmbali mengusap wajah Audrey yang pagi ini polos tanpa make up.
Menurut Kyle, Audrey tetap cantik sekalipun wanita ini tidak memakai make up sama sekali.
"Aku rasa, lebih bagus seperti ini. Kau terlihat lebih tampan," puji Audrey yang masih menatap lekat wajah Kyle dan menyusuri lekuk wajah suaminya tersebut.
Audrey menggigit bibir bawahnya, membayangkan jika bibirnya yang menyusuri wajah tampan Kyle dan mengecupnya di setiap inchi.
Ah, tapi rasanya mustahil sekarang.
Kyle juga masih menatap lekat wajah Audrey dan bibir bawah istrinya tersebut yang kini memerah karena digigit oleh Audrey sendiri.
Bibir Audrey terlihat semakin penuh dan begitu menggiurkan. Mendadak sebuah pikiran nakal melintas di benak Kyle.
Mengecup sejenak bibir Audrey rasanya tidak masalah.
Bukankah Audrey adalah istri Kyle?
Jadi Audrey pasti juga tidak akan keberatan.
"Audrey, aku boleh menciummu?" Celetuk Kyle tiba-tiba yang sontak membuat Audrey melebarkan kedua matanya.
Bodoh!
Kenapa harus minta izin Kyle!
Audrey istrimu dan kau hanya tinggal meraup bibir menggiurkan itu.
Mustahil Audrey akan marah atau berontak!
Kyle menggerutu sendiri dan tak berhenti merutuki kebodohannya sementara Audrey belum memberikan jawaban.
.
.
.
Bisa private dulu sama Galen, Babang Kyle, kalau lupa caranya berciuman. 😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
Emily
kyle
terimakasih author 👍👍👍👍