Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Tawanan Selama Delapan Belas Tahun
Suasana ruang keluarga rumah Mahardika dipenuhi keheningan. Semua orang masih terdiam setelah membaca isi surat di dalam buku harian Clara.
"Jika kamu membaca surat ini, berarti Ibu masih hidup... tetapi berada di tempat yang tidak akan pernah kamu duga."
Aluna memegang surat itu erat hingga jemarinya memutih.
"Jadi... Ibu benar-benar masih hidup?" tanyanya lirih.
Tiara mengangguk perlahan, meski air matanya terus mengalir.
"Aku selalu berharap Clara masih selamat."
Ratih menggenggam bahu Aluna.
"Nak, ini kabar baik."
Aluna menggeleng pelan.
"Tapi kalau Ibu masih hidup... berarti selama delapan belas tahun beliau menderita sendirian."
Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.
Arsen mengambil buku harian tersebut dan membuka halaman berikutnya.
Di sana terdapat tulisan tangan Clara.
"Victor tidak membunuhku. Dia mengurungku karena ingin mengetahui keberadaan putriku. Selama aku tidak berbicara, Aluna akan tetap aman."
Arsen mengepalkan tangannya.
"Jadi selama ini Clara sengaja tetap bertahan demi melindungi Aluna."
Rangga yang ikut membaca buku itu tampak geram.
"Victor benar-benar tidak punya hati."
Masih ada tulisan lain di halaman berikutnya.
"Kalau suatu hari seseorang menemukan buku ini, carilah sebuah rumah tua yang berada di dekat danau dengan pohon beringin besar di depannya. Di sanalah aku mungkin masih ditahan."
Semua orang langsung saling berpandangan.
"Itu petunjuk," kata Arsen.
"Rangga."
"Ya, Pak."
"Kerahkan semua orang kita. Cari rumah tua yang sesuai dengan petunjuk ini."
"Siap."
Di sisi lain kota, Victor baru saja tiba di sebuah rumah tua yang berdiri di tengah hutan.
Bangunan itu tampak usang dari luar, tetapi dijaga ketat oleh puluhan anak buahnya.
Victor membuka pintu sebuah kamar yang terkunci.
Di dalam ruangan itu duduk seorang wanita yang wajahnya mulai pucat karena bertahun-tahun hidup dalam kurungan.
Meski usianya bertambah, kecantikannya masih terlihat.
Wanita itu perlahan mengangkat wajah.
"Victor."
Victor tersenyum sinis.
"Sudah lama tidak bertemu, Clara."
Clara menatapnya dengan penuh kebencian.
"Di mana putriku?"
Victor tertawa pelan.
"Kau masih memikirkan dia?"
"Jawab pertanyaanku!"
Victor berjalan mendekat.
"Putrimu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik."
Mata Clara langsung dipenuhi air mata.
"Dia... masih hidup?"
"Tentu."
Victor sengaja memperlihatkan sebuah foto Aluna yang diam-diam diambil anak buahnya.
Begitu melihat wajah putrinya, Clara langsung menangis.
"Alhamdulillah..."
"Itu berarti dia selamat."
Victor merebut kembali foto itu.
"Sayangnya, kebahagiaanmu tidak akan bertahan lama."
Clara menatapnya tajam.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Victor tersenyum dingin.
"Aku akan membawa putrimu ke sini."
"Jangan!"
Clara berdiri dan mencoba mendekatinya, tetapi rantai di kakinya membuat langkahnya terhenti.
"Jangan sentuh anakku!"
Victor tertawa puas melihat kepanikan Clara.
"Itu tergantung padamu."
"Lepaskan dia."
"Beritahu aku di mana surat wasiat Damar yang asli."
Clara menggeleng tegas.
"Aku tidak tahu."
Victor menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya keluar sambil mengunci pintu kembali.
Clara terduduk lemas.
Air matanya kembali jatuh.
"Aluna..."
"Ibu mohon jangan datang mencariku."
Sementara itu, hasil penyelidikan Rangga mulai menunjukkan titik terang.
Ia datang menemui Arsen sambil membawa sebuah peta.
"Pak."
"Ada hasil?"
"Ada sebuah rumah tua yang sesuai dengan petunjuk di buku harian."
"Di mana?"
"Di kawasan Danau Harapan."
Arsen menatap peta itu dengan serius.
"Siapkan semua orang."
"Kita berangkat malam ini."
Namun, sebelum mereka sempat bergerak, ponsel Arsen berdering.
Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
Arsen mengangkat panggilan itu.
"Halo."
Suara Victor terdengar dari seberang.
"Kalau ingin melihat Clara tetap hidup..."
"...datanglah sendirian."
Sambungan telepon langsung terputus.
Arsen mengepalkan tangannya.
Victor ternyata sudah mengetahui bahwa mereka mulai menemukan jejak Clara.
Permainan terakhir antara Arsen dan Victor akhirnya dimulai, dan kali ini taruhannya bukan hanya identitas Aluna, melainkan juga nyawa ibu kandungnya.